
Entah kesalahan apa, yang di lakukan Edelweis, sampe sampe, semua mata keluarganya, begitu memandang rendah dirinya.
Edelweis adalah ,seorang wanita periang, meski banyak cibiran, dan sindiran, yang di lontarkan keluarganya, tentang dirinya,tapi dia, tidak pernah membalasnya, dia hanya bisa berdiam diri, dan meneteskan bulir bilir kecil, yang menghiasi, kelopak matanya,entah terbuat dari apa hatinya, sampe membalas cela'an dan hina'an dari keluarga'nya,pun tak pernah dia balas. hingga pada suatu hari, sang kakak, menghubungi nya, dan bertanya, tentang ke ada'an nya.
Kriiiing kriiiing!! suara bendah pipih, berdering,, terdengar dari ke jauhan suara sang kakak,,
Haloo,,,
Iya kak,, Suara Edelweis yang terbata, karena memikirkan, jawaban apa yang akan, dia berikan kepada sang kakak, jika kakaknya bertanya, tentang dirinya,dan apa yang terjdi dengan nya..
Bagai mana kabarmu?? sudah makan, apa belom??lauk nya apa?? Begitulah pertanya'an seorang kakak, terhadap adik nya, dan itupun terjdi di setiap harinya, jika sang kakak menelpon diri nya..
__ADS_1
yah!! Edelweis mempunyai seorang saudara perempuan ,yang kini sedang bekerja di ibu kota, mengikuti sang suami. meski sedikit cerewet tapi sang kakak, sangat menyayangi Edelweis ,sebut saja namanya Najla.
Edelweis, dan Najla, di lahirkan dari keluarga kurang mampu, di umur Najla yang ke delapan tahun, sedang kan, Edelweis sendiri masih berumur dua tahun, ayah nya meninggalkan mereka, untuk menghadap, sang Khalik, dan si ibu lah yang menjadi tulang punggung.
Waktu terus berlalu,,hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan pun berganti tahun. Sang ibu, yang menjadi tulang punggung, jatuh sakit. berbagai macam pengobatan, sudah di berikan, untuk kesembuhan sang ibu, tpi apa di kata, Allah sudah berkehendak, sang ibupun pergi, menghadap Ilahi. Dari situlah awal Kesedihan seorang Edelweis...
rumah yang dulu nya, banyak kenangan indah, bersama sang ibu, kini telah di ambil alih, oleh sang paman. Tanpa memperdulikan, dimana gadis malang, yang kini tumbuh dewasa, akan berteduh ,dari sengatan panas nya mentari ,dan dingin nya angin malam,,
Dengan tekad yang bulat, berangkat lah dia ke tanah rantauan, untuk mengadu nasib.
setelah sekian tahun, Edelweis pun kembali pulang, tapi kepulangan inilah, yang membuat keluarga, dari pihak ibu mulai bertambah membenci nya. Entah kesalahan apa, yang di buat Edelweis, sampe mereka sangat membenci nya. Entah karena kepulangan Edelweis, membawa suami dan anaknya, hingga membuat mereka murka..
__ADS_1
Yang nama nya Jodoh,,Rezeki, dan maut, dia datang tak memberitahu..
"Kini Edelweis, dan keluarga kecil nya, tinggal di kampung, bersama keluarga dari pihak ibunya. Dia memilih tinggal di sebuah kos, bersama suami, dan anak lelakinya.
" cemohan dari keluarga nya tidak pernah berhenti, bahkan semakin menjadi. Kalau di pikir segenggam beras, dan sebiji cabe, tak pernah dia memintanya ,tapi karena kebencian mereka, terhadap diri nyalah, sehingga sindiran, dan kata kata pedas, selalu di dengarnya, tapi dia tidak pernah, memperdulikanya.
Yang dia tau, buat apa memperdulikan, semua omong kosong itu, hanya buang buang tenaga, dan waktu. toh ada Allah, yang tak pernah tidur, yang bisa melihat semua perbuatan mereka.
Seringkali istri, dari pamanya. yang menyidir suaminya, lewat status Whastaap, tpi dia hanya bisa bilang, kesuami nya, untuk bersabar,
" sayang semua akan ada balasa nya, kita cuman bisa menunggu, kapan tiba waktunya. Semua kata kata hina'an ,dan cacian. mereka akan mendapatkan nya, yang penting, kita tidak membalas nya..
__ADS_1