
"kak ayo makan dulu...gak baik Lo ngelamun di depan rumah hehe....." gurau Vera menghampiri rivka yang terlihat sedang melamun
"ohhhh....iya Ver!" respon rivka dengan tersenyum
"kak kapan-kapan ajak aku ke tempat kerjamu yah..!" ujar Vera sambil memandangi rivka meminta simpatik
"emmmm iyaa boleh kalau kamu mau"
jawab rivka sambil tersenyum
"jauh gak tempatnya?" tanya Vera
"kalau gak salah hanya satu kilo meter saja vera" ujar rivka memperkirakan tempat ia bekerja dengan tempat tinggalnya kini
"oh artinya dekat dong dari tempat sekolah kakak...?!" ujar Vera dengan yakin
"iyaa betul sekali,yaudah Ayuk masuk katanya makan" ingat rivka
"eh iya hampir lupa"
ujarnya sambil tertawa
...----------------...
seusai makan malam rivka dan Vera kembali ke kamar untuk beristirahat sedangkan kedua Tante nya sudah ada di kamarnya dari tadi untuk mengurus pekerjaannya masing-masing.
brizzzz.... suara notifikasi ponsel berbunyi
"kak ini Beni aja ngechat..!" ujar Vera sambil berteriak dari kamar
"ohhh iyaa dia bilang apa?" tanya rivka sambil berteriak dengan suara yang tidak begitu jelas karena sambil menyikat giginya
__ADS_1
"dia bilang ( ijinmu sudah ku beritahu kepada pak Steve nanti katanya dia mau telpon kamu,mau tanya kamu langsung aja biar jelas!) itu isi chat nya!"
rivka yang mendengarnya langsung bergegas kembali ke kamar dan segera membalas chat dari beni dengan masih membawa sikat giginya
"oh iya Ben terimakasih tapi kenapa harus telpon aku yah hehe...?" isi chat rivka membalas pesan beni
"wkwk.....gak tau juga sih riv tadi juga pas aku ketemu sama pak stev dia marah bilangnya kenapa gak kamu aja yang bilang ke dia kalau kamu mau ijin kenapa harus melalui aku pakk!!"
balas beni dengan emoticon tersenyum
"wkwk.....BTW maaf yah ngerepotin kamu terus jadi gak enak nie hehe" balas rivka kembali
"santai aja riv hehe...gak ngerepotin sama sekali kok" balas beni kembali tak keberatan untuk di repoti kembali
"terimakasih banyak Ben " balas rivka kembali
"ehh...riv kayaknya pas Stev suka sama kamu deh 🤣🤣🤣🤣"
"heh.....sembarangan aja kalau ngomong gak mungkinlah suka sama anak-anak" ujar rivka kembali membalas pesan dari beni
"wew.... anak-anak mana kita ini sudha dewasa sudah tau cinta dna bikin anak wkwkkwkw" gurau beni padanya
"kak mending cuci dulu tu mulut sampai berbusa....busanya jatuh sana jatuh sini jorok tau....!!!" ujar Vera mengingatkan rivka yang masih asik dengan sikat gigi dan ponselnya
" hehe.....maaf keasikan tadi" ujar rivka yang langsung kembali ke kamar mandi untuk membilas mulutnya dan membasuh wajahnya
brizzzz...... suara ponsel kembali berbunyi tapi nadanya lebih panjang...
"kak ada yang telpon...!" teriak vera dari kamar sambil membersihkan lantai yang terkena busa gosokan gigi rivka barusan
"siapa...?" tanya rivka dengan membuka pintu kamar mandi dan hanya kepalanya saja yang keluar
__ADS_1
"ini nomornya..." vera sambil menunjukan ponsel ke hadapan rivka
"waduh pake telpon-telpon segala lagi nie orang" ujar benak rivka
"kamu jawab trus bilang orangnya lagi di kamar mandi!" jelas rivka kepada vera
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"hallo..." jawab vera
"apakah ini dengan Rivka...?" tanya orang tersebut
"bukan pak saya dengan adiknya!"
sementara rivka masih mengawasi vera dengan tubuh yang masih bersembunyi di belakang pintu kamar mandi dan hanya kepala nya saja yang keluar
"oh begitu kalau boleh tau rivkanya ada di mana? saya mau berbicara!" ujar orang tersebut dengan suara lelaki yang benar -bener enak di ajak telponan
"rivkanya masih di kamar mandi pak!" jawab vera
"kalau boleh tau bapak ini siapa?" tanya polos vera yang membuat rivka melotot terkejut
"hemmm mampus lah aku ketahuan tidak pernah menyimpan nomor ponselnya" ujar batin rivka sambil mengapit bibirnya dengan giginya
"oh saya atasnya rivka!" jawab pria tersebut dengan ramah
"kak ini bossmu mau ngomong bukan orang lain cepatan sini ngapain lama-lama di situ!" panggil vera dengan polosnya tanpa bersalah
"ya ampun anak ini..............." rivka menarik napasnya dengan panjang sambil mengelus dadanya
__ADS_1
"hehe....... gitu yah....." ujar rivka sembari tertawa palsu menahan ras malunya sambil mengambil alih ponselnya