
Gabio tampak panik melihat Sariel tak sadarkan diri. Ia memang mengikuti mobil Evan yang membawanya sejak tadi karena rasa penasarannya saat bertemu di rumah sakit tadi. Tetapi Gabio kehilangan jejak saat mengisi bensinnya tadi. Memang sial ia kali ini, membawa mobil lama miliknya.
Beruntung Sariel tidak melepaskan gps yang dipasangnya pada tas wanita tersebut. Ia masih menyimpan harapan agar Sariel mau menerima tawarannya tempo lalu.
Ia segera mengangkat Sariel untuk membawanya ke rumah sakit. Belum hilang rasa terkejutnya, mobil miliknya sudah kempis bannya. Beberapa orang tampak bergerombol menghadangnya. Sepertinya mereka bukan orang baik-baik apabila dilihat dari tingkah mereka yang membawa senjata tajam di tangan masing-masing.
Gabio segera memasukkan Sariel kedalam mobil. Tak lupa ia memencet tombol bahaya yang terhubung pada Roni, orang kepercayaannya sekaligus sekretaris utamanya. Setelahnya ia segera mengunci pintu mobil tersebut untuk memastikan keamanan Sariel terlebih dahulu dengan menghidupkan AC nya terlebih dahulu.
Beberapa orang langsung bergerak kearahnya tanpa aba-aba. Ia menatap awas kearah mereka semua sembari bersiaga. Jumlah mereka memang tidak bisa dikatakan banyak tetapi ia tentu saja merasa kewalahan saat menghadapi jumlah yang tidak sepadan. Sejago apapun dirinya pasti akan kewalahan menghadapi mereka yang berjumlah 8 orang tersebut.
Dua orang diantara mereka langsung maju mengarahkan pisau belati padanya, dengan cepat Gabio menangkisnya serta menendang tepat di lututnya hingga lelaki brewok tersebut tersungkur. Tetapi Gabio salah langkah, ia terlalu fokus pada mereka yang ada didepannya hingga melupakan salah seorang yang menyudup diam-diam dibelakangnya.
Ia terkena pukulan tepat di punggung kanannya. Rasa nyeri menjalari persendiannya hingga kebas sampai ujung jarinya. Gabio tersungkur dengan punggung yang terasa nyeri hebat.
Belum sempat ia bangun, bayangan seseorang tampak mendekat kearahnya. Saat ia ingin mengangkat kepalanya, ia melihat preman tersebut ingin menancapkan pisau belati tepat dibelakangnya. Dengan cekatan ia berguling dan menendang kaki lelaki tersebut. Sungguh beruntung dirinya, lelaki itu terluka mengenai pisaunya sendiri karena terpeleset dan jatuh terjerembab.
Gabio mulai sedikit cemas melihat keadaan dirinya. Ia merasa tak mampu menghadapi ke brutalan mereka. Ditambah dirinya kalah jumlah dari mereka. Ia benar-benar merasakan jemarinya kebas. Beberapa kali ia berusaha menggenggam tangannya sendiri untuk menormalkannya kembali.
Semenit kemudian ia mampu bernapas lega. Bunyi deru mobil semakin nyata, sayup-sayup ia mendengarnya. Setidaknya ada mobil yang lewat dan mampu mengalihkan perhatian para preman tersebut.
Mobil tersebut berhenti tepat didepannya. Dan ternyata yang datang adalah Roni bersama beberapa bodyguardnya dan juga rombongan polisi yang langsung bergerak mengepung mereka dengan menudingkan pistol ditangan masing-masing.
Para preman tersebut tampak kalang kabut ingin melarikan diri tetapi mereka tertangkap langsung oleh polisi walaupun terjadi serangkaian penembakan karena perlawanan mereka.
"Tuan, bagaimana kondisi anda?"
Roni memperhatikan Gabio dengan seksama, ia sedikit cemas melihat Gabio yang tampak berantakan serta memegang pundak kanannya dengan keadaan wajah yang terlihat mengernyit kesakitan.
"Aku tidak apa-apa. Kamu urus mobilku dan jangan lupa ganti mobil itu dengan yang baru. Aku tak ingin kejadian kali ini terulang lagi. Dan juga, cari tahu siapa yang sudah memerintah mereka untuk melukaiku!"
"Baiklah. Saya akan menginterogasi mereka. Tuan tenang saja."
Gabio mengangguk, Roni berusaha untuk memapah dirinya tetapi Gabio menolaknya. Ia berjalan menuju kearah mobil yang terkunci tadi, berharap Sariel tidak kenapa-kenapa didalam sana.
"Tuan, biar saya yang melakukannya untuk Tuan. Apakah Tuan ingin mengambil sesuatu didalam sana?" Nada suara khawatir Roni terdengar kentara sekali.
Gabio melirik tajam padanya tanpa menjawab lelaki itu ia tetap berjalan kearah mobilnya. Membuat Roni semakin merasa cemas melihat Gabio yang menghiraukan dirinya. Roni masih melihat dengan jelas langkah Gabio yang sedikit tertatih. Ia sedikit berlari untuk menghampiri Bos mudanya tersebut, tetapi kembali urung saat mendapat peringatan dari Gabio.
Gabio segera membuka pintu mobil, Roni masih berada dibelakangnya. Membuat Gabio berbalik dan menatap Roni dingin. Membuat lelaki itu serba salah hingga akhirnya ia sedikit menjauhi jaraknya dengan Gabio.
Dengan sangat perlahan, Gabio menyusupkan kedua belah tangannya di punggung dan tungkai Sariel. Ia berusaha mengangkat Sariel yang masih pingsan.
Beberapa anak buahnya yang melihat tampak sangat terkejut. Bergegas Roni ingin membantunya tetapi lagi-lagi Gabio menolaknya padahal dirinya sendiri dalam keadaan cedera.
__ADS_1
"Tuan. Biar saya saja yang mengangkatnya. Keadaan pundak Tuan sendiri dalam keadaan cedera."
Gabio kembali mendelik tajam, ia tak suka ucapan yang keluar dari mulut tangan kanannya sendiri.
"Aku tidak selemah itu. Kamu meragukan keadaanku, huh!" gertaknya. Roni segera menunduk sambil membungkam mulutnya yang masih ingin berkata-kata. Gabio melewatinya begitu saja, membuat Roni bertambah cemas melihatnya. Ia segera mengiringi langkah Gabio.
"Tuan, Apa yang terjadi pada Nona ini?"
Roni ikut terlihat cemas.
"Aku tidak sengaja menabraknya," sahut Gabio enteng. Roni terkejut mendengarnya. Ia mengenali wanita itu. Wanita yang kerap menjadi bahan pembicaraan Gabio dan sahabatnya akhir-akhir ini.
"Jangan katakan pada Bello. Dia pasti sangat histeris saat tau wanita yang diinginkannya terluka," ucap Gabio seiring menutupnya pintu mobil.
Roni meneguk ludahnya kasar disertai dengan anggukan dalam. Baru saja ia ingin menelpon pihak bengkel untuk menderek mobil Gabio. Suara dering handphonenya menghentikan gerakannya.
"Roni! Dimana Gabio? Kenapa handphonenya tidak aktif?" Cerca Indra begitu ia menekan tombol hijau dari seberang sana membuat Roni menjauhkan sedikit handphonenya. Ia menggosok telinganya yang terasa berdenging.
"Tuan Gabio sedang menuju kerumah sakit__"
"Apa? Kenapa? Apa yang terjadi padanya? Kamu tidak menyertakan bodyguard untuknya?"
Lagi-lagi lelaki itu memotong cepat ucapan Roni. Terdengar nada panik dari seberang sana. Roni yakin kalau Indra pasti gelabakan sekarang.
"Apa? Menderek mobil? Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi padanya, Roni?" Geram Indra dengan nada keras. Membuat Roni kembali menggosok telinganya. Ajaib benar tuan Indra, kecerewetannya bahkan mengalahkan kecerewetan kaum emak-emak.
"Sebaiknya Tuan Indra pergi kerumah sakit Abdul Azis terlebih dahulu. Tolong bantu Tuan Gabio untuk berobat disana."
"Hei Roni! Jelaskan dulu pada__"
Tut
Roni mendesah melihat handphonenya yang kehabisan baterai. Pasti sehabis ini ia akan diceramahi habis-habisan oleh Indra.
***
Langkah kaki Gabio semakin cepat seiring masuknya Sariel keruang UGD. Ia dicegat begitu saja didepan pintu. Bahkan seorang suster mengatup rapat pintu tersebut setelahnya. Membuat Gabio gusar tidak terkira.
"Maaf Tuan, apa yang terjadi dengan perempuan tadi?"
Gabio terkejut, ia berbalik dengan cepat. Memperhatikan lelaki asing yang berdiri dihadapannya sekarang. Tatapannya menelisik dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sedikit curiga dengan kegugupan yang kentara sekali terlihat jelas dimatanya.
"Kenapa Anda bertanya pada saya?" sahutnya dingin membuat lelaki yang hampir seumuran dengannya tersebut menunduk takut.
__ADS_1
"Maafkan kelancangan saya Tuan. Sepertinya saya mengenali perempuan tadi," sahutnya ragu. Masih tak berani mengangkat wajahnya. Membuat Gabio memicingkan matanya. Ia kembali menelisik penampilan lelaki didepannya tersebut. Dengan jeans lusuh dan kaos oblong coklat yang terlihat sedikit kusam. Membuat Gabio semakin curiga melihatnya.
"Yo! Apa yang terjadi padamu!?" Teriak Indra tiba-tiba. Lelaki itu sudah berdiri tidak jauh darinya. Napasnya tampak memburu tidak beraturan ditambah dengan peluh yang memenuhi keningnya. Penampilannya tampak acak-acakan.
Indra memutar-mutar tubuh Gabio, memeriksanya dengan detail. Membuat Gabio mengernyitkan sedikit dahinya hingga ia lupa dengan keberadaan lelaki yang bicara dengannya tadi.
"Tau darimana kamu?" Sergahnya cepat.
"Masa kamu bicara begitu, Yo. Aku mencemaskanmu loh. Wajarkan aku sebagai sahabatmu!"
Gabio menutup matanya sejenak. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sudah dipastikan kalau lelaki didepannya tersebut akan terus menceramahinya hingga beberapa jam kedepan.
Saat Gabio berbalik ingin menanyai pemuda tersebut, lelaki itu justru tidak ada ditempatnya. Membuat Gabio sedikit celingukan melihatnya.
"Apa yang kamu cari, Yo? Sejak tadi aku bicara denganmu tapi matamu tidak kearahku bahkan fokusmu juga terbagi."
Pernyataan Indra menyadarkannya. Tetapi setelah itu tidak lama pintu ruangan terbuka menampakkan seorang dokter dengan jas putihnya sembari membetulkan letak kacamatanya. Gabio tidak menjawab lagi pertanyaan Indra tadi. Ia justru berjalan tergesa menghampiri dokter muda tersebut.
"Dok, bagaimana keadaan pasien?" Cercanya.
"Keadaan pasien baik-baik saja. Tidak ada hal yang perlu di khawatirkan. Sebab tidak ada guncangan dan benturan keras yang dialaminya. Hanya saja pergelangan kakinya terkilir dan sedikit bengkak," sahut dokter tersebut menjawab kepanikan Gabio.
Lelaki itu tampak sedikit bernapas lega.
"Kalau boleh tahu, apakah dia istri Anda?" Pertanyaan tersebut membuat Gabio terperangah mendengarnya. Begitupun dengan Indra yang ikut menyimak pembicaraan mereka. Ia sama sekali tidak tahu-menahu mengenai apapun.
"Sebaiknya percepat saja proses kehamilannya, sebab wanita yang baru menikah terkadang menginginkan anak untuk mengobati kegelisahannya dan rasa stresnya," sahut dokter tersebut sembari berlalu. Membuat Indra tertawa cekikikan meledek sahabatnya yang tak mampu berkata-kata tersebut.
"Makanya, menikah, bro!" Sahut Indra cepat setelah tawanya reda. Membuat Gabio mendelik tajam padanya.
"Tuan, sebaiknya luka anda juga segera di obati. Kalau tidak, maka akan bertambah parah," seorang suster mempersilahkan Gabio untuk masuk kedalam ruang UGD.
Lelaki itu mengangguk sambil masuk kedalam ruangan UGD tersebut. Menatap Sariel yang masih belum sadarkan diri.
"Istri Tuan sudah sadar sejak tadi, dia hanya sedikit kelelahan saja hingga tertidur," sahut Suster yang mengerti arah tatapan Gabio.
"Dia bukan istri saya, Sus."
Suster tersebut tersenyum mendengarnya.
"Maafkan saya karena sudah salah sangka," ucapnya cepat.
Gabio mengangguk dan segera melepas kancing kemeja yang melekat ditubuhnya. Ia sedikit membuka bahunya yang memar dan membengkak.
__ADS_1
***