
Sariel mendengus dan berdecak sebal menatap Gabio yang keluar dari mobilnya. Ada keinginan untuk kabur dari sana tetapi ketokan dipintu mobil membuat Sariel mengurungkan niatnya. Dito sudah berdiri dihadapannya dengan wajah yang tersenyum manis.
"Maafkan saya Nona karena sudah menipu, Nona."
Sariel menggeleng pelan. Seandainya ia berada diposisi yang sama dengan Dito maka ia pun akan melakukan hal yang sama.
"Tidak apa-apa, Dito. Saya juga merasa tidak ditipu olehmu," sahutnya tersenyum kemudian mendelik kearah Gabio yang masih berdiri menunggu dirinya.
Dengan cepat wanita itu menggiring langkahnya mengikuti langkah Gabio didepannya. Ia masih bersikap acuh saat Gabio berbalik padanya. Lelaki itu menatapnya datar, tanpa berucap sepatah katapun Gabio kembali meneruskan langkahnya menuju kearah ruangan privat room.
Sejak pertama kali duduk berhadapan di meja makan yang sama. Keduanya tampak saling bungkam. Sariel sibuk dengan dirinya sendiri. Ia memang menerima ajakan Gabio untuk makan bersamanya tetapi ia terus menolak tawaran yang diajukan oleh Gabio.
Sariel ingin memberikan sedikit pelajaran pada lelaki yang sudah mempermainkan dirinya tersebut. Setidaknya hingga lelaki itu berhenti dan putus asa untuk menawarkan pekerjaan tersebut.
Saat makanan tersaji didepan mereka. Sariel langsung melahapnya tanpa rasa malu sedikitpun. Bahkan makannya pun sangat tidak elegan. Membuat Gabio memperhatikannya dengan intens.
Lelaki itu berdehem saat tanpa mengaja menatap bibir mungil Sariel yang terus bergerak karena mengunyah makanan.
Gabio ingat betul apa yang mendorongnya hingga memanggil wanita itu untuk datang ke kantornya. Semua ini karena Bello yang melarang Sariel untuk bekerja ditempat lain kecuali selalu bersamanya.
Sebab itu Gabio menolak keras Sariel saat ingin melakukan interview tadi ditambah keterlambatannya maka itu bisa menjadi dasar alasan kesalahan dirinya. Walaupun kenyataannya Gabio cukup menyayangkan tentang wanita yang cukup berpotensi dibidangnya tersebut harus di tolak. Apa mau dikata, semua demi Bello.
Flashback
Gabio terlihat sibuk menyibak semua berkas yang ada dihadapannya. Sesekali matanya bergerak menatap kearah jendela Paris yang membentang lebar didepannya. Kacamata yang bertengger di wajahnya dilepas secara perlahan. Ia mengusap matanya pelan. Bayangan wajah Sariel saat membujuk anaknya yang berteriak histeris tanpa seorang pun mampu membujuknya melintas dibenaknya. Beberapa kali ia mengetukkan jari telunjuknya kearah meja hingga menimbulkan ketukan yang berirama.
Tiba-tiba pintu ruangannya dibuka dengan kencang. Arkan berjalan tergesa kearahnya dan langsung duduk dihadapannya. Lelaki itu seketika langsung meraih kopi yang tergeletak di atas meja milik Gabio. Langsung meneguknya tanpa meminta izin pada pemiliknya terlebih dahulu. Gabio hanya menatap sahabatnya tersebut dengan dingin dan tajam.
Arkan kembali bertingkah tidak sopan dengan mengangkat kaki kanannya ke atas meja milik Gabio dan tepat berada dihadapan lelaki tersebut, menggoyangkan dengan berirama. Gabio terlihat diam dan menggelengkan kepalanya samar dengan wajah yang terlihat semakin dingin.
__ADS_1
"Turunkan kakimu!" Perintahnya masih menatap Arkan dengan tatapan menusuk. Tetapi Arkan justru terlihat santai, wajahnya cengar-cengir menanggapinya sambil menurunkan kakinya kembali seperti semula.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Apakah mengenai wanita itu?"
Gabio melirik sahabatnya yang bersikap santai bahkan lelaki itu sejak tadi mengoceh tak jelas.
"Bagaimana rasanya, apakah kamu sudah mencobanya?" godanya kembali entah kemana arah pembicaraannya.
"Kamu ingin bicara apa padaku!?" tanya Gabio menusuk. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak.
"Tentu saja aku bicara mengenai usahamu untuk menarik hati gadis tersebut," sahut Arkan sumringah.
"Dan kamu harus belajar dari ahlinya seperti aku. Aku sudah sangat banyak memikat hati wanita," tambahnya membanggakan dirinya.
"Bukannya kamu ingin kekantormu. Hari ini sedang ada rapat, bukan?" peringat Gabio sembari melirik kearah jam yang ada dipergelangan tangannya. Ia tidak menggubris ucapan Arkan yang melantur sama sekali.
"Tinggal 20 menit lagi rapat di kantormu akan dimulai. Kalau kamu hanya mengoceh disini maka kamu akan terlambat."
"Memakan waktu sepuluh menit?" Gabio menatap sinis sahabatnya. "Bagaimana dengan jalanan saat lampu merah menyala? Berapa detik kamu akan membuang waktumu disana dan bagaimana dengan laju mobilmu saat berada di tengah keramaian? Berapa waktu yang terbuang saat laju kendaraanmu tidak stabil dan saat angin bertiup cukup kencang. Dan juga...."
"Baiklah-baiklah. Cukup! Aku akan berangkat sekarang juga," sahut Arkan sembari mengangkat kedua tangannya menyuruh Gabio untuk berhenti mengoceh. Bisa-bisa kupingnya akan lepas mendengar ocehan Gabio yang melebihi ocehan wanita saat tidak mendapat jatah. Ia tahu apa yang akan di ucapkan oleh Gabio selanjutnya. Lelaki itu sangat menghargai waktu dan akan terus mengoceh sampai ia keluar dari ruangan tersebut.
Arkan beranjak dari duduknya dan kembali meraih cangkir kopi yang sudah diteguknya sekali.
"Sayang mubazir kalau tidak dihabiskan," sahutnya sambil kembali meneguk kopi tersebut hingga habis. Matanya melirik kearah Gabio yang masih menatapnya tajam.
"Bung! Jangan menatapku seperti itu, para wanita pasti akan ketakutan saat melihatnya!" Arkan meneruskan langkahnya meninggalkan Gabio dengan seulas senyum senang yang tercetak dibibirnya.
Setelah kepergian Arkan, Gabio kembali berpikir mengenai Sariel. Bahkan pagi tadi saja Bello terus merongrongnya untuk meminta bertemu dengan wanita tersebut. Bukannya Gabio tidak ingin mengabulkan keinginan Bello tetapi ia memikirkan dampak kedepannya mengenai Bello yang terus bergantung dengan orang asing tersebut.
__ADS_1
Tok tok tok
"Masuk!"
Rini masuk kedalam ruangan bersama dengan Roni. Ditangan Roni terdapat beberapa berkas. Ia menyerahkannya pada Gabio.
"Ini berkas yang Tuan inginkan beberapa waktu yang lalu. Semuanya ada disini dan juga, wanita yang sedang Tuan cari identitasnya tersebut juga sudah mengirimkan lamaran pekerjaan di perusahaan ini. Dan sepertinya juga sudah cukup lama."
"Apakah dia sudah mendapatkan balasannya?" Gabio meraih berkas tersebut. Menyusunnya satu persatu di atas mejanya.
Tangannya bergerak meraih berkas milik Sariel yang sudah dikirim dua bulan yang lalu namun tidak mendapatkan balasan sama sekali.
"Bagian HRD bilang mereka belum memutuskannya."
Gabio mengangkat kepalanya menatap Roni yang berdiri didepannya.
"Kenapa?"
"Bukannya Tuan sendiri yang ingin merekrut salah satu diantaranya sebagai karyawan kantor disini. Jadi, bagian HRD masih menunggu keputusan yang akan Tuan putuskan."
Gabio mengangguk dan terus membuka berkas lamaran pekerjaan milik Sariel. Ia mengusir kedua sekretarisnya dengan melambaikan tangan kanannya.
Gabio mendesah pelan sembari mengusap wajahnya pelan. Meletakkan kembali berkas tersebut. Ia kembali mengingat hal konyol yang dilakukan wanita tersebut. Kemudian menggeleng beberapa kali.
Gabio memang meminta informasi mengenai Sariel pada Roni, tetapi sepertinya semua data yang berkenaan dengan wanita itu sangatlah sulit dicari. Entah ada seseorang yang sengaja menyembunyikannya ataukah memang wanita itu sendiri yang tidak ingin memperlihatkan data informasinya mengenai dirinya sendiri.
"Bagaimana mungkin aku mempekerjakan wanita gila seperti dirinya," gerutunya sembari membuang berkas milik Sariel ketempat sampah.
Gabio meneruskan pekerjaannya dan membuka berkas lamaran kerja yang lainnya. Ia benar-benar salah memperkirakan sesuatu hingga lupa untuk menyeleksi para pelamar kerja.
__ADS_1
***