
Bello kembali menulis di buku catatan miliknya.
"Aku ingin menginap di rumah kakak," tulisnya memelas.
Bukannya menyahut, Sariel justru bungkam sambil menatap Wina. Ia kembali memperhatikan rumah mungil tersebut, sudah sesak dengan penghuninya ditambah kedatangan Sariel. Dan kini, Bello pun ingin tinggal dirumah tersebut. Ia menarik napas pelan saat Bello menarik-narik ujung pakaiannya untuk meminta izin darinya.
Wanita itu segera berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Bello.
"Dengar Adik kecil, kakak mau saja tinggal dengan Bello. Tapi... bukan dirumah ini."
Senyum Bello semakin merekah mendengarnya, lelaki kecil tersebut bergelayut di badan Sariel. Tangannya kembali bergerak menulis di catatan kecil miliknya.
"Bagaimana kalau kakak Cantik tinggal di rumahku saja?" Tulisnya.
Sariel langsung tersenyum mendengarnya, menatap kearah dua orang yang sedang menonton dirinya sejak tadi.
"Ana, Sami sini!" ucapnya sembari melambai pada adiknya Wina.
Keduanya bergegas menghampiri Sariel sambil sesekali menatap Bello penuh tanya. Apalagi saat Bello justru memeluk erat Sariel dengan wajah kesal.
"Nah Bello. Kamu boleh kesini kapan saja untuk bermain bersama mereka."
Bello menggeleng kuat masih dalam posisi memeluk Sariel. Terlihat jelas ia tidak ingin berbagi bersama mereka.
"Aku hanya ingin bermain bersama kakak cantik saja. Tidak mau dengan mereka!" tulisnya cepat.
"Sayang, tidak boleh begitu." Sariel menggeleng. Wajah Bello semakin menggemaskan saat bibirnya dimayunkan olehnya. Ia menggeleng keras sambil melototi kedua anak yang ada didepannya.
"Kakak cantik adalah milikku. Jadi jangan ambil dia!" tulisnya. Kedua kakak beradik tersebut terlihat bingung, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Bello.
Membuat Sariel dan Wina langsung tertawa hingga menyeka ujung matanya. Ia benar-benar tak mampu menahan rasa gelinya saat melihat Bello cemburu.
"Bagaimana kalau kita nonton televisi saja?" Sami bergerak mendekat kearah Bello. Tetapi justru Bello bersembunyi dibelakang Sariel. Sami tampak takut melihat tingkah Bello yang seperti itu. Padahal dirinya hanya menawarkan sesuatu saja. Matanya bergerak takut-takut menatap kearah Sariel dan juga Wina. Membuat Sariel mengulum senyumnya.
"Bello. Bagaimana kalau Bello duduk didepan televisi dulu. Kakak akan membuatkan donat untuk Bello," bujuknya. Membuat lelaki mungil tersebut tampak berpikir keras.
Lagi-lagi ia menggeleng sambil melirik kearah Sami yang masih berdiri diposisi semula.
"Bello ingin melihat kakak cantik membuat kue donat?" eja Sariel saat Bello mengangkat catatan kecil miliknya.
__ADS_1
Bello mengangguk dengan cepat. Wajahnya terlihat sangat antusias.
"Baiklah. Ayo!" ajaknya sembari berlalu kearah dapur yang tampak sempit tersebut.
Sariel duduk lesehan sambil tangannya bergerak mengambil tepung terigu dan juga ragi. Ia mencampur keduanya hingga merata. Kemudian mengambil air panas yang ada didalam termos.
Menuangkannya kedalam mangkok yang sudah terisi gula pasir. Kemudian mengaduknya pelan. Tak lupa ia menambahkan telur dan juga pelembut serta sedikit mentega. Mencampur semua bahan kemudian mengaduknya pelan.
Bello yang duduk lesehan didepan Sariel pun hanya diam menatap wanita yang tampak cekatan tersebut hingga Sariel selesai membuat adonan dan membentuknya, kemudian meletakkannya didalam loyang. Setelahnya ia menutupnya sebentar dengan kain bersih agar cepat mengembang.
"Bello, bagaimana kalau kita nonton televisi dulu untuk menunggu adonannya mengembang?"
Bello mengangguk sambil mengikuti langkah Sariel keruangan depan. Disana masih ada Sami dan juga Ana.
"Orang juga tau kalau kue itu enak. Orang sering kok makannya. Jadi, tidak perlu lagi diberitahu," celetuk Sami sambil bersungut-sungut saat melihat iklan kue kering yang lewat.
Sariel tertawa kecil mendengarnya, membuat Bello mengerutkan sedikit dahinya.
"Itu kue tidak nyata, cuma dilihat saja tidak bisa dimakan kok," sahut Ana acuh sambil mewarnai buku mewarna miliknya.
"Lah, kue itu memang nyata tapi tidak ada disini," sahut Sami sambil nyengir cengengesan.
"Bello ingin bergabung bersama mereka?"
Lelaki kecil tersebut menggeleng, matanya kembali bergerak menatap Sami yang berpaling kearah mereka.
"Iya Bello. Sini duduk dekat aku." Sami melambaikan tangannya. Tetapi Bello menggeleng cepat menolak ajakannya.
"Bello ingin mewarnai juga?" tanya Sariel saat Bello kembali menatap kearah Ana. Perempuan kecil tersebut acuh dan tetap fokus pada kegiatannya.
"Ya udah, kita duduk seperti ini saja," sahut Sariel sambil memeluk Bello yang duduk didepannya. Lelaki kecil tersebut tampak merebahkan kepalanya dipangkuan Sariel hingga tidak lama kemudian dia terlelap.
***
Dengan perlahan Sariel meletakkan Bello di atas kasur kemudian bergegas kearah dapur. Ia melihat adonan donatnya sudah mengembang.
Bau semerbak tercium hingga keruang depan saat donat tersebut sudah masuk ke penggorengan. Sami dan Ana sudah berdiri tepat dibelakang Sariel. Memperhatikan gerakan wanita tersebut. Sedangkan Wina sedang menemui seseorang yang datang di depan rumahnya.
"Nona, ada Madi didepan. Dia ingin bertemu denganmu. Ada hal yang ingin di sampaikannya, keadaan yang darurat."
__ADS_1
Sariel meletakkan penggorengan miliknya, segera berjalan ke ruang depan. Tidak biasanya Madi yang menghampirinya. Saat ia melewati kamar yang mereka tempati, matanya bergerak menilik Bello yang masih tertidur pulas. Lelaki kecil tersebut tampak tak terganggu dengan suara langkah kaki yang berdepak.
"Nona Sariel, maaf sudah mengganggu waktu Nona." Lelaki itu berdiri dan sedikit menunduk.
"Duduklah!"
Sariel duduk lesehan didepan Madi saat ia menyuruh Madi duduk. Lelaki itu tampak bersila didepannya.
Rumah Wina yang mungil memang tidak terdapat kursi tamu disana bahkan perabotannya pun seadanya saja.
"Ada apa, Madi? Kata Wina ada hal yang sangat penting yang ingin kamu katakan pada saya?"
Madi mengangguk dengan mimik yang gelisah, sesekali ia meremas tangannya.
"Begini Nona, Pak Marhawi masuk rumah sakit."
Sariel terkejut mendengarnya, kemarin saat ia meninjau ke lokasi perkebunan miliknya, Marhawi tampak segar bugar saja. Ia ingat betul saat lelaki paruh baya tersebut menyapanya.
"Sakit apa?"
"Stroke."
Sariel kembali terkejut dibuatnya. Tak habis pikir apa penyebabnya hingga penyakit itu menghampiri begitu saja orang yang sehat.
"Kemarin di siang yang terik itu, beliau bekerja tanpa henti. Bahkan waktu istirahat pun beliau gunakan untuk bekerja. Saat beliau merasa kelelahan, bukannya duduk bersama kami, beliau justru berlari kearah sumur yang ada disana. Kemudian menceburkan dirinya begitu saja kedalam sumur tersebut."
"Jadi, berapa lama setelah ia bercebur mengalami stroke?"
"Kira-kira selang waktu 30 menit hingga 1 jam kemudian. Beliau tidak dapat bergerak, rebahan begitu saja didekat kami duduk semula. Bahkan terlihat dari mimik beliau begitu kesakitan. Kami yang khawatir segera mendekat dan bertanya. Beliau diam saja tetapi matanya selalu mengeluarkan airmata. Kami yang khawatir pun segera membawanya kerumah sakit."
Sariel tampak sangat prihatin mendengarnya.
"Baiklah. Saya akan segera ke rumah sakit."
Sariel bergegas masuk kedalam rumah untuk memberitahu Wina kalau ia akan melihat kondisi terkini Marhawi. Wina mengangguk, wanita itu terlihat ingin ikut tetapi Sariel mencegahnya. Apalagi di loyang masih banyak terdapat donat yang belum digoreng. Sami dan Ana pun tampak duduk menikmati donat tersebut.
Perasaannya tampak lega melihat keduanya juga menyukai donat buatannya.
***
__ADS_1