
Di dalam kamar Angga asik memainkan ponselnya. Tiba-tiba dia mendapatkan pesan masuk dari sekertarisnya, kalau meeting akan di lakukan satu jam lagi di kantornya.
'Siapkan saja semuanya. Dan satu hal lagi, sediakan makanan ringan dan minuman. Karena aku akan datang bersama istriku! Rahasiakan jika wanita yang datang bersamaku adalah istriku. Aku tidak mau, dia malu karena mempunyai suami pebisnis sepertiku!' kirim pada Nana.
"Sepertinya, aku harus meminta Indah lebih cepat lagi! Aku bisa telat ke kantor, kalau menunggu dia makan!" gumam Angga berjalan keluar kamarnya.
Setelah keluar dari kamar, Angga dapat melihat istrinya yang tengah berkutat di dapur sendirian. Samar-samar, dia mendengar umpatan yang keluar dari mulut istrinya.
"Kenapa harus mie instan! Aku lapar! Aku mau makan pakai nasi! Tapi, kalau makan pakai nasi tanpa lauk, sama saja bohong! Oh, ibu! Kau lebih memperhatikan kucing liar di luar sana dari pada anakmu sendiri. Apa kau tidak tahu, putrimu ini sangat lapar. Dan kau dengan gampangnya bilang ... kalau makanan anakmu ini sudah di berikan kucing yang berada di luar rumahnya. Aku senang mempunyai ibu sepertimu yang sangat perduli dengan lingkungan sekitar. Tapi ini menyangkut masa depan anak ibu! Apa ibu mau, anak ibu menjadi kurus seperti tusuk gigi?" gumam Indah sambil mematikan kompor dan menuangkan mie instan ke dalam mangkuknya.
Angga berjalan menuju istrinya. Dia berdiri tepat di belakang sang istri.
"Em ... wanginya! Untung, ada mie instan kesukaan aku. Kalau tidak ada, mungkin aku mau puasa, atau ... aku akan pergi ke rumah Ria, di sana aku mau makan sepuasnya. Pasti ibunya Ria masak enak!" gumam Indah mengambil mangkuk yang berisi mie instan untuk di bawa ke meja makannya.
Di saat Indah memutar tubuhnya, dia terkejut saat melihat sosok suaminya yang sudah berdiri tepat di belakangnya.
Prang!
Suara mangkuk terjatuh mampu membuat Iis yang tengah beberes terkejut.
"Indah!" pekik Iis, "Kalau marah jangan sampai membanting perlengkapan dapur!" ucapnya lagi dari dalam kamar.
"Eh, iya, Bu! Aku tidak sengaja. Ini, mau langsung aku bereskan!" jawab Indah tak kalah berteriak lalu tatapannya tertuju pada suaminya.
"Kamu, kamu kalau mau--"
"Panggil aku yang benar!" potong Angga membuat Indah mendengus kesal.
"Mas Angga! Kenapa bisa ... Mas ada di belakangku! Apa Mas Angga tidak lihat, aku sedang apa?" ketus Indah menunjuk mie instannya yang sudah tercecer di lantai. "Makananku jadi tumpah berantakan, kan? Padahal, aku lapar! Aku mau makan! Pokoknya, aku tidak mau tahu, Mas Angga bikinkan aku mie instan lagi! Aku lapar, hiks ... hiks!" rengek Indah sambil menangis.
"Sejak kapan, kau menjadi lemah? Biasanya, hobimu selalu berteriak tidak jelas!" ejek Angga menyilangkan ke dua tangannya di dadaa.
"Namanya juga orang lapar, Mas! Kalau lapas, pasti tidak memikirkan lemah atau kuatnya! Pokoknya, aku tidak mau tahu, Mas Angga harus mengganti dan membereskan kekacauan ini! Aku lapar! Aku mau makan!" kesal Indah sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Sudahlah. Lebih baik, kau ikut aku sekarang juga!" titah Angga menarik paksa tangan istrinya.
"Mau kemana, Mas! Aku belum membereskan mangkuk ini! Kasihan ibu, Mas!" jawab Indah sambil menghentikan langkahnya yang terseret paksa.
Angga menghembuskan napasnya kasar. "Cepat bereskan! Setelah itu, ganti pakaianmu dan ikut aku!" titah Angga.
"Tapi kemana? Kamu harus bicara yang jelas. Kita mau kemana, sama siapa, berapa lama, dan kapan pulangnya!" jawab Indah memutar tubuhnya dan berjongkok.
"Jangan banyak bertanya. Ikuti saja semua perintahku! Sekarang, bereskan semua ini! Kita tidak ada waktu lagi untuk berdebat!"
"Siapa yang berdebat? Aku hanya bertanya! Apa tidak boleh, aku bertanya?" jawab Indah lagi.
"Dan aku tidak punya waktu untuk meladeni pertanyaanmu itu!" ucap Angga mendudukkan pantatnya di kursi meja makan.
Perlahan jemari indah membereskan kekacauan yang sudah dibuatnya. Lagi dan lagi, dia bisa merasakan dan mendengarkan cacing di perutnya yang berdemo.
'Aduh, lapar sekali!' batin Indah.
"Cepat sedikit!" titah Angga.
Setelah beberapa menit, akhirnya indah menyelesaikan misi pertama yaitu membersihkan mangkuk kaca beserta mie instan kesukaannya.
"Kita mau kemana? Biar aku bisa pakai pakaian yang tepat!" tanya Indah setelah mencuci tangannya dengan air bersih.
"Pakai saja pakaianmu yang paling bagus! Cepat, kita sudah telat!" titah Angga.
"Memangnya, kita mau kemana, sih? Kenapa tidak bilang dari tadi?" kesal Indah berlari masuk ke dalam kamarnya dan mencari pakaian yang paling bagus menurutnya.
Di pilihnya celana jeans ketat berwarna biru telor asin dan kaos putih pendek.
"Nah, ini cocok kali, ya! Paling dia mau ajak aku ke rumahnya!" gumam Indah mengganti pakaiannya.
Setelah mengganti pakaiannya. Tak lupa, Indah mengambil jaket kulitnya yang berwana coklat. "Siapa tahu, aku membutuhkan ini. Lebih baik, aku bawa saja!" gumamnya lagi.
__ADS_1
Angga menatap jam di pergelangan tangannya. "Lama sekali! Memangnya, apa yang dia pakai, sih!" gerutu Angga berdiri dan berjalan mondar-mandir.
Indah membuka pintu kamarnya malas.
Krek!
"Ayo, kita berangkat!" titah Indah.
Angga menatap penampilan indah yang sangat sederhana.
'Aku baru sadar, dia mempunyai tubuh yang ideal dan juga paras yang sangat cantik. Pantas, teman pria yang mengaku sebagai sahabat indah selalu merangkul mesra indah.' batin Angga.
"Ayo, ngapain melamun? Apa penampilanku terlalu norak?" tanya Indah memastikan.
"Tidak! Tapi, apa tidak ada baju yang lebih ketat lagi?" sindir Angga menarik paksa tangan istrinya sambil berjalan keluar rumah.
"Apa maksudmu? Pakaianku terlalu besar, ya? Padahal, pakaianku ini sudah cocok di tubuhku!" tanya Indah polos.
"Panggil aku yang benar!" titah Angga.
"Iya, iya, Mas Angga! Tapi kita mau kemana? Dan kenapa Mas ini mengatakan jika pakaianku kurang ketat?" tanya Indah.
Angga membukakan pintu mobil untuk istrinya, "Masuk!" titah Angga membuat Indah masuk ke dalam mobil.
Setelah melihat istrinya masuk ke dalam mobil. Angga langsung menutup pintu mobil dan berjalan membuka pintu mobil bagian kemudi.
"Jika pakaianku terlalu norak atau jadul. Aku bisa menggantinya! Aku tidak tahu, kita mau kemana. Jadi, aku menggunakan pakaian santai, aja!" ujar Indah merasakan mobil yang ditumpanginya berjalan keluar halaman rumahnya.
"Setelah sampai nanti, kau bisa pakai jaketmu!" ucap Angga.
"Pakai jaket?" Berarti benar dong! Kalau pakaian ku norak?"
"Hei, tidak ada yang bilang seperti itu. Nanti kita mampir ke Mall!"
__ADS_1
"Mau beli apa di Mall?" tanya Indah penasaran.
"Menurutmu?" tanya Angga menatap sekilas wanita di sampingnya