Takdir Cinta Ceo Dingin

Takdir Cinta Ceo Dingin
Demi Bello


__ADS_3

Gabio membuka pintu kamar yang ditempati oleh ibunya. Wanita itu sedang menyandarkan dirinya di kepala ranjang. Menoleh saat ada yang membuka pintunya.


Gabio tak bisa menghampiri wanita itu setelah perdebatan panjang tadi. Ia masih mematung berdiri menatap kearah Canna. Nyatanya Canna masih marah padanya. Wanita itu tak menyambutnya dengan senyumnya seperti biasa. Ia justru kembali melanjutkan membacanya.


Sedangkan Gabio juga tak ingin menurunkan egonya. Ia juga tak ingin untuk meminta maaf pada ibunya. Karena ia merasa tidak punya kesalahan pada kedua orang tuanya.


Mereka terlalu memaksa menurutnya, terlebih lagi rasa itu sama sekali tak ada untuk wanita yang bernama Sariel tersebut. Harus seperti apalagi Gabio menjelaskan kepada orang tuanya.


Mereka tetap keuh-keuh memaksanya untuk bertanggung jawab mengenai video yang terlanjur sudah menyebar tersebut.


Video itu memang benar video dirinya dan Sariel beberapa waktu lalu. Tetapi mereka tidak melakukan apapun dalam video tersebut. Apalagi melakukan hal asusila seperti yang dituduhkan orang-orang padanya. Hanya gerakannya saja seperti orang yang sedang melakukan hal yang iya-iya. Gerakan yang dilakukan saat tubuh mereka tanpa sengaja menempel dan semua itu bukan tanpa sebab.


Mereka memang sedang berdiri berhadapan. Tetapi tubuh mereka saling menempel karena keterpaksaan. Ditambah tangan Sariel yang berusaha menjangkau rambutnya yang tersangkut di kancing jas lelaki itu.


Ya. Semua itu terjadi karena rambut Sariel yang tersangkut dan kusut. Ditambah dengan mereka yang berada didalam ruangan yang pencahayaannya tampak sangat minim. Sebab itulah semuanya tampak bisa menebak kearah hal yang negatif.


Sariel tak ingin rambutnya putus, makanya ia mempertahankannya sedangkan Gabio sudah sangat kesal waktu itu padahal dirinya ingin segera bertemu kliennya.


Tetapi tiba-tiba saja Sariel datang dan langsung bertabrakan dengan dirinya tepat didepan pintu. Wanita itu segera masuk kedalam ruangan tersebut untuk menghindari seseorang. Dan Sariel ikut serta menyeret paksa Gabio yang sudah tampak terkejut. Ditambah dengan rambutnya yang menarik jas bagian depannya tanpa sengaja. Mau tidak mau, Gabio pun akhirnya memasuki ruangan yang sama dengan Sariel.


Karena suasananya gelap, maka apapun yang dilihat pasti lah mereka sedang melakukan hal itu. Padahal jelas saja mereka tidak melakukannya. Dan semuanya tertangkap oleh layar ponsel milik Gabio yang jatuh tidak jauh dibawah mereka. Layar yang masih menyala dan terhubung dengan bawahannya. Karena Gabio baru saja melakukan panggilan video dengan mereka.


Dan jelas saja semua itu langsung menyebar dalam waktu sekejap. Serta membuat orang-orang penghuni kantor miliknya menjadi gempar.


Berapa kalipun Gabio dan Sariel mengelak dan menyangkalnya, semua itu tidak akan mengubah keputusan yang sudah diambil oleh Delano dan Canna.


Mereka sudah memutuskan untuk menikahkan saja Gabio dan Sariel. Agar kedepannya tidak ada pihak yang merasa dirugikan dan tidak ada pihak yang bisa mengambil keuntungan dari kejadian itu. Ditambah lagi, mereka sekarang tinggal serumah. Tidak mungkin mereka tidak mengulangnya kembali dilain kesempatan.


"Mom, maafkan aku mom karena tidak mengakui semuanya," suara Gabio terdengar lemah dan pasrah. Ia tak sanggup menghadapi kemarahan ibunya. Wanita itu tetap bergeming dan terlihat acuh.


"Aku akan menikahi Sariel, Mom. Kali ini tidak akan membantah lagi permintaan mommy."


Wanita itu langsung berpaling begitu mendengar penuturan anaknya. Dengan cepat ia berjalan menghampiri Gabio yang terlihat frustasi. Kantong matanya tampak menghitam. Terlihat jelas lelaki itu kurang tidur.


"Benarkah yang kamu katakan? Kamu akan menikahi Sariel secepatnya?" Tatapnya mengunci wajah Gabio. Tangannya sudah bertengger membingkai wajah Gabio. Ada tatapan haru terpancar dari netranya yang teduh.

__ADS_1


Gabio mengangguk lemah, tak ingin membuat wanita yang dicintainya itu kecewa lagi. Ditambah dengan tatapan penuh cinta dari Canna pasti akan membuatnya lumpuh dan bertekuk lutut seketika.


Tangannya bergerak menyentuh tangan Canna yang masih membingkai wajahnya.


"Apapun akan Gabio lakukan demi mommy," bisiknya pelan merengkuh tubuh Canna kedalam pelukannya. Menyembunyikan perih hati yang dirasakannya. Sebuah keputusan besar yang akan ia ambil untuk masa depan dan hidupnya.


"Kalau begitu, malam ini juga kita akan melamar Sariel ketempat orang tuanya," tutur Canna dengan sumringah.


Gabio mengangkat kepalanya. Ia sedikit terlihat kacau. Sariel sama sekali bukan kriterianya. Bahkan wanita itu selalu terlihat kumal dan lusuh. Tidak bisa menata diri sendiri walaupun nyatanya dirinya sangat cantik dan manis.


"Apa mommy tidak ingin tahu banyak mengenai dirinya?"


Canna melepaskan pelukannya, menggeleng pelan mengulum senyum bahagianya. Impiannya untuk kembali merengkuh seorang mantu bakal terwujud. Apalagi anaknya yang terlalu sulit dekat dengan wanita. Ia selalu sinis terhadap mereka hingga banyak wanita yang urung untuk dekat dengannya walaupun tampan.


Bahkan banyak dari para wanita yang menyimpan ketakutan mereka saat melihat tatapan tajamnya.


"Tidak perlu. Kamu pasti sekarang sedang mengakal-akali mommy untuk mencari celah kesalahannya, bukan?" Tatap Canna penuh selidik.


Gabio menggeleng, mengulas senyum samar dibibirnya. Ucapan Canna kali ini terdengar kembali ketus ditelinganya. Ia takut akan membuat sakit hati ibunya kembali.


"Itu tidak penting, Yo. Seperti apapun latar belakangnya kalau dia gadis baik-baik saja, kenapa tidak? Seperti apapun orang tuanya kalau dirinya masih dibatas normal, kenapa harus mencelanya? Bukankah kamu tahu kalau seseorang itu tidak bisa disamakan apalagi dibandingkan! Walaupun dengan orang tuanya sekalipun!"


"Gabio paham, Mom. Hanya saja selama ini Mommy tidak seperti Mommy yang biasanya."


Canna menarik napas pelan. "Memangnya Mommy yang biasanya seperti apa?" tatap Canna penuh selidik.


Gabio diam, memperhatikan Canna.


"Maafkan Mommy. Semua ini mommy lakukan demi kebaikan kalian berdua."


"Tapi Mom... Tidak semuanya baik untuk kami. Semua ini terlalu dadakan! Apakah mommy pernah menanyakan kesiapan dirinya?"


Canna menatap tajam putranya hingga membuat Gabio menunduk dengan perasaan bersalah.


"Maafkan aku, Mom..." lirihnya.

__ADS_1


"Gabio! Bukannya kamu sudah memutuskannya tadi. Dan mengatakan kalau kamu siap untuk menikahinya. Kenapa sekarang kamu berubah haluan lagi? Jangan sampai kamu menjilat ludahmu sendiri!" tekan Canna. Ia tampak geram menghadapi sikap plin plan anaknya.


"Lagi pula Sariel adalah gadis yang baik. Mama yakin kamu akan bahagia kalau hidup bersamanya. Apalagi Bello, cucu mama yang satu itu sangat ketergantungan dengan Sariel. Mereka seperti ibu dan anak kandung."


"Lihat mereka! Mommy tidak sanggup untuk memisahkan mereka. Kasihan Bello yang terlalu menyimpan harapan kepada Sariel."


Gabio berbalik menatap kearah Sariel dan Bello yang baru saja masuk ke kamar Bello. Melihat keduanya Gabio memang tidak bisa memisahkan mereka. Tetapi bukan dengan cara menikah juga jawabannya. Tadinya ia hanya ingin menjadikan Sariel sebagai pengasuhnya Bello saja.


Kalau sudah begini, Gabio tak dapat membantah lagi. Keputusan yang diambil oleh ibunya adalah mutlak. Tak dapat diganggu gugat. Walaupun keputusan itu nyatanya memberatkan dirinya dan Sariel.


"Sejak kapan Sariel dan Bello begitu dekat? Kenapa kamu tidak pernah cerita pada mommy, Yo?"


Canna mendelik menatap Gabio dengan tajam. Kemudian memicingkan matanya.


"Apa kamu ingin memonopolinya sendirian?" tekan Canna.


Gabio terbelalak mendengar tuduhan ibunya. Ia menggeleng cepat. Membayangkannya saja sudah membuatnya lelah.


Ia beringsut mundur dan segera keluar dari ruangan tersebut. Satu-satunya yang bisa membujuk ibunya hanyalah Sariel. Ia berharap wanita itu sama seperti dirinya, menolak ataupun memberontak.


"Gabio! Kamu mau kemana? Kita belum selesai bicara!" ucap Canna begitu Gabio menghilang dibalik pintu.


Gabio tidak menghiraukan ibunya. Ia berjalan kearah kamar Sariel. Wanita itu sudah masuk ke kamarnya setelah mengantar Bello tadi.


Pandangannya menatap nanar pintu berwarna coklat muda tersebut. Ia tampak ragu. Beberapa kali membuang napasnya pelan.


Tangannya bergerak mengetuk pelan kamar yang ditempati wanita itu. Setelah 2 kali mengetuk, pintu terbuka. Sariel baru saja selesai mandi, tercium aroma semerbak sabun mandi ditambah dengan rambutnya yang terlihat masih basah.


Wanita itu tak menyadari kalau Gabio yang berdiri didepannya karena ia masih menunduk sambil menggosok rambutnya. Dipikirnya yang mengetok pintu adalah Bello. Karena biasanya, anak kecil tersebut selalu memintanya untuk menemaninya sebelum tidur. Memeluk ataupun mendongeng untuk dirinya.


Gabio meneguk ludahnya kasar, Sariel tampak sangat cantik dengan pakaian seadanya saja bahkan Gabio tanpa sengaja menatap leher Sariel yang tampak putih dan bersih. Sariel tampak sangat seksi dengan rambut basah. Ia tak berkedip sedikitpun sebelum deheman membuyarkan dirinya.


"Ehemm!"


***

__ADS_1


__ADS_2