
Evan tampak frustasi, kekasihnya mengkhianati dirinya. Ia juga tidak bisa mendapatkan Sariel seutuhnya. Dan sekarang ia justru mendengar kalau Sariel ingin segera menikah.
Pintu kamarnya didorong paksa hingga menimbulkan bedebam yang kuat. Darmawan masuk kedalam dengan aura yang menakutkan.
"Evan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ada beberapa orang yang datang mencarimu?" Sarmawan menahan emosinya saat melihat Evan yang kacau.
"Mereka anak buahku, pa!"
"Anak buah? Anak buah apa!?"
Evan mengangkat kepalanya, suara ayahnya terdengar sedikit keras.
"Anak buah yang memata-matai Sariel," gumamnya pelan dengan pandangan lurus.
Sarmawan duduk disisi ranjang Evan. Ia memperhatikan keadaan anaknya.
"Untuk apa kamu memikirkan wanita itu lagi? Dia sudah memutuskan hubungan denganmu. Dia sudah mencampakkan kamu!"
"Tapi... Itu salah Evan sendiri. Evan mengkhianatinya padahal Sariel sangat setia dengan Evan walaupun kami dijodohkan."
Sarmawan tampak emosi mendengar jawaban Evan. Tangannya menyentuh pundak Evan.
"Dengarkan papa, Evan. Kamu masih muda, kaya, tampan dan tentunya sempurna. Apalagi yang kurangnya kamu, semua gadis diluar sana pasti akan berebut untuk mendapatkan kamu. Coba kamu buka mata kamu lebar-lebar. Tidak hanya Sariel gadis yang cantik. Masih banyak gadis-gadis lainnya yang jauh lebih cantik dari dirinya. Kenapa juga kamu berharap pada gadis yang tak tahu diuntung tersebut!"
"Tapi... hanya dia yang bisa membuat Evan sadar kalau selama ini Evan salah." Lelaki itu menunduk menatap lantai yang dipijaknya.
Sarmawan berdecak, ia tak suka anaknya selemah ini.
"Bukankah kamu sudah memiliki kekasih selain Sariel. Siapa namanya? Papa tidak tahu."
Evan menarik napasnya pelan, membuang pandangan kearah jendela kaca.
"Aku tidak mencintainya lagi Pa. Dia juga mengkhianatiku. Bahkan lebih menyakitkan dari pengkhianatan ku pada Sariel.
"Kamu cari gadis yang lain saja. Jangan Sariel. Keluarganya sudah hancur ditangan papa. Untuk apa berharap pada gadis yang tidak tahu terima kasih itu."
Evan terkejut, ia menatap Sarmawan dengan nanar. Mengamati wajah yang sudah mulai keriput tersebut. Sarmawan mengangguk meyakinkan. Hingga membuat Evan membuang napasnya gusar. Ia berdiri dan meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Berjalan meninggalkan ayahnya begitu saja.
"Evan! Mau kemana kamu! Evan! Kembali!" teriak Sarmawan tetapi di indahkan oleh Evan.
Lelaki itu meneruskan langkahnya hingga kegarasi mobil. Mengeluarkan mobil Ferrari miliknya. Melesat meninggalkan kediamannya.
Ia sudah mengantongi kediaman Sariel. Wanita itu tak pernah lepas dari pandangannya. Ia tak rela Sariel menjadi milik orang lain.
Mobil yang dikendarainya sudah sampai didepan rumah bertingkat dua dengan cat dominan berwarna putih dan pagar yang menjulang tinggi.
Evan menekan klakson mobilnya sekali, seorang sekuriti berjalan mendatanginya.
"Ada apa, Tuan?" sapa Sekuriti dengan sopan.
"Saya ingin bertemu Tuan rumah disini."
__ADS_1
"Apakah Anda sudah membuat janji terlebih dahulu?"
Evan diam sebentar sambil berpikir.
"Tidak. Katakan saja bahwa temannya sedang menunggunya."
"Baik, Tuan."
Lelaki itu bergegas kearah pos satpam, menyuruh temannya untuk memberi tahu tuan rumah melalui telpon.
Setelah beberapa menit lamanya, lelaki itu kembali menghampiri Evan.
"Silahkan masuk, Tuan."
Evan segera menjalankan mobilnya memasuki halaman yang luas dan terawat tersebut setelah pagar dibuka secara otomatis.
Matanya bergerak memperhatikan tanaman yang ada disana. Tidak ada kesamaan sama sekali dengan tatanan milik Sariel. Itu artinya, Sariel masih berada dsini selama beberapa hari ini.
Evan tahu kalau Sariel sehari saja tidak memegang tanaman maka tangannya akan sangat gatal. Bahkan ia kerap tidak tenang karenanya. Bayangan Sariel membuatnya tersenyum manis.
Seorang kepala pelayan tampak menunggu kedatangannya di teras. Lelaki itu tidak lebih tua dari ayahnya. Pembawaannya yang tenang mampu membuat Evan merasa lebih nyaman.
Evan mengikuti langkah lelaki didepannya yang membawanya untuk menemui Tuan rumah yang sudah menunggunya di ruang tamu.
Suasana dalam rumah tersebut tampak tenang. Evan melirik kearah lelaki paruh baya yang duduk didepannya. Disamping kirinya duduk seorang wanita dengan gaya elegan dan sangat anggun.
"Silahkan duduk!"
"Perkenalkan, nama saya Evan, Tuan."
Delano mengangguk dengan tatapan datar. Canna mengulas senyum tipisnya.
"Apakah kamu temannya, Gabio?" Canna membuka suara. Menatap Evan dengan senyum manis. Ia tidak tahu siapa saja teman Gabio selama tinggal disini. Sedangkan dirinya tinggal di luar negri.
Evan tampak ragu. Ia tidak mengenal Gabio tetapi ia tahu siapa Gabio dikalangan para pebisnis.
"Saya bukan temannya Gabio. Tetapi saya adalah temannya Sariel," sahut Evan ragu, melirik Delano dan Canna.
Wajah Canna masih seperti semula. Tenang dan tersenyum manis. Sedangkan Delano tetap datar.
"Apa kamu ingin menemuinya?" selidik Canna. Delano diam saja.
"Iya. Ada hal yang ingin saya bicarakan dengannya."
Canna mengangguk menatap sekilas kearah Delano. Kemudian kembali memperhatikan Evan. Lelaki itu tampak biasa saja saat Delano mengintimidasinya. Ia tak takut bahkan terlihat tenang.
Seorang pelayan diminta oleh Canna untuk memanggilkan Sariel.
Tidak lama menunggu, Sariel muncul keruang tamu. Pakaiannya tampak berbeda dari sebelumnya. Sariel terlihat cantik dan menarik. Wanita itu terkejut melihat kedatangan Evan. Ia terdiam dengan tatapan takut, menyembunyikan kegelisahan hatinya.
Berkali-kali Evan menahan dirinya untuk tidak berlari kearah Sariel dan memeluknya. Wanita itu sangat dirindukannya. Ia meneguk ludahnya berulang kali. Matanya menyambar tatapan Sariel yang sinis padanya. Wanita itu duduk tidak jauh darinya tetapi ia sama sekali tidak ingin menatap kearah Evan.
__ADS_1
"Sayang. Katanya dia adalah temanmu. Ada hal penting yang ingin dibicarakannya denganmu."
Sariel menatap Canna. Ia merasa sangat tidak nyaman dengan kedatangan Evan ke kediaman Gabio. Apalagi mereka tidak tahu seperti apa perlakuan Evan tempo lalu padanya.
"Sariel. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu," sela Evan.
Sariel melirik sekilas sebelum kembali menatap kearah Canna. Delano diam saja masih melihat interaksi keduanya.
"Sayang, kita kedalam saja. Biarkan mereka berdua bicara disini," ajak Canna meraih tangan suaminya.
Delano mengangguk dan berjalan meninggalkan keduanya dengan menggandeng pinggang Canna.
Sepeninggal suami istri tersebut, keduanya tampak canggung. Hening selama beberapa menit kedepan hingga Sariel merasa bosan.
"Ada apa kamu mencari Saya?" Sariel tak ingin menatap lawan bicaranya sama sekali. Ia enggan apalagi setelah perlakuan Evan tempo lalu padanya. Walaupun Evan mabuk, ia tetap sulit untuk mentolelir nya.
"Sariel, beri aku satu kali kesempatan lagi. Aku ingin kita kembali seperti dulu. Memperbaiki semuanya."
Sariel diam masih menatap lurus kedepan.
"Ayolah. Kita mulai semuanya dari awal."
Sariel tetap diam. Evan tak berputus asa. Ia tahu Sariel masih marah padanya. Evan berdiri dan berjalan menghampirinya, tangannya ingin menyentuh tangan Sariel. Tetapi wanita itu menangkisnya dengan cepat.
"Tidak bisa! Saya tidak bisa kembali pada Anda."
Evan tampak kecewa dengan keputusan Sariel. Tetapi ia tidak berputus asa.
"Kita mulai semuanya dari awal lagi. Aku berjanji akan setia denganmu."
Evan kembali berusaha meraih tangan Sariel. Tetapi lagi-lagi Sariel menepisnya. Wanita itu segera berdiri, menghadap Evan yang berdiri dihadapannya. Tatapannya tajam dan tak bersahabat.
"Ini tidak hanya soal pengkhianatan. Tapi ini juga mengenai kelangsungan hidup banyak orang!" tekan Sariel dengan muka marah. Ia kembali membuang pandangan, tak sudi menatap lelaki yang ada dihadapannya tersebut.
"Apa...maksud..."
"Kamu dan keluargamu sudah menghancurkan bisnis papaku. Dan kalian sudah membuat keluargaku kelaparan. Apakah aku harus mentolelir semua itu? Dengan menerima dirimu kembali serta memaafkan semua kesalahan yang sudah kamu perbuat padaku. Kalian mempermainkan keluargaku!" tekan Sariel tajam. Ia mengunci tatapannya. Wajahnya merah padam.
"Apakah kamu lupa pada apa yang sudah kamu perbuat padaku beberapa hari yang lalu?" desisnya pelan.
Evan meneguk ludahnya kasar. Ia masih mengingat semuanya dengan jelas. Ia memang terpengaruh dengan alkohol saat itu tetapi keinginannya untuk memiliki Sariel seutuhnya pun menguasai dirinya. Ia cemburu melihat Sariel dekat dengan lelaki lain.
"Aku...."
"Tidak bisa dimaafkan. Perlakuanmu sangat buruk terhadap saya. Dan saya tidak pernah lupa dengan semua itu."
Evan mematung, menatap Sariel penuh harap. Wanita itu melenggang meninggalkan dirinya seorang diri.
Apa yang mampu diperbuatnya kalau sudah seperti ini. Toh semua ini memang salahnya sendiri. Betapa sulitnya memperbaiki diri.
Delano bergegas menghampirinya.
__ADS_1
***