
"Kenapa berhenti, Ndah? Apa ucapanku ada yang salah?" tanya Ria membuat Indah tersadar akan tingkahnya.
'Kau gilaa, Ria! Aku ini istri dari pria itu! Status istri yang aku dapatkan semalam karena tragedi yang sangat menyebalkan! Tapi tunggu dulu, jika Ria mendekati pria itu, berarti sahabatku sendiri yang akan menjadi duri dalam rumah tangga mainanku?' batin Indah.
"Hei, aku tanya malah melamun. Jangan bilang kamu suka dengan om-om tadi? Jangan deh, kamu sudah ada Davit. Dia pasti tidak terima jika kamu di dekati om-om seperti itu! Biar om-om itu untukku, okeh!" ujar Ria.
"Terserahmu! Aku juga tidak perduli dengan om-om itu. Sikapnya yang menyebalkan membuat hariku kacau sepanjang hari!" kesal Indah sambil melanjutkan langkahnya.
"Indah, kau pusing atau gilaa, ha? Kenapa tiba-tiba kau menyebut Om-om itu menyebalkan. Jangan bilang, kalian sudah saling kenal di belakangku? Atau, kalian sempat bercerita di dalam toilet. Wah, ini kabar gembira. Aku harus beritahu semua ini ke lainnya terutama Davit!" ujar Ria antusias.
"Eh, jangan! Jangan beritahu lainnya masalah ini. Bila perlu kamu tutup rapat masalah ini! Aku tidak mau, ada yang tahu tentang kejadian tadi selain kamu, okeh!" pinta Indah memohon.
"Tapi kita sudah berjanji, tidak ada yang kita sembunyikan dari sahabat kita. Lalu kita mau melanggar janji setia kawan kita?" tanya Ria.
"Tak apalah. Hanya sekali melanggar. Asalkan tidak ada yang tahu. Pulang sekolah, aku traktir. Tapi janji, kamu harus bilang ke ibuku, kalau kita pulang terlambat karena gladi bersih acara besok, okeh! Biar aku gak kenal omel." ucap Indah.
"Tapi, katamu ... kamu mau menginap di rumahku atau Lili. Yang benar yang mana? Kamu jadi nginap atau tidak?" tanya Ria kebingungan.
"Kelihatannya, aku tidak jadi menginap di rumah kalian. Aku mau pulang, kasihan ibuku sendiri di rumah!" jawab Indah, 'Demi sekolah ini tidak di tutup, aku rela pulang dan ikut pria tidak tahu diri itu!' batin Indah.
"Tumben pikiran kamu benar. Biasanya, pikiran kamu selalu di bawah rata-rata alias tidak ada yang benar!" kekeh Ria membuat Indah memicingkan matanya tak suka.
Setelah kembali ke ruangan kepala sekolah. Angga meminta sekertarisnya, Nana untuk berpamitan lebih cepat.
"Nana, kita ke kantor sekarang!" titah Angga.
__ADS_1
"Tapi pak! Kita belum berdiskusi dan Pak Angga tidak mau mendengar cerita dari Pak Hendrik selaku kepala sekolah di sini?" ujar Nana.
"Tidak perlu. Aku ingin semua jadwal meeting di percepat. Dan untuk Pak Hendrik, saya akan beri suntikan dana untuk acara besok. Usahakan acara besok, adalah perpisahan yang paling meriah karena aku akan datang dan mengisi sambutan itu secara langsung!" sambung Angga.
"Bapak serius akan datang? Tapi, ada beberapa meeting yang akan terbengkalai jika Bapak datang?" tanya Nana memastikan.
"Urusan meeting kita tunda. Dan kau urus saja suntikan dana untuk sekolah ini." jawab Angga dengan nada dinginnya.
"Terimakasih, atas semua yang bapak berikan pada sekolah ini. Saya mewakili guru lainnnya sangat berterimakasih atas bantuan yang Bapak berikan. Dan kita semua berjanji akan berikan acara yang mewah dan besar. Sekali lagi, saya ucapkan terimakasih!" ucap Pak Hendrik.
Angga mengangguk lalu berjalan keluar ruangan di dampingi oleh sekertaris dan juga kepala sekolah.
"Oh, iya satu hal lagi. Tolong, untuk siswa siswi yang membolos tadi, saya mau ... mereka mengisi acara besok!" titah Angga.
"Baik, Pak! Saya akan bicarakan pada indah dan teman-temannya."
"Saya mengerti, dan saya akan tegur Indah juga Davit. Mereka selalu bersama setiap saat seperti perangko dan amplop." jawab Pak Hendrik.
"Selalu bersama?" gumam Angga. "Em, rupanya pengawasan di sini kurang ketat. Guru-guru di sini menyepelekan hal sebesar ini!" sambungnya lagi membuat Nana yang menyimaknya keheranan.
'Kenapa Pak Angga mendadak berubah seperti ini? Apa kepala Pak Angga terbentur waktu di kamar mandi? Atau Pak Angga cemburu saat melihat siswa di sini dengan mudahnya berpacaran. Seharusnya, Bapak introspeksi diri dulu, sifat Bapak yang ketus dan arrogant itulah sifat yang tidak di sukai banyak wanita!' batin Nana.
Melihat sekertarisnya menatap dengan tatapan aneh. Angga menyilangkan ke dua tangannya di dada. "Nana, ingin di pecat atau--"
"Jangan Pak! Semua ucapan Pak Angga benar. Guru di sini tidak terlalu memperdulikan pergaulan siswanya." jawab Nana setelah memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Maafkan kelalaian saya dan guru-guru di sini." pinta Pak Hendrik.
"Saya maafkan, tapi sekali lagi saya melihat siswa seperti tadi, maka saya tidak akan segan-segan menutup sekolah ini. Apa kau mengerti!" ancam Angga.
"Saya mengerti, sekali lagi ... maafkan kelalaian kita," jawab Pak Hendrik.
"Ayo, Nana! Jangan buang waktu berharga kita di sini!" titah Angga berjalan keluar sekolah di ikuti oleh Nana di belakangnya.
Setelah sampai di kantin. Wajah Indah semakin tertekuk. Dia tidak percaya, bahwa rencana yang sudah di buatnya semalam tiba-tiba hancur karena ulah sahabatnya.
'Huh! Seharusnya, malam nanti ... aku bisa berpesta dan tidur di ranjang empuk. Tapi karena mulut mereka yang bocornya tidak pernah di saring. Jadinya aku harus kembali pulang dan ikut pindah bersama pria itu. Bagaimana kalau sesampainya di rumah itu, dia memperlakukan ku seperti pembantu? Ah, aku tidak mau! Aku saja tidak bisa memasak! Masa iya, setiap hari ... aku makan pakai mie instan! Bisa melar perutku!' gumam Indah dalam hati.
"Indah, setelah lulus nanti ... kamu mau kuliah di mana?" tanya Lili membuyarkan lamunan Indah.
"Tidak tahu! Mungkin, aku tidak kuliah!" jawab Indah asal, 'Aku harus pintar masak. Tapi masak apa dulu, ya?' batin Indah.
"Kamu jangan sampai gak kuliah, Ndah! Kita semua harus kuliah!" timpal Robi.
"Iya, Indah sayang! Kuliah itu memang tidak di wajibkan. Tapi sebisa mungkin ... kita kuliah, ya, sayang! Kita satu kampus!" rayu Davit mengusap pundak Indah.
"Aku mau belajar masak, mau belajar cuci piring, cuci baju sama beberes rumah! Tidak ada waktu kuliah!" ucap Indah menonton video masak dari online.
"Kamu mau nikah, Ndah?" tanya Lili.
"Aku masih mau kuliah, Ndah! Jangan paksa aku buat nikahin kamu!" timpal Davit yang mendapat tatapan tajam dari Indah.
__ADS_1
"Siapa juga yang mau nikah sama kamu, Dav! Aku mau berjaga-jaga kalau aku menikah nanti, aku sudah bisa mengurus semua keperluan rumah tanggaku!" kesal Indah.
"Calon istri terbaikku!" goda Davit