
"Sudah jangan menangis. Maafkan aku, ya!" titah Angga mengusap punggung istrinya lembut.
Indah menghapus air matanya, dia tersadar akan kelakuannya yang membalas pelukan suaminya.
"Kamu ngapain peluk-peluk aku, Mas!" ketus Indah. "Jangan peluk-peluk aku lagi!"
"Siapa yang memelukmu, ha! Aku hanya ingin menenangkanmu saja. Tidak lucu, jika kita keluar kamar dengan kondisimu yang seperti ini. Bisa-bisa aku di tuduh mencelakaimu!" jawab Angga tak kalah ketus.
"Mas Angga memang membuatku sakit. Aku susah berjalan, dan Mas Angga sudah merebut apa yang selama ini aku jaga."
"Hem, bukankah sudah sepantasnya aku melakukan ini padamu!"
Indah memukul tubuh suaminya dengan tas selempang yang menggantung di tubuhnya. "Kamu benar-benar jahat! Aku benci kamu! Aku belum siap, aku masih mau kuliah, tapi apa yang kamu lakukan, ha! Kamu mengambil semuanya dalam sekejap. Kamu membuatku seolah-olah seperti wanita mura han. Apalagi, kamu melakukan semua itu tanpa izin dariku, dulu. Suami macam apa kamu, ha! Kamu mau aku hamil? Kamu mau aku di bully teman-temanku yang lain? Aku mau kuliah, aku tidak mau hamil! Aku benci kamu! Aku benci!" pekik Indah.
"Indah! Kau tidak bisa bersikap kasar padaku. Semua yang aku lakukan itu bersifat kewajiban!" ucap Angga berusaha menyelematkan tubuhnya dari pukulan sang istri.
"Kewajiban, itu kalau aku setuju, Mas! Tapi ini! Aku sama sekali tidak setuju, aku belum siap! Pokoknya aku tidak mau tahu, aku tidak mau hamil!" ketus Indah menghentikan pukulannya. "Dan keputusanku untuk tidur terpisah merupakan keputusan terbaikku!"
"Terserahmu. Kepalaku pusing mendengar ucapanmu. Tunggu aku di sini, aku mau mandi sebentar! Tubuhku terasa lengket Dan lihat ini, bukan hanya kamu saja yang merasakan sakit, tapi aku juga!" ujar Angga memperlihatkan punggungnya yang merah. "Pulang nanti, kuku mu harus di potong!"
"Cepat mandi! Aku mau pulang!" titah Indah.
__ADS_1
Angga masuk dan menutup pintu kamar mandi. Melihat suaminya hilang dari balik pintu kamar mandi. Tubuh Indah bersandar dinding tembok, 'Aku sudah gila, kenapa aku pasrah, ha! Bagaimana, kalau kamu hamil, Ndah! Teman-temanmu pasti berpikir kalau kamu wanita tidak benar. Aku harus bagaimana? Apa aku beli pil KB aja? Aku bisa mencegah kehamilan itu. Ya, setidaknya aku bisa berjaga-jaga. Aku tidak mau, kuliah dengan perut besar' batin Indah menghapus air matanya. Segera dia mengambil ponselnya dan menelfon temannya Davit.
"Indah, ada apa menelfonku?" tanya Davit setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya. "Kamu tidak apa-apa, kan? Atau, kamu habis di marahi ibumu karena ketahuan bolos?" sambungnya lagi.
"Davit, aku butuh bantuanmu." ujar Indah sesenggukan.
"Kamu kenapa, Ndah? Kita video call aja. Aku dengar suaramu seperti orang nangis!" titah Davit.
"Jangan. Aku tidak mau kita video call, Dav. Aku butuh bantuan!" titah Indah.
"Kamu butuh bantuan apa, Ndah? Katakan? Kamu di usir atau kamu pergi dari rumah? Kamu bisa tidur di rumahku. Ayah dan ibuku bisa menerimamu. Kita sudah berteman lama!" jawab Davit merubah posisi tidurnya menjadi duduk. "Katakan!" ujarnya lagi.
'Aku harus mengatakan dari mana? Tidak mungkin, aku mengatakan yang sejujurnya, kalau aku baru saja menyerahkan mahkotaku pada pria yang berstatus suamiku. Bisa-bisa Davit shok,' batin Indah.
"A-aku sedang di luar, Dav. Dan aku bingung, aku sedang di mintai pendapat tetangga sebelah rumahku. Dia kan masih anak sekolah sama seperti kita. Tapi, dia baru saja melakukan hubungan dewasa dengan kekasihnya."
"Lalu, apa hubungannya denganmu, Ndah?" tanya Davit penasaran.
"Aku di suruh beli pil KB, Dav. Kata tetanggaku, dia butuh pil itu untuk mencegah kehamilan. Tapi aku malu untuk membelinya. Kamu tahu sendirikan ... anak kecil sepertiku, membeli pil KB. Apa kata orang? Pasti, orang-orang di luar sana menganggap aku anak tidak baik?" ucap Indah, 'Maaf, Dav. Aku harus berbohong.' batin Indah.
"Kalau kamu mau membantu tetanggamu, aku akan temani, Ndah. Jadi, mereka pikir, kita pasangan suami istri." jawab Davit.
__ADS_1
"Kamu serius mau temani aku, Dav? Sebenarnya, aku malas, tapi aku kasihan melihatnya kebingungan. Seandainya saja, aku di posisi dia ... pasti aku sudah gila!" lirih Indah. 'Benar, aku sudah gila memikirkan nasibku ke depannya,' batin Indah.
"Kamu tidak perlu khawatir, kamu tidak mungkin seperti tetanggamu, itu. Ingat, jangan bergaul dengan siapapun, termasuk aku dan teman-teman biasa. Apalagi bergaul dengan pria asing, tinggalkan saja! Pria jaman sekarang memang menakutkan."
"Sama sepertimu. Kamu juga menakutkan," ujar Indah terkikik.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya dengan cepat, Angga berjalan keluar kamar sambil memakai jubah mandinya. Samar-samar dia mendengar suara istrinya yang sedang berbicara dengan seseorang dari balik layar ponselnya.
"Bertelfonan dengan siapa, dia?" gumam Angga mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Okeh, Dav. Setelah aku pulang, aku langsung ke rumahmu. Ini benar, ya! Kamu temani aku beli pil KB." ucap Indah yang dapat di dengar oleh Angga.
'Pik KB? Jadi, dia meminta seseorang untuk menemaninya membeli pil KB. Tapi siapa yang mau menemaninya? Apa jangan-jangan, dia sudah membocorkan rahasia pernikahannya ke teman-temannya?' batin Angga menajamkan pendengarannya lagi.
"Kasihan tetanggaku. Katanya, dia takut hamil. Dia juga tidak tahu, kekasihnya mau bertanggung jawab atau tidak. Okeh, intinya setelah aku pulang nanti, aku akan datang ke rumahmu!" ucap Indah lalu mengakhiri panggilannya.
"Yes, akhirnya aku tidak akan hamil! Intinya, aku harus mencegah kehamilan itu. Aku mau kuliah, untung otakmu pintar, Ndah. Kamu bisa menggunakan kata teman agar Davit mau menemanimu. Hanya dia orang yang aku percaya, dan hanya dia sahabat yang bisa membuatku nyaman. Aku senang sekali mempunyai sahabat seperti Davit. Dulu, aku sempat takut, sewaktu dewasa nanti, Davit akan menemukan pasangannya dan menikah. Aku sempat takut, hidupku akan berubah seperti apa jika tanpa dirinya, tapi takdir tidak ada yang tahu. Ternyata, aku yang menikah duluan, aku sudah berkhianat pada sahabatku!" gumam Indah menatap lurus ke depan.
'Jadi, orang itu Davit? Bukankah, Davit itu, pria yang selalu merangkul dan memanggil Indah dengan sebutan sayang di sekolah, tadi? Apa salah satu diantara mereka mempunyai perasaan?' batin Angga memakai pakaiannya.
"Ekhem!" deheman Angga mampu membuat Indah terkejut. "Ayo, kita pergi dari sini!" titah Angga.
__ADS_1
"Tapi antarkan aku pulang. Aku ada janji dengan temanku!" titah Indah.
"Teman siapa?" tanya Angga pura-pura tidak tahu.