
Sesampainya di kantor, Gabio tampak uring-uringan. Membuat Roni heran menatap dirinya. Bahkan lelaki itu meminta dibuatkan minuman beberapa kali karena kesalahan rasa didalamnya. Padahal kopi yang diminta sudah sesuai dengan takaran yang diminta.
"Tuan Muda, apa yang sebenarnya terjadi pada pertemuan tadi?" heran Roni saat melihat tingkah Tuannya yang tidak biasanya sekembali dari bertemu Fahmi. Ia memang tidak ikut serta karena sibuk mengurus pekerjaan yang lainnya.
"Semuanya baik-baik saja."
Roni mengernyit mendengar jawaban santai Gabio. Lalu, apa yang membuat Tuannya uring-uringan seperti sekarang?
Lelaki itu tidak lagi duduk di kursinya, sejak beberapa menit yang lalu. Gabio sudah mondar mandir dihadapan Roni. Hingga membuat Roni merasa pusing sendiri.
Gabio berdehem sebentar saat merasakan perutnya yang terasa perih. Melirik kearah Roni. Ia sampai mengabaikan penderitaan perutnya dengan tidak makan siang.
"Pesankan makanan untukku, aku belum sempat makan siang!"
Roni terkejut mendengarnya. Ia yakin pasti ada yang tidak beres dengan pertemuan tadi. Tidak biasanya lelaki didepannya ini mau melewatkan begitu saja makan siangnya. Gabio berprinsip tidak ingin pola makannya berubah hanya karena gila kerja. Itu yang digaungkannya setiap saat.
Roni sudah memesan makanan untuk Gabio. Kini mereka hanya menunggu makanan datang.
Tidak lama setelahnya, pintu sudah diketok dari luar. Bergegas Roni membukanya membawakan pesanan milik Gabio yang sudah datang ke atas meja tamu. Tak lupa, ia menyiapkan peralatan makan yang ada disana untuk Gabio.
"Tuan Muda, makanlah terlebih dahulu selagi hangat."
"Aku bukan anak kecil, Ron!" ucapnya tak suka. Roni tersenyum mendengarnya.
"Tapi sejak tadi Tuan terlihat bertingkah seperti anak kecil."
Gabio mendengkus tak suka, menatap Roni tajam. Ia tak menyahuti ucapan pria tersebut dan lebih memilih menghabiskan makanan yang ada dihadapannya. Perutnya benar-benar lapar setelah menunda makan siangnya tadi.
"Roni, telpon bi Mili sekarang juga. Aku ingin dia mengatakan sesuatu mengenai Bello yang ada disana!" pintanya begitu selesai makan.
Roni bergerak cepat saat mendengar perintah Gabio. Saat deringan pertama, telpon langsung diangkat oleh seseorang. Mata Roni bergerak kearah Gabio yang menatapnya penuh keingintahuan.
"Bagaimana keadaan Tuan Muda Bello?"
Suara Mili terdengar terkekeh. "Dia sekarang sedang sangat baik, Ron kalau kau ingin tahu," sahut Mili.
"Baiklah..."
"Tunggu, Ron," potong Mili dengan cepat. "Sampaikan pada Tuan Muda Gabio bahwa Tuan Kecil Bello sedang istirahat siang bersama Nona Sariel. Dan kemungkinan, sebentar lagi Nona Sariel akan segera pulang."
Roni mengernyit saat mendengar nama perempuan yang familiar ditelinganya akhir-akhir ini. Ia menatap Gabio meminta penjelasan tetapi yang ditatap terlihat acuh dan sibuk dengan komputer didepannya.
Jadi, inikah yang membuat Gabio uring-uringan dan terlihat gelisah setelah kembali dari rapat tadi. Apakah ia mampir sebentar ke kediamannya untuk melihat keadaan Bello. Ia mengulum senyumnya sebentar.
"Baiklah. Akan segera saya sampaikan. Terima kasih bi Mili."
__ADS_1
Gabio memindai Roni saat lelaki itu mengakhiri panggilannya. Ia menghentikan pekerjaannya sebentar sebelum menanyakan pesan apa yang ingin disampaikan oleh Mili untuk dirinya.
"Kata bi Mili, Nona Sariel akan segera pulang setelah Tuan Bello tertidur."
"Katakan jangan!" jawab Gabio cepat, Roni mengernyitkan dahinya. Gabio membuang muka dengan wajah angkuhnya.
"Kenapa, Tuan?"
"Umm, Bello pasti akan mencarinya nanti saat bangun tidur," Gabio beralasan sambil kembali memindai Roni dengan muka datar. Ia meringis saat melihat wajah Roni yang menatapnya aneh.
Dan Gabio benar-benar tak mampu menyembunyikan kegelisahannya kali ini. Ia segera menutup komputer miliknya. Dan segera berdiri meninggalkan kursi miliknya hingga kembali membuat Roni mengernyit melihatnya.
"Apakah ada sesuatu yang sedang Tuan inginkan?"
Sontak pertanyaan Roni membuat Gabio berhenti bergerak disisi mejanya. Ia mendengkus sebentar.
"Aku ingin pulang, ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan wanita itu sebelum ia pulang. Dan mintalah pada Bi Mili untuk menunda kepulangannya," sahutnya. Roni mengangguk cepat dan kembali menelpon Mili.
Gabio berjalan menuju meja kerja sekretarisnya. Wanita itu sedang tidak ada ditempatnya. Ia terlihat baru saja kembali dari pantry, ditangannya ada secangkir kopi yang masih mengepul.
"Rini, ubah semua jadwalku setelah ini. Aku akan segera pulang kerumah."
Wanita itu mengernyit, tidak biasanya Gabio meminta untuk pulang duluan padahal masih ada pertemuan penting setelah ini.
"Lalu, bagaimana dengan pertemuan Anda dengan PT. Bagalung?"
"Baik, Tuan."
Gabio bergegas meninggalkan kantor bersama Roni. Lelaki itu akan ikut serta kerumahnya dan membantu mengerjakan beberapa berkas yang ada ditangannya kini.
***
Sesampainya di rumah, Gabio dapat melihat dengan jelas kalau Sariel ikut terlelap di samping Bello. Tanpa sadar ada senyum kecil yang terukir dibibirnya.
"Tuan, sepertinya Nona Sariel ketiduran," bisik Mili begitu ia melihat Gabio didepan kamar milik Bello.
"Biarkan saja, Bi. Mungkin kondisinya belum pulih total setelah kejadian kemarin. Dan sudah seharusnya ia banyak istirahat."
Mili tersenyum mendengarnya. Tuannya sangat perhatian pada semua orang.
Awalnya Mili terkejut saat Sariel bertamu. Ia pikir Sariel wanita yang salah alamat. Tetapi setelah Bello berlari kearahnya dan langsung memeluknya, disitulah Mili tahu bahwa Sariel adalah gadis istimewa yang mampu meluluhkan hati Bello. Mungkinkah dia juga hadir sebagai pengobat dan penyembuh pada taruma anak kecil tersebut?
Gabio bergegas ke kamarnya ingin membersihkan dirinya sebelum Sariel bangun dan makan malam. Ia juga ingin menemui Roni sebentar diruang kerja miliknya. Masih ada banyak berkas yang belum ia periksa.
***
__ADS_1
Sariel membuka matanya, ia terkejut melihat rona langit yang tampak memerah dan sebagian sudah gelap. Seberapa lama ia tertidur di kamar Bello.
Saat Sariel berbalik, ia tak mendapati lelaki kecil itu disampingnya. Sariel merasa dipermainkan oleh Bello yang tidak ingin membangunkannya. Padahal Bello berjanji padanya untuk membangunkannya setelah lelaki itu terbangun lebih dulu.
Baru saja ia berdiri dan hendak keluar kamar Bello, Sariel terpaku melihat Gabio yang sudah bersandar di pintu kamar Bello.
Sejak kapan lelaki itu disitu? Dan kenapa Sariel tidak sadar sama sekali. Ia mendengus melihat tatapan dingin Gabio padanya. Matanya bergerak memperhatikan penampilan Gabio dengan baju santainya.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Ikutlah denganku!" perintahnya arogan.
"Saya tidak mau! Saya ingin pulang sekarang!"
Sariel tak ingin membuat Wina khawatir. Ia sudah berjanji pada wanita itu untuk pulang cepat.
"Saya tidak mengizinkan!"
Sariel ternganga mendengarnya. Ia kesal luar biasanya. Dengan cepat Gabio menutup pintu kamar Bello.
"Sebelum kita menyelesaikan pembicaraan kita maka kamu tidak boleh pulang!"
Akh lelaki ini! Selalu menyolot emosi Sariel. Ia berpikir ulang sebelum memberikan jawaban.
"Bagaimana?"
Dengan terpaksa Sariel mengangguk pelan. Lebih baik ia mengalah lebih dulu daripada ia dikurung ditempat ini. Langkahnya tampak santai mengikuti Gabio yang langsung berbalik membuka pintu kamar Bello.
"Ikutlah denganku!"
Sariel menggiring langkah Gabio menuju kearah salah satu ruangan yang berada cukup jauh dari kamar Bello. Bahkan melewati ruangan keluarga dan beberapa ruangan yang lainnya.
"Kita mau kemana?" tanya Sariel bertepatan saat lelaki itu sudah membuka pintu ruang kerjanya. Sariel mendengkus tak suka saat tak mendapat jawaban dari lelaki itu sama sekali.
Langkahnya tampak ragu begitu ia sudah berada diambang pintu tetapi ia segera masuk kedalamnya setelah ingat dengan Bello. Inilah resikonya apabila ia berani menyambangi kediaman lelaki itu.
Begitu ia masuk, Sariel tak mampu untuk menjaga pandangannya. Ia memperhatikan ruangan kerja yang sangat luas dan tertata apik tersebut dari sudut ke sudut.
Ada begitu banyak buku berjejer di rak yang ada di belakang meja kerja Gabio. Kesemuanya terlihat hanya berisi buku tentang bisnis dan sejenisnya. Disisi lain ada sepasang kursi single. Dan didepan meja kerjanya ada kursi tamu. Selain itu, tak ada lagi barang yang lainnya.
"Duduklah!" perintahnya.
Sariel mengangguk dan segera mengambil tempat untuk duduk tepat berhadapan dengan Gabio. Matanya bersiborok dengan mata Roni. Lelaki itu mengangguk sopan kearahnya.
"Roni, bawakan berkasnya kemari!"
Sariel ternganga mendengarnya. "Apa maksudnya dengan berkas? Kamu ingin menyuruh saya untuk bekerja disini?"
__ADS_1
Sialan! Dirinya diacuhkan lagi oleh lelaki itu. Bahkan dia hanya melirik sekilas padanya tanpa berniat menjawab pertanyaannya.
***