Takdir Cinta Ceo Dingin

Takdir Cinta Ceo Dingin
Kedatangan Canna


__ADS_3

Gabio dan Sariel memasuki sebuah butik milik keluarga Delano. Mereka disambut dengan sangat baik oleh karyawan butik tersebut.


Sariel langsung duduk di kursi tunggu, ia membiarkan saja Gabio berbincang dengan karyawan butik tersebut. Toh yang ada keperluan juga hanya lelaki tersebut. Sedangkan dirinya hanya bertugas menunggui saja. Dan dirinya sama sekali tidak tertarik dengan fashion yang ada disana.


Ia lebih memilih untuk tidak perduli dengan suasana disana. Hanya mengedarkan pandangannya sebentar sebelum kembali fokus menatap gawainya yang sepi. Biasanya Wina selalu menelponnya ataupun mengirim pesan untuknya.


"Kenapa kamu melamun begitu? Bantu saya berpakaian," titah Gabio sambil menyodorkan sebuah jas berwarna hitam kehadapannya.


Wanita itu menarik napas pelan sambil mengangkat pandangannya. Dengan cepat ia meraih jas tersebut tanpa banyak berkomentar. Kemudian membantu Gabio mengenakannya.


"Anda suka dengan desain yang dipilihkan ini?" tanyanya begitu jas itu sudah selesai dikenakan oleh Gabio. Terlihat sangat elegan dan pas di badan.


Lelaki tersebut sama sekali tidak menjawab pertanyaan Sariel. Ia justru menatap Sariel dengan datar dan serius. Membuat Sariel mengernyitkan sedikit dahinya.


"Dari tadi aku kepikiran kalau baju yang kamu kenakan semuanya norak!"


Sariel terkejut mendengarnya. Ia melirik kearah beberapa pegawai yang menatap langsung padanya. Rasa panas menjalari seluruh wajahnya. Dan dapat dipastikan kalau pipinya pasti memerah. Sariel kembali memperhatikan pakaian yang ia kenakan.


Pakaian yang sebenarnya bukan miliknya, tetapi milik Mili yang sudah tidak muat lagi dibadannya. Yang jelas, pakaian itu tidak terlalu butut tetapi cukup pantas untuk dibawa ketempat ramai.


"Ke-kenapa? Baju ini saya pinjam dari Bi Mili."


Gabio menggeleng. "Bukan cuma yang ini saja yang saya maksud. Yang kemarin juga!"


Sariel meneguk ludahnya kasar. Yang kemarin adalah pakaian miliknya sendiri.


"Pakaian itu adalah buatan saya sendiri," sahutnya pelan.


Sariel memang selalu membeli kain dengan harga murah di pasar tradisional. Tetapi tidak murahan. Kemudian ia membuat sendiri pakaian miliknya. Pakaiannya yang cukup sederhana. Karena memang ia terbiasa dengan pakaian seadanya saja.


"Pantas saja kelihatan tidak bagus," sahut Gabio sambil menepuk tangannya beberapa kali hingga para karyawan toko berdatangan padanya. Lelaki itu tidak memperhatikan lagi wajah Sariel yang menunduk dalam karena malu.


Memang pakaiannya terlihat norak tetapi ia selalu menghargai usaha kerasnya selama ini. Ditambah dengan biaya hidup untuk keperluan yang lain cukup besar baginya. Sedangkan dirinya tidak dapat menggunakan hasil penjualan buahnya begitu saja. Ada untung rugi yang harus dipertimbangkan. Dan ada bahan yang harus dibelinya, pupuk juga dan ada upah yang harus dibayarnya serta jaminan untuk para pekerjanya dikala mereka kecelakaan kerja. Sebab itu ia harus bisa menghitung semuanya dengan benar dan tepat agar semua hasilnya baik dan tidak merugi.


Dan terkadang ia hanya menjual tanaman sayur miliknya yang sudah dapat dipanen ataupun menjual anak tanaman yang sudah menjadi bibit untuk membeli keperluan diluar pengeluaran yang besar tersebut.


"Ada yang ingin Anda beli lagi?" sahut pemilik butik dengan ramah begitu berhadapan dengan Gabio.


"Bukan saya tetapi dia!" tunjuk Gabio menggunakan dagunya kearah Sariel.


"Carikan ukuran yang pas dengan badannya dan pilih 20 pasang pakaian untuknya. Mulai dari gaun, pakaian sehari-hari, topi, sepatu, tas dan aksesoris. Berikan semuanya!"


Sariel terkejut mendengarnya. Merasa keberatan dengan usulan Gabio. Barang-barang itu terlalu banyak dan mahal. Mana mau dia menghamburkan uang begitu saja walaupun dibayar dari hasil pemotongan gajihnya nanti. Tetap saja itu adalah sebuah pemborosan baginya.


"Tapi, pakaian saya tidak masal..."


"Ganti!" Potong Gabio cepat. "Sekarang juga!" Perintah Gabio dingin sambil menatap Sariel tajam hingga membuat wanita itu merinding melihatnya. Pantas saja ia sebagai pemimpin perusahaan, suaranya tegas dan membuat orang lain langsung bungkam.


Seluruh karyawan toko butik tampak sibuk bergerak mencarikan pakaian sesuai permintaan Gabio. Tidak ingin membuat kecewa penerus Delano tersebut.


"Nona, bagaimana dengan yang ini?" ucap salah seorang karyawan yang membawa sepatu dan beberapa tas di tangannya.


Sariel hanya mampu membeku ditempatnya tanpa mampu menyahuti ucapan karyawan tersebut. Matanya memindai barang mahal tersebut, ia menggeleng samar sambil melirik kearah Gabio. Tetapi sayangnya, yang dilirik justru terlihat acuh dan sibuk.


"Kalau gaun yang ini sangat cocok dengan Nona untuk pergi jalan-jalan," sahut salah seorang yang sudah berdiri disisi kanan Sariel. Ia memperlihatkan gaun santai berwarna navy dengan aksen bunga-bunga di bagian bawahnya.


"Nah yang terakhir. Desain ini sedang trend awal bulan ini. Bagaimana kalau Nona mencobanya terlebih dahulu," pinta seorang karyawan yang lainnya sambil memperlihatkan gaun berwarna hijau botol.


"Pilihlah!" sahut Gabio yang terlihat santai duduk di kursi tunggu. Lelaki itu kembali sibuk mengotak-atik gawainya setelah memperhatikan Sariel sekilas.


Sariel terlihat kebingungan. Ia memang memerlukan pakain untuk baju gantinya tetapi bukan pakaian mewah seperti sekarang. Rasanya ia terlalu sayang dengan uangnya.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa menerima ini?" gerutunya didalam hati masih menatap tak nyaman kearah gaun dan pakaian yang disodorkan kepadanya. Gaun-gaun dengan merk terkenal dan tentu saja dengan harga yang mahal.


"Pilihlah. Kamu harus berpenampilan bagus dan elegan. Ingatlah! Kamu sekarang tidak hanya sebagai pengasuh Bello saja. Tetapi juga sebagai asistenku!"


Wanita itu bungkam memperhatikan Gabio yang menatap dirinya dingin. Ucapan lelaki itu terdengar seperti sebuah keharusan.


"Bolehkah aku membelinya?" Sariel menyentuh pakaian tersebut. Terasa sangat lembut di kulit. Ia tahu kalau bahan pakaian tersebut adalah kain dengan kualitas terbaik. Dan tentu saja sangat nyaman untuk dipakai.


"Boleh. Kamu bahkan boleh membeli semuanya!" sahut Gabio tenang. Sariel kembali ternganga dibuatnya. Lelaki ini terlalu loyal dan sombong begitu yang dipikir oleh Sariel.


"Tapi... Saya tidak ingin membeli pakaian yang seksi dan ketat," ucapnya pelan.


"Keputusan yang bagus!" Gabio beralih menatap kearah Sariel dan mematikan layar handphonenya.


"Tolong bungkus semuanya, kecuali yang dikatakan oleh wanita ini!" perintahnya.


Para pelayan bergegas membungkus semua pakaian yang ada di butik tersebut. Wajah mereka tampak kegirangan begitu isi butik tersebut diborong walaupun oleh penerus Delano sendiri. Setidaknya, mereka akan tetap mendapat bonus tersendiri.


"Tunggu! Saya hanya ingin beberapa saja. Tidak ingin semuanya karena terlalu banyak!"


Para karyawan berhenti bergerak, melirik kearah Gabio, menunggu persetujuan dari lelaki tersebut.


"Tolonglah! Saya tidak suka terlalu banyak pakaian memenuhi kamar tidur saya," pinta Sariel dengan memelas. Berharap Gabio mau mendengarkannya kali ini. Tatapan matanya tampak berkaca, ia terlihat sangat menyedihkan.


"Baiklah. Kamu pilih pakaian yang kamu suka. Aku akan menunggu disini."


Sariel mengangguk pelan dan segera memilih beberapa pakaian yang dirasanya simpel dan nyaman di pakai.


Setelah selesai berbelanja, mereka bergerak kearah resepsionis. Sariel tampak keberatan membawa beberapa bungkus pakaian miliknya. Sedangkan beberapa karyawan yang ingin membawakan miliknya tadi justru ditolaknya dengan dalih tak ingin merepotkan.


***


"Gabio!!" pekik seorang wanita begitu mereka tiba didepan pintu.


Sariel melirik beberapa kali pada wanita yang tampak tergesa berjalan kearah mereka. Wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik dan elegan. Ia tak pernah melihatnya sebelumnya. Ia segera menunduk saat wanita itu memperhatikan dirinya.


"Mommy! Kapan kesini?" Gabio masih merentangkan tangannya.


Wanita yang dipanggil Mommy oleh Gabio tak menyahut. Ia tak menghiraukan keterkejutan anaknya. Ia juga tak menyambut uluran tangan Gabio. Ia justru memperhatikan Sariel dengan seksama, memutari badan Sariel. Kemudian bergerak kearah Gabio dan menjewer telinga Gabio secara tiba-tiba. Hingga lelaki dingin tersebut tampak mengaduh kesakitan.


"Jadi benar apa yang dibilang oleh mereka kalau kamu sedang menyembunyikan perempuan lain dirumahmu!? Kamu hanya ingin enaknya sendiri! Hah!"


Wajah Gabio tampak memerah, ia terkejut tetapi kembali meringis saat Canna kembali menjewer telinganya sedikit lebih keras.


"Ampun, Mom. Mereka bohong, Mom. Aku tidak menyembunyikan perempuan dirumahku. Tuduhan itu terlalu berlebihan, Mom!"


"Oh. Kamu sekarang pandai berbohong ya!" Canna melepaskan jewerannya. Tatapannya beralih pada Sariel yang masih menunduk.


"Sumpah, Mom aku tidak bohong!"


"Diam! Mom tidak suka kamu merusak anak gadis orang."


Canna acuh dan kembali mendelik tajam pada Gabio. Lelaki dingin tersebut justru melirik kearah Sariel yang masih menunduk. Ia tampak mempermainkan ujung sepatunya.


"Kamu jangan takut, mama yang akan melindungimu dari kebejatannya! Katakan semua apa yang telah kamu alami.


Canna menyambar tangan Sariel dan membawanya masuk kedalam rumah tanpa memperdulikan wajah Gabio yang sudah memelas. Wanita itu hanya bungkam saja tanpa paham apa yang terjadi.


"Mom, aku yang anakmu, Mom!" Gabio mengikuti langkah ibunya. Ia berhenti melangkah saat Canna berpaling dan melotot kearahnya.


Gabio mendengus dan berdecak sebal saat ibunya lebih memilih tetap menggandeng Sariel masuk kedalam rumah dan menghiraukan dirinya. Mereka duduk saling berhadapan. Beberapa kali wajah Canna terlihat frustasi menatap putranya. Rasanya baru kemarin Gabio masih dalam gendongannya dan sekarang ia sudah menyimpan wanita dirumahnya.

__ADS_1


"Mom, bagaimana kabar papa?" tanya Gabio begitu ia menghempaskan bobotnya dihadapan mereka berdua. Ia kembali meringis saat melihat tatapan ibunya yang masih tidak bersahabat.


"Sejak kapan kalian kumpul kebo?"


Mata Gabio dan Sariel melotot bersamaan, keduanya langsung menatap kearah Canna. Ingin protes tetapi Canna tak memberi kesempatan untuk memberikan mereka berdua pembelaan.


"Mommy tidak suka kamu melakukan hal yang dilarang dalam agama. Apalagi kamu merendahkan seorang wanita!" Ia beralih menatap Gabio yang kembali tercengang.


"Dan kamu! Jangan hanya mau enaknya sendiri. Pikirkan dirinya. Bagaimana kalau dia hamil tanpa pernikahan. Bagaimana nasib anaknya kedepan? Apa kamu ingin membuat aib dan cacat seumur hidupmu!"


"Mommy! Aku tidak sekeji itu, Mi! Aku anak baik, Mi. Dia hanya asistenku saja dan juga pengasuh Bello."


"Diam! Mommy tidak mau anak mommy merusak masa depan anak orang. Jadi, besok kalian berdua harus menikah! Titik!"


Gabio kembali ternganga mendengarnya, begitupun dengan Sariel yang berupaya untuk mencerna semuanya. Belum sempat hilang rasa terkejutnya, ibunya sudah membanting kamar tamu yang ditempatinya.


Sariel yang tampak kebingungan menatap netra Gabio. Lelaki itu sama sekali tak mampu berkutik dihadapan wanita yang dipanggilnya Mommy tersebut. Sedangkan dirinya pun sama sekali tidak paham dengan situasi yang baru saja dihadapinya.


"Kenapa kamu tidak protes!"


Sariel mengangkat kepalanya, menatap Gabio yang tampak frustasi. Ia mengedikkan bahunya karena tidak mengerti dengan situasinya.


"Masuklah ke kamarmu. Tapi, pastikan dulu keadaan Bello di kamarnya!" titah Gabio.


Lelaki itu tak ingin berbincang lagi dengam Sariel. Ia lebih memilih untuk masuk ke kamarnya sendiri. Berusaha mencerna apa saja yang baru terjadi. Entah skenario dari siapa hingga ibunya datang secara tiba-tiba ke kediamannya dan memintanya untuk segera menikah dengan Sariel.


Salahkan dirinya karena memasukkan wanita muda kedalam rumahnya sendiri bahkan tanpa memberitahukan orang tuanya terlebih dahulu.


Ia tampak kacau setelah mendengar keputusan yang diberikan oleh ibunya tanpa mendengarkan keberatan yang ia lontarkan.


Suasana makan malam tampak tegang. Canna tidak ingin mendengar Gabio membantah. Dan ia lebih memperhatikan Sariel beserta cucunya.


Gabio yang diacuhkan pun merasa sangat tidak nyaman. Beberapa kali ia mendesah dan mendelik tajam kearah Sariel. Seolah ingin menyalahkan wanita itu yang terlalu pasrah menurutnya.


Tetapi deheman ayahnya pun membuatnya bungkam dan menunduk.


"Jadi, bagaimana keputusan kalian berdua?" ucap Delano begitu ia menyudahi makannya. Menatap Sariel dan Gabio bergantian.


Ia datang ke Indonesia atas permintaan istrinya. Entah dapat kabar darimana istrinya hingga bergegas ke Indonesia meninggalkan Indri disana sendirian. Wanita itu begitu memperhatikan kehidupan anaknya walaupun berada jauh dari mereka. Ia bahkan selalu menempatkan mata-mata disetiap pengawal yang direkrut oleh Gabio.


"Pa. Dengarkan penjelasan ku dulu!" Pinta Gabio. Tetapi delikan Canna berhasil membuatnya bungkam.


"Katakan saja!" tegas Delano.


Gabio menata sekilas Sariel yang menunduk. Wanita itu meremas sendok yang ada ditangannya. Kemudian mengangkat pandangan kearahnya hingga netra mereka bertemu.


"Kami tidak melakukan seperti yang sudah mommy tuduhkan!" elak Gabio. Ia menatap Sariel dan meminta pengertian perempuan itu.


"Benar tuan. Saya disini hanya bekerja sebagai pengasuh tuan Kecil. Sama seperti keberadaan Bi Mili."


"Sariel! Sudahlah. Semua demi kebaikan kalian berdua juga. Tidak perlu menyembunyikan hubungan kalian didepan mama ataupun papa. Apalagi kamu pasti takut dengan ancaman Gabio bukan?" sanggah Canna menepuk pelan punggung Sariel.


"Tapi, Nya saya dan Tuan Gabio tidak ada hubungan apapun juga. Sumpah! Saya juga baru beberapa hari berada disini, itupun atas permintaan Bello."


Canna menggeleng, tangannya kembali bergerak membelai tangan Sariel.


"Mama punya bukti kebersamaan kalian berdua. Apa kalian ingin melihatnya?"


Gabio beralih menatap Sariel yang juga membalas tatapannya. Keduanya mengerutkan dahinya karena bingung.


"Ya sudah. Habiskan dulu makan kalian. Setelah ini akan kita bahas secara bersama-sama."

__ADS_1


***


__ADS_2