
Sementara itu terjadi kehebohan dikediaman Gabio. Bello yang biasanya menurut pada Gabio tiba-tiba histeris tanpa tau sebabnya. Bahkan ia berlari kesana kemari hingga pipinya yang gembul tampak memerah. Dan tidak ada seorang pelayan pun yang berani mendekat karena ada larangan bagi mereka jika berkenaan dengan Cybello.
"Bello. Ada apa? Dan bisakah kamu menceritakannya pada papa?" Gabio meraih Bello dan berjongkok tepat didepan anak berusia 4 tahun tersebut.
Lelaki kecil tersebut tampak diam sambil menatap Gabio yang menunggu jawaban darinya. Tangan kecilnya bergerak menggambar sesuatu di udara. Dan Gabio berusaha untuk menterjemahkannya tetapi tidak paham sama sekali.
Bello yang kesal tampak kembali histeris hingga beberapa kali ia menjerit disertai dengan kakinya yang bergerak kesana kemari. Pada akhirnya, anak berusia 4 tahun tersebut berlari kearah ruang cuci diikuti dengan langkah Gabio yang masih merasa keheranan dengan sikap Cello yang akhir-akhir ini sering bertingkah tiba tiba.
Lelaki kecil tersebut berusaha menjangkau semua pakaian yang berada didalam keranjang. Pakaian yang baru saja keluar dari pengering mesin cuci dan diangkat oleh bibi Sani.
Bello tampak girang setelah mendapat apa yang dicarinya. Gabio tetap memperhatikan aktivitas Bello tersebut. Ia mengernyit saat mendapati sebuah sapu tangan berwarna kuning emas ditangan Bello. Dan matanya bergerak menatap Sani yang menggeleng pelan.
"Kemarin saya mendapati sapu tangan tersebut di tangannya Tuan Cello yang sedang tertidur pulas. Saya tidak tahu kalau sapu tangan tersebut sangat disukai oleh Tuan Kecil. Saya pikir sapu tangan tersebut pemberian Tuan Muda untuknya."
Gabio memperhatikan sapu tangan tersebut. Bello sedang menciumi sapu tangan tersebut, tetapi anak berusia 4 tahun tersebut langsung histeris sembari menunjuk kearah sapu tangan yang ada ditangan kanannya tersebut. Dan kembali menciumnya, ia tampak marah.
Gabio meraihnya dan menatapnya dengan seksama. Ada bordiran kecil di sana, tepatnya di sudut sapu tangan tersebut. Bordiran buah jeruk dengan seuntai buah Rambai. Buah yang menyerupai buah Langsat ataupun duku tetapi rasanya sedikit asam dari Langsat.
Gabio ikut membauinya. Ia tidak memperdulikan Bello yang terus berusaha menggapai sapu tangan miliknya tersebut dari tangan papanya. Lelaki kecil tersebut tampak memayunkan mulutnya sambil melipat tangannya didada. Ia memutar-mutar badannya beberapa kali masih dalam posisi berdiri yang sama.
Gabio kembali berjongkok dan menyimpan sapu tangan tersebut didalam genggamannya. Ia tahu apa yang dipikirkan oleh Bello barusan.
"Bello. Kasih tau papa. Sapu tangan milik siapa ini?"
Bello masih terlihat enggan untuk memberitahukan papanya. Ia berjalan kearah kamarnya diikuti oleh Gabio dibelakangnya. Lelaki kecil tersebut meraih sebuah buku kecil dan pulpen yang ada di atas meja belajar miliknya. Mencorat-coret dengan fokus sambil sesekali ia tersenyum senang melihatnya membuat Gabio semakin penasaran apa yang dibuat oleh Bello.
Bello mengangkat buku kecil tersebut dan memperlihatkan hasil karyanya disana. Gambar yang tidak jelas dan corat-coret yang hampir Gabio tidak pahami.
"Apa ini? Apa kamu sedang menggambar sebuah bola benang yang biasanya dimainkan oleh kucing?"
__ADS_1
Bello menggeleng kuat dan kembali menunjuk gambar miliknya disertai dengan telunjuknya yang bergerak kearah sapu tangan yang masih dipegang oleh Gabio.
"Kenapa dengan sapu tangan ini? Apakah kotor?" Gabio kembali bertanya dan kembali mendapat gelengan kuat dari Bello.
Lelaki kecil tersebut tampak tidak ingin menyerah untuk memberitahukan sesuatu pada papanya. Ia kembali berjalan kearah meja belajarnya, meraih tas kecil yang selalu dibawanya kemanapun.
Tangannya merogoh tas tersebut mencari sesuatu didalamnya hingga ia menemukan sebuah permen dengan bentuk buah jeruk.
"Siapa yang memberimu permen?" Gabio masih memperhatikan Bello yang tampak tersenyum akhir-akhir ini. Padahal sebelumnya dia selalu terlihat acuh dan ketakutan.
Tangan lelaki kecil tersebut kembali menunjuk pada buku yang dicoretnya tersebut. Ia meraih pulpen dan menulis sesuatu disana.
"Kakak Cantik?" Gabio memperhatikan tulisan tangan milik Bello dan menatap mata Bello yang kembali tampak kegirangan. Bocah tersebut mengangguk beberapa kali.
"Baiklah. Papa akan ucapkan terima kasih pada Kakak Cantik yang sudah memberikan hadiah pada Bello."
"Bagaimana kalau pagi ini kita sarapan terlebih dahulu. Karena sebentar lagi papa ada kerjaan di kantor."
Gabio meraih Bello dan menggendongnya.
"Jadi, Bello hari ini akan pergi ke dokter bersama Om Dito saja."
Bello kembali mengangguk. Ia cukup akrab dengan Dito karena lelaki berperawakan kekar tersebut selalu mengikutinya kemanpum ia pergi. Bahkan lelaki itu yang selalu bertugas menjadi pengawalnya.
***
Seperti biasanya, setiap hari Sabtu pagi Sariel akan pergi ke pasar tradisional untuk menjual semua buah hasil kebunnya yang dipetik kemarin sore. Bahkan wanita muda tersebut tidak tanggung-tanggung untuk menjajakannya sekaligus saat buahnya masih ada tersisa seperti sekarang atau ia akan membagikannya secara cuma-cuma.
Ia memang belum pernah mencoba untuk berbisnis. Bukan karena ia tidak mampu tetapi ia belum mempunyai koneksi luas sebab hanya punya beberapa orang teman yang dikenalnya. Dan mempunyai ruang lingkup pergaulan yang terbatas. Hingga membuatnya kesulitan untuk memasarkan hasil buahnya dengan melakukan kerjasama dan menghasilkan banyak untung juga menghemat waktu. Meminta bantuan dengan ayahnya pun percuma, toh lelaki paruh baya tersebut tidak pernah mencarinya sekalipun saat ia sedang sakit, apalagi untuk hal yang dianggapnya sama sekali tidak menguntungkan untuk dirinya.
__ADS_1
Perasaannya pun masih sangat tidak nyaman mengingat pertemuannya dengan ayahnya kemarin dengan berakhir buruk. Ditambah dengan ancaman yang dilayangkan oleh mereka padanya, semakin membuat Sariel tampak sedikit kacau.
Begitupun dengan Evan, lelaki itu sama sekali tak ada kabar. Dan tidak juga menemuinya seperti biasanya.
Langkah kaki Sariel terlihat ringan walaupun ia menjinjing sekeranjang buah jeruk. Ia bermaksud ingin membagikan buahnya pada beberapa orang yang dikenalnya bahkan beberapa anak kecil yang ditemuinya. Langkahnya langsung terhenti saat tiba-tiba ia ditabrak oleh seorang anak kecil yang berlari dari arah berlawanan dengannya. Sariel berusaha untuk menahan dirinya agar tidak ikut ambruk.
Lagi-lagi setiap kali ia selalu berpapasan dengan anak kecil yang menabraknya.
Matanya menyipit saat melihat sesuatu yang ada di tangan anak kecil tersebut sudah berhamburan di tanah didekat kakinya. Wanita itu langsung meletakkan keranjang besar miliknya, menatap kearah bawah.
Lelaki kecil tersebut tampak berjongkok memungut permennya yang sudah remuk terinjak oleh Sariel tanpa sengaja. Dengan cepat Sariel ikut berjongkok sembari memungut coklat yang masih terbungkus rapi. Sariel meniupnya sebentar untuk membersihkan dari debu bahkan ia menepuknya pelan.
"Duh..., maafin Kakak ya. Kakak tidak sengaja."
Sariel kembali ikut memunguti permen yang terlihat masih terbungkus sempurna sambil menepuk-nepuk membersihkannya. Saat ia ingin menyerahkan permen dan coklat tersebut pada pemiliknya, tangannya terhenti saat matanya bersinggungan dengan wajah yang tak asing tersebut. Wajah yang selalu menggambarkan ketakutan dimanapun.
Mata Sariel membola saat melihat sosok Bello yang langsung mengangkat kepalanya. Mata Bello beberapa kali melirik takut kearah sekitar saat orang-orang memperhatikan mereka berdua. Lelaki mungil tersebut kembali menatap Sariel yang tersenyum tipis.
Bello langsung bergerak memeluk Sariel, seolah meminta perlindungan padanya. Badan mungil tersebut memeluknya dengan erat hingga Sariel merasa kesulitan melepaskan tangannya kecil yang ikut serta mengungkung tangannya.
Sariel merasa heran, setiap kali bertemu dengan Bello, dia selalu dalam keadaan yang sama. Selalu berlari dalam ketakutan bahkan badannya terlihat hingga menggigil. Entah karena apa, ia yakin Bello sedang ada masalah dalam kesehatan mentalnya. Bagaimana mungkin Bello selalu berkeliaran di area pasar tradisional tersebut.
"Bello. Apakah Bello kabur lagi?" tanya Sariel hati-hati.
Bello tampak menegang, dengan terpaksa ia melepaskan pelukannya sembari menatap wajah Sariel yang sedang menunggu jawaban darinya. Matanya bergerak tak tentu arah, masih menggambarkan ketakutan.
Lelaki kecil tersebut hanya diam saja sekian detik lamanya. Ia tak mengangguk ataupun menggeleng, justru ia memperlihatkan wajah ketakutan seperti biasa. Matanya tampak awas memperhatikan sekitarnya. Membuat Sariel merasa kasihan melihatnya, entah apalagi yang membuat anak seusia Bello hingga tersesat kepasar tradisional yang ramai pengunjung. Padahal nyata-nyata ia memiliki beberapa pengawal.
***
__ADS_1