TAK SEPERTI HARAPANKU

TAK SEPERTI HARAPANKU
TAK SEPERTI HARAPANKU


__ADS_3

Part 16


*Sutra Dan Raffa*


"Aku berangkat dulu ya, gak apa-apa kan?"


"iya iya,"


Dengan terpaksa Karmila mengizinkan Arjuna menemani Sutra, bersamaan dengan itu Sutra juga meminta Izin pada Karmila, Karmila pun tersenyum namun seperti terpaksa pada Sutra.


Tak hanya berpamitan pada Karmila, Sutra dan Arjuna pun pamit pada Ayah dan Mamahnya juga Om dan Tantenya.


"Ayok ka," ajak Sutra ke dalam Mobil milik Ayahnya, Sutra pun mendahului.


Setelah di dalam Mobil, Sutra pun sempat tersenyum kembali pada Karmila yang pada akhirnya Sutra pun menutup Kaca jendela Mobil,


"ka karmila seperti tidak suka? Apa ini hanya fikiranku saja?" ucap Sutra dalam hati, Sementara Arjuna yang sudah duduk di bangku kemudi sekilas menatap Sutra yang duduk di samping kemudi,


"kenapa Sutra? Bengong saja! Ketularan Kaka nih?" Sutra masih saja diam,


"Sutra!" tegur Arjuna kembali sembari menyetir,


"a-iya ka, ada apa?" jawab Sutra terkejut, "em siapa juga yang bengong, aku cuma lagi mikirin Raffa," imbuhnya


"Sudah! Raffa pasti akan baik-baik saja, semoga nanti ada kabar baik dari keluarganya,"


"iya ka,"


"O iya ini kamu ke Rumah sakit dulu?"


"iya ka, ke kampusnya agak siangan,"


"ya sudah, kita langsung ke Rumah Sakit,"


*****


Setelah setengah jam perjalanan akhirnya Sutra dan Arjuna pun sampai di Rumah Sakit,


Dengan perasaan penuh kehawatiran Sutra segera masuk bersama Arjuna, Fikiran Sutra selalu tak karuan memikirkan Raffa laki-laki yang sudah menjadi tunangannya, Kondisinya yang belum sadar hingga hari ke dua membuat Sutra selalu merasa bersalah,


"Pertemuan macam apa ini! semua dadakan dan tidak pernah aku duga, bahkan kini aku harus merasakan bersalah karena dia, tapi mengapa aku begitu khawatir dan tidak mau kehilangan dia." begitu kata hati Sutra sembari berjalan menuju Ruang ICU,


"ka apa dari kemarin belum ada perkembangan dari Raffa ka?" tanya sutra pada Arjuna yang sama sama berjalan melewati lorong Rumahsakit,


"Belum Sutra, kaka juga tidak begitu tau."


Tak terasa sampai sudah Sutra dan Arjuna di depan Ruangan di mana Raffa di Rawat, tak lama berdiri di depan Ruang ICU Mamah Raffa pun keluar dari Ruang ICU, Mamah Raffa yang begitu menyukai Sutra, "ya bagai mana tidak suka? Mamah Raffa takut Raffa setres karena dua tahun sudah kehilangan Istrinya 😉, otomatis punya calon menantu baru sangat di hati hati,"


Oke next,


Melihat Sutra, Mamah Raffa lalu memeluknya,


"Sutra!" sapanya sembari memeluk,


"Ibu,"


Di pelukan Sutra, Ibu Indah merasa senang karena Sutra baik baik saja, Sempat menangis karena Raffa yang belum sadar, Namun Sutra yang sedikit demi sedikit menerima Raffa mencoba menenangkan Ibu Indah, Dalam benak Sutra, di pelukan Ibu Indah terbesit dalam fikirannya,


"Padahal aku tidak tau siapa Raffa, Aku belum mengenal jauh tentang dia, aku masih seperti mimpi yang ingin sekali di bangunkan, Kuliah baru akan selesai aku sudah bertunangan dengan laki-laki yang benar-benar belum ku kenal lama. Tapi mengapa secepat ini juga aku harus merasa sedih dan takut kehilangan karenanya, apa iya dia memang jodohku?"


Usai berpelukan dengan Mamah Raffa, Sutra pun meminta Izin untuk menemui Raffa.


*****


Di Ruang ICU, pertama melihat kondisi Raffa Sutra geleng kepala sedih menggerogoti hatinya, dalam hatinya tak menyangka jika Raffa akan seperti yang dirinya lihat,


"Raffa! Ini aku Sutra, Kamu kenapa sih ngerjain aku? bangun bisa kan? Jangan ngerjain aku terus donk. Aku tu tau kamu itu suka ngerjain aku, buktinya satu bulan lalu kamu bikin aku khawatir sama kamu, Sekarang pasti kamu gitu lagi. Aku janji deh kalau kamu bangun, Aku, Akuin kamu jadi Tunangan Aku, dan aku enggak bakal Pura-pura lagi depan Orang tua." Sutra mencoba membangunkan Raffa dengan merayunya, harapan Sutra, Raffa cepat sadar dengan caranya, Sutra lagi-lagi berkata padanya,


"Raffa, Aku pulang ya kalau kamu enggak mau bangun! Aku tau kamu enggak Koma, Ayok bangun dong. Aku besok wisuda loh, Atau kamu sedang bermimpi bertemu dia? Kamu tau! aku Cemburu Raffa!" begitulah kata Sutra yang ingin sekali melihatnya tertawa dan mengejek, seperti hari hari sebelumnya.


"hemmm.... kamu tetap tidak mau bangun? Ya sudah kalau begitu," Apakah harapan Sutra, akan nyata? apa iya dia benar-benar tidak mau bangun?, namun tidak Lama Sutra terkejut melihat Raffa tersadar, Seperti mimpi namun dia merespon ucapan Sutra, Sutra tersenyum lebar saat Raffa menatap Sutra, Sutra bergegas memanggil Suster jaga.


Sembari menunggu Suster datang sempat Sutra bersyukur karena Raffa telah Sadar,


"A-aku tidak sangka ucapanku di dengarnya," tukasnya


Tak lama Suster datang bersama Dokter, dan menyuruh Sutra keluar terlebih dahulu.


*****


"ada apa Sutra? Mengapa perawat dan Dokter masuk ke dalam?" tanya Ibu Indah dan Arjuna


Sutra tersenyum lebar lalu memeluk Ibu Indah,


"Raffa Sadar Ibu," terangnya di pelukan,


"allhamdulilah," ucap Ibu Indah dan Arjuna,


Bagai mana tidak bahagia, Raffa adalah anak kesayangan Ibu Indah dan keluarganya, selain orangnya yang mandiri, supel dan cekatan dirinya adalah orang yang gemar menghibur dan Royal,


****


Mungkin kalau di dunia nyata ini akan mustahil, Sakit dan sesingkat itu bisa sadar, terkecuali mendapat mukjizat 😊.


Next....


.


.


.


.

__ADS_1


.


Singkat waktu, setelah beberpa jam Akhirnya Raffa di pindahkan di Ruang Rawat, setelah kondisinya di nyatakan membaik oleh Dokter,


Di Ruang Rawat Sutra dengan di temani Arjuna dan Ibu Indah, Akhirnya dapat berbicara dengan Raffa, Sutra Memberinya perhatian dan semangat sebagai calon istrinya, karena Janji Sutra akan mengakui dirinya adalah calon Suami.


Dirinya yang selalu memberinya perhatian kejutan dan hadiah, sepertinya mustahil jika ada di dunia nyata 😄.


****


"Raffa, terimakasih ya kamu sudah baik, perhatian, demi orang lain saja kamu rela buat diri kamu bonyok," ledek Sutra yang duduk di bangku samping tempat tidur pasien,


"tega banget, gini-gini juga demi kamu." lirihnya, Sutra menatapnya sembari menyangga dagunya dengan satu tangannya di atas pangkuan, sementara Arjuna dan Ibu Indah tersenyum heran melihat kelakuan Sutra yang meledek Raffa,


"iya iya, Calon suamiku," ledek Sutra di barengi senyuman,


"Sutra! Kamu ini," tegur Arjuna yang heran pada Sutra,


"tidak apa apa ka, Sutra memang suka begitu, dia lucu orangnya." Raffa menjawab ucapan Arjuna, lalu di usapnya Rambut Sutra yang panjang oleh Ibu Indah penuh sayang,


Sutra tersipu, sementara Raffa tersenyum,


"Sutra, ngomong-ngomong kening kamu juga bonyok, kenapa itu?" ledek Raffa


"oh ini, ini kayanya sama kamu di j*dot*n ke pohon makanya gini,"


"oh, aku yang j*dot*n? Ko aku enggak ngerasa? Malah yang ada, aku tiba tiba rasanya gelap? Habis itu, aku tau-tau sudah di sini. Mana aku tidur sampe dua hari! Kan aneh,"


"iya lebih aneh lagi kamu,"


"loh ko gitu?"


Pertanyaan Raffa terahir hanya di beri senyuman dari Sutra dan tatapan heran.


Arjuna dan Ibu Indah pun hanya tertawa mendengar candaan Sutra dan Raffa, meski kondisi sakit Raffa masih saja menghibur Sutra dan orang-orang di sekelilingnya.


"laki-laki ini selalu membuat pertanyaan konyol dan tak pernah aku duga, ku lihat dia sakit tapi masih saja bisa meledekku. Hemmm memang bukan Radit yang menjadi Jodohku tapi ternyata Kakanya lah yang berhasil masuk di hidupku, ya soal tampang si gak kalah darinya, malah ku lihat wajah Raffa seperti anak kecil," begitu tutur dalam hati Sutra, tak terasa waktu telah siang, Sutra pun tak bisa lama menemani Raffa, karena kepentingan Kuliah yang tidak bisa Sutra tinggalkan.


*****


.


.


.


.


.


.


.


"Raffa, kenapa? Kamu sepertinya bahagia?"


"yaaa... Tentu bahagia Mah, dia tak jauh berbeda dengan Almarhum istriku, lucu perhatian meski agak cuek, ya, bedanya hanya istriku pendiam sementara dia cuek,"


"kamu, masih selalu ingat Raffa? Ya begitulah manusia, berbeda-beda dan tidak ada yang tau umur manusia, dan Apa kita akan tau jika kemarin kamu dan Sutra akan Celaka? Tidak kan? Ya begitulah." Ibu Indah lalu duduk di bangku samping tempat tidur Pasien.


*ada gak sih dunia nyata keluarga yang seperhatian ini, dan laki-laki sebaik ini, mungkin ada ya walau hanya 1%😅, cerita ini aku ambil dari tiap kehidupan nyata, jika agak lebay mohon di maklumi🙏*


Next


******


Hari pun berganti Malam, hujan deras menemani malam Sutra.


Di kamarnya Sutra merebahkan tubuhnya setelah lelah beraktifitas, suara gemuruh tak jarang dirinya dengar, Mencoba memejamkan mata sampai bantalpun menjadi penutup telinga.


Di tengah malam yang sunyi ponsel tiba-tiba berdering, seseorang menelfonnya mengabarkan jika Raffa tiada, Sutra menangis dan bergegas lari menuju lantai bawah, tangisannya membangunkan semua orang, Ayah sutra bertanya pada Sutra, namun Sutra tak sanggup menjawabnya,


"Ada apa Sutra?" Sutra tetap menangis, Mamahnya lalu mendekapnya dan bertanya menenangkannya,


" kamu kenapa?"


"Raffa Mah, Raffa tiada mah,"


"a-apah Yang benar Sutra? Sutra kamu jangan ngaco,"


Mamah sutra bertanya sembari menggoyang goyangkan bahu Sutra, dirinya menangis menjadi jadi.


Namun kesadaran itu di rasakan Saat Sutra terbangun dari tidurnya dirinya hanya mimpi, Waktu telah menunjukan pukul tujuh, ternyata Mamah Sutra membangunkannya dengan Menggoyang goyangkan bahu,


"Sutra," ucap Mamahnya


"Raffa!" teriak Sutra seperti orang kebingungan, " Mah aku harus buru-buru, jam berapa ini maha?" imbuhnya bertanya lalu bergegas bangun menuju kamar mandi,


"ya ampun anak itu kenapa?" ucap Ibu Mawar, geleng kepala melihatnya dan berlalu pergi meninggalkan kamar Sutra.


*****


Setelah selesai mandi, Sutra pun buru-buru menyisir Rambut dan memoles wajah ya... Dengan gugupnya dirinya berdandan seadanya, seperti di kejar angsa gugup bukan main,


Mengambil Tas kecil berwarna kopi susu andalannya, Ponsel, serta sepatu putih kesukaannya.


Dirinya berlari tak perduli kanan dan kiri, Sampai Arjuna berjalan menuruni anak tangga saja, dirinya lalui bak tak terlihat olehnya...


"astagaaa kesurupan apa bocah itu," gumam Arjuna,


Sampai di lantai bawah Rumahnya tepatnya di Ruang makan, Sutra hanya meminum Susu, dan mengambil Donat buatan Pembantu,


"Mba Sutra, ko cuma makan itu?" tanya Pembantu

__ADS_1


"Gugup bi, dah bibi," sahutnya berlalu pergi,


Semua orang di Rumah itu hanya heran melihat Sutra yang Gugup tak Jelas.


******


Terbawa suasana Mimpinya Sutra pagi-pagi bergegas menuju Rumah Sakit di mana Raffa di Rawat, dirinya pergi menggunakan Taxy tanpa di temani keluarganya,


Padahal jarak Rumah Sakit lumayan jauh dari tempatnya tinggal,


"semoga itu hanya Mimpi? Raffa tidak boleh Mati," batinnya, saat berada di perjalanan.


*****


Setengah jam sudah, akhirnya Sutra sampai di Rumah Sakit dimana Raffa di rawat, dengan gugup Sutra berjalan melawati lorong Rumah Sakit menuju lantai tiga,


Untuk mempersingkat Waktu dirinya pun menaiki lift, perasaan khawatir menyelimuti hatinya, Sampai di lantai tiga Sutra berjalan gugup menuju Ruang Rawat di mana Raffa di Rawat, dirinya hawatir Raffa benar-benar tiada.


****


"Raffa!" ucapnya sembari membuka Pintu, hanya ada Radit dan Raffa di Ruangan itu, semua mata tertuju menatap Sutra yang berdiri di ambang Pintu,


"Sutra? Kamu? Masuklah,"


"iya, em-Syukurlah," ucap sutra sembari berjalan mendekati Raffa, Raffa menatapnya heran,


"Syukurlah kenapa Sutra?"


"Em-enggak, enggak kenapa-napa," ucapnya,


"Kamu cuma sendiri Sutra?" tanya Radit yang tengah menyuapi Raffa,


"i-iya, Radit, tadi---" " kamu kenapa Sutra? Kenapa gugup begitu?" Raffa menyelaa ucapan Sutra,


"em-begini. Aku ke sini tadi khawatir, karena aku menerima telefon yang mengabarkan kamu tiada Raffa! Tapi ternyata hanya Mimpi, dan---" "ya ampun, kamu ini, Mimpi sampe kamu bawa ke dunia nyata. hai lihat! aku sudah baikan Sutra! Jadi ceritanya mulai perhatian nih sama aku?" canda Raffa, Sutra tersipu malu,


"Haduuuhh kenapa malah gerogi begini? Sutra! Ayok biasa dong, Raffa kan Calon Suami kamu!" Sutra berkata dalam hati,


"Sutra?"


"iya Raffa,"


"Ka, aku tinggal dulu ya, Mamah minta di jemput nih!" Radit tiba-tiba menyela meminta Izin untuk pergi,


"Sutra, temani Ka Raffa dulu, gak Apa-apa kan?" ucap Radit kembali,


"iya enggak Apa-apa," jawab Sutra yang sebenarnya dalam hati sangat malu, karena belum pernah berdua dengan Raffa, bahkan Pertunangannya pun sangat mendadak baginya.


Setelah bicara pada Sutra Radit pun pergi, tinggal hanya berdua di Ruang Rawat, Sutra dan Raffa, sempat diam karena tak tau harus bicara apa, Raffa pun mengawali obrolan,


"Sutra, gimana kabar Ibu dan Ayah?"


"Alhamdulilah baik," jawabnya dengan rasa canggung


" kamu, kenapa sih? Aku lihat tidak seperti biasanya, pecicilan dan jutek, tumben kalem?" Raffa mulai menggoda


"Apaan, biasa saja,"


"Biasa apa biasa? Pasti khawatir sama aku?" dengan Percaya dirinya Raffa terus saja menggoda,


"biasa,"


"yakin? Kalau aku pergi gimana?"


"ngomong apaan sih?


"gimana?"


"ya... Enggak mau lah,"


"kenapa? Kan aku melamar kamu.... tanpa kamu mau, atau tidak! Lagiyan aku siapa?"


"ko bicara gitu?"


"yaa... Bukannya memang begitu?"


"tapi kan Aku, sudah menerima kamu!"


"waaa... Akhirnya terang-terangan kamu ngakuin," Raffa yang usil berhasil membuat Sutra mengaku,


"memang kamu menerima aku karena apa Sutra? Aku kan sudah pernah menikah, orangnya jelek, aneh, bahkan orang tua ku bukan orang kaya," imbuh Raffa bertanya


"kamu ngomong apa sih? Aku enggak ngerti deh?" jawab Sutra dengan perasaan gerogi, "ya udah kalau gitu, aku balikin deh cincinnya," ucap Sutra kembali sembari berusaha melepas Cincin pertunangannya,


"eeee.... Jangan, jangan, iya-iya aku cuma bercanda ko,"


"lagiyan, nanya bikin orang bingung saja!" ujarnya, "ngomong-ngomong gimana kata Dokter? tangan kamu bisa di gerakin lagi kan? Yang kanan?" imbuhnya


"Bisa, ini cuma retak tulang saja, ya perlahan juga nanti bisa di gerakin lagi,"


"terus? gimana kepala kamu masih pusing?"


"Masih lah, sebenarnya sakit, tapi ya aku tahan, mau menangis takut kamu ketawa," paparnya


"Kamu hebat ya, dengan kondisi begini.... Kamu masih saja bisa bercanda. Kalau aku sudah tidak bisa berkata , Raffa, tapi kaki kamu bagai mana?"


"Kaki tidak apa-apa si, Cuma kalau malam aku tidak bisa tidur, badanku rasanya pegal, kepala sama tangan rasanya Sakit, ya itu, aku mau menangis malu, tapi kalau sudah tidak kuat ya aku terpaksa,"


"ya ampun, Maaf ya, mungkin karena kita terlalu banyak ngobrol waktu itu, makanya jadi begini,"


"tidak Sutra, kamu tidak salah dan bukan karena Obrolan kita, aku saja yang terlalu cepat membawa Mobilnya," terang Raffa, lalu tidak lama ponsel Raffa berdering, pesan masuk di terima oleh Raffa.


Saat membuka Pesan dan membacanya Raffa terkejut, Manajernya mengatakan Restoran miliknya mengalami kebobolan, uang Ratusan Juta hilang.

__ADS_1


******Bersambung******


__ADS_2