Takdir Cinta Ceo Dingin

Takdir Cinta Ceo Dingin
Gadis Dermawan


__ADS_3

Beberapa kali Gabio menghentakkan berkas keatas meja kerjanya. Ia sama sekali tidak dapat fokus bekerja.


Wajahnya tampak dingin dan kaku. Ia memijat kepalanya pelan. Ada banyak tanya yang memenuhi benaknya memgenai kejadian siang tadi. Ditambah dengan keberadaan Bello yang muncul secara tiba-tiba bersama wanita yang lebih tua dari Sariel tadi. Semakin membuat benaknya penuh.


Gabio tidak ingin anaknya terlibat hal yang tidak diinginkannya setelah berhubungan dengan Sariel. Ditambah keadaan Bello yang kerap tak terkendali. Seperti pagi tadi, ia tidak ketahuan sudah menghilang dari rumah. Tak ada juga laporan yang sampai padanya.


"Panggil Dito kemari!" Perintahnya dingin membuat Roni meneguk ludahnya kasar.


"Maaf, Tuan Muda. Dito sedang pulang kampung," sahutnya pelan. Membuat Gabio mengangkat kepalanya.


"Sejak kapan? Kenapa ia tak izin dariku!?" nada suaranya terdengar membentak.


"Bukannya beberapa hari yang lalu Dito langsung meminta izin melalui Anda? Mengabarkan keadaan orang tuanya yang sedang sakit keras di kampung."


Gabio mengernyit berusaha mengingat hari itu. Ia mendesah sambil menyugar rambutnya pelan. Sampai hal sepenting penjaga Bello pun ia tak ingat sedang izin cuti padanya.


"Memangnya kenapa Tuan Muda sampai mencarinya sepanik ini? Apakah kinerjanya tidak cukup bagus dimata Tuan? Atau ada hal yang lain lagi?"


"Aku hanya tidak ingin keamanan Bello terancam setelah dekat dengan wanita yang tidak jelas seperti wanita itu!" hardiknya dingin.


Roni mengernyit mendengarnya. Bukannya mereka tahu kalau wanita itu adalah Sariel.


"Ditambah Bello yang tidak bisa akrab dengan siapapun kecuali Dito. Buktinya sudah banyak para pengawal dan pengasuh yang aku pecat dan mengundurkan diri hanya karena mereka tidak bisa mengambil hatinya."


"Saya rasa bukan hanya itu saja yang menjadi pikiran Tuan untuk saat ini?" selidik Roni hingga membuat kekehan halus keluar dari mulut Gabio.


"Kamu sudah pandai menilai ku sekarang. Kamu tahu apa yang membuatku seperti ini?" Gabio kembali berujar dengan nada dingin. Beberapa kali ia menghembuskan napasnya gusar. Roni menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku memergokinya bersama seorang lelaki. Kemudian aku mengikuti mereka."


Roni kembali diam memperhatikan Tuannya yang kali ini sangat banyak bicara. Tidak biasanya lelaki itu ingin tahu urusan orang lain. Apalagi sampai menjadi penguntit sekalipun.


"Dan entah kesialan darimana, tiba-tiba wanita itu sudah muncul didepan mobilku."


Gabio meneruskan ucapannya sambil menarik napasnya pelan kemudian mengusap wajahnya perlahan. Pikirannya terlihat cukup kacau.


"Tuan, sebaiknya Tuan istirahat sebentar. Atau setidaknya Tuan memerlukan kopi pahit yang kental."


"Apa maksudmu?"


"Tentu saja Tuan harus berhenti sejenak beraktifitas. Bagaimana kalau saya pesankan minuman sekaligus makanan?" tawar lelaki itu.

__ADS_1


"Oh ayolah. Aku sedang tidak lapar ataupun kehausan."


"Tapi itu mampu untuk mengurangi beban yang ada di kepala Tuan."


"Bukan itu yang aku mau, Ron. Yang ada justru pekerjaanku tambah terbengkalai."


Roni menarik napas pelan, ia tersenyum tipis. Kalau sudah mengenai pekerjaan, apapun yang ada didepan Gabio maka akan diabaikan olehnya.


"Justru dengan sedikit bersantai pekerjaan Tuan akan cepat selesai."


Gabio bungkam sambil mengetukkan jarinya perlahan. Memperhatikan orang kepercayaan yang berdiri didepannya. Tidak biasanya lelaki itu secerewet sekarang.


"Bagaimana kalau kamu melaporkan hasil penyelidikanmu saja. Itu pasti akan membuat pikiranku sedikit lebih tenang," sahut Gabio mengabaikan semua saran Roni.


"Apakah kamu sudah mendapatkan semua informasinya secara lengkap?"


Roni bergegas berjalan kearah kursi kosong yang ada disamping kanannya. Ia sampai lupa untuk menyerahkan berkas yang diminta oleh Gabio padanya tadi.


"Ini laporan yang Tuan inginkan," sahutnya sembari mengulurkan berkas tersebut dihadapan Gabio.


Dengan cepat Gabio mengambil berkas tersebut. Membukanya dengan perlahan. Hatinya sangat gelisah apalagi menyangkut keamanan anaknya. Cukup dengan tidak mampu bicara saja penderitaan anak itu, jangan sampai ia mengalami penderitaan lain. Walaupun kenyataannya bahwa hidup Bello lebih menderita lagi karena tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu selama dalam tumbuh kembangnya. Sebisa mungkin Gabio akan membuang semua trauma yang dialaminya karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu.


"Jadi, para preman itu tidak ada hubungannya dengan wanita itu?" sahutnya pelan masih tidak melepas pandangan dari laporan tersebut.


"Itu berarti keamanan Bello juga akan terancam saat bersamaku," sahutnya sambil mengusap dagunya pelan. Roni mengangguk tegas.


"Bagaimana kalau Bello diserahkan saja pada Nona Sariel. Saya yakin__"


"Kamu g*la! Dia wanita lemah dan tidak punya tempat tinggal. Kamu ingin anakku menderita!" hardik Gabio cepat.


Kalau sudah mengenai keamanan Bello, ia paling tidak suka diatur oleh orang lain.


"Maafkan saya Tuan. Saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya ingin menyarankan agar wanita itu tinggal di rumah Tuan saja."


Gabio diam, menarik napasnya pelan. Kembali menatap Roni dengan perasaan bersalah.


"Itu yang aku usahakan selama ini," lirihnya.


***


Sariel memperhatikan uang sisa penjualan buahnya yang tertinggal sedikit setelah membayar gajih buruhnya ditambah dengan biaya perawatan Marhawi dirumah sakit. Masih cukup untuk memberi makan dirinya dan keluarga Wina selama 2 bulan kedepan.

__ADS_1


"Sami... Ani..."


Kedua bocah itu tampak berlarian menghampiri Sariel. Menunggu perintah dari Wanita yang sedang menumpang di rumah mereka.


"Ada apa, Kak?" sahut Ani begitu mereka berdiri dihadapan Sariel. Matanya yang bulat mengerjap beberapa kali membuat Sariel gemas melihatnya. Mereka anak-anak yang sangat penurut.


"Ini, ambillah uang ini untuk kalian berdua. Untuk membeli keperluan kalian. Jangan lupa ditabung sisanya."


Sariel menyerahkan dua lembar uang berwarna merah ke tangan masing-masing dari mereka. Sariel tak sengaja mendengar mereka berdua merengek kepada Wina meminta untuk dibelikan sepatu baru beberapa hari yang lalu.


Keduanya tampak saling menatap memperhatikan uang tersebut. Kemudian beralih menatap wajah Sariel dengan berbinar.


"Terima kasih, kak," sahut keduanya serempak.


"Iya sama-sama." Sariel mengusap kepala mereka pelan. Ia senang melihat mata mereka yang berbinar. Walaupun bisa dikatakan uang tersebut tidak seberapa.


Keduanya berlari kearah dapur dengan girang menghampiri Wina dan juga ibunya Wina yang sedang sibuk memasak. Tidak lama setelahnya Wina muncul kearahnya.


"Seharusnya Nona tidak perlu memberikan mereka uang. Gajih saya pun masih utuh." Wina tampak keberatan. Apalagi Sariel masih perlu banyak istirahat setelah kejadian kemarin menimpanya.


"Tidak apa-apa Wina. Itu rejeki mereka yang juga dititipkan pada saya."


Wina menggeleng pelan tak habis pikir mengenai Nona-nya. Sangat dermawan hingga uang yang diperolehnya hanya tinggal seperlima saja yang ada ditangannya sekarang setelah sebagian besarnya di berikan kepada yang tidak mampu.


"Nona terlalu baik," sahutnya pelan sambil duduk dihadapan Sariel. Tangannya bergerak mengambil termos dan menuangkannya kedalam mangkok kemudian mencampurnya dengan sedikit air dingin. Setelah dirasa cukup pas suhunya. Ia memasukkannya kedalam plastik pembungkus es batu. Mengikatnya kuat agar tidak merembes.


"Bahkan kemarin saja Nona sudah tertipu banyak mengenai pembelian rumah."


Wina bergerak menyeka tangan Sariel yang masih menyisakan sedikit memar. Matanya menelisik wajah Nona-nya yang hanya mengukir senyum tipis.


"Biarkan saja. Mungkin dia perlu uang banyak untuk sesuatu hal yang mendesak," sahutnya pelan. Wina menggeleng mendengarnya. Beralih ketangan Sariel yang satunya.


"Bisa-bisanya Nona berkata se enteng itu. Padahal yang berusaha keras adalah Nona."


"Tidak pa-pa Win. Semua rejeki sudah ada yang atur."


Wina senang melihat Sariel tak lagi murung seperti semalam hingga terus mengigau dala tidurnya dan menyebut-nyebut nama Evan sambil berteriak. Wina yakin ada yang tak beres dengan mereka berdua. Ia pun hanya bisa menenangkan Sariel saja tanpa ingin mendesak agar Sariel mau bicara dan terus-terang padanya.


Setelah ia terlihat tenang, Sariel pada akhirnya bercerita juga apa yang dialaminya kemarin. Ia mengatakan kebenarannya mengenai sikap Evan padanya hingga membuat Wina murka mendengarnya.


Dan lihatlah sekarang, wanita itu sudah mulai kembali sering tersenyum ditambah banyak bicara seperti sekarang.

__ADS_1


Awalnya ia takut sekali kalau sampai Sariel mengalami trauma setelah pelecehan yang dilakukan oleh Evan pada Nona-nya. Tetapi dilihat perkembangannya hingga sekarang sepertinya wanita itu mampu mengontrol diri.


***


__ADS_2