Takdir Cinta Mr. Arrogant

Takdir Cinta Mr. Arrogant
Bab 13


__ADS_3

"Cie ... cie ... rupanya kalian seserius ini! Aku pikir, kalian hanya gurauan semata!" goda Robi.


"Apaan sih kalian! Aku tidak ada hubungan apapun dengan Davit! Dan kamu Davit, jangan membuat masalah lagi. Bagaimana, kalau ada yang dengar? Bisa-bisa semua fans adik kelasmu bisa kabur!" ketus Indah.


"Tidak apa-apa. Dia tidak tahu, kedekatan kita seperti apa! Dan aku bukan artis. Aku tidak perlu fans! Memang wajah tampan memang begini! Di mana-mana ada fans!" ucap Davit dengan bangga.


"Ya elah. Baru sedikit fans udah bangga. Bagaimana, kalau satu dunia fans beratmu semua! Bisa jantungan kamu!" sindir Ria.


"Hahaha ... benar apa yang dikatakan Ria. Ujung-ujungnya kita datang ke rumah Davit pakai pakaian hitam dan mengantarkannya ke tempat peristirahatan yang terakhir!" timpal Robi.


"Eh, kalian! Awas aja, kalian! Jika semua itu terjadi. Orang yang pertama aku temui itu kalian!" kesal Davit.


"Sudahlah. Kalian ini sedang bicara apa, sih! Jangan membuatku semakin pusing!" kesal Indah.


"Aku tidak akan membuatmu pusing. Sekarang, kita tonton video masak itu sampai akhir. Setelah ini, kita praktekan di rumahmu, bagaimana?" tanya Davit.


"Aku setuju. Sudah lama kita tidak main ke rumah Indah!" ujar Robi.


"Tapi, bukankah, indah mau nginap ya?" tanya Lili.


"Batal! Dia sudah sadar, dan dia memutuskan untuk pulang!"jawab Ria.


"Serius, Ndah? Ya Tuhan, akhirnya temanku bertaubat juga!" ucap Lili bahagia.


"Siaal! Menurutmu, sedari kemarin ... aku tidak waras, gitu?"


"Bukan gitu, Indah! Sudah jangan marah. Nanti cantiknya hilang!" rayu Lili.


"Eh, kalian rupanya ada di sini! Di cariin tuh, sama Pak Hendrik!" ucap Reno, ketua OSIS di sekolah Harapan Bangsa.


"Siapa yang di panggil Pak Hendrik? Indah?" tanya Ria yang mendapat tatapan tajam dari Indah.


"Hei, jangan gila! Aku sama sekali tidak membuat masalah dengan pak Hendrik!" kesal Indah.


"Bisa saja, om-om itu mengadu ke kepala sekolah, Ndah! Lalu kamu di panggil karena berusaha menggodanya!" bisik Ria membuat Indah terdiam.


'Tidak mungkin, pria itu melaporkan kekesalan istrinya sendiri ke kepala sekolah. Mau bagaimana pun, aku istrinya, dan dia tidak boleh melaporkanku!' batin Indah. "Jangan sampai aku menggoda pria sepertinya. Dia bukan selera dan tidak masuk ke dalam kriteriaku!" jawab Indah tak kalah berbisik.


"Kalian kenapa bisik-bisik? Apa ada yang aneh?" tanya Robi membuat Davit menyimak pembicaraan temannya.


"Hei, aku sedang bicara dengan kalian! Kenapa kalian malah sibuk sendiri, sih! Kalau mau nakal jangan di sekolah! Ujung-ujungnya aku yang capek!" kesal Reno yang di abaikan semuanya.

__ADS_1


"Siapa yang nakal adek Reno! Gabunglah dengan kita! Lalu aku akan ajarkan bagaimana cara kita menjadi sahabat yang terbaik!" ujar Indah sambil menaik turunkan alisnya.


"Indah!" tegur Davit.


"Kenapa? Semua ucapanku benar, Kan?" tanya Indah polos.


"Siapa yang di panggil Pak Hendrik, cepat katakan! Dan hargai kita semua. Ingat, kita masih kakak kelasmu!" kesal Robi


"Besok juga pergi!" ketus Reno. "Kalian semua yang di panggil Pak Hendrik! Cepat lah! Atau jabatanku akan di gantikan dengan musuhku!" kesal Reno.


"Hahaha ... aku akan suruh David dan Robi menghajar orang itu!" ucap Indah asal.


"Indah, otakmu sudah geser?" tanya Lili.


"Dia sedang mabuk!" timpal Ria.


"Apa? Mabuk?" pekik Davit menatap tajam wanita di sampingnya. "Kamu mabuk, Ndah?" tanyanya lagi.


"Gila! Semuanya gila! Reno! teman-temanku gila!" ujar Indah membuat Reno yang melihatnya menggeram kesal.


"Kalian semua yang gila! Cepat ke ruang Pak Hendrik! Jangan kabur lagi! Atau aku bawa sapu untuk menggiring kalian!" kesal Reno.


"Ish, jangan dong! Aku takut!" ejek Ria.


"Hem, sekarang kalian ke ruang kepsek! Jangan membuat hidupku semakin sulit!" titah Reno. "Ayo Kak Indah. Aku temani ke ruang kepsek!" titah Reno mengulurkan tangannya.


"Ish, indah urusanku!" ketus David.


"Dav, tidak perlu berlebihan. Kita ke ruang kepala sekolah sama-sama. Kasihan Reno," titah Indah.


"Wah sudah sadar, Ndah?" ejek Robi


"Sedari tadi, aku juga sadar! Kalian saja yang gila!" kesal Indah, "Ayo, kita hadapi Pak Hendrik!" ajak Indah, 'Jika benar, pria itu yang memanggilku, aku tidak boleh membuatnya menunggu terlalu lama. Bisa-bisa sekolahan ini di tutup paksa!' batin Indah berjalan menuju ruang kepala sekolah di ikuti oleh teman lainnya.


'Kira-kira Indah kenapa, ya? Wajahnya seperti sedang menanggung beban yang banyak. Aku jadi khawatir dengannya!' gumam Davit dalam hati.


Setelah sampai di depan ruang kepala sekolah. Indah dan lainnya ragu untuk mengetuk pintu ruangan tersebut.


"Kamu saja yang ketuk!" titah Indah pada Davit.


"Kenapa harus aku? Yang lainnya aja!" timpal Davit menatap Lili.

__ADS_1


Merasa di tatap, Lili menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau! Kau tahu sendirikan ... aku penakut!" ucap Lili menatap Ria.


"Tidak, tidak! Aku tidak mau!" ujar Ria sambil menggelengkan kepalanya.


"Nah, sekarang giliranmu, Robi! Kamu yang ketuk dan masuk!" titah Indah.


"Kenapa harus aku? Aku ini orang pintar! Bisa gengsi!" tolak Robi.


"Lalu, kalau bukan kalian siapa?" tanya Indah kesal.


"Kamu saja, Ndah! Ingat, ide bolos perbolosan itu dari kamu! Jadi, kamu harus bertanggung jawab!" ujar Robi.


"Siapa yang minta kalian ikut bolos?" tanya Indah.


"Kita kan satu hati!" jawab Ria.


"Ah sudahlah. Bicara dengan kalian, sama saja bicara dengan tembok! Susah!" kesal Indah mengetuk pintu ruang kepala sekolah. 'Semoga saja pria itu sudah pergi!' batin Indah.


"Masuk!" titah kepala sekolah dari dalam ruangan.


Dengan ragu, indah membuka pintu ruangan kepala sekolah. Dirinya menghembuskan napasnya lega saat tidak melihat batang hidung suaminya.


'Aman, akhirnya dia sudah pergi!' batin Indah mengusap dadda nya berulang kali membuat Davit yang melihatnya keheranan.


"Ndah, kamu kenapa? Kenapa wajahmu terlihat bahagia saat membuka pintu ruangan Pak Hendrik?" tanya Davit sambil berbisik.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya senang saja! Akhirnya, aku aman!" jawab Indah asal.


"Aman? Aman dari siapa?" tanya Davit lagi.


"Kalian semua! Masuklah!" titah Pak Hendrik membuat Indah dan teman-temannya masuk ke dalam ruangan yang terasa dingin.


"Ada apa Bapak memanggil kita semua?" tanya Indah setelah mendudukkan pantatnya di hadapan Pak kepala sekolah.


"Ada apa! Ada apa! Apa kalian tahu kesalahan kalian ha!" ketus Pak Hendrik.


"Maafkan kita, Pak!"


"Maaf, maaf! Untuk kali ini, Bapak tidak akan memaafkan kalian. Apalagi kalian kepergok bolos dengan salah satu pemilik saham terbesar di sekolahan ini! Kalian harus di hukum!" ujar Pak Hendrik.


"Di hukum?" gumam Davit.

__ADS_1


"Iya, kalian harus tampil di acara besok! Dan itu semua atas permintaan Pak Angga!" ketus Pak Hendrik.


__ADS_2