Takdir Cinta Ceo Dingin

Takdir Cinta Ceo Dingin
Pulang ke Rumah


__ADS_3

Pagi ini pikiran Gabio tidak fokus ke masalah kantor. Rini sudah mengubah jadwalnya hari ini dan menyelipkan sebuah pertemuan baru. Pertemuan dengan seorang pengusaha yang ingin membangun pabrik minyak kelapa sawit di area yang cukup dekat dengan perkebunan milik perusahaan. Dan pertemuan yang dijadwalkan bersamaan dengan makan siangnya.


Sebenarnya Gabio malas untuk bertemu dengan orang itu. Ia tahu setelah pertemuan mendadak seperti ini pasti ada sesuatu yang lain yang akan dibahas. Tidak hanya melulu mengenai pembangunan pabrik minyak tetapi merambah hingga menyangkut kehidupan pribadinya. Apalagi sosok Bello selalu bersama dirinya.


"Tuan Gabio, saya harus berbicara sesuatu dengan Anda," ucap Eko begitu ia masuk kedalam ruangan Gabio setelah mengetuk pintu beberapa kali.


"Mengenai apa?" tanya Gabio begitu Eko duduk dihadapannya. Lelaki itu salah satu manajer proyek di perusahaan miliknya.


"Tentang pembukaan lahan yang belum rampung di pinggiran sungai Barito. Kenapa harus ditinjau ulang, bukankah seluruh biaya ganti rugi sudah diserahkan ke masyarakat. Bahkan lokasinya juga sudah clear kita tentukan dan sudah di bicarakan dalam rapat bulan kemarin?"


Jemari Gabio bergerak mengetuk meja miliknya pelan. Kapan ia meminta lokasi itu di tinjau ulang? Bukankah akan berpengaruh pada waktu yang mereka perlukan. Selain telat pada pembangunan proyeknya, bisa-bisa ia akan mengganti rugi uang finalty karena keterlambatan rampungnya pembangun pelabuhan disana.


"Saya tidak pernah meminta untuk ditinjau ulang. Bukankah semuanya memang sudah seperti kesepakatan kita bulan lalu. Dan seharusnya Minggu depan sudah ada alat berat yang masuk ke lokasi pembangunan."


"Lalu, darimana kamu mendapatkan laporan ini? Sementara Rini dan Roni tidak mendapatkannya?"


Eko mengeluarkan berkas yang ada di tangannya, meletakkannya tepat dihadapan Gabio.


"Satya yang melapor padaku karena tidak bisa menggunakan desain yang dia rancang karena pembangunan pelabuhan tersebut belum jelas kelanjutannya. Sebab itu saya langsung menghadap kesini."


"Apakah kamu sudah telusuri penyebabnya?" tanya Gabio dengan wajah tak suka.


Ia benar-benar tidak suka saat ada pembatalan sepihak seperti ini. Apa ini ada hubungannya dengan Fahmi yang mengajaknya bertemu saat makan siang ini? Gabio mulai kesal.


"Apakah Tuan baik-baik saja?"


Gabio menatap Eko dingin seolah menyatakan kalau dirinya tidak takut dengan ancaman seperti ini. Ia pun paham melalui proyek ini, seolah lelaki itu sedang mengancam dirinya melalui pesan makan siang nanti.


***


Gabio sudah duduk tegap ditempat yang sudah ditentukan oleh Fahmi. Ia paling tidak suka menunggu seperti ini. Lelaki itu sudah melewati batas pertemuan yang dijanjikannya sendiri selama 5 menit. Dan dia paling tidak suka dengan yang namanya keterlambatan.


"Selamat siang, Gabio. Apa kabar?" sapa lelaki yang baru datang tersebut sambil menghempaskan bobotnya di kursi yang ada disana.


Mata Gabio menatapnya dingin. "Seperti yang Anda lihat, kabar saya sangat baik," sahutnya juga.


Fahmi terkekeh mendengarnya, menyipit sambil melambai kearah seorang pelayan yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka.


"Pesanlah dulu makananmu," pintanya manis. "Kita akan berbicara banyak hal kali ini."

__ADS_1


Gabio acuh sambil memesan beberapa makanan yang diinginkannya. Selera makan siangnya pun sirna setelah mendengar kekehan terus keluar dari mulut Fahmi yang hampir seumuran dengannya tersebut.


Sambil menunggu pesanan mereka, Fahmi dan Gabio sama-sama membicarakan rencana Fahmi yang ingin membangun pabrik minyak di lokasi perusahaan.


Dan benar saja lelaki itu sedang mengancamnya dan memperlihatkan kedudukannya yang tidak ada bandingannya dengan Gabio dihadapan lelaki itu melalui pembangunan pelabuhan yang terus ditarik ulur oleh pihak mereka.


"Kamu sedang mengancamku untuk membatalkan kerjasama kita?" Kali ini Gabio yang terkekeh dingin setelah pembicaraan mereka usai mengenai kesepakatan. Sungguh auranya sangat mencekam.


Tetapi lawan didepannya hanya sedikit terintimidasi. Kalaupun orang lain, sudah dapat dipastikan tidak akan berkutik dihadapan pria tersebut.


"Tentu saja aku akan melakukan apa saja yang aku mau. Tetapi untuk kerjasama kali ini aku tidak main-main. Bukankah kamu tahu kalau semua ini juga ada campur tangan Sinta dulunya," sahut Fahmi tak mau kalah.


"Harapannya tentu saja adalah milik anaknya sebagai pengganti dirinya."


Lagi-lagi ucapan Fahmi membuat rahang Gabio sedikit berkedut. Ia melirik kearah Fahmi yang terlihat tenang didepannya.


"Lalu, bagaimana dengan Bello? Apakah kamu sudah lupa mengenai syarat yang aku minta?"


Gabio langsung bungkam, tatapannya kembali mengintimidasi Fahmi. Ia paling tidak suka apabila Fahmi menyangkut pautkan semua usahanya untuk Bello. Apalagi sangkut pautnya dengan Sinta yang telah tiada. Ia memang sudah yakin kalau Bello lah yang jadi incaran lelaki itu. Bahkan topik pembicaraan mereka sudah keluar dari tema yang di inginkan.


"Aku bisa menjamin kehidupan Bello hingga beberapa turunan kedepannya!" Gabio mulai emosi.


"Itu hanya keberuntunganmu saja, Yo. Wajahmu yang persis seperti ayahnya lah yang menjadi keberuntunganmu!" lelaki itu juga terlihat sedikit emosi.


Emosinya dibuat berkali-kali lihat saat berhadapan dengan Fahmi. Mereka selalu memperebutkan hak asuh Bello. Tetapi lebih tepatnya, hanya Fahmi lah yang berusaha merebut hak asuh Bello darinya.


Bukan jadi alasan kalau Fahmi menginginkan semua itu. Karena orang tuanya sendiri sudah memberikan keputusan mengenai pembagian warisan dengan Bello diikutsertakan sebagai pewaris pengganti adiknya yang sudah meninggal.


Dan tentu saja Fahmi tidak terima kalau Bello yang menerima warisan tersebut sedang bersama orang lain.


Tentu saja dengan alasan tersebut ia tidak ingin melepaskan kerjasama yang terjalin diantara mereka. Selain ia lebih suka mempermainkan lelaki dingin tersebut ia juga tidak yakin Bello akan aman bersama lelaki yang sikapnya tentu saja selalu ditakuti oleh semua orang.


Tetapi yang lebih utamanya, Fahmi sedang mencari kelemahannya dengan memata-matai seluruh gerak-geriknya.


"Kalau pertemuan ini hanya untuk membahas hal pribadi saja. Sebaiknya pertemuan kita cukup sampai disini saja." Gabio sudah beranjak dari tempat duduknya tanpa menyentuh makanannya sama sekali. Ia benar-benar kehilangan selera makan sekarang.


"Terserah kamu sajalah," sahut Fahmi acuh sambil menyesap minuman yang dipesannya tadi menatap nanar Gabio yang sudah keluar dari ruang privat yang dimintanya.


***

__ADS_1


Beberapa kali Gabio menarik dasinya untuk melonggarkan kerah bajunya yang terasa mencekik lehernya. Dinginnya AC mobil tidak membuatnya lebih nyaman. Ia meminta kepada sopirnya untuk memutar arah ke rumahnya. Ia sudah memikirkan Bello sejak lelaki itu meminta untuk bertemu dengannya.


Bahkan ia juga tak ingin dianggap tak becus menjaga Bello oleh pihak keluarga kakak iparnya. Apalagi Bello memiliki trauma yang mampu membuat dirinya tidak bisa bicara.


Seharusnya ia mewakilkan saja pertemuan tadi kepada mereka yang pada bidangnya. Lain kali ia akan melakukannya.


Sesampainya di depan rumahnya, Gabio bergegas masuk kedalam rumah miliknya. Ada bibi Mili yang tampak sibuk di dapur dan juga para penjaga dibeberapa penjuru halaman yang sengaja ditempatkannya.


"Tuan Muda sudah pulang?" sapa wanita berbobot 70 kg tersebut begitu ia berpaling dan mendapati Gabio sedang berdiri dibelakangnya.


"Bello di kamarnya, Bi?" Gabio tak melepaskan tatapannya dari Bi Mili. Wanita paruh baya tersebut mengangguk.


"Ada. Di kamarnya."


Bergegas Gabio berjalan kearah kamar Gabio tetapi langkahnya tertahan saat Bibi Mili kembali memanggilnya.


"Tuan Muda sudah makan siang?"


Lelaki itu menggeleng dan kembali ingin meneruskan langkahnya. Lagi, Bibi Mili mencegatnya. Membuat Gabio berpikir lain mengenai keberadaan Bello. Ia yakin bibi Mili sedang menyembunyikan sesuatu yang lain darinya.


"Apakah Bello kabur lagi seperti kemarin?" tanya Gabio pada akhirnya. Membuat Mili mengernyitkan dahinya menatap heran ucapan Gabio. Sedetik kemudian wanita besar itu tertawa.


"Sepertinya kamu sangat lapar hingga otakmu tidak stabil."


"Saya serius, Bi!"


Kali ini suara Gabio terdengar sangat dingin dan mengintimidasi. Ia segera berbalik dan dengan cepat melangkah meninggalkan wanita besar yang masih ingin mencegahnya tersebut. Semakin membuat Gabio curiga saja.


Dengan cepat ia membuka kamar Bello. Suasana tampak sepi, tidak ada Bello disana seperti yang dikatakan oleh bi Mili tadi. Gabio mulai kesal karena merasa di permainkan.


Ia kembali bergegas memutar arahnya mendatangi bi Mili yang masih berdiri di posisi semula. Wajah wanita itu tampak tegang. Benar saja kecurigaannya, pasti ada yang tidak beres.


Baru saja lelaki itu ingin membuka mulutnya, ia mendengar suara yang lain dari ruang bermain yang bersisian dengan kamar Bello.


Langkahnya kembali bergerak cepat untuk melihat sesuatu yang tidak diinginkannya. Lagi-lagi bi Mili mencegatnya membuat Gabio tambah curiga. Ia tetap melangkah dan menatap kedalam ruangan tersebut melalui celah pintu yang sedikit terbuka.


Tetapi ia terpaku didepan kamar tersebut melihat sosok yang lain sedang bersama Bello. Tawa sedang memenuhi wajah mereka hingga rasa yang tak nyaman pada dirinya menghilang. Bahkan rasa lapar yang sempat tak dirasakannya tadi kembali muncul.


Baru saja kakinya ingin melangkah masuk kedalam ruangan tersebut, suara dering handphone menginterupsinya. Bergegas Gabio mengangkatnya sambil menjauh dari sana. Rupanya Rini yang menelponnya untuk memberitahukan jadwal pertemuan selanjutnya.

__ADS_1


Usai menutup telponnya, Gabio urung untuk menemui mereka berdua. Ia tak ingin mengganggu kesenangan Bello. Padahal dirinya ingin sekali tahu bagaimana kondisi perempuan tersebut setelah melihatnya terakhir kali di rumah sakit kemarin. Serta ia juga ingin menanyakan mereka apakah sudah makan siang dan mengajaknya untuk makan bersama.


***


__ADS_2