
Part 11
*Pernikahan Arjuna dan dia Si misterius*
Di Mall, dari arah yang berjarak Sutra melihat laki-laki yang mencurigakan baginya, dengan berpakaian Sweter Hitam, Celana Levis dongker, dan Bertopi Hitam sedikit menutupi wajahnya, Laki-laki itu pun terlihat dari seiringan, Sutra yang merasa takut pun Menepuk Punggung Tantenya yang tengah menunduk memilih Jam Tangan,
"Tan-Tante kita pulang sekarang ya?" ucap Sutra sembari mengawasi laki-laki yang mengawasinya, sementara Omnya Reno berkata pada Sutra yang terlihat gugup ingin pulang,
"Sutra, memangnya kamu sudah memilih barangnya?" Sutra menoleh, " sudah ko Om. Em aku takut Om itu ada orang ngliatin aku terus Om," ucapnya dan menoleh kembali ke tempat di mana laki-laki itu berdiri mengawasinya, namun saat dirinya menoleh laki-laki itu sudah tak berada di tempat tersebut.
"Mana sutra? Enggak ada orang liatin kamu?" Ucap Tante Olla ikut menoleh ke arah yang di tunjuknya, Sutra bingung menoleh kanan dan kiri laki-laki itu sudah tak ada,
"Kemana dia, perasaan tadi ada di sana?" Sutra kebingungan laki-laki itu tak ada lagi, lalu Tante Olla menegurnya yang tengah melihat ke beberapa pengunjung Mall yang ada, namun tak ada juga orang yang berpakaian sweter Hitam dan bertopi Hitam, yang seperti dirinya lihat.
"Sutra! Malah diam?" ucap Tante Olla, "Sudah ayok, Kita pulang tapi sebelumnya kita makan di luar dulu ya? Nanggung juga nih udah jam tujuh malam," imbuhnya
"iya benar," sambung Om Reno
"ya sudah deh terserah Om dan Tante," jawabnya dengan perasaan yang masih takut.
****
Sementara di sisi lain, Malam di kediaman Orang yang menyukai Sutra, laki-laki itu berkata pada Adiknya yang menjadi pengawas Sutra setiap harinya.
di Ruang Tamu,
"Ha,aaahhh hampir saja Aku ketahuan dia." laki-laki itu berkata sembari membaringkan Tubuhnya yang lelah di Sofa, setelah mengendarai sepeda Montor dengan jarak yang agak lumayan jauh dari Rumahnya.
Sang adik laki-laki dan istrinya pun tersenyum, lalu menjawab ucapannya,
"yah lagiyan, pengen punya cewek ribet banget urusan!" jawab Radit
Istri Radit yang tak lain Yesi sahabat Sutra pun pergi ke Kamar meninggalkan keduanya yang tengah ngobrol.
"suka-suka gueh dong," Jawab Raffa
(Ya Radit adalah Adik Raffa, laki-laki yang sebelumnya Sutra harapkan.)
Di tengah Obrolan Raffa dan Radit, ibu Indah masuk setelah pergi Bersama Papa Raffa dan Radit.
"Lo kamu sudah pulang fa?" tanya Ibu Indah yang baru saja datang,
"baru saja datang tu Mah. biasa.... abis ngintipin calon Bini," ledek Radit
Ibu Indah dan suami pun tersenyum saling pandang sekilas melihat prilaku Radit meledek Raffa, sementara Raffa tersenyum nyengir mendengar ledekan Radit.
Sementara Papa Raffa dan Radit yaitu Pak Erik pun, duduk di samping Raffa dan menyuruh Raffa bangun dari berbaringnya,
"coba awas kaki kamu Fa, bangun lah Papa capek," ucap Pak Erik sembari menyingkirkan kaki Raffa, lalu dirinya pun bangun dan duduk di samping Pak Erik,
"Fa memangnya kamu yakin Sutra mau sama kamu? Apa kamu gak sayang sama barang-barang yang kamu kasih sama dia? Ya walaupun papa tau itu hasil jerih payah kamu, tapi---" "Pa, mah, Raffa yakin dia mau, walau pun prosesnya tidak mudah, terlebih Aku sudah pernah menikah tentu mungkin akan sulit mendapatkan Sutra, tapi keluarga Sutra sudah tau maksud Aku ko Pa, Mah," potong Raffa menghentikan ucapan Pak Erik
"Raffa, saat kamu pertemukan Mamah dan Sutra di Mall, waktu tak sengaja bertemu, itu kan kamu sudah pacaran sama dia? Kenapa sekarang harus gini si cara kamu?" tanya Ibu Indah membuat Radit tersedak, ya bagai mana Radit tak tersedak dia yang tak tau apa-apa tiba-tiba mendengar bahwa Mamahnya pernah bertemu Sutra sebelumnya bersama Raffa,
Uhuk! Uhuk! Gugup Radit ingin bicara namun ada yang membuatnya berhenti bicara, Radit lalu mengambil air minum yang ada di meja depannya yang beberapa waktu lalu Yesi ambilkan untuknya,
"Dit, kenapa kamu? Gada angin gada ujan, diem-diem kesedak sendiri." Ibu Indah bertanya heran
"dia makan nyamuk kali Mah," ledek Raffa,
Pak Erik hanya tertawa meringis mendengar ledekan Raffa pada Radit,
__ADS_1
"Ya enggak lah, tadi aku tu mau tanya sama ka Raffa," ucap Radit sembari saling pandang dengan Raffa, mendengar Ucapan Radit seketika teringat di fikiran Raffa jika Mamahnya hanya tau bahwa Raffa berPacaran dengan Sutra, namun tidak untuk Radit yang tidak mengetahui cerita tentang Raffa, dan bagai mana mengenal Sutra, dan pengakuan Pacar pada Mamahnya sebelumnya hanyalah kejahilan dirinya pada Sutra, dan bertujuan menenangkan hati Mamahnya agar tak terlalu memikirkannya, namun rasa suka tumbuh di hati Raffa.
Tak mau mamahnya tau, Raffa mengedipkan mata pada Radit untuk menghentikan ucapanya,
"ka ngapain kedip-kedip," tanya Radit tak mengerti, tak berhasil membuat Radit paham maunya, Raffa pun beralasan ingin meminta tolong pada Radit,
"enggak papa kelilipan aja ini. e, o iya Dit Aku lupa, kamu bisa tolong bantu benerin leptop aku tidak? Kayanya ada yang kurang bener deh," ucap Raffa,
"orang lagi di tanyain Malah gak jelas kamu Fa," ucap Ibu Indah
"sudah mah, mamah tenang saja, itu urusanku aku cuma pengen ngetes Sutra ko Mah, yang penting aku bukan H@m!l!n dia," terangnya beralasan, "sudah ayok Dit, kamu ikut Aku sebentar," imbuhnya lalu berdiri, melewati Papanya yang tengah duduk, Raffa berjalan dan meminta Radit mengikutinya.
Percaya pada ucapan Raffa Radit pun mengikuti Raffa menuju kamarnya,
"mana ka leptopnya?" tanya Radit setelah sampai di kamar Raffa bersama Raffa, Raffa tak memberikan leptop namun ia duduk di bangku yang ada di kamar, sembari menghela nafas,
"heuuhhff... Dit, sini kamu," tegurnya pada Radit yang masih berdiri di aambang pintu,
"Tinggal ngomong kali." Radit malas mendekat, dengan wajah serius Raffa mengulangi ucapanya,
"Radit kaka serius," ucapnya
"oke-oke," jawab Radit mendekat, "ada apa si kaa?" imbuhnya bertanya
"Dit apa yang kamu dengar taadi, itu memang benar kalau aku mengaku Sutra adalah Pacar Aku, tapi itu semua cuma Pura-pura biyar Mamah tidak terlalu memikirkan Aku," terang Raffa
"e-maksud ka Raffa bagaimana?" tanya Radit
"Dit sudah intinya cuma satu jangan kamu bicarakan kalau aku dan Sutra belum pernah memiliki Hubungan." ucap Raffa, " karena jika Papa dan Mamah tau Aku pasti di larang untuk memberikan Apapun pada Sutra." imbuhnya
"iya iya oke lah," jawab Radit, " tapi menurutku sayang banget itu Ka, Sutra bukan Pacar kaka, tapi---" " sudah itu urusanku, yang terpenting aku sudah bicara pada kelurganya dan aku sudah buat Sutra mengenalku dan mungkin saat ini dia merasa kehilangan aku," potong Raffa, mendengar ucapan Raffa yang mustahil, Radit merasa penasaran dengan Maksud ucapanya yang baginya konyol dan Mustahil,
"Ka maksudnya merasa kehilangan bagaimana? Ko bisa ngerasa kehilangan Pacaran aja Tidak?" Radit heran semakin tak mengerti dengan ucapan Raffa, sementara Raffa yang semula duduk pun berdiri dan menjawab singkat pertanyaan Radit,
"Oalahhh punya Kaka gini amat." Radit menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Mahhh kaka perlu di obatkan Mahhh," imbuhnya lalu berdiri dan berterik meledek Raffa sembari berjalan keluar dari kamar Raffa,
"Oooo kampret emang." Raffa meletakan kedua tanganya di pinggang sembari mengawasi Radit sampai lenyap dari pandangannya.
*****
.
.
.
.
Hari berganti, di kediaman Keluarga Karmila,
Tepat di hari pernikahan Arjuna dan Karmila, hati Sutra merasa bahagia melihat sang Kaka akhirnya Menikah, Sutra yang duduk di samping Tantenya sembari menanti Pengantin datang memainkan Handponenya untuk menghilangkan Rasa bosan.
Namun tak lama kemudian, Pengantin pun datang untuk duduk di pelaminan setelah berganti pakaian Adat yang tak lain has Jawa, dengan di ikuti Orang tua Masing Masing juga para Putri dan Pangeran domas dari keluarga Pengantin Wanita.
(Meninggalkan Cerita si Pengantin kita kembali pada Sutra)
Sutra terus memandangi sang kaka yang tengah berjalan Anggun bersama sang Istri bak Ratu dan Raja, ya Ratu dan Raja sehari.
Penuh rasa bahagia Sutra tak meninggalkan Momen untuk mem video sangkaka menggunakan Handponenya, namun tanpa dirinya Sadari suara seorang laki-laki berkata lirih di sampingnya,
"Tahun depan kita akan seperti ini Sutra." Terkejut dan Heran Sutra menoleh, ia melongo tak percaya,
__ADS_1
"Raffa?" ucapnya,
Raffa tersenyum tipis tanpa menjawab ucapan Sutra, Mau tak percaya namun Raffa berdiri di sampingnya dan bukan hantulah yang nampak setelah Sutra melihatnya dari ujung kaki hingga kepala,
"Kenapa Sutra?" Sutra menggelengkan kepala tak percaya ada Raffa di acara pernikahan Kakanya yang di selenggarakan di Hotel berbintang,
Di tengah ramainya para pengunjung Tamu undangan dan Acara yang belum selesai, Sutra tiba-tiba menarik Tangan Raffa,
"ikut Aku," ucapnya,
"E-Sutra Mau kemana?" Sutra tak menjawab dan terus berjalan sembari menarik tangan Raffa.
Sampai di luar Ruangan yang di sewa Keluarga Sutra, Sutra melepas Tangan Raffa dan berbalik badan memandangi Raffa hatinya tak percaya ia menahan rasa rindu namun sadar Raffa buka siapa-siapa, mengingat kecelakaan Pesawat Sutra tiba bicara dan meneteskan air mata di hadapan Raffa,
"ada apa Sutra?" tanya Raffa
"Raffa, kamu---" "Kamu Apa Sutra? Kenapa menangis?" Raffa melipat kedua tangannya sembari memandangi Sutra yang tiba-tiba meneteskan Air Matanya, Raffa tersenyum namun Sutra membuang muka dan menyeka air matanya,
"kemana saja kamu? Terahir kamu bilang pergi ke singapura tapi pesawat itu---" " aku memng pergi ke singapura selama dua minggu dan aku sengaja Matikan kartuku, aku ingin tau apa kamu mampu punya hati untuku yang hanya mengenalmu dua hari. dan dengan lancang aku mengakui kamu sebagai kekasihku, bagai mana satu bulan tak bertemu denganku?" potong Raffa dan bertanya
"Kamu berhasil buat aku khawatir bahkan mungkin kamu tertawa melihat pesanku yang aku kirim ke kamu, karena tanpa aku sadari aku begitu khawatir sama kamu karena Pesawat itu," dengan sedikit canggung Sutra menjawab Raffa.
"maaf ya udah membuat kamu khawatir sama orang yang baru mengenlmu dua hari, dan berani mengakui kamu sebagai kekasihku," Sutra tersenyum tipis,
"Sutra kamu cantik pakai Gaun ini, warnanya sesuai dengan pemakainya cerah, manis, anggun, ceria, kamu suka Warna Pink Sutra?" dengan Percaya Dirinya Raffa menebak waarna kesukaan Sutra, Sutra tersenyum dan geleng kepala,
" tidak Raffa, tidak begitu suka, hanya saja gaun ini ada yang memberikan ya aku pakai deh, karena aku suka dengan model dan motifnya, bagus sih, tapi terimakasih ya sudah memuji," Raffa lagi-lagi tersenyum dan menjawab Ucapan Sutra,
"Em syukurlah jika kamu suka, em-boleh aku lihat tangan kiri kamu?" Raffa menatap Sutra,
"Tangan?" begitu nurutnya, sutra mengulurkan tangan Kirinya, Cincin itupun terlihat di jari manisnya,
"Sutra? Kamu sudah tunangan?" Raffa memandang wajah Sutra, Raffa bertanya, Sutra sedikiti gugup menggelengkan kepala dan menjawab ucapan Raffa,
"e-ini, bukan Raffa, aku belum bertunangan," Raffa melempar senyum pada Sutra lalu bertanya kembali,
"kamu, kenapa gugup begitu? Cincin kamu bagus sutra ini pasti Sepesial?" sembari memandang dan memegang tangan Sutra, Sutra seperti hilang jati dirinya di hadapan Raffa yang juga sikap sebelumnya sangat Aneh baginya.
Raffa yang berdiri di hadapannya begitu terlihat berwibawa tak seperti yang dirinya lihat satu bulan sebelumnya,
"kamu sepertinya sudah memiliki kekasih? Apa kamu sangat sayang padanya?" tanya Raffa kembali,
"tidak, ini Cincin mamah aku yang beliin ko, ih kamu ada ada saja deh, ya kali dari mana kamu tau coba kalau ini cincin tunangan atau cincin dari cowokku, lagiyan mana ada cowok yang mau sama cewek aneh kaya aku," Sutra berdalih, Raffa meringis menggelengkan kepalanya pelan,
"Oke-oke emmm ngomong-ngomong kenapa kamu ajak aku keluar? Aku sedang mengikuti acara pernikahan Kakamu?" Sutra terdiam dirinya berfikir, tak mau terlihat peduli Sutra pun berpura-pura hanya ingin bicara lebih nyaman,
"oh, itu kalau aku bicara sama kamu di dalam kan tidak mungkin, ya kamu tau sendiri di dalam ramai, tidak mungkinkan aku bicara kenceng-kenceng," alasan Sutra, Raffa diam dan terus memandangi Sutra, dalam hatinya Raffa berkata,
"kamu cantik, pandai mengelak pulak, aku tau kamu bohong Sutra,"
"em, Ayok masuk lagi aku takut Mamah aku mencariku," ucap Sutra
"Oke, Ayok masuk," Jawab Raffa tanpa basa basi,
Memasuki Gedung yang di sewa keluarganya Sutra sedikit merasa malu-malu ketika berjalan berjajar dengan Raffa, terlebih sampai di dalam Mamah Sutra melihatnya,
"Hai nak Raffa," sapa Mamah sutra, "kapan datengnya?" imbuh mamah Sutra,
"sudah dari tadi Ibu, barusan habis ngobrol sama Sutra sebentar," jawab Raffa
"Owh iya-iya, terimakasih ya sudah datang Ibu Senang loh, akhirnya kalian sudah saling bertemu. " Sutra bertanya tanya heran dalam hatinya, "oh iya Sutra, mumpung ada nak Raffa di sini Mamah mau bicara Kalau nak Raffa ini sudah melamarmu," imbuh Mamah Sutra
__ADS_1
"Melamar?" Sutra menatap sang Mamah, penuh tanya dan merasa mustahil.
*****BERSAMBUNG****