Takdir Cinta Ceo Dingin

Takdir Cinta Ceo Dingin
Kedatangan Dua Tamu Tak Terduga


__ADS_3

"Nona, bagaimana?" Wina menghampiri Sariel dengan tatapan harap-harap cemas. Apalagi wajah Sariel terlihat kusut. Wanita muda tersebut menggeleng pelan. Ia tak mampu mengatakan kebenarannya. Ia sudah ditipu oleh Awi dan uang tabungannya pun terkuras habis. Bagaimana kedepannya ia akan menggajih para buruh pekerjanya. Sedangkan harga buah untuk sekarang mengalami penurunan.


"Jadi, nona tertipu?"


Sariel mengangkat kepalanya pelan tatapan sendu jelas tergambar dimatanya. Tanpa menjawab pun Wina pasti sudah tahu kebenarannya. Wanita itu segera merangkul Sariel, mencoba memberikan ketenangan. Ia tahu bagaimana perjuangan wanita itu hingga mencapai sukses seperti sekarang tanpa mendapat dukungan dari keluarga.


"Tidak apa-apa, Non. Semua pasti akan tergantikan. Hanya saja nona jangan terlalu banyak pikiran. Saya yang akan mengurus semuanya."


"Terima kasih."


Wanita itu segera beranjak menuju kamar sempit yang mereka tempati. Matanya beralih menatap kedua adik Wina yang tampak sibuk menonton televisi sambil belajar. Sesekali terdengar teriakan Ana saat Sami mengganggunya.


Matanya sedikit memanas melihat pemandangan indah yang selama ini belum pernah dirasakan olehnya.


"Nona, gantilah pakaian Nona. Setelah ini kita akan meninjau kebun jeruk yang ada di kota Marabahan."


Sariel terperanjat kemudian mengangguk dan masuk kedalam kamar untuk mengambil jubah mandinya. Bergegas ia berjalan kearah belakang untuk menuju ke kamar mandi.


Belum sempat ia membuka pintu kamar mandi, suara Wina kembali menginterupsinya ditambah dengan suara gaduh yang sangat dikenal olehnya. Wanita itu lekas-lekas berjalan kearah depan. Disana Leni sedang menunggunya dengan mulut yang tak pernah berhenti menjelekkan dirinya. Wanita itu terlihat sangat kesal dan marah.


"Sariel! Keluar kamu! Aku tahu kamu sedang ada didalam!"


Leni berteriak keras hingga membuat kegaduhan dan beberapa orang kampung tampak bergerombol menontonnya. Mereka terlihat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan kedatangan orang yang tak mereka kenal.


"Ada apa ini!?" Wina menghadang didepan pintu. Menatap kesekelilingnya sambil mengernyit heran. Ia segera menyibak dirinya saat Sariel menyentil tangannya.


"Biar saya saja yang menghadapinya, sepertinya ia sedang ada urusan dengan saya," sahut Sariel sambil berlalu keluar.


"Sariel! Fitnah apa yang sudah kamu katakan pada papa hingga papa memblokir semua ATM ku!!" Teriaknya penuh amarah. Mencoba mendekat kearah Sariel. Wina segera menarik Sariel, ia terlihat was-was melihat gestur tubuh wanita itu. Penampilannya terlihat sedikit kusam dengan rambut yang tak serapi dan sehalus dulu lagi.


"Apa? Saya tidak mengerti apa yang kamu ucapkan."

__ADS_1


"Jangan bohong kamu! Kamu kan yang sudah mempengaruhi papa untuk tidak mengirimkan uang bulanan lagi untukku!"


Sariel menatap angkuh Leni, ada rasa kesal menghinggapi dirinya. bagaimana mungkin wanita itu menuduhnya begitu saja sementara dirinya sama sekali tak sedekat itu dengan Arya.


"Apa kamu sadar dengan ucapanmu! Bukannya kamu yang selama ini sudah memfitnah saya hingga papa mengeluarkan saya dari rumah itu."


"Aku tidak memfitnahmu. Bukannya kamu sendiri tahu kalau kamu memang bukan siapa-siapanya papa. Sama denganku bukan. Hanya saja bedanya kamu adalah anak hasil dari wanita hina. Hasil dari perselingkuhan seorang istri yang tidak dapat dipercaya."


Leni tersenyum sinis dengan tatapan mengejek.


"Bukan itu masalahnya Leni!" suara Sariel terdengar meninggi. Ia sudah tampak geram sambil melirik kearah orang kampung yang diam saja sejak tadi.


"Memang benarkan kamu dikeluarkan dari rumah karena lebih memilih Andre dibanding tunanganmu yang sudah papa pilihkan untukmu? Bukannya kamu sama saja dengan ibumu dulu!"


"Diam kamu! Kamu tidak tahu apapun mengenai diri saya dan juga ibu saya. Jadi, jangan mengatakan sesuatu yang hanya menurut opinimu saja!"


Leni berdecih memperhatikan penampilan Sariel yang masih terlihat kumal seperti dulu. Matanya bergerak memindai rumah kecil yang ada didepannya. Senyum mencemooh terbit begitu saja dari bibirnya.


"Pantas sekali kamu tinggal di rumah ini. Sangat cocok dengan keadaan dirimu yang Kumal dan menjijikkan. Kamu memang tidak pantas tinggal di rumah besar seperti milik papa."


"Leni. Sebaiknya kamu pulang sebelum menyulut amarah orang kampung sini," usir Sariel yang cukup khawatir mengenai keadaan Leni.


"Kamu mengusirku!?" Lagi, Leni berteriak keras, ia terlihat sangat kesal. "Kamu tidak pantas mengusirku! Urusan kita belum selesai!" tambahnya lagi.


"Hei! Kamu anak orang kaya, pergi dari kampung sini. Tidak punya sopan santun dan tatakrama sama sekali," sahut salah satu warga yang menyaksikan semuanya sejak awal.


Leni berpaling menatap mereka satu persatu. Wajahnya tampak masih angkuh.


"Tanpa kalian usir pun saya akan pergi dari sini. Saya tidak pantas diam disini karena saya di takdirkan menjadi orang kaya, bukan seperti kalian," sahutnya berlalu sembari berdecih beberapa kali. Ia segera meluncur setelah menaiki mobil hitam miliknya.


Beberapa orang tampak membubarkan diri tanpa menghiraukan keberadaan Sariel.

__ADS_1


Wanita itupun bergegas masuk kedalam rumah untuk melanjutkan ritual mandinya yang sempat tertunda tadi. Belum sempat ia menyabuni tubuhnya, suara Wina kembali terdengar jelas sedang memanggil dirinya.


Bergegas Sariel menyabun seadanya dan membilas tubuhnya dengan cepat. Ia mandi seadanya saja.


"Ada apa?" Sariel melongokkan kepalanya keluar pintu sambil menghadap Wina yang terlihat cemas.


"Ada seseorang yang sedang mencari Nona," sahut Wina.


Bergegas Sariel berjalan kearah depan. Belum surut dugaannya mengenai Leni yang kembali lagi. Ia sudah dikejutkan dengan kedatangan Bello yang banjir oleh airmata. Anak kecil tersebut tampak sendirian.


Sariel yang menyadari semua itu segera mengajak Bello untuk masuk kedalam rumah. Matanya bergerak memindai halaman rumah tersebut. Benar-benar sepi tanpa ada seorang pun juga.


"Bello, apa yang terjadi?" Sariel meraih tubuh mungil tersebut kemudian menggendongnya. Ia sangat khawatir karena Bello datang sendirian ketempat dirinya. Bagaimana mungkin anak sekecil ini tahu dimana ia tinggal.


Bello menggeleng, tangannya mengalung dileher Sariel. Ia bergerak memeluk wanita muda tersebut. Tangisnya segera reda tetapi tatapannya terlihat sangat sendu.


Beberapa menit berlalu, posisi mereka masih sama hingga Sariel melerai pelukan mereka dan meletakkan Bello begitu saja di karpet. Ia segera duduk bersila dihadapan Bello.


"Katakan pada kakak, kenapa Bello sampai sini dan darimana Bello tahu kalau kakak tinggal disini?"


Bello mengeluarkan sebuah catatan kecil miliknya. Menulis sesuatu disana. Sariel menunggunya hingga ia selesai dan memperlihatkan pada Sariel.


"Jadi, Bello mengikuti kakak saat Bello ingin berkunjung ke apartemen papa. Bello melihat kakak keluar dari rumah itu dan berinisiatif mengikuti kakak?"


Bello mengangguk. Wajahnya tampak antusias, tak sesedih sebelumnya. Moodnya memang cepat berubah.


"Baiklah. Kakak tahu kalau Bello merindukan kakak, bukan?"


Bello kembali mengangguk dengan cepat. Matanya tampak berbinar. Bocah kecil tersebut kembali ingin merangkul dirinya tetapi dicegat oleh Sariel terlebih dulu.


"Tapi... Katakan dulu pada kakak, siapa yang mengantarmu kesini? Bukannya tadi tidak ada seorang pun dibelakang Bello?"

__ADS_1


Bello tampak berpikir dengan wajah yang tampak menggemaskan. Pipinya tampak gembul dengan wajah yang selalu tersenyum. Walaupun ia dalam keadaan menangis, tetap saja wajahnya sangat menggemaskan.


***


__ADS_2