
Setelah sampai di parkiran kantornya. Angga dapat melihat sekertaris perempuannya sedang berdiri tak jauh darinya.
Nana yang melihat mobil bos nya pun segera mendekat.
Tok ...
Tok ....
Ketukan dari luar kaca pintu mobilnya pun terdengar sampai telinga Angga.
"Di mana pakaianku!" tanya Angga setelah membuka kaca pintu mobilnya.
"Ini, Pak! Tapi tumben sekali, Bapak memakai pakaian santai!" tanya Nana.
"Diamlah. Sekarang pergi!" titah Angga menutup kaca pintu mobilnya lagi.
Melihat sekertaris wanitanya pergi, Angga langsung mengeluarkan pakaiannya yang berada di dalam paper bag.
"Setelah ini, aku pastikan sekolahmu akan di tutup dan kau akan memohon, berlutut di depanku!" lirih Angga sambil mengganti pakaiannya.
Sedangkan di satu sisi. Indah memarkirkan motor maticnya di parkiran sekolah. Dia melepaskan helm yang melekat di kepalanya.
"Aman! Sudah ku pastikan pasti ucapanya bohong! Mana ada konglomerat memakai pakaian wanita yang harganya murah!" gumam Indah lagi.
Dor!
Tepukan di pundak Indah membuatnya terkejut.
"Hei, apa kamu pikir, aku punya nyawa sepuluh, ha! Untung jantungku tidak copot! Kalau jantungku copot, bagaimana? Apa kamu mau menggantinya?" kesal Indah.
"Jangan marah-marah dong, nanti cantiknya hilang!" titah Davit terkekeh. "Yuk, yang lain udah pada kumpul. Kita bahas rencana kita setelah lulus nanti!" titahnya lagi.
"Aku sedang badmood Dav!" keluh Indah.
"Tumben sekali, kamu badmood? Ada apa, Hem? Ceritakan ke kita semua. Pasti ibumu marah, ya? Atau ibumu tidak mengizinkanmu pergi? Kalau gitu, aku sendiri yang akan meminta izin, bagaimana!" jawab Davit merangkul mesra pundak Indah.
'Tidak mungkin, aku bicara yang sesungguhnya, kalau aku sudah menikah tadi malam karena tragedi itu. Bisa di bully habis-habisan aku! Apalagi, saat melihat suamiku yang dewasanya kelebihan batas,' batin Indah.
Melihat temannya melamun, Davit menarik tubuh Indah semakin dekat dengan tubuhnya. "Jangan melamun. Ada apa, Hem? Ceritakan saja. Aku dan lainnya akan mencari solusi yang terbaik!" ujarnya lagi.
"Tidak ada apa-apa. Tapi untuk urusan liburan. Kelihatannya, aku harus mencuri-curi waktu. Oh iya, di mana Lili dan Ria? Aku mau menumpang tidur padanya, semalam!"
__ADS_1
"Apa ada masalah dengan ibumu? Sampai-sampai kamu kabur dari rumah?" tanya Davit.
"Biasalah, ibuku suka parno! Jadi, dari pada aku bertengkar terus. Aku mau menginap di salah satu rumah mereka!"
"Kalau kamu mau, kamu bisa menginap di tempatku, Ndah. Kebetulan ayah dan ibuku ada di rumah. Dan mereka sudah kenal kamu sejak lama. Pasti mereka memperbolehkan mu tinggal di rumahku!" tawar Davit.
"Malas, aku tidak mau di cap wanita tidak benar karena menginap di rumah teman priaku! Lebih baik, aku menginap di tempat Lili atau Ria, saja!"
"Baiklah. Jika itu mau, mu! Sebaiknya, kita langsung ke kantin aja. Mereka sudah menunggumu!" ajak David membantu Indah berjalan masuk ke dalam sekolahnya.
Sedangkan di satu sisi. Angga yang baru saja memasuki ruangannya pun langsung meminta sekertaris Nana duduk di hadapannya.
"Bacakan jadwalku hari ini. Setelah itu, aku akan memberimu tugas!" titah Angga.
"Baik, Pak!" titah Nana.
"Hari ini, Pak Devan mempunyai janji dengan beberapa klien. Dan di jam setelah makan siang, Bapak ada kumpulan dengan sekolah Harapan Bangsa, karena Bapak mempunyai saham terbesar di sana. Jadi, Bapak harus hadir," titah Nana.
"Sekolah Harapan Bangsa? Kapan aku menanam saham di sana? Aku rasa, aku tidak pernah menanam saham ku di sana!" tanya Angga, 'Bukankah sekolah itu, tempat Indah belajar. Wah, sepertinya ... kemenangan akan berpihak padaku!' batin Angga.
"Bapak pernah menan--"
"Stop! Beritahu aku jam nya yang pasti?" tanya Angga sambil memperlihatkan senyum palsunya.
"Tunda meeting itu. Dan bilang ke kepala sekolah, kalau kita akan ke sana, satu jam lagi!" titah Angga menatap jam tangannya yang mahal.
"Tapi, Pak! Ini klien penting Pak Angga!"
"Jangan banyak tapi, urus saja semuanya seperti yang aku minta!" titah Angga dengan nada dinginnya.
"Baik, Pak! Kalau begitu saya permisi. Saya akan menghubungi kepala sekolah Harapan Bangsa." jawab Nana kemudian keluar ruangan CEO.
Setelah keluar dari ruangan bos nya. Nana di buat bingung dengan sikap bos nya yang sedang menyembunyikan sesuatu.
'Apa yang sedang di rencanakan Pak Angga? Sampai-sampai pak Angga memperlihatkan senyum misteriusnya!' batin Nana kemudian berjalan menuju ruangannya.
Di dalam ruangan, Angga mengetuk jarinya berulang kali secara bergantian di atas meja. Dia membayangkan ekspresi terkejut istrinya setelah dia datang di sana.
"Aku yakin, setelah ini ... dia tidak berani menentang semua ucapanku! Kau memang pintar Angga. Sepertinya lucu juga mempunyai istri semacamnya. Jika memberontak, aku akan memberi sedikit ancaman agar dia takut!" gumam Angga lalu tertawa menggelar.
Setelah satu jam membayangkan sikap dan ekspresi terkejutnya, Indah. Kini Angga sudah berdiri dan berjalan keluar ruangan dengan di ikuti oleh sekertaris Nana di belakangnya.
__ADS_1
"Biar saya saja yang membawa mobil, Pak!" tawar Nana membuat Angga melempar kunci mobilnya ke arah sekertarisnya.
Mereka masuk ke dalam mobil dan mobil pun membelah jalanan ibu kota yang sedikit macet.
Dari kaca spion belakang, Berulang kali Nana melirik sekilas pria yang sedang tersenyum sendiri.
'Apa pak Angga sedang jatuh cinta?' batin Nana menatap lurus ke depan.
Sedangkan di satu sisi, Bel masuk berbunyi. Indah dan lainnya masih betah di kantin.
"Masuk, yuk! Kita bisa kena ceramah!" ajak Robi.
"Iya, bel sudah bunyi! Tapi aku belum sempat mengerjakan tugas dari Bu Dea itu!" keluh Ria.
"Sama!" timpal Davit. "Kamu, Ndah?" tanyanya lagi.
"Aku lupa membawanya. Dan aku mau bolos, aku mau pergi menenangkan otakku!" keluh Indah dengan wajah lesunya.
"Ada apa Ndah? Aku lihat, wajahmu di tekuk terus!" tanya Robi.
"Biasa, lagi berantem sama ibunya. Tadi, minta tumpangan semalam di rumahku!" timpal Lili.
"Kamu kabur, Ndah?" tanya Robi tak percaya.
"Iya, aku kabur dari rumah. Dan sekarang, aku mau bolos. Kalian bisa masuk ke kelas!" titah Indah.
"Aku temani!" tawar Ria dan Davit bersamaan.
"Okeh! Aku juga temani," jawab Robi dan lili.
"Kalian yakin?"
"Iya yakin. Lagi pula, Bu Dea kelewatan batas. Tugas itu sudah berlalu, tapi kita tetap di suruh mengerjakan! Padahal, kita seharusnya sudah bebas, ya, kan!" ujar Ria.
"Nah, aku malas berdebat dengan Bu Dea. Maka dari itu, aku mau bolos! Yuk!" titah Indah berjalan menuju parkiran motor.
Setelah mobilnya membelah jalanan ibu kota. Kini mobil Angga sampai di halaman sekolah Harapan Bangsa.
"Kita sudah sampai. Dan kita bisa berjalan menuju ruang kepala sekolah!" titah Nana sambil membuka pintu mobil untuk Angga.
Sedangkan di satu sisi, Indah berjalan mengendap-endap, belum sempat dia sampai di parkiran beserta teman-temannya. Tiba-tiba, dia melihat kepala sekolahnya yang sedang menatapnya.
__ADS_1
"Pak, hehe!" jawab Indah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalian mau bolos lagi, ha!" tanya Pak kepala sekolah.