
Sariel melihat keadaan rumah Gabio yang terlihat sepi. Ia sudah menidurkan Bello di kamarnya. Anak kecil tersebut enggan untuk melepaskan tangannya.
Dengan berjalan mengendap-endap ia sudah hampir berhasil mencapai pintu. Sebelum lampu terang dinyalakan oleh Gabio. Membuatnya terkejut luar biasa. Ia hanya tak ingin membuat suara gaduh dan membangunkan orang rumah yang sedang istirahat. Sariel ingin menenangkan dirinya dari kegundahan sebelumnya, saat Wina memberi kabar padanya petang tadi.
Lelaki itu berdiri menatap dirinya dengan menyandarkan punggungnya ditembok rumah. Dengan tangan yang bersidekap didada. Gayanya tampak sangat santai tetapi tatapannya tajam dan dingin.
Sariel berusaha mengatur napasnya yang memburu serta menenangkan degup jantung yang berontak. Ia begitu terkejut dipergoki seperti maling saja.
"Kenapa tingkahku seperti maling? Apa ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan?"
Sariel menggeleng dan mundur, menjauh dari Gabio dengan gugup. Dia tak menyangka lelaki itu memperhatikan gerak-geriknya.
"Kenapa takut?" Lelaki itu semakin mengintimidasi Sariel. Menegakkan badannya sambil berjalan selangkah kedepan.
"Bukan apa-apa," sahut Sariel ketus sambil membuang muka. Ia merasa jengah dengan gertakan Gabio. Ia berbalik menghadap pintu dan mencoba untuk membukanya tetapi nihil. Pintu sama sekali tidak bisa dibuka. Berulangkali ia memutar handelnya tetapi tetap saja gagal.
Betapa bodohnya dirinya tak menyadari kalau pintu itu terkunci. Tentu saja dikunci karena hari sudah malam. Sariel merutuki kebodohannya sendiri. Setiap kali berhadapan dengan Gabio selalu membuat sarafnya tegang dan kaku.
"Mau kemana? Apa kamu ingin melarikan diri lagi?"
Sariel mendelik tajam saat tercium aroma parfum maskulin Gabio dari jarak yang cukup dekat. Ia menahan napasnya dan memundurkan sedikit kepalanya untuk menghindari gerakan Gabio yang tiba-tiba.
"Saya hanya ingin menghirup udara malam. Didalam rumah terasa pengap," sahutnya beralasan.
Lelaki itu berdecak beberapa kali. Tangannya bergerak menjangkau pintu rumah kemudian memasukkan kartu akses dan menggeseknya. Pintu pun bisa dibuka.
Dengan berjalan tergesa Sariel keluar rumah, duduk di gazebo yang ada di taman depan. Ia memperhatikan sekeliling halaman. Beberapa pengawal tampak berjaga disetiap sudut halaman. Di pos pun tampak ramai mereka saling mengobrol sambil minum kopi. Sesekali terdengar kelakar mereka. Ingatannya pun berpetualang pada buruh taninya. Setiap saat keluar kelakar dari mulut mereka walaupun dalam keadaan sangat lelah sekalipun. Itulah penghiburan mereka dikala hidup yang mereka tempuh tidak semulus jalan tol.
"Perempuan kalau malam-malam diluar sendirian itu bahaya." Gabio menghempaskan bobotnya di sisi kanan Sariel. Matanya terlihat acuh dan fokus kedepan. Ia tidak memperdulikan protes wanita itu dari pelototan matanya.
"Memangnya saya mau kemana hingga Anda bilang disini berbahaya?"
"Kamu memang tidak kemana-mana bukan, hanya duduk disini saja. Tapi, siapa tahu ada bahaya dari luar pagar sana."
Sariel mendengus sambil mempermainkan handphone yang ada ditangannya. Besok ia harus mengecek kebun buah miliknya. Bahkan besok pemupukan kebun jeruk yang rutin dilakukan setiap 3 bulan sekali. Ia pun juga harus mengecek pupuk dan kapur digudang miliknya, apakah cukup untuk persediaan sebulan kedepan.
"Kenapa sejak tadi menatap handphone? Apa kamu sedang menunggu pesan dari pacarmu?" Gabio masih terlihat acuh walau sesekali matanya bergerak melirik tangan Sariel yang sejak tadi membuka dan menutup handphonenya.
"Memangnya apa urusannya dengan Anda!"
Gabio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak pandai bicara saat berhadapan dengan perempuan. Apalagi perempuan seperti Sariel yang terlalu kaku dalam tatanan bahasanya.
"Ya sudah. Sebaiknya kita masuk kedalam saja. Tidak baik untuk kesehatanmu kalau terlalu lama diluar."
Gabio berdiri dari duduknya, melirik sekilas kearah Sariel yang terlihat masih acuh dan enggan. Perempuan tersebut membuang napasnya kasar sembari menengadah menatap langit malam.
"Kalau lambat masuk kedalam saya kunci loh pintunya."
__ADS_1
Berhasil. Sariel langsung berdiri dan menatap dirinya dengan pandangan tak suka. Tetapi wanita itu tetap melakukan seperti apa yang Gabio tekankan.
Keduanya beriringan berjalan memasuki rumah. Sariel langsung berjalan kearah kamar yang disediakan untuknya. Tak lupa ia menutup rapat kamar tersebut dan menguncinya.
Ia sama sekali tak mampu menghilangkan perasaan gelisahnya. Tak ada kabar lagi tentang Wina setelah makan malam tadi. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu dengan mereka.
***
"Sariel! Keluar!" beberapa kali Leni menggedor pintu rumah Wina. Ia terlihat sangat kesal karena rumah tersebut sangat sepi. Kepalanya bergerak kearah belakang saat ada tangan yang menyentuh pundaknya.
Seorang lelaki berpenampilan bak preman tampak berdiri dihadapannya. Wajahnya tampak sangar dengan mata melotot tajam. Leni membalik badannya menghadap lelaki tersebut. Ia berlagak angkuh didepannya.
"Kenapa kamu melototiku seperti itu!" hardiknya kesal.
Lelaki itu melirik kearah kawanan dibelakangnya. Seolah memberi kode untuk mendekat pada yang lainnya.
"Nona. Apakah Anda bernama Sariel?"
Lelaki yang satunya maju dan menatap Leni dengan tampak ragu. Penampilan wanita yang mereka incar dan yang ada didepannya sangatlah berbeda. Bahkan wanita didepannya terlihat sangat terawat dan cantik. Sedangkan wanita yang bernama Sariel, dilihat dari fotonya sudah tampak sangat sederhana dan lusuh.
"Apa!? Apa mata kalian buta!? Saya cantik begini kalian bilang Sariel!" pekik Leni tak terima. Matanya melotot semakin bulat.
"Dengar ya baik-baik. Saya ini anak orang kaya. Berbeda dengan Sariel yang miskin dan dekil. Sudah pasti ia punya hutang dimana-mana. Penampilannya saja sangat lusuh, berbeda dengan saya yang cetar membahana. Apa kalian tidak bisa bedakan mana wanita berkelas dan mana wanita kampungan," gerutunya kesal. Leni yakin para preman ini datang untuk menagih hutang pada Sariel.
"Nona memang cantik bahkan sangat cantik!" sahutnya cengengesan. Melirik Leni dari atas hingga bawah. Tetapi Ia terkejut saat temannya justru memukulnya dan melotot kesal padanya.
Leni memutar otaknya sebentar, kemudian ia tersenyum sinis. "Tentu saja saya datang untuk menagih utangnya!" sahutnya acuh dengan senyum sinisnya.
Mana mau ia mengaku saudara tiri dengan Sariel. Bisa-bisa dirinya yang akan dikejar oleh mereka. Dan bisa-bisa dirinya yang akan mereka teror dan Sandra sebagai jaminan utang.
Para preman terdiam, mereka saling tatap dan memberi kode. Leni tak menghiraukan mereka, ia segera menjauh dari sana. Padahal kedatangannya bukan itu. Ada hal lain yang ingin ia ketahui dari Sariel.
***
Sejak saat itu kabar tentang Wina tidak ada lagi. Nomor wanita itu juga sudah tidak aktif lagi.
Pernah Sariel mencoba untuk menemui wanita itu ke kediamannya. Tetapi dari jarak jauh saja dia sudah melihat para preman yang terus berjaga disana setiap hari. Tidak mungkin ia menghampiri rumah tersebut. Bisa-bisa dirinya hanya tinggal nama saja saat berhadapan dengan preman tersebut.
Sariel bergidik ngeri membayangkannya. Ia segera menjauh dari sana dengan diam-diam.
Entah kemana Wina hingga tak terlihat batang hidungnya, begitupun dengan keluarganya.
Urusan perkebunan, Sariel meminta bantuan pada Madi. Ia tak bisa turun tangan secara langsung. Hanya sesekali untuk memeriksa keadaan saja. Masih takut dan syok dengan keberadaan para preman yang mencarinya entah untuk keperluan apa. Tetapi seminimal mungkin ia akan mengurangi kegiatannya diluar rumah.
Akhirnya Sariel kembali lagi kekediaman Gabio. Ingin menemui lelaki itu sekaligus meminta pekerjaan yang sempat ditawarkan lelaki itu tempo lalu.
Tidak mungkin ia berlindung di rumah tersebut tanpa melakukan apapun juga. Setidaknya ia akan menerima tawaran yang sempat ditolaknya dulu.
__ADS_1
"Jadi, kamu setuju untuk bekerja disini sebagai pengasuh Bello?"
Sariel mengangguk, ia tak berani menatap wajah serius Gabio. Sariel yakin lelaki berwajah dingin itu pasti penasaran dengan perubahannya yang tiba-tiba. Padahal dulunya dia keuh-keuh menolaknya. Tangannya bergerak membuka dan menggenggam jemarinya.
"Tapi... Pekerjaanmu tidak hanya mengasuh Bello saja. Masih ada pekerjaan tambahan yang lainnya."
Sariel mengangkat kepalanya, menatap Gabio yang tersenyum miring kearahnya. Ia pasrah saja kali ini, toh bekerja dengan Gabio hanya untuk sementara saja.
Lelaki itu merasa menang dan berada di atas angin. Tak perlu bersusah payah membujuknya, wanita itu datang dan meminta sendiri padanya. Ia menyeringai setelahnya.
"Apa? Apa tambahannya? Apakah saya harus memasak? Mengepel? Menyapu halaman? Atau menguras kolam renang? Atau..."
"Bukan itu!" Sanggahnya cepat. Gabio menggeleng, telinganya terasa berdenging. Wanita didepannya ini ternyata cerewet juga.
"Lalu apa?" Sariel mengangkat kepalanya, menatap netra yang sejak tadi memperhatikan dirinya.
"Jadi asisten pribadiku sekaligus!"
Sariel melotot, ia tampak keberatan.
"Tapi...."
"No! Tidak ada tapi-tapian. Kamu akan bekerja disini tapi dua pekerjaan sekaligus? Atau kamu pilih salah satunya tetapi tidak tinggal disini!?" Ancam Gabio.
Sariel menarik napas gusar, mendelik tak suka pada Gabio. Andai ia tak terdesak dan kesulitan seperti ini, sudah pasti ia akan menolak semua tawaran Gabio.
Sariel merasa bodoh sendiri karena pergaulannya yang kurang luas, koneksinya yang terbatas dan ditambah pengetahuannya yang lainnya masih sangat tidak memadai. Tentu saja membuatnya kesulitan saat berada jauh dari lingkungan keluarga. Dan sekarang tidak ada yang bisa diharapkan dari orang lain kecuali lelaki dingin didepannya tersebut.
"Baiklah. Saya setuju dengan poin satu. Tapi saya juga ingin mengajukan satu syarat!"
"Apa syaratnya?" sambar Gabio cepat.
"Saya punya kebun diluar dan dikelola oleh beberapa orang, kalau boleh saya tidak ingin dibatasi apabila ingin memantau keadaan disana tanpa kecuali."
Gabio berpikir sejenak kemudian mengangguk.
"Baiklah. Untuk hal itu saya berikan kebebasan. Tapi, waktu yang saya berikan juga terbatas. Jadi, sebisa mungkin kelola lah waktu yang saya berikan itu hingga batas waktunya."
Sariel mengangguk. Mereka saling berjabat tangan pertanda kontrak kerjasama diantara mereka berjalan.
Gabio beranjak dari duduknya kemudian melangkah meninggalkan wanita itu sendirian. Tetapi langkahnya terhenti, matanya kembali bergerak memindai penampilan Sariel dan menarik napasnya pelan.
"Ikuti saya setelah ini. Kita akan pergi kesuatu tempat. Ini adalah pekerjaan pertamamu!" Perintahnya.
Sariel mengangguk dan segera masuk ke kamarnya. Ia mengambil tas selempang kecil miliknya dan memasukkan handphonenya. Sariel menatap penampilannya, dirasa cukup bagus dan sopan walaupun ia meminjam baju tersebut dari Bi Mini yang kekecilan. Tetapi baju itu pas dibadannya. Ia tidak membawa sehelai pun pakaian kerumah tersebut. Ingin mengambil pun percuma karena banyak bahayanya. Hingga ia putuskan untuk meminjam saja milik Mili yang tidak terpakai.
***
__ADS_1