
Gabio merutuki kebodohannya karena berdiri terlalu lama menatap Sariel hingga tidak menyadari keberadaan Delano dibelakangnya. Ayahnya kembali berdehem untuk yang kedua kalinya. Membuat Gabio kikuk dan serba salah. Ia seperti maling yang sedang tertangkap basah. Tidak berani untuk memutar dirinya menghadap ayahnya sendiri.
"Apa yang ingin kamu lakukan, Yo?" Suara ayahnya terdengar dingin dan mengintimidasi tanpa menatap keduanya.
Sariel beringsut mundur. Wanita itu sangat terkejut dan segara meninggalkan begitu saja Gabio yang terpaku didepan pintu. Dia menutup rapat pintu kamarnya. Bersandar disana sambil mengelus dadanya pelan.
Ia terkejut melihat Gabio sudah berdiri didepan pintu kamarnya. Biarlah ia dikatakan tidak sopan sama sekali pada pemilik rumah tersebut.
"Ayo ikut papa, Yo! Jangan sampai papa yang menyeretmu untuk menjauh!"
Gabio mengangguk segera berbalik mengikuti langkah ayahnya sendiri. Wajahnya tampak sangat datar dengan ekspresi menyebalkan. Lelaki itu membawanya keruang kerja miliknya. Kemudian membuka pintu kearah balkon.
Sesampainya disana Delano segera duduk di kursi gantung yang ada disana. Pandangannya beralih menatap langit malam yang gelap. Hari mendung dan terlihat sambaran kilat dimana-mana. Semilir angin membawa hawa dingin menusuk kulit dan melalui celah pori hingga meremang.
"Papa tidak ingin kamu menjadi lelaki biadab. Jangan sekalipun kamu memasuki kamar perempuan selagi dirinya tidak halal untuk kamu sentuh!"
"Apalagi dia dalam keadaan tidak siap seperti tadi. Seharusnya kamu punya waktu yang tepat untuk menemuinya!"
Gabio meneguk ludahnya kasar. Ia tak dapat membantah ucapan papanya. Justru ia bertambah frustasi dengan tuduhan papanya.
Bukan itu maksudnya untuk menemui Sariel. Keadaan lah yang selalu tidak memihak padanya. Lalu sekarang ia harus apa? Rasanya bebannya semakin bertambah saja.
"Pa, tadinya aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin bicara sesuatu dengannya."
"Apa kamu ingin membujuknya agar menolak pernikahan yang ingin kita laksanakan ini?" tembak Delano cepat.
Gabio diam. Menatap kearah langit malam yang sudah mencurahkan isinya melalui rintik hujan. Mulai membasahi dedaunan sedikit demi sedikit hingga basah keseluruhan.
"Papa tidak ingin anak papa menjadi anak yang tidak bertanggung jawab! Apalagi kamu sekarang mengemban tugas yang berat. Mendidik Bello dengan benar karena hanya kamu yang bisa mengasuhnya. Beruntungnya wajahmu sama persis dengan kakakmu." tekan Delano dingin. Enggan menatap Gabio.
"Pikirkan sekali lagi keputusan papa dan mama. Semuanya tidak hanya berlaku untukmu saja. Tetapi juga untuk Bello. Dia sangat menyukai Sariel dan hanya gadis itu yang mampu untuk menyembuhkan traumanya. Papa harap kamu tidak mengecewakan kami."
Delano menepuk bahu Gabio pelan. Ia meninggalkan anaknya tersebut.
Sepeninggal ayahnya, Gabio termenung menatap rintik hujan yang turun didedaunan. Ia tak menyadari ada mata yang lain yang sejak tadi menatapnya dalam diam.
***
__ADS_1
Sariel sudah kembali memakai pakaian tidur miliknya yang panjang. Ia lebih leluasa menutup seluruh tubuhnya dengan pakaian yang panjang. Ia keluar kamar menuju kearah dapur. Ingin mengambil segelas air putih untuk dibawa ke kamarnya.
Melewati ruang keluarga yang lengang. Beranjak keruang makan dan sampai juga ia di ruang dapur.
Keberadaan Canna membuatnya terpaku ditempatnya. Wanita paruh baya tersebut berjalan santai kearahnya. Ia tampak gelisah dan serba salah. Ingin menghindari wanita paruh baya tersebut tetapi tak bisa. Entah bagaimana ia menghadapi Canna setelah perdebatan panjang tadi.
Sariel merasa kalau kehadirannya sudah membuat keluarga Delano menjadi berantakan. Anaknya yang justru berbakti pada ibunya justru membantah perintah kedua orang tuanya.
"Tante," bisiknya pelan masih menatap ragu kearah Canna yang berdiri tepat didepannya.
"Duduklah! Ada yang ingin mama bicarakan denganmu."
Sariel mengangguk, merasa kikuk menghadapi wanita tegas tersebut. Ia meletakkan begitu saja gelas kosong tersebut keatas meja. Ia belum sempat mengisinya dengan air putih. Menunggu Canna mengeluarkan titahnya.
"Menikahlah dengan Gabio!"
Sariel diam menyorot Canna, tangannya tampak memilin ujung bajunya. Pikirannya tampak sangat kalut apabila disinggung mengenai pernikahan.
Biar bagaimanapun, Ia sebenarnya trauma dengan yang namanya pernikahan. Apalagi setelah Evan dulu sempat menghianatinya. Padahal dirinya sudah mulai mencoba untuk membuka hatinya untuk Evan.
Lalu, bagaimana dengan kasus yang dihadapinya sekarang. Apakah ia sanggup menjalani pernikahan tanpa jajakan dan perkenalan terlebih dahulu. Menikah bukan karena cinta ataupun keinginan dari masing-masing pribadi.
Canna menggeleng. "Tapi, Tante..."
"Jangan menolak lamaran ini. Mama tahu kamu dan Gabio tidak ada rasa dan tidak ada hubungan sama sekali. Tapi, mama juga tahu kalau kamu sedang kesusahan. Bagaimana kalau kita bertukar kesepakatan! Anggap saja pernikahan ini adalah pernikahan bisnis."
"A-apa maksud Tan-te?"
Canna memandang Sariel dengan nanar. Semakin membuat Sariel bungkam dan gelisah.
"Jangan panggil Tante. Mama tidak suka panggilan itu. Panggilan mama mulai sekarang!"
Sariel mengangguk. Berusaha mengenyahkan pikiran negatifnya mengenai Canna.
"Mama punya informasi mengenai Wina, orang suruhanmu itu. Dan dia sekarang dalam keadaan yang sangat sulit. Kalau kamu mau memenuhi syarat dari mama. Maka mama yang akan membantunya untuk keluar dari kesulitan tersebut."
Sariel bergeming menatap netra yang teduh tersebut. Wanita didepannya ini benar-benar tak dapat ditebak sama sekali. Dia bisa tahu segalanya padahal ini pertama kalinya mereka bertemu.
__ADS_1
"Dan satu lagi. Perusahaan milik ayahmu hampir kolaps. Dia mempertaruhkan semua hartanya demi perusahaannya yang hampir diujung tanduk. Dan tidak ada satupun perusahaan yang ingin bekerjasama dengannya. Semuanya membatalkan kerjasama yang sedang berjalan disaat perusahaan milik keluargamu hampir bangkrut."
Sariel kembali terbeliak mendengarnya, semua informasi yang tidak ia ketahui sudah diketahui oleh wanita ini terlebih dahulu. Ia menggigit bibirnya kuat merasa kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak tahu apapun juga.
"Kamu tentu tahu bukan pertaruhannya seperti apa? Semua harta yang dimiliki oleh papamu akan disita oleh bank. Belum lagi jumlah utang yang tidak dapat dirupiahkan dengan nilai harta miliknya. Dan...."
Canna mendelik, merasa puas melihat wajah Sariel yang pias dan pucat. Ia mendekatkan sedikit wajahnya kearah Sariel, tersenyum miring sambil mempertajam tatapannya.
"Tidak hanya itu saja. Bahkan kesehatan ayahmu pasti akan memburuk dan ditambah dengan sikap ibu tirimu...."
"Cukup Ma! Apa yang harus saya lakukan agar semuanya tidak seperti yang mama katakan! Apakah saya harus menjual semua lahan kebun kelapa sawit milik saya atau...?"
"Tidak perlu!" sahut Canna cepat. "Kamu hanya perlu menikah dengan Gabio. Demi Bello dan kesehatannya. Dan semuanya akan terkendali seperti semula!"
Senyum Canna kembali merekah dan Sariel tahu senyum itu banyak memiliki misteri bahkan sangat mengerikan.
Sariel menatap telapak tangannya yang tampak berkeringat. Ia dapat merasakan suhu tangannya yang mendingin dan sedikit kebas. Ia benar-benar gugup menghadapi Canna. Bahkan dirinya tampak gemetaran mendengar kabar yang tak mengenakkan.
"Mama yang akan memberikan suntikan dana ke perusahaan papamu untuk kembali bangkit. Bagaimana? Apakah kamu setuju dengan usul mama?"
Wanita itu memperhatikan Sariel yang tampak ragu. Mata Sariel beberapa kali mengerjap untuk menghalau rasa pusing yang tiba-tiba mendera. Perasaan takut yang berlebihan itu benar-benar membuatnya mual dan ingin muntah.
"Tapi... saya rasa saya masih mampu untuk membantu papa," sahutnya lemah. Ia tak rela keluarganya benar-benar hancur tanpa ia mampu menolongnya.
"Harga perkebunanmu tidak seberapa dibandingkan utang yang dimiliki oleh orang tuamu. Dan semuanya pun habis terjual tetap tidak akan memberikan solusi apapun. Untuk membayar gajih karyawan yang menunggak selama sebulan belakangan pun tak tertutupi. Jadi, simpan lah usahamu itu karena semuanya tidak akan memberikan pengaruh apapun."
Sariel diam. Ia mencoba menahan gemuruh dadanya. Perlahan rasa panas itu menjalar di matanya. Mengerjap beberapa kali untuk menghalau airmatanya untuk tumpah. Hatinya mencelos memikirkan nasibnya yang tak bisa membantu orang tuanya. Ia merasa tidak berguna. Tapi setidaknya, ucapan terima kasih karena sudah memeliharanya sejak bayi walaupun ayahnya tidak mengakuinya sebagai anak.
Sariel mengangkat kepalanya pelan, netranya bertemu dengan netra teduh yang menatapnya sejak tadi. Ia menganggukkan kepalanya pelan. Menyetujui semua yang di syaratkan oleh Canna untuknya. Biarlah kebahagiannya menjadi tawanan mereka.
"Lalu, bagaimana dengan Tuan Gabio?"
Sariel menunduk mempermainkan tangannya sendiri. Canna menarik napasnya pelan, merasa lega mendengar Sariel yang mulai menyerah.
"Biar mama yang atur. Dia juga tidak akan menolak untuk menikah dengan gadis secantik dan semanis kamu."
Sariel menatap Canna yang tersenyum dan mengerlingkan sebelah matanya. Membuat Sariel terlihat salah tingkah. Ia menunduk sambil menggigit bibirnya pelan. Tawa Canna pecah melihat tingkah gadis didepannya yang terlihat polos.
__ADS_1
***