
Gabio memasuki kediamannya dengan tak menentu. Ini pertama kalinya ia ditolak secara mentah-mentah oleh seorang wanita.
Langkahnya bergerak cepat kearah kamar yang ditempati oleh Bello. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Gabio merasa bersalah karena kali ini ia tak memberikan waktu untuk bersama Bello hari ini.
Tangannya bergerak membuka handel pintu kamar Bello. Keadaan didalam ruangan tampak redup. Itu artinya Bello sudah tertidur pulas di kasurnya.
Dan benar saja, lelaki kecil dan imut itu sedang tidur di ranjangnya dengan memeluk saputangan pemberian Sariel.
Gabio mengusap wajahnya pelan. Ada rasa bersalah yang menyesak dibenaknya karena dirinya yang tak bisa membujuk wanita itu.
Setelah merasa cukup menatap Bello, Gabio bergerak keluar kamar tersebut. Ia berjalan menuju kearah kamarnya. Beberapa kali ia mengusap wajahnya frustasi. Ada banyak hal yang masih mengganjal dibenaknya.
Bergegas ia membersihkan dirinya kemudian setelahnya ia merebahkan dirinya ditempat tidurnya. Tangannya bergerak meraih sebuah figura yang ada didalam nakas miliknya. Membukanya sebentar hingga pandangannya jatuh pada seorang wanita hamil yang sedang memeluk buket bunga lily. Wanita yang tersenyum dan mengarah ke kamera. Gabio mentapanya lamat-lamat.
"Maafkan aku, aku tak bisa memenuhi keinginan anakmu. Maafkan aku sekali lagi."
Album foto tersebut ditutup begitu saja olehnya. Matanya menerawang ke atap langit-langit kamarnya. Bahkan jauh menerawang hingga pandangan tak terbatas. Tanpa sadar mata itu terpejam juga hingga sejam kemudian Gabio berteriak keras. Ia terduduk dengan peluh yang membanjiri seluruh tubuhnya. Perlahan tangannya bergerak meraih secangkir air putih yang ada di atas nakasnya. Meneguknya hingga tandas sambil mengusap peluh yang membanjiri wajahnya.
Kecelakaan yang menimpa wanita itu hadir kembali didalam mimpinya padahal sudah sangat lama ia lupa akan hal itu, tapi kini kembali membayang dipelupuk matanya. Bahkan Gabio ingat betul saat mobil truk menghantam body mobil yang ditumpangi oleh Gabino beserta Bello. Hingga menimbulkan trauma yang dalam padanya dan menimbulkan trauma pada Bello. Dan beruntungnya Bello masih selamat dalam tragedi itu walaupun menimbulkan cacat pada Bello tetapi tidak permanen.
Sedangkan wanita yang disebut sebagai ibunya Bello langsung meninggal ditempat. Wanita itu terjepit body mobil dengan paha yang remuk dan buntung. Gabio masih ingat kejadian itu karena ia tepat berada dibelakang mobil yang disetir oleh saudara kembarnya. Mereka sedang melakukan perjalanan pulang dari rumah kakeknya.
***
Senyum tak pernah luntur dari wajah gadis oriental yang berkulit kuning Langsat tersebut. Ia berjalan menuju pagar pembatas hunian elit. Menatap dari jauh dengan takjub. Bahkan untuk masuk kedalam lokasi tersebut harus menggunakan kartu tanda kepemilikan. Barulah pintu pagar hunian elit tersebut terbuka secara otomatis setelah di gesek pada mesin yang terletak di pagar.
Dengan cepat Sariel menempelkan kartu miliknya pada mesin yang menempel di pagar. Seiring dengan bunyi bip, pagar yang kokoh dan menjulang tinggi tersebut langsung terbuka dengan sendirinya. Sariel segera masuk kedalamnya menyapa satpam penjaga terlebih dahulu. Kemudian meneruskan langkahnya diiring senandung ringan.
Beberapa orang lelaki yang sedang duduk bergerombol di kafe bawah bagian apartemen tersebut tampak memperhatikan dirinya. Terlihat jelas tatapan mereka penuh tanya. Ia tahu kalau perhatian mereka hanya karena ia penghuni baru.
Sariel berjalan kearah resepsionis yang sedang bertugas didepan pintu masuk utama. Ia cukup kikok menghadapi suasana apartemen elit yang terbilang sangat terjaga ketat tersebut ditambah suasana yang sangat lengang.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya salah seorang petugas lelaki dibalik meja resepsionis.
"Ya. Bisakah Anda memberitahu saya tentang apartemen dengan nomor 76 berada dilantai berapa?"
__ADS_1
Resepsionis tersebut memperhatikan Sariel dengan lekat bahkan ia tampak menilai penampilan Sariel dari atas hingga bawah. Membuat Sariel ikut memperhatikan dirinya sendiri karena ditatap dengan sedemikian rupa.
"Tuan. Bisakah Anda tunjukkan pada saya?" ulang Sariel mulai kesal karena lelaki itu masih menatapnya penuh tanya.
Lelaki bernama tag Sadil tersebut tersadar dan dengan cepat memberitahukan Sariel letak unit apartemen tersebut.
Setelah mengucapkan terima kasih, Sariel langsung bergegas berjalan memasuki lift yang tampak kosong. Tangannya bergerak memencet tombol dengan angka 7 disana. Ia akan menuju ke lantai 7 dari 15 tingkat lantai yang ada di gedung tersebut.
Setelah lift berdenting. Dengan cepat Sariel menekan tanda buka pada tombol lift hingga pintu lift bergerak dan terbuka dengan sendirinya. Lorong apartemen tersebut tampak terang dan sepi. Tak terlihat seorang pun yang ada disana.
Langkahnya berjalan perlahan memperhatikan pintu yang ada disana. Pintu yang hanya terdapat 3 unit saja. Mencari nomor dengan angka 76 sangatlah mudah dan ketemu dengan cepat. Pintu yang dimaksudkan tepat berhadapan dengan lift yang di naikinya tadi.
Langkah Sariel semakin cepat, senyumnya semakin mengembang. Ia merogoh isi tas miliknya dan mengeluarkan sebuah kartu akses untuk membuka pintu tersebut. Tak lupa ia menekan beberapa angka sebagai sandi agar pintu tersebut terbuka.
Berhasil. Pintu terbuka dengan sendirinya. Sariel bersorak girang disertai dengan lompatan kecil. Ia bergerak masuk kedalam apartemen tersebut sambil memperhatikan suasana didalamnya.
Barang barangnya tampak utuh. Beberapa kali jari telunjuknya ia sapukan kearah sofa yang ada didepannya kemudian kearah meja yang berada cukup dekat dengan jendela.
"Tak ada debu sedikitpun," gumamnya mengernyit. Padahal setaunya kalau rumah ini hampir 3 bulan lamanya kosong ditinggal oleh pemiliknya. Bagaimana mungkin dalam waktu selaama itu keadaan apartemen tersebut masih sangat bersih dan kinclong.
Sariel kembali melangkah kebagian dalam untuk melihat-lihat rumah tersebut secara detail. Ia membuka pintu yang ada didepannya dan menatap takjub. Ruang tidur dengan kasur size king terhampar didepan matanya. Dengan cepat wanita itu berjalan kearah ranjang tersebut dan langsung melemparkan badannya disana. Berguling sebentar.
Beberapa kali ia menarik napasnya kuat disertai dengan kernyitan kecil didahinya. Tangannya bergerak meraih bantal yang berada tidak jauh darinya. Menciuminya dengan kuat, Sariel kembali merasa heran karena di bantal tersebut masih menyisakan aroma wangi parfum pemilik kasur tersebut.
"Akh. Parfum orang kaya memang seperti itu. Bahkan wanginya bertahan hingga bulanan sampai tahunan," gumamnya acuh sembari berguling dikasur yang teramat empuk tersebut. Ia melupakan keinginannya untuk buang air kecil sejak tadi.
Gadis muda tersebut memejamkan matanya sejenak. Samar-samar ia mendengar gemericik air. Dengan cepat ia duduk dari rebahan. Berjalan cepat kearah jendela Paris yang membentang didepannya. Alisnya menyatu dengan ujungnya sedikit menukik. Ia merasakan hal aneh kali ini. Mungkinkah air kran yang ada di kamar mandi tersebut sedang boocor hingga air tak berhenti bergemerisik sejak tadi.
Langkah kaki Sariel berjalan cepat kearah kamar mandi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia melupakan hal tersebut, mmeriksa seluruh ruangan yang ada di apartemen tersebut termasuk salah satunya adalah kamar mandi.
"Terkunci?" Gumamnya pelan berusaha membuka pintu yang sama sekali tidak mau terbuka.
Ceklek!
Sariel terpekik saat seseorang keluar dari kamar mandi tersebut. Lelaki yang hanya menggunakan handuk sebatas pinggangnya. selain dadanya yang bisfak, Sariel tidak memperhatikan hal yang lainnya lagi, keburu ia menutup matanya dengan cepat sambil bersandar ke dinding hingga punggung belakangnya terbentur.
__ADS_1
"Siapa kamu?"
Suara tegas dan seksi tersebut mengarah begitu dekat dengannya. Tangan Sariel bergerak menghalau kedepan, ia merasa takut kalau pria tersebut mendekat padanya. Wanita muda tersebut masih menutupi wajahnya rapat dan menunduk.
"Siapa kamu?"
Sekali lagi lelaki itu bersuara keras dan penuh tekanan, terasa sangat dekat dengannya. Sariel dapat merasakan cengkarman tangan lelaki itu pada lengannya. Dan memojokkan tangannya ke dinding.
Saat wanita itu membuka tangannya yang menutup wajahnya, yang ada justru handuk yang dikenakan oleh lelaki tersebut jatuh terkulai di lantai hingga terlihat harta karun milik lelaki tersebut.
Sariel kembali terpekik untuk yang kedua kalinya. Ia merosot jatuh kelantai sambil menutup wajahnya kembali dan menyembunyikannya disela-sela pahanya.
"Jangan mendekat pria mesum!!" Teriaknya asal. Membuat lelaki yang sudah mengenakan handuknya tersebut terperangah mendengarnya. Lelaki itu tampak kesal melihat keberadaan wanita yang tidak dikenalnya masuk kedalam apartemen miliknya.
"Buka matamu dan tatap aku!"
Perintahnya tegas dan berjongkok tepat didepan Sariel. Tangannya bergerak menarik tangan Sariel dan membawa Sariel ke arah kursi yang ada dibelakang mereka. Sariel hanya menurut saja mengikuti tarikan kuat lelaki tersebut. Ia hanya mampu menunduk malu mengingat kejadian sebelumnya.
"Siapa kamu dan bagaimana bisa kamu masuk kedalam apartemenku!?"
Tanyanya begitu Sariel terlihat tenang. Wanita itu mencoba untuk mengangkat kepalanya. Ia tidak terlalu jelas melihat wajah lelaki yang sama sekali tidak mengenakan sehelai benang pun dihadapannya tadi. Wajahnya kembali memerah saat semua bayangan tersebut terlintas dibenaknya.
"Jangan mengingat hal yang tadi. Anggap saja semuanya tidak pernah terjadi. Dan katakan siapa kamu? Apakah kamu seorang pencuri atau perampok?"
Lelaki itu kembali menginterogasi Sariel yang menyibak rambutnya hingga memperlihatkan wajahnya dengan jelas. Ia menatap tegas Lelaki tersebut. Keduanya bertemu pandang selama beberapa detik. Dan langsung terperangah.
"Kamu!!" Tunjuk keduanya secara bersamaan setelah menyadari sesuatu.
Bergegas Sariel beranjak dari duduknya, bermaksud untuk lari dari hadapan lelaki yang sialnya selalu bertemu dengannya. Tetapi langkah kaki Sariel terhenti saat Gabio menarik tangannya kuat. Dan untuk yang kedua kalinya, handuk yang dikenakan Gabio kembali terjatuh ke lantai dan untuk yang ketiga kalinya Sariel kembali terpekik sambil berlari cepat kearah pintu utama. Sayangnya pintu tersebut terkunci dan sama sekali tidak bisa dibuka menggunakan kartu yang ada ditangan Sariel.
Wanita itu tampak putus asa, matanya bergerak melirik kearah belakangnya sambil memperhatikan Gabio yang sudah tidak ada ditempatnya. Sariel kembali berpaling menghadap pintu utama, kembali mencoba membuka pintu tersebut dengan kartu yang ia miliki.
"Pintu itu tidak akan pernah terbuka kecuali atas perintahku!"
Sariel terlonjak kaget dengan badan gemetaran. Ia tak ingin berpaling menghadap Gabio. Ia yakin lelaki itu masih memakai handuk. Tetapi tangannya tetap berusaha untuk membuka pintu tersebut. Beberapa kali tangannya menekan angka-angka pada digital tersebut tetapi selalu gagal. Hingga akhirnya Gabio meraih dan merebut kartu tersebut dari tangan Sariel.
__ADS_1
***