Takdir Cinta Mr. Arrogant

Takdir Cinta Mr. Arrogant
Bab 25


__ADS_3

"Itu bukan urusanmu. Mau temanku yang mana, itu bukan urusanmu. Sekarang, Mas Angga antarkan aku pulang!" titah Indah.


"Hem. Mulai sekarang, urusanmu adalah urusanku juga! Jadi, kau tidak boleh menutupi hal sekecil apapun dariku. Kau paham itu!" ujar Angga berjalan keluar hotel di ikuti oleh Indah di belakangnya.


'Tidak mungkin aku bicara, kalau aku mau ke apotik beli pil KB, bisa-bisa dia marah dan memberi hukuman yang tidak wajar untukku!' batin Indah.


"Hei, jawab pertanyaanku. Teman siapa!" tanya Angga lagi sambil masuk ke dalam lift.


"Teman sekolah!" jawab Indah.


"Laki-laki atau perempuan?" tanya Angga lagi.


"Tidak perlu kepo. Ini urusanku dengan teman-temanku!"


"Baiklah. Jika kau tidak mau memberitahukan nama temanmu itu, maka aku sendiri yang akan mengantarmu. Rumah temanmu di mana?" tanya Angga yang mendapat gelengan kecil dari istrinya.


"Kamu kenapa sih! Aku mau main sama teman-temanku, tapi kamu melarangnya dan malah mau ikut. Aku ini butuh ketenangan, aku ini butuh hiburan. Aku trauma, aku trauma dengan sikapmu tadi. Dan aku malu, aku malu dengan matamu dan semua anggota tubuhmu. Aku sudah ternodai! Aku malu!"


"Hei!" panggil Angga mencengkeram erat lengan Indah.


"Mau apa! Lepaskan aku, sakit, Mas!" ujar Indah memberontak.


"Sudah aku bilang, jangan sekali-kali melawanku lagi. Aku tidak suka di lawan! Patuhi semua ucapanku," ketus Angga.


"Tidak mau, aku tida-- Aw ... sakit, Mas! Lenganku sakit! Tolong lepaskan aku, hiks ... hiks ..." rintih Indah kesakitan.


"Turuti semua perintahku dan jangan melawan. Apa perlu, aku melakukan seperti di kamar hotel terus-terusan agar kau luluh padaku!" ketus Angga yang mendapat gelengan kecil dari istrinya.


"Ja-jangan, aku takut. Bagian bawahku masih sakit, buat buang air kecil saja, rasanya perih. Aku tidak sanggup jika harus melakukannya lagi. Maafkan aku, aku janji ... aku patuh, tapi jangan lakukan itu lagi. Biarkan ini menjadi yang pertama dan terakhir!" pinta Indah ketakutan.


"Asal kau patuh, aku juga akan patuh padamu. Sekarang, beritahu aku. Mau pergi kemana, kau?" tanya Angga berjalan keluar lift setelah pintu lift terbuka.


"A-aku--" ucapan Indah terhenti, dia tidak tahu harus beralasan apalagi agar suaminya percaya.


"Aku apa, ha? Katakan!" titah Angga keluar dari lobby dan berjalan menuju mobilnya.


"Tidak jadi, aku tidak jadi keluar. Aku di rumah saja!" jawab Indah pasrah.


"Bagus. Tugas istri itu di rumah, melayani suaminya bukan bermain tidak jelas dengan teman-temanmu. Aku ini capek bekerja dan sudah seharusnya kau melayaniku dengan benar! Ingat, sekarang ... surgamu ada di aku bukan ibumu lagi!"

__ADS_1


"Hem, aku tahu, Mas!" jawab Indah masuk ke dalam mobil.


Angga menyalakan mesin mobil dan mobil pun mulai berjalan keluar hotel.


'Apa tidak ada kesempatanku untuk kuliah? Apa mungkin, kebahagiaanku akan berhenti saat ini, juga? Ibu, kenapa ibu meridhoi pernikahanku dengan pria seperti ini. Aku takut, Bu!' batin Indah.


Angga melakukan mobilnya. 'Kita mau kemana? Kenapa arahnya berlawanan dengan arah rumahku?" tanya Indah lagi.


"Kau tidak perlu tahu, kita kemana. Lagi pula, sebentar lagi kita sampai!" titah Angga membuat Indah berpikir keras.


'Sebenarnya, aku dibawa kemana? Kenapa arahnya berlawanan dengan rumahku? Apa aku mau dibawa pergi jauh? Atau jangan-jangan aku mau dibawa ke hotel lagi. Ah, ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus membuat dia buka suara!' batin Indah.


"Bawa aku pulang, aku sudah ada janji dengan temanku!" titah indah lagi.


"Di mana kalian bertemu. Aku akan mengantarmu. Aku tidak mau ibumu memecatku sebagai menantu idamannya." ujar Angga.


"Terlalu percaya diri. Siapa yang bilang, kalau Mas Angga menantu idaman?" tanya Indah.


"Ibumu sendiri yang bicara padaku, kalau aku menantu idamannya."


"Ish, aku tidak pernah mendengar ibu bicara seperti itu." ejek Indah lalu merasakan ponselnya bergetar. 'Davit, Davit menelfonku lagi? Apa dia tidak mendengarkan ucapanku baik-baik.' batin Indah.


"Bukan siapa-siapa." jawab Indah.


"Oh. Angkatlah, jika bukan siapa-siapamu!" titah Angga.


"Aku sedang malas mengangkat telfon orang!" jawab Indah merijek panggilan Davit.


"Angkat!" titah Angga.


"Sudah mati! Telfonnya sudah mati! Jadi, jangan suruh aku angkat telfon lagi!" ketus Indah.


Sedangkan di satu sisi. Davit terkejut saat telfonnya di rijek oleh Indah.


"Kamu ada di mana, Ndah? Aku mau kasih kabar, kalau kamu tidak perlu ke rumahku. Sekarang, aku sudah ada di depan rumahmu." gumam Davit lalu berusaha menghubungi sahabatnya lagi.


Drt ...


Drt ....

__ADS_1


"Siapa itu!" titah Angga saat mendengar getaran ponsel istrinya.


"Bukan siapa-siapa. Ibu temanku, Davit!" jawab Indah jujur.


"Angkatlah, siapa tahu penting!" titah Angga lagi.


'Pasti Davit mau memastikan aku sudah sampai rumah atau belum!' batin Indah.


"Angkat telfonnya, Indah. Atau jangan-jangan Davit itu selingkuhanmu?" tuduh Angga.


"Jangan asal menuduh. Aku dan Davit sahabat. Kita tidak mungkin mempunyai perasaan!" kesal Indah.


"Kalau kalian tidak mempunyai perasaan atau hubungan di belakangku. Jadi, aku mau kau membuktikannya dengan mengangkat telfon itu!" tantang Angga.


"Hem, aku angkat! Lagi pula, aku dan Davit sudah kenal lama sebelum aku menikah denganmu, Mas!"


"Angkatlah, aku akan diam tapi aktifkan pengeras suaranya!" titah Angga yang mendapat gelengan kecil dari istrinya.


"Tidak mau. Aku tidak mau mengaktifkan pengeras suara di ponselku. Ini privasiku, Mas!"


"Kita suami istri. Jadi, tidak ada yang namanya privasi!" ketus Angga.


Tak ingin menjawab ucapan suaminya. Indah lebih memilih mengangkat telfon dari sahabatnya Davit tanpa mengaktifkan pengeras suara di layar ponselnya.


"Hallo, Davit! Ada apa menelfonku?" tanya Indah, dengan ekor mata yang selalu melirik sekilas ke arah suaminya. 'Semoga, Mas Angga tidak curiga!' batin Indah.


"Kamu di mana, Hem? Aku telfon malah di rijek. Aku sudah sampai depan rumahmu. Dan aku sudah berulang kali ketuk pintu rumahmu, tapi rumahmu sepi. Kamu cepat pulang!" titah Davit.


"Ta-tapi, bukankah ... perjanjian awal kita bertemu itu di rumahmu, Dav?" tanya Indah yang tak sengaja membocorkan rahasianya.


"Di rumahku tidak ada orang. Orang tuaku baru saja pergi. Dari pada kamu shok saat datang ke rumahku. Jadi, aku memutuskan, aku yang datang ke rumahmu. Cepatlah pulang!" titah Davit.


"I-iya. Tunggu sebentar! Aku pasti pulang!" jawab Indah gerogi. "A-aku matikan telfonnya dulu!"


"Hem!" ujar Davit.


Setelah panggilannya berakhir. Indah seketika menatap wajah suaminya. "Mas, antarkan aku pulang. Davit sudah ada di rumahku. Aku berjanji, kalau kita akan pergi!" ujar Indah lirih.


"Aku akan mengantarmu pulang, tapi bukan ke rumahmu melainkan ke rumahku." jawab Davit ringan.

__ADS_1


__ADS_2