
Delano bergegas menghampiri Evan selepas Sariel pergi. Tatapan lelaki itu tampak dingin mengunci wajah Evan yang terlihat tenang walaupun tatapannya mengintimidasi. Ia sudah menaruh curiga sebelumnya, kalau lelaki ini sedang bermasalah dengan calon menantunya.
"Apa yang kamu harapkan dari seorang Sariel?"
Pertanyaan itu sontak membuat Evan terdiam. Mendongak menatap Delano yang sedang menatapnya tajam. Tadinya ia bermaksud untuk pamit pada lelaki didepannya tersebut. Tetapi urung karena terusik dengan tanya tersebut.
"Seperti yang Om lihat. Saya sedang berjuang disini."
Delano menyipitkan matanya, tersenyum sinis mendengarnya.
"Berjuang untuk sesuatu yang sudah kamu patahkan?"
Evan diam menelisik wajah Delano.
"Bukankah kelaurgamu sendiri yang sudah menghancurkannya. Kenapa kamu sekarang berusaha untuk menarik simpatinya kembali. Apa kamu sedang mempermainkan gadis lugu itu?"
Wajah Evan terlihat tak senang.
"Om. Ini masalah saya dengan tunangan saya. Jadi..."
"Man-tan!" tekan Delano.
"Lebih tepatnya mantan tunangan. Bukannya pertunangan kalian sudah lama putus. Dan itu artinya Sariel tidak ada sangkut pautnya denganmu lagi. Dan dia tidak terikat apapun lagi dengan kalian. Jadi, kedepannya sebaiknya kamu jauhi dirinya."
Wajah Evan memerah, ia marah diperlakukan seperti itu oleh Delano. Apalagi disuruh menjauhi Sariel begitu saja. Ia tak akan melakukannya. Apapun alasannya ia tetap akan berusaha untuk mengambil hati gadis tersebut lagi
"Dia memang mantan saya Om. Tapi saya tetap menganggap dia sebagai tunangan saya dan akan berusaha agar dia kembali pada saya!" tekannya sambil berdiri.
"Kamu tidak sepantasnya berbicara seperti itu pada gadis yang sebentar lagi akan menikah."
Evan menggertakkan giginya. Tentu saja ia kesal mendengarnya. Matanya merah menyala, tangannya mengepal. Ia menahan semuanya demi menghormati pemilik rumah yang sedang berdiri didepannya sekarang.
"Lain kali. Pikirkan dulu semua ucapanmu itu. Bisa saja itu menjadi bomerang untukmu lain kali."
Evan diam saja, ia berdiri. "Saya permisi," ucapnya melenggang meninggalkan Delano yang berdiri dengan posisi tangan terkepal. Ia mengacuhkan semua ucapan Delano padanya.
***
Sariel terlihat serba salah setelah ia bertemu Evan tadi. Ia merasa tak nyaman pada pasangan suami istri yang terlampau baik padanya tersebut. Ditambah diamnya Delano membuat Sariel takut kalau lelaki bijak tersebut akan memperlakukannya dengan dingin.
Ia sudah menganggap mereka berdua sebagai orang tuanya sendiri. Setelah merasakan kehangatan yang mereka berikan. Toh selama ini, Sariel tak pernah bisa merasakan bagaimana layaknya seorang ayah memperlakukan anaknya dengan hangat.
__ADS_1
Sariel terlihat sibuk mencuci gelas bekas Bello minum susu. Lelaki kecil tersebut baru saja ke kamarnya. Ia tampak sibuk menggambar disana.
Sedangkan Canna tampak berjalan kearahnya tanpa sepengetahuan Sariel.
"Sariel. Ada yang ingin mama bicarakan denganmu."
Sariel terlonjak kaget. Hampir saja ia menjatuhkan gelas yang ada ditangannya. Kemudian meletakkan gelas tersebut ke rak piring mini sebelum berbalik menghadap Canna. Ia mengangguk dengan wajah penuh tanya.
Dengan langkah gugup Sariel berjalan kearah Canna yang sudah duduk di kursi mini bar. Wajahnya tampak pias. Sariel pun meletakkan dirinya didepan Canna. Terlihat gugup sekali dirinya, mempermainkan ibu jarinya sendiri berulang kali.
"Ada apa, ma?"
Canna tersenyum matanya menyipit menatap Sariel yang gelisah dan gugup.
"Kamu masih ingat bukan tentang kesepakatan kita kemarin?" ucapnya santai.
Sariel mengangguk. Mencoba menerka arah pembicaraan Canna.
"Mama tidak ingin kamu yang mengingkari kesepakatan kita. Bagi mama kesepakatan itu tidak dapat ditukar dengan apapun juga. Termasuk sebuah cinta. Kamu paham maksud mama."
"Apa mama sedang mengancam saya?" tanya Sariel ragu. Ia berusaha menetralkan hatinya yang berkecamuk. Ia tahu ini tidak hanya sekedar pembicaraan biasa.
Canna menggeleng. "Mama tidak mengancammu, sayang. Mama hanya mengingatkan saja. Mungkin saja kamu sudah lupa dengan kesepakatan kita. Dan kamu bisa menentukan pilihanmu sendiri antara Gabio dan lelaki tadi."
"Tapi... Sariel tetap akan memilih Gabio, Ma. Lelaki tadi, dia hanya orang lain yang sempat menjadi masa lalu saya."
Canna menyentuh pundak Sariel. "Orang di masa lalu kerap menjadi bomerang di masa depan. Bahkan mereka datang dengan persiapan yang matang untuk merebut sesuatu yang dianggapnya hilang dalam dirinya."
"Apapun itu, saya tidak akan tertipu untuk yang kedua kali. Dia sudah menghancurkan kehidupan papa dan keluarga saya. Itu artinya ia sedang menabur duri di hati saya." Sariel menunduk, menatap ujung sandal jepitnya. Ia geram dengan kelakuan Evan dan keluarganya.
"Dan mama harap kamu tetap pada pendirianmu seperti sekarang. Mama tidak ingin mempunyai menantu yang disuatu hari nanti membuat anak Mommy sakit hati."
"Tidak akan Ma. Sariel bisa jamin itu."
"Apa jaminan yang akan kamu berikan pada mama?"
Sariel diam, ia tidak tahu apa yang akan menjadi bukti kalau dirinya tidak akan berpaling dari suaminya kelak. Sedangkan mereka tidak saling cinta sama sekali.
"Ya sudah. Kamu akan berikan jaminan itu pada mama setelah kamu pikirkan. Hari sudah sore. Sepertinya kita tidak bisa berangkat ke rumah orang tuamu untuk melakukan lamaran. Jadi, menurut mama ada baiknya besok pagi saja soalnya mama belum membuat janji dengan mereka. Canna mengubah topik. Ia yakin Sariel wanita yang tangguh dan tetap pendirian.
Sariel meringis membuat Canna terkekeh. Pipinya merona dengan rona merah jambu yang terlihat jelas.
__ADS_1
"Apapun itu saya akan menurut saja," sahutnya menunduk dengan malu-malu.
Canna kembali terkekeh hingga Delano muncul dan duduk didekat istrinya. Ia merangkul Canna dan mengecup dahinya sekilas. Membuat Canna menepuk dadanya pelan.
"Papa, jangan disini," bisiknya pelan melirik Sariel yang masih menunduk. Delano tersenyum mendengarnya, menarik ujung hidung Canna.
"Papa tidak macam-macam, sayang. Hanya ingin bergabung dengan kalian. Sejak tadi papa dengar mama selalu tertawa. Apakah ada hal lucu yang belum papa tahu?" Delano menatap Sariel. Gadis itu masih menunduk.
"Atau kalian sedang membicarakan persiapan para gadis untuk mengakhiri masa lajang mereka?"
"Pa, jangan menggoda menantu kita. Dia terlihat malu dan serba salah. Lihatlah!"
Delano terkekeh mendengarnya. Istrinya masih terlihat sangat manis dimatanya.
Derap langkah kecil terdengar saling berkejaran kearah mereka. Bello tampak berlari, dibelakangnya Mili sedang berjalan cepat. Sariel dan pasangan suami istri serempak menatap kearah mereka dengan penuh tanya.
"Tuan Kecil!"
"Ada apa, Mili?"
"Maaf Tuan, Tuan Bello tidak ingin saya temani. Dia ingin bersama Nona Sariel," Mili menunduk begitu ia sudah berdiri dihadapan mereka. Bello yang berlari segera duduk dipangkuan Sariel. Memeluk wanita itu dan mengusel-usel kepalanya dengan manja diperut Sariel. Wanita itu menahan geli yang ia rasakan. Bello mendongak memperlihatkan sederet giginya yang putih bersih. Sariel menunduk menatapnya. Wajah kecil tersebut tampak berbinar.
"Bello ingin kakak temani apa?"
Sariel menatap Bello, lelaki itu tampak diam. Matanya bergerak kearah jendela. Sariel mengikuti tatapannya. Berpikir sebentar. Ia tahu apa yang Bello inginkan.
"Bello ingin jalan-jalan?"
Lelaki kecil tersebut mengangguk. Wajahnya tampak antusias. Ia segera turun dari pangkuan Sariel berlari kearah kamarnya sebentar kemudian kembali lagi kearahnya dengan menentang sebuah buku gambar lengkap dengan pensil warnanya.
Bello meletakkan peralatannya di atas mini bar. Ia meraih buku kecil miliknya. Menulis sesuatu disana kemudian mengangkatnya dan memperlihatkan pada Sariel. Wanita itu membacanya, ia tertawa renyah setelahnya. Delano dan Canna ikut senang melihatnya.
"Baiklah. Kakak akan ikut dengan Bello. Kakak juga ingin melukis."
Wajah Bello tampak berbinar. Ia bersorak girang tanpa suara. Hanya tangannya yang diangkat dan melompat kecil dengan senang.
Sariel berbalik menatap Delano Dan Canna.
"Ma, pa. Sariel ketaman belakang dulu untuk menemani Bello."
Keduanya mengangguk dengan senyum lebar. Mereka menaruh harapan pada gadis tersebut untuk penyembuh trauma cucunya.
__ADS_1
***