Takdir Cinta Ceo Dingin

Takdir Cinta Ceo Dingin
Kau Mempermainkan ku!


__ADS_3

Tok tok tok


"Masuk!" Perintahnya dengan dingin begitu pintu terbuka dan memperlihatkan wajah Sariel yang tampak basah karena dibanjiri oleh keringat.


"Maafkan saya__"


Belum sempat Sariel menyelesaikan ucapannya, Gabio sudah berdiri dengan wajah dinginnya. Beberapa karyawan meneguk ludahnya kasar.


"Jadi begini calon karyawan yang ingin kalian rekrut!?"


Sariel mengangkat wajahnya merasa tak asing dengan suara yang ia dengar barusan. Tadi, saat memasuki ruangan ia memang tak jelas memperhatikan mereka satu persatu.


Matanya membola begitu bersinggungan dengan mata Gabio yang menatapnya tajam.


"Sangat tidak menghargai waktu!" tambahnya ketus.


"Tapi, tuan. Saya terlambat hanya 7 detik saja, dan itu masih bisa ditoleler bukan?" sahut Sariel dengan wajah pias dan suara yang menderu lelah. Senyumnya seketika langsung luntur. Ia yakin lelaki didepannya tersebut pasti sedang mempermainkannya.


"Tujuh detik katamu. Bagaimana kalau setiap hari kamu terlambat. Hitung saja tujuh detik dikali 90 hari masa trainingmu. Apakah masih bisa dikatakan tidak terlambat. Dan apakah masih bisa ditoleler!"


Sariel tampak kesal mendengarnya, menggenggam tangannya erat menahan emosi yang siap membludak. Lelaki didepannya ini sangat perhitungan sekali. Andai saja ini bukan interview kerja yang ia inginkan, sudah pasti ia akan menampar mulut lelaki yang selalu berkata pedas terhadapnya tersebut.


"Bagaimana? Apakah kamu sudah menghitungnya, Nona?"


Sariel menggeleng pelan, tatapannya perlahan menunduk. Lelaki didepannya ini benar-benar menyebalkan. Mana mungkin ia akan terlambat setiap hari seperti sekarang. Perhitungan lelaki ini terlalu jauh.


"Bagaimana mungkin kamu tidak menghitungnya. Hal sekecil itu pun kamu tidak mampu menghitungnya. Bagaimana bisa kamu bekerja ditempat saya kalau kamu tidak teliti dalam hal sekecil ini."


Gabio mendengus tak suka, matanya bergerak memperhatikan para pegawai yang semakin bungkam dan takut.


"Saya tidak memerlukan karyawan seperti Anda. Jadi, silahkan angkat kaki Anda dari sini!" Usir Gabio membuat Sariel terhenyak mendengarnya. Rasa kesal Sariel bertambah, entah ada dendam apa lelaki itu padanya hingga memperlakukan dirinya sekadar ini. Ia meninggalkan ruangan tersebut tanpa sepatah katapun dengan wajah kesal berlipat-lipat.


Ingin rasanya ia mengumpat sepanjang lorong perusahaan yang dilewatinya. Entah karena apa dia merasa selalu sial setiap kali bertemu Gabio.


"Benar-benar menyebalkan!" umpatnya saat berjalan menyusuri jalanan yang tampak ramai setelah ia memutuskan untuk berjalan kaki sebentar.


Tin tin

__ADS_1


Sariel menyingkir dengan cepat begitu klakson mobil bergema dibelakangnya. Ia berbalik dan mendapati sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tepat disampingnya.


Dito keluar dari dalam mobil tersebut sambil berjalan kearahnya.


"Kita bertemu lagi nona Sariel," ucapnya dengan senyum manis sambil memperhatikan penampilan Sariel yang terbilang rapi.


"Darimana Nona, sepertinya habis bekerja?" tanyanya dengan bingung. Lelaki itu merasa kalau sekarang bukanlah waktunya untuk pulang dari bekerja, bagaimana mungkin ia mengatakan kalau perempuan didepannya sedang bekerja.


"Maaf. Saya tidak sedang bekerja." Sahut Sariel memperhatikan mobil yang terparkir dibelakang Dito. Membuat lelaki dengan badan kekar tersebut tersenyum.


"Tuan Kecil sedang ada jadwal pemeriksaan. Kebetulan ia sudah bisa dibujuk setelah tempo hari bersama Nona."


Sariel mengangguk, kembali memperhatikan jalanan yang tampak semakin ramai.


"Bagaimana kalau saya antar Nona pulang?" tawar Dito.


"Tidak usah. Kebetulan saya sudah memesan taksi. Hanya saja ingin jalan kaki sejenak membuang penat," sahut Sariel cepat.


"Benarkah?" Dito kembali memperhatikan Sariel. "Bagaimana kalau kita makan siang dulu. Sepertinya Nona sedang kehausan," tawarnya.


Sariel merasa tak nyaman mendengarnya. Lelaki ini benar-benar terlalu memaksanya disaat perasaannya tak baik. Ada rasa sedikit curiga menghinggapi perasaan Sariel tetapi ia berusaha untuk menampiknya.


"Tidak apa-apa. Saya yang akan membayarnya. Nona hanya menemani saya makan saja. Kebetulan saya tak punya teman makan."


Dito tampak memutar otak agar Sariel mau mengikuti keinginannya.


Membuat Sariel kembali berpikir. Dan pada akhirnya ia mengiyakan juga ajakan lelaki didepannya tersebut. Tidak ada salahnya ia sedikit akrab dengan Dito.


Sariel bergerak cepat saat Dito membukakan pintu mobil untuknya. Tak ingin membuat lelaki tersebut membuatnya menunggu lama. Walaupun ia merasa aneh saat Dito membuka pintu belakang mobil untuknya bukan pintu mobil disamping sopir bagian depan. Sariel tetap masuk juga kedalam mobil tersebut.


Pintu mobil ditutup dengan cepat, Sariel menyandarkan badannya kesadaran kursi tanpa menyadari sesuatu.


"Kita bertemu lagi, Nona Sariel!"


Sariel terperanjat bukan main saat mendengar suara yang keras dan seksi sangat dekat dengan dirinya. Suara yang membuat rasa kesalnya semakin bertambah. Mobil sudah mulai berjalan. Ia berpaling kesisi kanannya, Gabio menatapnya dengan datar. Kemudian tatapannya beralih pada Dito yang sedang menyopir didepannya.


"Dito. Kau menjebakku!"

__ADS_1


Dito melirik Sariel melalui kaca spion dengan rasa bersalah.


"Hentikan mobilnya. Aku ingin pulang cepat!"


Gabio langsung melirik tajam kearah kaca spion. Dito mengangguk. Saat tatapannya bersinggungan dengan Sariel, Gabio melunakkan pandangannya. Ia ingat betul apa yang diajarkan oleh sahabatnya saat menghadapi perempuan.


"Nona Sariel. Saya memang menolak Anda untuk bekerja di kantor saya tadi siang karena kebiasaan terlambat Anda."


Sariel geram mendengarnya, matanya melotot dengan wajah yang tampak memerah.


"Tapi tidak akan terlambat setiap hari!" sanggahnya kesal. Wajahnya tampak cemberut. Dan terlihat lucu dihadapan Gabio. Lelaki itu mengulum senyumnya sambil membuang muka.


"Memangnya Anda bisa mempridiksinya? Hari pertama saja sudah menjadi contoh yang tak patut lalu bagaimana hari selanjutnya." Gabio berkata tenang dan sangat menyebalkan dipendengaran Sariel.


Membuat wanita itu mendengus membuang muka kearah jalanan yang terlihat sedikit ramai.


"Terserah Anda sajalah menilai setiap orang," sahutnya acuh. Ia merasa tak nyaman saat berdebat dengan Gabio.


"Anda boleh terlambat setiap hari, bahkan bangun pagi pun boleh bermalas-malasan. Dan semua itu akan saya gajih."


Sariel ternganga mendengarnya. Tetapi sedetik kemudian ia menutup mulutnya rapat. Ia diam saja tidak menyahut, ia terlihat masih acuh. Lelaki itu benar-benar sedang mempermainkannya, tarik ulur dengannya.


"Bagaimana? Apakah Anda tertarik untuk bekerja di rumah saya bukan diperusahaan milik saya?"


Gabio paham kalau wanita itu sangat dongkol padanya karena sikapnya yang keterlaluan.


Sariel langsung menatap dirinya dengan intens. Gabio terlihat tak nyaman. Ini kali pertama dirinya ditatap wanita asing dengan jarak sangat dekat. Gabio mengalihkan pandangannya kearah depan, Ia berdehem sebentar membuat Sariel kembali mendengus tak suka.


"Maksud saya sebagai pengasuh Bello. Dia sangat menginginkan Anda berada didekatnya," liriknya pelan.


Sariel diam, ia kembali menatap kearah jalanan. Membuat Gabio terusik karena diacuhkan. Matanya sedikit melirik kearah Sariel. Wanita itu terlihat sangat acuh padanya.


"Saya tidak mau. Anda terlalu mempermainkan saya," sahut Sariel tanpa menatap Gabio sama sekali.


Mobil langsung berhenti tepat didepan sebuah restoran mahal.


"Pikirkan sekali lagi keputusan Anda tersebut!" sahut Gabio sebelum ia keluar mobil yang ditumpanginya.

__ADS_1


***


__ADS_2