
Tolong kamu jaga Bello untuk saya. Kalau ia sudah bangun jangan beritahu kalau saya sedang pergi jauh. Saya khawatir ia akan histeris. Dan juga, berikan ia donat ini," tunjuknya pada Donat yang tergeletak didalam piring.
"Baik, Nona," sahut Wina.
***
Sariel sudah berdiri didepan seorang dokter yang tampak memeriksa keadaan Marhawi. Setelah sebelumnya ia menyelesaikan semua biaya. Sariel yang akan menanggung semua biaya tersebut karena Marhawi berada dalam tanggung jawabnya. Beruntungnya, uang yang ada di tabungannya masih melebihi untuk membayar biaya rumah sakit tersebut.
Di ruangan tersebut tak tampak siapapun. Sariel melirik kearah Madi untuk meminta penjelasannya. Setahunya Marhawi baru saja menikahi seorang wanita janda setahun yang lalu.
"Nona, keadaan tuan Marhawi sungguh memprihatinkan. Stroke tepat mengenai lehernya hingga seluruh anggota tubuhnya tidak berfungsi lagi. Tetapi beruntungnya, dia segera dibawa kesini sebelum 24 jam sehingga kami juga cukup mudah menanganinya."
"Lalu, bagaimana perkembangannya sekarang, dok?"
"Kita lihat saja beberapa jam kemudian. Karena kami sudah memberikan penangan yang tepat."
"Baik, Dok. Terima kasih."
"Sama-sama," sahut Dokter tersebut sambil berlalu keluar ruangan yang ditempati oleh Marhawi.
Sariel berpaling menghadap Madi yang masih berdiri di belakangnya untuk meminta penjelasan yang di inginkannya tadi.
Beberapa kali Madi melirik kearah Marhawi yang tampak terlelap di pembaringannya. Matanya juga menampakkan rasa prihatin yang dalam. Madi mengajak Sariel untuk keluar ruangan tersebut. Selain tak ingin mengganggu istirahat Marhawi, Madi juga takut akan menambah beban mental lelaki paruh baya tersebut apabila mendengar kabar itu.
"Begini Nona, istri pak Marhawi tidak mau merawatnya. Beberapa kali kami sudah mendatangi kerumahnya, tetapi wanita itu tetap bersikeras menolaknya. Bahkan wanita itu mengatakan akan menceraikan pak Marhawi," ucap Madi begitu mereka sudah menduduki bangku panjang yang ada di luar ruangan.
Sariel Ternganga mendengarnya, masih ada wanita yang tega seperti itu pada suaminya padahal mereka masih tergolong pengantin baru. Masih dalam suasana yang sedang hangat-hangatnya. Bahkan suaminya sedang mencarikan uang untuk keluarganya, bukan untuk dirinya sendiri.
"Lalu, siapa yang akan menunggu beliau disini?"
"Anak beliau akan datang sebentar lagi. Kami sudah memberitahunya," sahut Madi cepat.
Sariel mengangguk lega. Setidaknya kabar itu mampu mengurangi bebannya.
"Nona sebaiknya pulang saja. Biar saya yang akan menunggu pak Marhawi sebelum anak beliau datang."
"Baiklah. Tapi, tolong beritahu saya kalau anaknya datang. Ada hal yang ingin saya bicarakan dengannya. Dan juga, beritahu saya tentang kondisi beliau kedepannya."
Madi mengangguk. Sariel pun berlalu dari ruangan tersebut. Perasaannya tampak sesak memikirkan kehidupan yang dijalani oleh buruhnya tersebut. Bagaimana kalau kehidupan itu menimpanya, tentu saja ia hanya pasrah pada Sang Pencipta.
Langkah Sariel terhenti saat tangannya dicekal oleh seseorang. Ia berbalik menghadap kebelakang. Seketika matanya membola saat melihat Evan sedang menatapnya dingin.
"Sariel, ada banyak hal yang ingin ku bicarakan denganmu," pintanya sambil menarik paksa Sariel.
__ADS_1
Wanita itu meronta meminta Evan untuk melepaskan cekalan tangannya. Ia merasa kesakitan saat tangan Evan menggenggam tangannya yang kurus dengan kuat.
"Katakan disini saja," pinta Sariel sambil berusaha menghempaskan cekalan tangan Evan agar terlepas dari tangannya. Tetapi gagal, lelaki itu semakin mencengkram dengan kuat tangan kurus Sariel. Sariel yakin tangannya akan berbekas dan membiru.
"Apa kamu mau semua orang mendengar pembicaraan kita!?" hardiknya kesal masih terus menarik Sariel menuju kearah mobilnya. Lirikan matanya tampak menajam.
"Kenapa? Apa sebenarnya yang ingin kamu bicarakan?"
"Tentu saja masalah kita yang belum selesai," Evan mendorong kuat tubuh Sariel setelah pintu mobil terbuka hingga membuat Sariel terjungkal kedalam mobil. Lelaki itu bergegas menutup pintu mobil tersebut. Berjalan memutar dan kembali masuk kedalam mobil miliknya.
Sariel merasa ia dipaksa dan ingin diculik begitu saja. Kalau ia berteriak pun percuma, hanya akan menimbulkan kegaduhan saja.
"Kita mau kemana?" Sariel berusaha tenang walaupun sebenarnya ia sangat panik. Ia tak dapat menerka jalan pikiran Evan. Ditambah mimik serius Evan yang sama sekali tak ingin membuka percakapan dengannya.
"Tentu saja ke tempat yang privasi kita tidak dapat didengar oleh orang lain," sahutnya sedikit menyeringai.
"Kemana?"
"Jangan banyak tanya. Kamu diam saja. Setelah sampai pun kamu juga akan tahu "
Sariel bungkam sambil sesekali matanya melirik keluar kaca mobil, menatap bahu jalan.
Mobil yang mereka tumpangi tampak berhenti disebuah rumah yang terlihat sederhana. Dibelakangnya tampak ada sebuah pembangunan. Entah apa yang akan dibangun disana. Sariel tak ingin banyak bertanya, ia lebih mengkhawatirkan keadaan dirinya sendiri. Ia tahu Evan orang yang nekat saat keinginannya tak terwujud.
"Lepaskan!" Sariel kembali memberontak. Matanya menatap awas kearah Evan, lelaki ini tak bisa dibaca gerak-geriknya. Apalagi sejak tadi mimiknya begitu terlihat serius dan berbahaya. Tetapi Sariel berusaha tak ambil pusing mengenai itu. Ia tetap berusaha tenang agar pikirannya tidak buntu.
"Kenapa? Kamu tak terima aku ajak kesini? Kamu tak ingin bertanya ini rumah siapa?" Evan melepaskan begitu saja cekalan tangan Sariel begitu mereka sudah berada didalam rumah tersebut.
Mata Sariel bergerak memperhatikan ruangan yang tampak sepi tapi dipenuhi dengan berbagai perabotan rumah yang tampak lengkap. Ia kembali menatap Evan penuh tanya.
"Rumah ini untukmu," sahutnya santai yang mengerti arah pandangan Sariel.
Mendengar pernyataan itu, Sariel justru menatap Evan penuh curiga. Ia tak ingin percaya begitu saja ucapan lelaki didepannya tersebut.
"Rumah ini sengaja aku buatkan untukmu. Bukankah sekarang kamu sedang kesulitan mencari rumah hunian."
Sariel diam terpaku menatap Evan. Lelaki itu tampak serius dengan ucapannya. Andai lelaki didepannya ini tidak mengkhianatinya. Ia yakin mereka kini pasti sudah menikah. Dan tentu saja ia wanita yang paling berbahagia setelah pernikahan itu.
"Saya tidak mau!"
"Apa kamu bilang?" Evan mendekat kearah Sariel, membuat wanita itu menatap awas kearah Evan. Perubahan mimiknya begitu cepat, terlihat jelas Evan tak suka dengan penolakan Sariel.
"Saya tidak mau menerimanya karena kita bukan siapa-siapa lagi."
__ADS_1
Lelaki itu menatap lekat Sariel, ia mengulas sedikit senyumnya.
"Kita akan memperbaiki hubungan kita," sahutnya santai membuat Sariel berdecak sebal.
"Tapi... bagaimana hubunganmu dengan Lusi?"
Evan menggeleng, mengulum senyum pahit yang tergambar jelas dimatanya. Lelaki itu menghempaskan bobotnya begitu saja di kursi tamu yang ada didekatnya.
"Kami tidak menjalin hubungan apapun lagi, setelah dia memutuskannya waktu itu. Ia menerima tawaran dari lelaki kaya begitu saja tanpa memikirkan perasaanku. Dia tergiur dengan harta yang banyak setelah orang tuanya mengalami sakit. Bahkan tanpa bicara denganku terlebih dahulu. Bukankah kamu tahu kalau aku juga mampu memberikan uang yang banyak untuknya."
Evan mengusap pelan wajahnya dan menyugar rambutnya kasar. Membuat Sariel diam memperhatikannya.
"Aku tidak menyangka kalau aku mempertahankan wanita yang salah. Tapi, tidak menutup kemungkinan buatku untuk meraih dan memperbaiki hubunganku denganmu, bukan? Bukannya hanya kamu saja yang ingin kita putus, bukan?" Ucapnya beralih menatap Sariel. Wajahnya tampak menyeringai, membuat hati Sariel tampak mencelos. Hilang sudah rasa iba yang sempat terbersit di hatinya.
"Bukankah sudah jelas kalau hati saya terluka karena sikap Anda pada saya. Kenapa juga saya yang harus berkorban perasaan. Apakah saya yang akan mengalah dan mengatakan saya baik-baik saja padahal hati saya perih." Sariel menggeleng berulang kali.
"Saya tidak mau itu terulang kembali pada saya. Bahkan untuk merasakan kebahagian dalam seumur hidup saya saja terasa sulit. Apalagi kebahagiaan yang Anda janjikan pada saya hanyalah semu." Sariel mundur selangkah kebelakang.
"Maafkan saya karena tetap pada pilihan saya. Saya tak ingin merasakan luka yang kedua kalinya. Dan saya turut prihatin dengan keadaan Anda." Sariel memutar tubuhnya. Ingin segera beranjak dari hadapan lelaki yang menyesakkan dadanya. Tetapi ia kembali tersentak saat tangannya di cekal oleh Evan.
"Kalau kamu menolak diriku lagi, maka aku akan melakukannya agar kamu tidak dapat menikah dengan lelaki manapun," ancamnya.
Mata yang tampak sayu tersebut langsung terbelalak mendengarnya, begitupun dengan Evan yang langsung memeluk paksa dirinya. Lelaki itu membalik tubuhnya dengan cepat. Tercium aroma alkohol yang samar. Sariel tahu lelaki ini tidak sadar sepenuhnya.
Ia berusaha memberontak. Tetapi Sariel tak mampu melawan, kekuatan lelaki itu begitu besar. Hanya dalam sekali rengkuh saja, tulang belulangnya terasa ingin patah.
"Evan! Lepaskan saya! Kamu hanya sedang sakit hati saja karena sudah ditinggal oleh Lusi!"
Sariel berteriak keras agar lelaki didepannya ini berhenti untuk berusaha menciumi dirinya.
"Aku tidak sakit hati karena Lusi. Tapi aku sakit hati karena kamu terus menolak diriku. Padahal kamu tahu kalau aku juga mencintai dirimu. Penolakanmu sungguh menyakitiku."
Sariel menggeleng keras, berusaha menghindari gerakan lelaki tersebut. Dengan sekuat tenaga ia mendorong Evan hingga lelaki tersebut terjungkal. Sariel tak melewatkan kesempatan, ia segera berlari dari rumah tersebut. Lelaki itu tampak berteriak memanggil dirinya berulang kali. Tetapi Sariel semakin mempercepat langkahnya. Ia takut sesuatu yang tak diinginkannya benar-benar terjadi.
Beberapa kali ia menoleh kebelakang, takut Evan akan mengejar dirinya hingga ia tidak menyadari lagi kalau ada mobil yang melaju kearahnya.
Ckit!!!
Mobil mendadak direm, membuat Sariel yang tetap menoleh kebelakang menabrak mobil tersebut. Ia langsung terjatuh tepat didepan mobil tersebut setelah terbentur cukup keras. Ia terguling beberapa kali hingga ke semak-semak ditepi jalan. Lututnya dan mata kakinya terasa nyeri. Begitupun dengan kepalanya yang terasa nyeri karena rasa terkejut. Tetapi Sariel tetap berusaha untuk berdiri tetap saja ia tak mampu. Ia dapat merasakan perasaan yang tak nyaman, seluruh tubuhnya terasa menggigil dan panas dingin, bahkan perasaan ingin muntah menjalari perutnya. Begitupun dengan kepalanya yang semakin berat.
"Sariel! Bagaimana kondisimu?"
Sariel menengadah menatap orang yang terdengar khawatir. Lelaki itu tampak membayanginya. Menghalangi sinar matahari sore yang tampak jingga. Belum sempat ia melihat siapa lelaki itu, Sariel sudah tak merasakan apa-apa lagi.
__ADS_1
***