Takdir Cinta Mr. Arrogant

Takdir Cinta Mr. Arrogant
Bab 26


__ADS_3

"Apa, Mas? Ke rumahmu? Tapi ibu dan barang-barangku masih tertinggal di rumah itu!" pekik Indah terkejut.


"Kau tidak perlu khawatir, masalah ibu dan semua barang-barangmu sudah di pindahkan setelah kita berangkat tadi!" jawab Angga yang lagi dan lagi membuat tubuh Indah melemas.


"Lalu, bagaimana dengan Davit, Mas? Kasihan dia menunggu di rumahku yang lama. Dan aku juga tidak tahu, di mana rumah barumu?" gumam Indah.


"Berikan ponselmu padaku. Biar aku ketik alamat rumahku yang baru!" titah Angga yang mendapat gelengan dari Indah.


"Tidak bisa, Mas! Kamu sedang menyetir dan aku tidak mau terjadi sesuatu dengan kita! Bagaimana, kalau kamu tidak fokus menyetir karena mengirim pesan untuk Davit. Bisa-bisa besok aku tidak datang ke acara perpisahanku. Dan aku tidak bisa merayakan bersama teman-temanku! Biar aku saja yang membalas pesan Davit. Kamu sebutkan saja alamat rumahmu!" titah Indah, "Tapi tunggu dulu. Jika aku memberitahukan alamat rumah pria ini ke Davit. Itu artinya, kemungkinan besar Davit akan bertanya tentang rumah Mas Angga dan lebih parahnya, Davit akan bertemu dengan Mas Angga. Tidak boleh, Davit tidak boleh menaruh curiga padaku dan Mas Angga. Aku tidak mau pernikahan ini terbongkar dengan cepat! Aku masih mau bersenang-senang tanpa ada yang tahu, kalau aku sudah menikah dengan pria di sampingku!' batin Indah.


"Berikan ponselmu!" titah Angga yang mendapat gelengan lagi dari istrinya.


"Tidak mau, Mas! Lebih baik, aku tidak membalas pesan dari Davit. Aku juga tidak mau membuat Davit bertanya-tanya tentang rumahmu. Aku tidak mau membuat Davit curiga padaku!" jawab Indah.


"Itu terserahmu saja. Tapi, kalau kau ingin menemui pria itu, kau harus memberikan ponselmu padaku. Jika tidak, ya ... terpaksa, kamu harus suruh temanmu pulang!" ujar Angga dengan ringan.


"Apa arti ucapanmu, Mas! Setelah sampai di rumah barumu, aku akan tahu alamat rumahmu." jawab Indah dengan tenang.


"Tapi siapa yang akan pulang, ha? Aku harus ke kantor. Dan aku akan membawamu ke kantor!" ucap Angga santai membuat Indah yang mendengarnya terkejut.


"Apa, Mas! Kamu mau bawa aku ke kantor dalam keadaan susah berjalan? Hei, Mas! Jangan gila, aku tidak mau ke kantormu. Tolong berhenti dan aku akan turun di depan sana. Aku bisa cari taksi atau ojek!" kesal Indah.


"Jangan banyak protes, aku tidak butuh protesanmu! Sekarang, ikut aku kemana pun aku pergi! Atau, mau aku lakukan kejadian di hotel tadi, Hem? Agar kau tidak melawanku lagi!" ancam Angga yang mendapat gelengan kecil dari Indah.


"Tidak Mas, aku takut! Dan aku tidak mau hamil. Tapi, kita berhenti di apotik depan. Kita harus--"


"Harus apa? Beli pil KB?" tanya Angga.


"Iya, Mas. Kita harus mencegah kehamilan. Ya, walaupun ... aku tidak tahu, akan hamil atau tidak? Tapi, bukankah mencegah lebih baik dari pada mengobati?" ujar Indah.

__ADS_1


"Dan kau tahu, ucapan ibumu dan orang tuaku? Mereka sangat menginginkan cucu yang banyak! Jadi, untuk apa aku mencegahnya. Ingat, kita sudah menikah, tidak akan ada yang berani memfitnahmu!" jawab Angga.


"Tapi kamu harus ingat, pernikahan kita bersifat rahasia, Mas! Hanya keluarga saja yang tahu. Selain itu, tidak ada yang tahu! Dan orang-orang akan mengiraku hamil di luar nikah."


Angga mengangguk, dia memarkirkan mobilnya di lobby kantor.


"Sekarang, kita masuk!" titah Angga membuka sabuk pengamannyanya.


"Aku mau pulang! Aku malu masuk ke kantormu. Pasti banyak karyawan yang bertanya-tanya tentangku. Aku juga tidak mau digosipkan wanita bayaran." tolak Indah.


"Masuklah! Jangan membuatku marah. Tidak ada yang berani mengatakan apapun padamu. Asalkan kau selalu berada di sampingku!" titah Angga.


"Aku ti--"


"Turun, lalu ikut aku ke dalam. Janjimu bersama temanmu bisa tunda. Aku sudah bersikap lembut, tapi kau malah menyepelekan sikapku ini. Mau aku bersikap keras di depan semua karyawanku, ha! Mau aku melakukan sesuatu yang membuatmu malu seumur hidupmu, ha!" ancam Angga yang membuat Indah berpikir sejenak.


"Hitungan ke tiga, tidak turun. Maka, bersiap-siaplah untuk--"


"Tunggu sebentar, Mas! Aku mau turun, tapi aku hubungi temanku dulu. Aku tidak mau dia menungguku." potong Indah.


"Cepat hubungi temanmu!" titah Angga.


Indah mengeluarkan ponselnya, dia menelfon temannya, Davit.


Tut ...


Tut ....


"Hallo, Dav!" sapa Indah setelah telfonnya tersambung oleh sahabatnya.

__ADS_1


"Hem, kau sudah ada di mana, ha? Aku sedari tadi menunggumu. Cepatlah pulang! Jangan membuatku seperti orang gila, Ndah!" jawab Davit dengan perasaan kesalnya.


"Maaf, Dav! Sebaiknya, kamu pulang dulu. Untuk urusan itu, biar kita atur lagi melalui chat saja. Tiba-tiba, aku ada urusan mendadak." ucap Indah lirih, dia menatap pria di sampingnya yang sedang menyimak.


"Tapi aku sudah di depan rumahmu. Dan sebenarnya, kau sedang di mana, ha? Jangan membuatku cemas, Ndah!"


"Aku lagi di--" ucapan Indah terhenti. Dia berpikir sejenak.


"Hallo, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Davit memastikan.


"Aku baik-baik saja, Dav. Cuma aku sedang berada di Mall. Aku sedang menemani ibuku, hehehe ... Dan kau tahu, ibu-ibu kalau sedang belanja, pasti lama sekali. Jadi, dari pada kamu menunggu di depan rumah seperti orang penagih hutang. Lebih baik, kamu pulang saja! Biar aku yang ke rumahmu. Aku sudah lama tidak bertemu Ayah dan ibumu. Aku merindukan masakan enak ibumu!" titah Indah tersenyum kaku saat melihat wajah suaminya yang berubah.


"Hem. Ya, sudah. Aku pulang, dan aku tunggu kamu di rumah. Sekalian bawakan cemilan ringan untukku." jawab Davit.


"Ish, aku heran ... aku mempunyai teman, tapi hobinya meminta. Ya, sudah. Aku belikan cemilan ringan untukmu. Kau tenang saja," ujar Indah kemudian mengakhiri panggilannya.


Setelah mengakhiri panggilannya, Indah melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil di ikuti oleh Angga di belakangnya.


'Siaal, bagian bawahku masih sakit begini. Masa iya, aku berjalan tertatih. Bisa ketahuan, kalau aku dan Mas Angga baru saja melakukan hal yang membuatku menyesal seumur hidup!' batin Indah


"Cepat masuk!" titah Angga.


"Masih sakit, Mas! Aku takut cara jalanku aneh! Sebaiknya, kita pulang, ya!" bisik Indah memohon.


"Pegang tanganku!" titah Angga.


"Ish, apa bedanya kalau pegang tangan mas Angga. Kita pulang saja, ya! Lagian, penampilanku hari ini sangat aneh dan tidak cocok untuk masuk ke kantor sebesar ini!" lirih Indah.


"Cepat lingkarkan tanganmu di lenganku!" titah Angga lagi

__ADS_1


__ADS_2