
"Apa ini?" tanya Sariel begitu berkas yang dimaksud oleh Gabio sudah ada didepannya.
"Kontrak kerja. Bacalah!"
Sariel meraihnya dengan malas, membaca lembar demi lembar kontrak kerja yang di berikan oleh Gabio. Matanya membulat saat melihat nominal gajih yang tertera disana. Tidak tanggung-tanggung lelaki itu memberikannya gajih yang fantastik untuknya apabila ia bersedia bekerja sebagai pengasuh Bello.
"Bagaimana? Apakah kamu bersedia untuk menjadi pengasuh Bello. Menjaganya siang dan malam. Serta memperlakukannya sebagaimana layaknya seorang anak."
Wanita itu masih diam cukup lama, sepertinya ia sangat berpikir keras. Tidak hanya mengenai gajih saja tetapi menimbang untung rugi yang akan ia terima kedepannya. Bahkan ia juga memikirkan resiko perkebunan miliknya dan sejumlah buruhnya apabila ditinggalkan.
Gabio yakin Sariel tidak akan menolak kali ini. Mana ada wanita yang menolak uang sebanyak itu hanya bekerja sebagai seorang pengasuh. Pekerjaan yang cukup mudah dan sangat menyenangkan tentunya. Apalagi wanita itu dilihat darimana pun, dia terlihat sangat sederhana. Mungkin tersentuh sedikit uang saja ia akan terus-menerus ketagihan.
"Dan tentu saja poin nomor 9 tidak dapat diubah. Kamu akan saya berikan fasilitas yang cukup disini. Bagaimanapun juga kenyamanan adalah hal yang utama."
Delano pikir Sariel akan keberatan mengenai poin nomor 9 yang meminta Sariel agar tinggal bersama dirinya dirumah yang sama.
"Tapi... saya merasa tidak mampu untuk memenuhi semua kriteria ini. Diri saya sangat banyak kekurangannya. Sedangkan orang yang mampu melakukan di semua kriteria yang tertulis disini adalah orang yang berpendidikan tinggi seperti dokter pribadi Bello." Sariel melepaskan berkas tersebut begitu saja.
Lelaki itu menggeleng mendengar keberatan yang dilontarkan oleh Sariel. Sedangkan ia tahu kalau Sariel adalah satu-satunya sosok yang mampu bergaul sedekat itu dengan anaknya. Dan dia adalah wanita pertama yang membuat Bello nyaman tentunya Haruskah ia membebaskan wanita itu dalam semua pilihannya, tetapi tidak ada kesempatan lainnya selain hari ini.
"Kurangi poin yang kamu tidak sanggup untuk melakukannya dan ganti dengan poin lain," bujuknya. Ia masih menyimpan harapan yang besar agar Sariel menyetujuinya.
Sariel membisu dan menarik napas dalam, kembali berpikir. Ia membuang pandangannya kearah lain. Masih memikirkan hal yang lain. Memikirkan para buruhnya dan juga memikirkan Marhawi yang masih dalam tanggungannya.
"Sekali lagi maafkan saya Tuan Muda. Saya tidak bisa menerima tawaran ini."
Seketika wajah Gabio berubah menjadi sangat tidak senang. Ingatannya kembali pada perjanjian dirinya dan Fahmi. Hanya ini jalan satu-satunya untuk bisa memulihkan Bello dan mempertahankan hak asuh dirinya terhadap lelaki kecil tersebut.
Menata jiwa Bello yang tertekan dengan rasa trauma yang dalam hingga menimbulkan ketakutan pada setiap orang asing yang ditemuinya. Ditambah dengan dia yang tak mampu untuk bicara. Padahal nyatanya pita suaranya baik-baik saja. Harapan itu terus terselip melalui wanita yang duduk didepannya tersebut. Bagaimana pun juga, demi kesembuhan mental anaknya, apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan Sariel.
"Jangan tolak tawaranku ini. Aku akan memberikanmu apa saja asal kamu mau menolongku untuk selalu menemani Bello seperti ibunya sendiri."
__ADS_1
Biarlah kali ini Gabio menghilangkan harga dirinya sejenak dengan memohon pada gadis didepannya. Itu semua ia lakukan demi masa depan anaknya sendiri.
"Tolonglah... Anggap saja dia adalah kerabat yang memerlukan bantuan mu," bujuk Gabio membuat Sariel memejamkan matanya. Ingatannya membayang mengenai kepedihan dan penderitaan yang dialami anak seusia Bello.
Lama. Dan Sariel diam saja. Gabio terus mengatakan bahwa dia sangat memerlukan bantuan Sariel untuk penyembuhan Bello.
"Jangan bersikap seperti itu, saya merasa sangat tidak nyaman."
Sariel terlihat serba salah, beberapa kali ia melirik kearah Roni. Lelaki itu terlihat selalu tersenyum padanya. Menambah bebannya semakin bertambah berat. Ia tak ingin jujur mengenai masalah dan tanggung jawabnya. Tak ingin juga melepaskan mereka begitu saja. Biar pun mampu untuk di handel oleh Wina. Tetap saja ia berprinsip mengenai tanggung jawab yang diemban olehnya.
"Kalau kamu merasa tidak nyaman dengan semua ini, sebaiknya kamu pertimbangkan sekali lagi permintaanku."
Kali ini Sariel mendelik tak suka pada Gabio. Lelaki itu benar-benar tidak mengerti dirinya sama sekali. Terlalu pemaksa dan sangat mendominasi. Berapa kali pun ia menolak maka Gabio berulang kali membujuknya.
"Sekali lagi maafkan saya karena menolak permintaan Anda. Tugas ini saya tidak mampu memenuhi sepenuhnya."
Sariel beranjak dari duduknya, ia menundukkan sedikit kepalanya meminta untuk undur diri. Kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua dengan perasaan yang tidak nyaman sama sekali.
Roni merasa kasihan melihat Tuannya seperti ini. Terus meminta seperti seorang pengemis. Padahal dirinya mempunyai segalanya. Inikah yang tak mampu dibeli dengan uang, sebuah kebebasan.
"Jangan! Biarkan saja ia berpikir jernih setelahnya. Ia terlihat sangat tertekan mendapat penawaran sefantastik ini. Jadi, wajar saja dia merasa syok dan menolaknya."
Gabio terkekeh membuang rasa sakit hati mendapat penolakan yang bertubi dari gadis sederhana. Bahkan wanita itu tidak pernah menganggap dirinya perlu di ambil hatinya. Yang ada justru sebaliknya.
***
Suasana ruang makan tampak sangat canggung dan kaku. Ditambah mata Bello yang selalu memperhatikan mereka berdua secara bergantian.
Lelaki itu diam saja, tidak ingin menulis dibuku catatan miliknya. Kali ini ia hanya ingin menghabiskan makan malam seperti layaknya anak yang memiliki orang tua lengkap. Bibirnya terus-menerus mengumbar senyum yang manis dan menggemaskan dengan mata bulat dan pipi yang penuh dengan makanan dan terus bergerak saat mengunyah makanan. Siapapun yang melihat makhluk kecil itu akan terpana dan langsung ingin segera menciuminya.
Dering handphone milik Sariel memecah keheningan yang terjadi. Gabio melirik tajam kearahnya. Memperhatikan wanita yang tampak santai menanggapinya.
__ADS_1
Dengan cepat Sariel menghentikan makannya sebentar. Berdiri dan menjauhi meja makan menuju sudut ruangan. Ia tak ingin mengganggu acara makan orang didepannya tersebut.
Beberapa kali Sariel terlihat menyibak gorden saat menjawab telpon tersebut. Sariel tahu benar, pasti Wina sekarang sedang khawatir padanya.
Namun, suara Wina kali ini terdengar berbeda. Ada sedikit getar dan ketakutan. Entah apalagi yang sedang terjadi hingga wanita itu bersikap seperti sekarang.
"Nona. Beberapa preman sedang ada didepan rumah. Mereka mencari Nona kesini. Sudah saya bilang Nona tidak ada disini tetapi mereka terlihat marah dan tidak percaya. Mereka mengobrak-abrik rumah ini dan mengancam. Sebaiknya Nona jangan pulang dulu. Menginap lah di rumah Bello terlebih dahulu. Karena bila Nona pulang, saya tidak bisa menjamin keselamatan Nona. Keadaan sedang berbahaya."
Sariel langsung kaku mendengarnya, wajahnya tampak pucat dan tegang. Ia tampak gemetar.
"Bagaimana dengan kalian? Jangan mengorbankan diri hanya demi untuk melindungi saya saja, Wina!" hardiknya pelan. Sariel belum sadar kalau sejak tadi Gabio terus membaca mimiknya.
"Ini semua demi kebaikan kita juga," sahut Wina pelan.
"Tidak Wina. Ini hanya akan membuat kalian dalam bahaya. Saya tidak ingin terjadi sesuatu dengan kalian. Kalian adalah satu-satunya keluarga saya."
Suara Sariel terdengar lirih dengan mata yang hampir berembun. Tak kuasa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ada apa?"
Gabio menepuk pelan pundak Sariel hingga wanita itu berjengit kaget. Sejak tadi Gabio memperhatikan gerakan Sariel yang gelisah dan ketakutan. Ya. Ia yakin wanita itu sedang ketakutan dilihat dari tubuhnya yang sedikit gemetaran. Ia pikir Sariel sedang tertekan ataupun mendapat ancaman dari si Penelpon. Ia pun mencoba mendekat.
"Bukan apa-apa!"
Dengan cepat Sariel menutup telponnya, menghindari tatapan Delano. Ia bergegas kembali menuju kearah meja makan. Ingin menuntaskan makannya yang tertunda. Tetapi sayangnya, ia sudah tak berselera makan lagi. Membayang keluarga Wina yang dalam bahaya dikejauhan.
Tangannya berhenti bergerak, sesekali ia menarik napas dalam. Dengan cepat wanita itu berdiri dan dengan cekatan mengumpulkan piring bekas mereka makan. Ia tak ingin kegelisahannya terlihat oleh Gabio. Apalagi sejak tadi Gabio terus menatapnya heran.
"Nona Sariel! Jangan lakukan itu. Itu adalah tugas saya!" pekik Mili begitu melihat Sariel sudah membawa piring kotor tersebut kearah dapur.
Mili bergerak merebut piring tersebut, tetapi Sariel menolaknya. Ia kembali lagi ke meja makan untuk membantu Mili. Tetapi, panggilan Gabio menghentikan gerakannya.
__ADS_1
***