Takdir Cinta Ceo Dingin

Takdir Cinta Ceo Dingin
Sudah Ada Pemiliknya


__ADS_3

Setelah cukup tenang, Sariel pada akhirnya mau menuruti keinginan Gabio untuk duduk di depannya. Lelaki itu masih ingat bagaimana usahanya untuk membujuk Sariel tempo lalu namun selalu berakhir dengan penolakan.


Bahkan ia juga memancing Sariel untuk datang ke kantornya melalui panggilan kerja. Padahal nyatanya bukan bekerja sebagai pegawai di kantornya yang ia inginkan. Ia ingin agar Sariel bekerja hanya untuk Bello. Karena permintaannya tersebut masih berlaku. Tetapi nyatanya wanita itu justru menganggapnya sebagai penipu.


Dan entah kenapa tiba-tiba sekarang wanita itu justru terjebak di dalam apartemen miliknya. Dan haruskah ini dikatakan sebagai sebuah keberuntungan untuknya.


"Katakan padaku, bagaimana kamu mendapatkan kartu akses masuk ke apartemenku ini?" Gabio menatap lekat Sariel. Ucapannya terdengar sangat dingin dan penuh selidik.


Ia sudah mengenakan celana training dan baju kaos berwarna hitam yang membentuk otot bisfaknya.


Sariel diam sambil menunduk, ia melirik kearah pintu beberapa kali. Gabio mengikuti tatapan Sariel, ia menyunggingkan senyum miringnya.


"Kamu tidak akan bisa keluar dari sini sebelum menjelaskannya padaku."


Sariel mencoba mengangkat kepalanya menantang tatapan lelaki yang justru mengungkung didepannya. Nyatanya ia sedikit menciut dibuat oleh Gabio yang berjarak sangat dekat dengannya.


"Saya tidak ingin keluar dari rumah ini. Karena rumah ini adalah milik saya sekarang!"


Ucapan Sariel terdengar lucu di pendengaran Gabio sehingga lelaki itu terkekeh sambil menundukkan kepalanya. Membuat jarak mereka menjadi sangat dekat. Ia menutup mulutnya sedetik kemudian. Menatap Sariel dengan tatapan setengah mengejek.


"Apa kamu punya surat kepemilikan rumah ini?" Gabio masih menatap Sariel dengan tatapan lucu, membuat gadis berusia 25 tahun itu semakin kesal dibuatnya.


Ingin sekali Sariel menonjok wajah tampan yang sangat menyebalkan didepannya. Senyumnya penuh ejekan dan bicaranya terlalu sombong.


"Tentu saja saya punya. Salah satunya adalah kartu ini sebagai akses untuk keluar masuk rumah ini!" Sariel menghentakkan kartu yang ada ditangannya di atas meja.


Gabio melirik sekilas pada kartu tersebut, ia meraihnya sebentar kemudian meletakkannya kembali dihadapan Sariel. Wanita itu melongo melihatnya tanpa mau membuka suaranya. Sedangkan tatapan Gabio kembali mengunci wajah Sariel.


"Ini juga!" ucap Sariel sembari mengeluarkan sebuah fotokopy kepemilikan rumah tersebut. Ia juga mengeluarkan surat tanda jual beli.


Gabio kembali meraih surat tersebut, membacanya sekilas. Melirik kearah Sariel yang tampak percaya diri.


"Ini surat palsu," sahutnya enteng sembari melepaskan begitu saja surat tersebut di atas meja.


Sariel terperanjat mendengarnya. Menatap Gabio tak percaya. Ingin rasanya ia menendang lelaki yang terlihat penuh ancaman didepannya tersebut.


"Siapa nama orang yang sudah menjual rumahku ini padamu? Apakah namanya Awi."


Sariel diam sebentar, menatap Gabio dengan ragu-ragu. Kenapa lelaki didepannya ini bisa menebak dengan tepat? Dan apakah benar ia sedang ditipu?


"Kenapa tidak dijawab? Apakah yang aku katakan barusan adalah benar?"

__ADS_1


Sariel masih diam berpikir. Ia menatap Gabio dengan curiga.


"Sepertinya bibi yang satu ini tidak hanya jelek dan menyebalkan. Tetapi juga dia bodoh!"


Sariel terbelalak mendengar Gabio yang memanggilnya dengan sebutan bibi. Ia Ingin membuka mulutnya untuk mengumpati lelaki dihadapannya tersebut.


"Jangan mengumpatiku. Kamu akan sial selama 17 hari."


Sariel kembali mengatup rapat mulutnya. Ia kesal dipermainkan oleh lelaki didepannya tersebut.


"Aku yakin kamu yang bodoh ini sudah ditipu olehnya."


Gabio beranjak dari duduknya. Berjalan pelan sambil memutari kursi yang diduduki oleh Sariel. Tatapan Wanita itu mengikuti langkah Gabio.


"Karena yang pertama adalah aku yang memiliki surat resmi rumah ini. Dan yang kedua rumah ini sudah kubeli beberapa tahun yang lalu dari badan resmi. Sedang yang ketiga adalah, kamu sudah ditipu olehnya."


Sariel ingin membuka mulutnya menampik ucapan lelaki tersebut. Tetapi ia justru terkejut dengan sikap lelaki tersebut yang tiba-tiba mengungkungnya kembali secara tiba-tiba.


"Kenapa kamu ditipu olehnya? Kamu ingin bukti?"


Sariel mengangguk pelan. Ia tak mampu berpikir melihat jarak mereka berdua yang teramat sangat dekat. Bahkan hembusan napas Gabio menyapu seluruh wajahnya. Sariel dapat merasakan hembusan hangat yang teratur.


"Coba kamu hubungi kontaknya. Apakah kontaknya masih aktif atau dia sudah memblokir nomormu!"


Warna wajah Sariel yang sudah putih bertambah putih. terlihat jelas warna pucat saat ia sudah mencoba beberapa kali menghubungi nomor tersebut. Benar yang dikatakan oleh Gabio kalau Awi sudah menipu dirinya. Tapi, ia tak ingin berkesimpulan secepat itu. Bisa saja lelaki itu sedang ada urusan hingga nomornya tidak pernah aktif. Matanya bergerak menatap Gabio, ada kilat amarah didalamnya. Sariel berdiri dari posisinya. Mendekat kearah Gabio sambil mengumpulkan seluruh keberaniannya. Tangannya bergerak menunjuk tepat didada lelaki tersebut.


"Jangan pernah berkesimpulan secepat itu. Bisa saja dia sedang ada urusan lain hingga mengharuskan handphonenya tidak bisa dihubungi."


Gabio menangkap tangan Sariel, kembali menatap Sariel penuh ejekan. Senyum miring tercetak jelas dibibirnya.


"Tentu saja aku yakin dia sedang menipumu. Karena aku kenal betul dengan lelaki itu," ucapnya sembari melepaskan tangan Sariel. Gabio kembali berjalan mengitari kursi kosong yang sempat ia duduki tadi.


"Dia baru saja bekerja di rumahku ini seminggu yang lalu. Aku yang memintanya untuk merenovasi sebagian rumah ini. Aku juga yang menyerahkan kunci duplikat ini padanya. Dan aku juga yang menyerahkan fotokopi kepemilikan rumah ini padanya atas permintaannya untuk keperluan pekerjaan." Tatapan Gabio berubah lebih tajam. Membuat Sariel diam terhenyak.


"Dan kamu harus tahu. Kunci ini akan berguna untukmu selagi aku masih belum mengganti kata sandi dengan yang baru. Jadi, kamu bisa sepuasnya berada di rumah ini dan keluar masuk dengan mudah. Tetapi dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Bagaimana?"


Sariel ternganga mendengarnya, lelaki didepannya ini benar-benar pandai mempermainkan keadaan dirinya. Bahkan kesalahannya kali ini pun ingin dimanfaatkan olehnya.


"Dengar ya, tuan kaya raya. Saya tidak berminat dengan penawaran Anda tersebut. Saya masih mampu mencari tempat hunian yang lain," sahutnya acuh sembari mengatur degup jantung yang bertalu menahan kesalnya.


Sariel meraih tas miliknya dengan kasar. Ia beranjak meninggalkan lelaki yang di rasanya gila tersebut. Baru saja tangannya bergerak ingin membuka handel pintu, tawa Gabio kembali pecah.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita bertukar penawaran? Aku akan membantumu melaporkan orang yang sudah menipumu tersebut tetapi kamu harus menerima tawaranku!"


Sariel yang tampak kesal mendengarnya segera berbalik. Ia berjalan cepat kearah Gabio. Kemudian menendang lelaki itu tepat di lutut Gabio hingga Gabio refleks menghindar. Setelah merasa gagal, Sariel berlari kearah pintu rumah tersebut. Ia menekan tombol secara acak dan berhasil terbuka. Segera berlari keluar dari rumah tersebut meninggalkan Gabio yang menatapnya penuh arti.


***


Sepanjang perjalanan, Sariel terus mengumpat. Merasa sial dengan perjalanan hidupnya. Ia berjalan tak tentu arah hingga sebuah mobil sport berhenti tepat disampingnya.


Sariel tak perduli dengan keberadaan mobil yang terus mengikutinya tersebut. Ia masih terus mengumpat sambil menendang semua batu kerikil yang menghalangi jalannya.


"Sariel!"


Sariel berbalik dan mendapati Andre sedang melambai padanya. Dengan cepat ia berjalan menghampiri lelaki yang berdiri di sisi mobilnya tersebut. Senyum Andre tampak merekah hingga menular pada gadis yang baru mengalami kesialan tersebut.


"Habis darimana?" Andre memperhatikan Sariel dari ujung kaki hingga ujung kepala. Penampilan Perempuan tersebut tampak acak-acakan.


Sariel berdecak kesal setelah mengingat kembali pertemuannya dengan Gabio. Kemudian bertambah kesal setelah mengingat nomor Awi yang sudah tidak bisa dihubungi.


"Aku habis memeriksa keadaan rumah yang baru saja aku beli."


Andre mengerutkan dahinya. Bagaimana mungkin Sariel membeli sebuah rumah tetapi raut wajahnya tampak gelap dan kelam.


"Bagaimana kalau kita makan siang dulu. Aku yang akan mentraktirmu?" Ajak Andre. Sariel memperhatikan kesekelilingnya. Tak ingin kejadian tempo lalu kembali terulang. Leni yang melabrak dirinya sebagai seorang pelakor.


"Sudah. Jangan sekhawatir itu, dia tidak akan macam-macam lagi denganmu," sahut Andre cepat.


"Tapi...."


"Sudah. Ayo masuk mobil," sahutnya enteng sembari menarik tangan Sariel. Wanita itu mengangguk pelan kemudian masuk kedalam mobil sports tersebut.


Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit. Mobil yang ditumpangi Sariel membelok ke sebuah restoran mahal. Lelaki itu memakirkan mobilnya di tempat parkir kemudian turun dari mobil seiring dengan langkah Sariel yang tampak kuyu.


Mereka berjalan bersama menuju sebuah restoran yang tidak terlalu ramai. Menghempaskan bobotnya begitu saja pada kursi yang baru mereka tempati.


Tatapan Andre masih sama padanya, tatapan yang tak dapat Sariel mengerti tetapi ia tahu kalau Andre begitu perhatian padanya sebelum dirinya dijodohkan dulu.


"Sariel, maafkan kejadian tempo lalu. Mungkin kejadian itu terlalu membekas diingatanmu. Dan aku berjanji itu tak akan terulang lagi," ucapnya sembari menatap Sariel lekat.


"Tidak apa-apa, Dre. Leni juga adalah saudara tiriku, jadi aku paham betul bagaimana tabiatnya. Lagipula, tidak ada yang salah dari dirinya yang teramat cemburu dengan dirimu. Aku tahu sikapnya itu terlalu egois tapi kita dapat melihat bagaimana perasaannya padamu," ucapnya seiring dengan datangnya seorang pelayan kearah mereka.


"Bukan seperti itu. Aku sama sekali tidak memikirkan soal perasaannya. Kamu sendiri kan tahu bagaimana tingkahnya saat melihat lelaki tampan dan mapan."

__ADS_1


Sariel mengangguk sembari meraih buku menu yang disodorkan oleh pelayan tersebut. Ia memesan makanan seadanya saja berhubung moodnya belum membaik.


***


__ADS_2