Takdir Cinta Mr. Arrogant

Takdir Cinta Mr. Arrogant
Bab 17


__ADS_3

"Cabut hukumanmu? Memangnya aku memberi hukuman apa?" tanya Angga.


"Pak! Jangan pura-pura tidak tahu." kesal Indah.


"Indah satu hal yang perlu kamu ketahui. Aku adalah seorang pria yang berstatus sebagai suami Sah mu. Kamu tidak berhak bersikap ketus padaku. Aku diam karena ibumu, kita lihat saja nanti! Aku akan membalas semua perbuatanmu padaku!" ancam Angga kemudian berjalan menuju meja makan.


Indah terpaku saat mendengar ucapan suaminya. 'A-aku tidak salah dengar? Dia mau membalas semua perbuatanku? Kira-kira, dia mau menghukumku seperti apalagi? Apa dia tidak puas menghukumku dan teman-teman di sekolah? Tapi, kenapa aku jadi takut? Biasanya, aku tidak pernah takut dengan ancamannya. Setiap ucapannya, tadi. Mengandung makna yang tersirat.' batin Indah.


Iis menggelengkan kepalanya saat melihat putrinya melamun dengan air dari wastafel yang terus mengalir. "Ndah!" panggil Iis.


'Aku jadi penasaran dengan hukuman yang diberikan pria itu!' batin Indah.


"Indah!" panggil Iis lagi.


"Kenapa, Bu?" tanya Angga saat mendengar suara ibu mertuanya.


"Lihat itu! Air di wastafel sampai keluar dan membasahi lantai." titah Iis menunjuk ke arah putrinya yang tengah melamun, "Tapi, ibu panggil Indah-indah, dia sama sekali tidak mendengar!" sambungnya lagi.


'Tidak mendengar? Itu artinya, dia sedang melamun. Kira-kira apa yang dipikirkan wanita itu? Apa mungkin, wanita itu memikirkan setiap ucapanku, tadi? Jika benar, dia memikirkan setiap ucapanku! Itu artinya, dia mulai takut padaku!' batin Angga. "Apa perlu aku yang menyadarkan Indah?" tanya Angga yang mendapat gelengan kecil dari ibu mertuanya.


"Tidak perlu nak Angga. Biar ibu saja. Kamu baru duduk, masa iya ... suruh berdiri lagi. Kasihan nak Angga pasti capek!" tolak Iis.


'Ibu ini benar-benar baik. Bahkan, aku tidak pernah mendengar ibuku bicara seperti ini. Mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sampai melupakan jika mereka mempunyai aku!' batin Angga. "Ya, sudah. Kalau mau ibu seperti itu, aku akan melihatnya dari sini! Coba ibu ambil panci sama sendok. Ibu bisa mainkan ke dua benda itu, aku jamin ... Indah akan sadar!" saran Angga.


"Itu ide yang bagus nak Angga. Tadi Indah sudah membuat ulah. Sekarang, giliran kita yang membuat ulah! Ibu ambil panci atau wajan dulu!" jawab Iis berjalan dan mengambil wajan beserta sendok.


Angga tersenyum tipis saat melihat kelakuan aneh di keluarga ini. Dia sama sekali tidak marah atau risih tinggal bersama ibu mertuanya. 'Hidupku seperti berwarna lagi. Apa kebahagiaan itu akan tercipta lagi? Kebahagiaan di mana Ayah dan ibuku lebih mementingkan pekerjaannya? Bahkan, sedari kecil aku di paksa belajar dan belajar. Sampai-sampai aku tidak ada waktu bermain dengan teman-temanku!' batin Angga menatap ibu mertuanya yang tengah berdiri di belakang istrinya.

__ADS_1


"Satu!"


"Dua!"


"Tiga!"


"Prang!"


"Prang!"


Suara dari wajan dan sendok menggema tepat di telinga Indah. Membuat Indah yang tengah melamun terkejut.


"Aaaa! Apa itu! Suara apa itu!" pekik Indah menyipratkan air yang membasahi tangannya ke wajah ibunya.


"Indah!" pekik Iis saat wajahnya basah. "Kamu apa-apaan, ha!" sambungnya lagi.


"Ibu yang apa-apaan! Kenapa ibu bermain seperti anak kecil! Untung jantungku tidak copot, Bu! Kalau tadi jantungku copot, bagaimana?" kesal Indah mengusap dadaanya berulang kali.


"Ibu! Apa ibu mau, anak ibu di samakan dengan anak ayam? Ibu ini benar-benar keterlaluan!" kesal Indah.


"Yang keterlaluan itu kamu! Apa kamu mau, seisi rumah ini terendam air hah! Apa kamu sanggup membayar air yang pastinya akan jauh lebih mahal dari bulan kemarin?" tanya Iis sambil berkacak pinggang.


"Memangnya, aku melakukan apa, Bu?" tanya Indah.


"Lihat ke bawah!" titah Iis membuat Indah menatap ke bawah.


"Hehehe ... Ibu, aku minta maaf. Aku salah! Aku janji, aku akan bersihkan kekacauan ini! Sekali lagi, aku minta maaf, ya! Ibu kan ibu indah yang paling baik sedunia!" rayu Indah meraih dan menggenggam tangan Iis dengan sebelumnya meletakkan wajan serta sendok ke atas wastafel.

__ADS_1


"Matikan air di wastafel dulu!" titah Iis.


"Iya, Bu! Aku matikan! Tapi ibu janji, jangan marah. Jangan potong uang jajan aku! Ibu tahu, tidak? Aku sedang menabung, loh!"


"Menabung? Menabung untuk apa? Tumben sekali kamu menabung. Pasti kamu mengharapkan kenaikan uang jajanmu, kan?" tebak Iis.


"Eh, tidak, Bu! Aku sedang curhat. Tapi kalau ibu mau menaikkan uang jajanku, juga tidak apa-apa!" jawab Indah dengan senyum kuda nya.


"Sekarang, ibu tanya padamu. Kenapa kamu melamun? Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Iis.


"Aku sedang memikirkan apa, ya, Bu?" gumam Indah, ekor matanya tak sengaja menatap suaminya yang tengah menyantap makan siangnya. 'Tidak mungkin aku bilang, kalau aku memikirkan ucapan Pak Angga. Bisa-bisa, dia menertawakanku dan bilang, kalau aku wanita pengecuut.' batin Indah.


"Hei, ibu sedang bertanya padamu. Kenapa kamu melamun? Apa yang sedang kamu rasakan, Ndah?" tanya Iis menyadarkan lamunan Indah.


"Aku hanya memikirkan acara besok, Bu! Kira-kira, acara itu lancar tidak, ya? Dan setelah lulus, aku mau daftar kuliah di mana dengan statusku yang sudah menikah. Pasti ada beberapa teman yang tidak mau berteman denganku karena aku sudah menikah. Apalagi, saat mereka tahu ... suamiku seperti Pak Angga." keluh Indah berbohong.


"Memangnya, suamimu kenapa, Hem?" tanya Iis yang dapat di dengar oleh Angga.


"Aku takut, Bu! Aku takut teman-temanku tertarik dengannya. Ibu tahu, Ria tertarik dengannya, Bu! Dia bilang, dia mau jadi pelakor demi mendapatkan hati Pak Angga." gumam Indah lirih, 'Sebenarnya, aku tidak takut jika teman-temanku tertarik dengan pria itu! Aku hanya takut, pernikahanku terbongkar! Sudah, itu saja!' batin Indah.


"Hem ... jangan bilang kamu sudah nyaman dengan suamimu, ya? Atau, kalian sudah pernah melakukan itu?" goda Iis membuat Angga tersedak makanannya.


"Uhuk! Uhuk!"


"Nak Angga! Nak Angga kalau makan hati-hati, ya!" titah Iis berlari dan menyodorkan segelas air putih untuk menantunya.


"Aku baik-baik saja! Aku kaget saat mendengar ucapan ibu!" jawab Angga setelah meminum air putihnya.

__ADS_1


"Ibu! Ibu apa-apaan sih! Aku dan Pak Angga tidak pernah melakukan apapun! Aku masih kecil! Belum pantas melakukan hal yang menyangkut orang dewasa!" gerutu Indah berjalan dan mendudukan pantatnya di kursi meja makan samping suaminya.


"Kamu sudah besar, besok kamu sudah lulus sekolah. Kalau kamu mau melakukannya juga hukumnya 'Sah-Sah' saja! Apalagi melakukan dengan suami sendiri. Iya, kan, nak Angga! Dan ibu yakin, ke dua orang tua nak Angga pasti menginginkan cucu, kan?" goda Iis lagi


__ADS_2