
Wina tergopoh-gopoh berjalan di halaman rumah sakit. Disamping kanannya bocah kecil tersebut tampak berlari kecil, berusaha mengimbangi kecepatan wanita dewasa yang sedang menggandeng tangannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa, sementara itu Bello terus meminta padanya untuk menyusul Sariel kerumah sakit setelah cukup lama menunggu. Wina pikir ada hal yang darurat mengenai Marhawi. Dan lebih beruntungnya lagi Bello mampu dibujuk tanpa histeris.
Tetapi perasaannya semakin tak menentu setelah Madi memberitahunya mengenai seseorang yang sangat mirip dengan Sariel sedang dibawa keruang UGD. Ditambah lagi penjelasan Madi yang mengatakan kalau Sariel sudah pulang dari sejam yang lalu.
Begitupun dengan Bello yang terus merengek meminta untuk menghubungi Sariel. Tetapi handphonenya sama sekali tidak aktif.
Wina dapat melihat kalau Madi tampak menunggui dirinya. Lelaki itu berdiri dengan gelisah sambil sesekali matanya bergerak melirik kearah Gabio yang cukup jauh darinya.
"Dimana wanita yang kamu maksud sangat mirip dengan Nona Sariel itu?" tanya Wina begitu ia tiba didepan Madi. Tangan lelaki itu bergerak menunjuk kearah ruang UGD.
"Maaf, aku tidak berani untuk bertanya pada lelaki itu. Bahkan tatapannya saja tampak mengintimidasi," sahut Madi yang tampak mengekor dibelakangnya.
Wina mengangguk, ia terkejut begitu melihat Bello langsung berlari kearah sana. Bergegas Wina menyusulnya, tak ingin terjadi sesuatu yang tak di inginkan.
***
Sariel mencoba membuka matanya, ia merasakan rasa pusing yang mendera kepalanya. Bahkan perasaan mual dan ingin muntah. Tetiba tangannya disentuh oleh tangan kekar, membuat dirinya tersentak ditambah ingatannya mengenai kejadian beberapa jam yang lalu terus membayanginya. Pelecehan yang ingin dilakukan oleh Evan padanya. Sungguh lelaki itu tak bermoral sama sekali.
"Lepaskan!!" sentaknya keras sembari menatap kearah lelaki yang menatapnya penuh keheranan.
"Kamu?" Sariel mencoba duduk setelah menatap lelaki yang cukup dikenalinya. Bukan lelaki bejat yang ingin merenggut kehormatannya. Tetapi tangan Gabio sudah bergerak menahannya terlebih dahulu.
Napasnya tampak memburu disertai dengan peluhnya yang muncul dipelipis. Jelas, keadaannya sedang tidak baik-baik saja.
"Jangan duduk dulu, dokter akan segera memeriksamu," sahutnya tenang masih memperhatikan perubahan wajah Sariel.
Sedangkan Sariel mencoba bersikap tenang setelahnya, ia mencoba untuk merebahkan dirinya kembali tetapi pekikan Wina mengagetkannya.
Wanita itu berlari begitu saja sembari menghambur kedalam pelukannya. Begitupun Gabio, yang dibuat keheranan dengan keberadaan Bello yang sudah berdiri disamping ranjang Sariel. Sejak kapan anaknya muncul disampingnya. Kenapa ia tidak merasakannya.
"Nona. Kamu tidak apa-apa kan?" Wina melepaskan begitu saja pelukannya pada Sariel. Memperhatikan keadaan Sariel sedetail mungkin. Membuat Sariel terkekeh melihatnya. Kemudian beralih menatap Gabio sekilas.
Tatapan Gabio terlihat penuh selidik. Netranya yang tajam terus menyorot Wina hingga membuat wanita itu menunduk kemudian kembali menatap Sariel.
Mata Gabio beralih saat celananya ditarik oleh tangan kecil disampingnya. Ia berjongkok untuk menyamai tingginya dengan Bello.
Lelaki kecil tersebut menunjuk kearah Sariel beberapa kali sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali. Tingkahnya sangat menggemaskan walaupun ia tak mampu bicara.
"Duduklah disini!"
Sariel menepuk kasur yang direbahinya. Dengan cepat Bello duduk disana. Tangan mungil tersebut bergerak membelai kepala Sariel.
Membuat Sariel beralih memperhatikan Bello yang tampak sedih kemudian mendelik tajam kearah Gabio. Lelaki itu berdehem kemudian bersikap acuh padanya. Sungguh menyebalkan.
__ADS_1
"Kakak cantik kenapa di rumah sakit?" eja Sariel begitu Bello mengangkat buku catatan kecil miliknya. Sariel tersenyum sambil mengedarkan pandangan kearah Gabio yang menatapnya penuh ancaman.
"Kakak hanya sakit kepala saja, Sayang." Tangan Sariel bergerak membelai kepala Bello. Merebahkan bocah tersebut didadanya. Terlihat jelas, Bello merasa nyaman dengan perlakuan Sariel padanya.
"Maaf, Nona. Kita periksa dulu keadaan Nona," ucap salah seorang dokter yang baru muncul hingga mereka menyibak diri dari samping ranjang yang ditempati oleh Sariel.
Gabio berdehem sebentar untuk menetralkan perasaannya yang melihat kedekatan Bello dan Sariel.
"Bagaimana keadaan saya, dok?" tanya Sariel begitu ia selesai diperiksa.
"Keadaan Nona sudah baikan. Dan sebentar lagi Nona akan diperbolehkan pulang. Tapi, obatnya harus diminum secara rutin untuk mengurangi nyeri akibat benturan. Dan jangan lupa untuk terus menyeka memar yang ada dipergelangan tangan Nona biar cepat sembuh," imbuhnya sambil menyerahkan resep obat kearah Wina. Sariel mengangguk sambil terus memperhatikan wajah dokter tersebut dengan lekat.
"Baik, Dok. Terima kasih banyak," sahut Sariel sembari menyunggingkan senyum manisnya kearah dokter muda yang bergerak meninggalkan dirinya.
Gabio mendengus melihatnya, berdecak tak suka. Lelaki itu segera meraih Bello dan membawanya berjalan keluar ruangan tanpa sepatah katapun.
"Ada apa dengannya?" saut Wina begitu Gabio menghilang dibalik pintu UGD. Sariel hanya mengangkat bahunya pertanda dia tak mengerti.
***
Sariel tampak bungkam sepanjang perjalanan. Ia tidak habis pikir kenapa Gabio sampai berada disampingnya begitu ia membuka mata. Mungkinkah lelaki itu yang sudah berhasil menolongnya dari kejaran Evan.
Mengenai Evan, Sariel masih belum mau membicarakannya bersama Wina. Ia masih belum siap saat mengingat pelecehan yang akan dilakukan lelaki itu padanya.
Tetapi keberadaan Madi yang duduk di kursi depan membuatnya lupa dengan pertanyaan Wina. Ingatannya justru pada buruhnya yang terbaring dirumah sakit.
"Madi, bagaimana kondisi pak Marhawi?"
Lelaki itu menoleh sebentar kearahnya kemudian kembali fokus ke kemudi.
"Keadaan beliau masih sama, Nona. Tidak ada kemajuan sama sekali."
"Memangnya kenapa dengan pak Marhawi?" Timpal Wina yang ikut penasaran saat menyimak pembicaraan mereka. Disini, hanya ia yang tidak tahu kabar sama sekali. Ia hanya tahu kalau lelaki paruh baya tersebut sedang dalam keadaan darurat.
"Beliau stroke setelah bercebur di sumur pada saat selesai bekerja," sahut Sariel.
Wanita itu tampak prihatin mendengarnya. Tanpa sengaja matanya menyorot kearah pergelangan Sariel yang masih membiru.
"Lalu, apa yang terjadi dengan Nona setelah menjenguk beliau? Bahkan kondisi Nona dalam keadaan tidak sadarkan diri, ditambah dengan kedua pergelangan tangan Nona yang membiru," selidik Wina menatap pergelangan tangan Sariel. Wanita itu segera menutupinya dengan menarik ujung lengan panjangnya. Matanya bergerak menatap Madi yang sedikit terkejut mendengarnya. Lelaki itu ikut memperhatikan melalui kaca spion mobil.
Sariel segera mengalihkan tatapannya sebentar kearah Wina sambil meneguk ludahnya kasar. Rasanya bayangan itu sangat menakutkan seandainya ia tidak dapat lari dari sana. Entah bagaimana jadinya dirinya kini.
"Jawab Nona kalau saya tanya. Saya sayang sama Nona karena menganggap Nona adalah adik saya sendiri. Saya sangat cemas." Wina terlihat sedih hingga mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat didepan rumah mungil milik keluarganya.
__ADS_1
"Maafkan saya," sahut Sariel melepaskan genggaman tangan Wina.
Wanita itu bergegas menuntun Sariel untuk keluar dari mobil. Ada banyak pertanyaan yang berkelebat dibenaknya. Tetapi ia tak berani untuk mengungkapkannya melihat raut tegang yang tergambar dari wajah Sariel setiap kali ia melontarkan pertanyaan yang sama. Tetapi ia yakin, ada sesuatu yang tak mengenakkan yang telah menimpa Tuannya tersebut.
"Nona harus banyak istirahat," ucap Wina begitu mereka berada didalam rumah. Mencoba melupakan rasa penasarannya.
Kedua adik Wina menghambur berlari kearah keduanya.
"Kenapa dengan kak Sariel, Kak?"
Sontak pertanyaan keduanya membuat Wina melirik kearah Sariel. Wanita itu tampak biasa saja menyikapinya.
"Kakak hanya sakit kepala saja," sautnya enteng.
Wina berdecak mendengarnya. Terlihat jelas Sariel menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kak Sariel ingin istirahat dulu, kalian jangan ribut." Ia segera membawa Sariel kekamar yang mereka tempati.
Pintu kamar diketok dari luar begitu Wina selesai membantu Sariel untuk duduk di atas kasur. Ia segera bergerak untuk membukanya. Terlihat Sami sedang membawakan sepiring donat buatan Sariel yang tak sempat dimakan olehnya tadi.
"Ini donatnya kak." Ia meletakkannya perlahan didepan Sariel. "Dimakan ya, kalau tidak kakak akan 'kapohonan'."
Sariel terkikik mendengarnya, merasa lucu dengan ucapan bocah tersebut.
"Terima kasih, sayang," sahut Sariel. Ia menarik napas pelan setelah Sami berlalu. Netranya tampak sayu, ada gambaran kegelisahan didalamnya.
"Dimakan dulu donatnya, Nona. Bukankah donat juga kesukaan Nona."
"Baiklah!"
Sariel mengambil donat tersebut kemudian memakannya dengan perlahan. Sedangkan Wina segera beranjak dari tempatnya.
"Besok nona tidak usah pergi kekebun sawit untuk memeriksa hasil panen. Biar saya saja yang kesana."
"Tapi..."
"Sudahlah. Keadaan Nona juga sedang tidak baik sekarang. Nona harus banyak istirahat."
Sariel mengangguk masih mengunyah donatnya pelan.
"Oh iya. Besok uang hasil pembayaran sawit segera dicairkan saja. Saya harus segera melunasi pembayaran biaya pengobatan pak Marhawi di rumah sakit."
Wina mengangguk. Wanita itu paham betul bagaimana Sariel sebenarnya. Ia wanita yang dermawan, tidak hanya mengumpulkan harta untuknya semata. Tetapi ia juga tak segan untuk memberikan kepada mereka yang membutuhkan.
__ADS_1
***