
Indah dan lainnya berjalan menuju kantin. Mereka duduk di bangku paling pojok.
"Makan dulu! Kalian pasti lapar, kan?" ujar Robi memberikan satu piring mendoan pesanannya. "Es teh nya lagi di bikin. Kita tunggu saja!" sambungnya lagi.
"Indah, kenapa wajahmu di tekuk?" tanya Davit.
"Em, tidak apa-apa. Aku hanya penasaran, siapa bapak-bapak yang di samping Pak Hendrik. Aku baru melihatnya!" jawab Indah bohong. 'Aduh bagaimana ini? Aku sudah ketangkap basah. Pasti pria itu bakal mengadu ke ibu. Kalau aku bohong, sebenarnya tidak ada acara gladi bersih. Aku kan bicara bohong tentang gladi bersih karena insiden semalam. Dan apa-apaan tadi, kenapa teman-temanku membocorkan kepergianku dari rumah. Bisa matti kutu!' batin Indah.
"Hei, Ndah! Apa ucapanku yang tadi salah?" tanya Davit.
"Tidak mungkin. Bukankah kalian mempunyai panggilan khusus seperti orang yang pacaran?" timpal Robi lalu melihat es teh pesanannya datang. "Minumlah dulu, aku tahu ... kalian pasti haus, kan! Nanti kita pikirkan cara untuk kabur lagi!" sambung robi lagi.
"Aku mau ke kamar mandi dulu!" titah Indah beranjak berdiri.
"Perlu aku temani, Ndah?" tanya Lili yang mendapat gelengan dari Indah.
"Tidak perlu, kalian nikmati saja makanannya. Aku hanya sebentar!" ucap Indah lalu berjalan menuju kamar mandi.
Setelah sampai di ruang kepala sekolah. Angga dan Nana duduk. Dia menatap pria paruh baya yang sedang menghubungi salah satu guru yang sedang mengisi di kelas 12 tepatnya, kelas indah dan teman-temannya.
"Jadi, mereka tidak masuk ke kelas?" tanya Pak Hendrik memastikan.
"Iya, Pak! Sedari pagi mereka semua tidak masuk ke kelas!" jawab Bu Dea.
"Terimakasih atas informasinya, Bu Dea. kalau begitu, saya tutup telfonnya!" titah pak Hendrik kemudian mengakhiri panggilannya.
Setelah panggilannya berakhir, lagi dan lagi Pak Hendrik tersenyum kecut ke arah Angga dan Nana.
__ADS_1
"Maaf, Indah dan teman-temannya tidak masuk kelas. Tapi, Pak Angga tenang saja. Saya akan menegurnya nanti!" ujar Pak Hendrik.
'Aku tidak sangka. Hidupku yang selalu penuh dengan kata sempurna akan mendapatkan seorang istri seperti Indah yang kesehariannya sangat buruk!' batin Angga beranjak berdiri.
"Pak Angga mau kemana?" tanya Nana.
"Aku mau ke kamar mandi. Nana, kau urus semuanya." titah Angga berjalan keluar ruangan kepala sekolah.
Setelah keluar dari ruang kepala sekolah. Angga berjalan mencari kamar mandi. Tak sengaja ekor matanya menatap wanita yang sedang berjalan mengendap-endap.
"Aku tidak boleh ketahuan guru lain, kalau aku bolos! Apalagi ketahuan pria itu!" lirih Indah menempelkan tubuhnya di tembok.
Angga tersenyum tipis, dia berjalan mengikuti istrinya.
Setelah sampai di depan kamar mandi siswa, Indah menghembuskan napasnya lega. Segera, dia membuka pintu dan masuk. Begitu juga Angga, dia masuk dalam satu kamar mandi bersama istrinya, membuat Indah yang mau menutupnya terkejut.
Angga menutup pintu kamar mandi dengan rapat. "Istriku!" kekeh Angga sambil memainkan kunci kamar mandi.
Mendengar kata istri, seketika indah menatap tajam suaminya. "Jangan panggil aku dengan sebutan aneh itu!" ketus Indah.
"Hahaha ... sebutan itu bukankah sebutan yang paling bagus untukmu."
"Berisik! Aku bukan istrimu. Pergilah! Jangan ganggu aku!" ketus Indah.
"Oh iya, sebelum aku pergi ... aku mau memberitahukan kabar buruk untukmu!"
"Pak, Bapak jangan aneh-aneh. Aku tidak mau ketahuan siswa lain. Bapak pergi!" kesal Indah.
__ADS_1
"Aneh? Aku bahkan bisa melakukan semua yang aku mau padamu. Ingat, sekarang ... kau milikku, kau istriku!"
"Ish, diam! Kalau Bapak tidak mau pergi, biarkan aku saja yang pergi. Aku malas mendengar semua ocehan Bapak. Telingaku bisa sakit!" gerutu Indah berusaha mengambil kunci kamar mandi yang di pegang oleh suaminya. "Berikan kunci kamar mandi itu!" geram Indah.
"Santai saja istriku. Aku jamin, pacarmu tidak akan tahu, kalau kita di sini!"
"Aku tidak punya pacar! Cepat berikan kunci itu padaku. Dan satu hal lagi, jangan adukan semua ini pada ibuku!" ketus Indah.
"Hahaha ... memangnya mata dan pendengaranku bermasalah? Aku dengar dengan jelas, pria itu memanggilmu dengan sebutan 'Sayang'. Aku jadi takut, punya istri sepertimu!" ejek Angga memasukkan kunci kamar mandinya ke dalam saku celana.
"Apa maksudmu! Dan aku juga tidak butuh suami sepertimu. Jalan hidupku masih panjang! Aku tidak mau menikah muda!"
"Tidak mau menikah muda. Kenapa tidak kabur saja semalam?"
"Aku terpaksa! Cepat berikan kunci itu. Dan aku akan keluar dari tempat terkutuk ini! Niat hati ingin menenangkan pikiranku, malah sekarang--"
"Hust, diamlah! Kedatanganku ke sini, hanya untuk menempati janjiku padamu. Aku akan menutup sekolah ini!" potong Angga yang lagi dan lagi membuat Indah tercengang.
"Apa! Menutup sekolah? Pak, Apa Bapak sudah tidak waras? Atau Bapak memang tidak mempunyai otak? Sekolah ini sekolah impian semua murid. Jangan karena masalah pribadi kita, Bapak dengan sesuka hati mau menutup sekolah ini. Aku tidak setuju!" ketus Indah. 'Benar, dia memang orang kaya. Tapi, percuma kaya kalau sifatnya sombong dan arrogant. Yang sukanya berbuat semaunya!' batin Indah.
"Sekolah impian? Aku tidak salah dengar?" ejek Angga.
"Kalau telinga Bapak masih normal, berarti Bapak tidak salah dengar. Sekarang, aku minta ke Bapak! Buang jauh-jauh pikiran Bapak yang akan menutup sekolah ini! Dan berikan kunci kamar mandi itu. Teman-temanku sudah menungguku!"
"Sepertinya, aku perlu memberitahukan kelakuan putrinya yang satu ini pada ibu mertuaku. Aku yakin, putrinya sudah menjadi piala bergiilir dari pria yang merangkul dan menggandengmu tadi!" ujar Angga yang lagi dan lagi membuat emosi Indah kembali memuncak.
Indah mengepalkan tangannya erat. Matanya memerah, "Siapa yang piala bergiilir! Asal kamu tahu, aku bukan wanita yang kamu pikirkan. Aku bisa menjaga kesuciaanku! Walaupun aku tahu, sudah ada beberapa yang kau ambil." ujar Indah mendorong tubuh Angga. "Dan perlu kamu ingat! Mereka semua sahabatku. Dan mereka semua yang menguatkanku sampai berdiri di titik ini. Jadi, jangan asal bicara! Setiap ucapanmu bisa menyinggung perasaan orang lain, kau mengerti!"
__ADS_1
"Pulanglah dan ikut aku. Jika kau tak ingin sekolahan ini di tutup paksa. Karena aku pemegang saham terbesar. Aku bisa saja membeli sekolahan ini dan menutup paksa sekarang juga! Jadi, jangan main-main dengan ucapanku!" ketus Angga membenarkan jasnya. "Dan satu hal lagi, kau milikku! Aku tidak suka, sesuatu yang sudah menjadi milikku di sentuh oleh pria lain termasuk sahabatmu! Ingat itu!"