Takdir Cinta Mr. Arrogant

Takdir Cinta Mr. Arrogant
Bab 19


__ADS_3

"Aku pakai angkutan umum? Apa aku tidak salah dengar? Sedangkan aku mempunyai beberapa mobil!" jawab Angga.


"Ya, sudah. Aku juga tidak mau naik angkutan umum, aku masih punya motor!" ketus Indah. "Tapi Pak Angga yang baik hati dan tidak sombong ... Bapak jadi kan ... mencabut semua hukuman aku dan teman-temanku. Oh, iya, Pak! Temanku yang bernama Ria tadi, yang kita ketemu di kamar mandi, ternya menyukai Bapak loh! Dan ucapanku yang di depan ibu, itu tidak benar. Aku tidak cemburu atau apalah! Hehehe ... Bapak mau aku dekatkan dengan temanku, Ria?" rayu Indah sambil memijat kaki suaminya lagi.


"Em ... Kalau temanmu bersedia juga tak apa! Dekatkan saja aku dengannya! Rejeki tidak mungkin aku tolak!" jawab Angga sambil melihat balasan pesan dari sekertarisnya.


"Wah, Bapak serius? Berarti, Bapak mau menceraikan aku, dong? Aku sangat bahagia dan terharu, Pak! Kemungkinan besar, aku akan mengadakan pesta untuk merayakan perceraian kita!" jawab Indah antusias. Wajahnya yang pucat, kini sudah berubah menjadi segar.


"Menceraikanmu? Siapa yang mengatakan seperti itu, ha?" Tidak ada yang akan menceraikanmu. Sudah aku bilang, sekertarisku akan mengurus pernikahan kita agar Sah di mata hukum dan agama!" jawab Angga menekuk satu kakinya. "Ya sebelah kanan aja, yang di pijat!" titahnya lagi.


"Lalu, kenapa bapak mau di kenalkan dengan temanku, kalau Bapak tidak mau menceraikanku. Apa Bapak mau, aku dan temanku bertengkar?" tanya Indah mencodongkan bibirnya, kesal.


"Kenalkan saja aku padanya. Kalau dia mau, akan ku jadikan istri ke dua ku. Agar kau bahagia. Akhirnya sahabatku adalah maduku. Kalian bisa jalan-jalan bersama menikmati setiap moment menjadi istriku!" jawab Angga santai.


Mendengar ucapan yang keluar dari mulut suaminya. Indah menggerutu kesal. Dia memberi tekanan yang begitu keras, membuat Angga mengeluh kesakitan.


"Aw ... Sakit," pekik Angga menarik kakinya.


"Bapak ini benar-benar keterlaluan. Kita ini masih sekolah dan Bapak dengan entengnya mau menjadikan temanku istri ke dua mu? Itu sama saja membongkar hubungan pernikahan kita!" kesal Indah.


"Aku tidak memintamu untuk mengenalkan semua teman-temanmu. Kamu sendiri yang menawarkan teman-temanmu. Jadi, jangan salahkan aku, jika aku berkata seperti itu!" ketus Angga.


"Tapi, bapak bisa menolaknya, kan! Tidak perlu, Bapak mengiyakan semua ucapanku! Aku juga wanita, Pak! Dan wanita mana yang mau di madu! Walaupun aku masih kecil, tapi aku tahu madu dan lain-lainnya, Pak!" ketus Indah tak suka.


"Ya sudah, kau tahu apa arti madu, kan! Seharusnya, kau tahu, apa arti menghormati dan menghargai! Aku minta, mulai detik ini, ubah panggilanmu padaku. Aku belum tua! Dan kau tidak bisa memanggilku dengan sebutan 'Bapak'!" kesal Angga.


"Lalu, aku harus memanggil Bapak dengan sebutan apa? Om? Bapak mau, kalau aku panggil Om?" tanya Indah.

__ADS_1


"Mana ponselmu!" titah Angga dengan tangan yang menengadah.


"Untuk apa, Bapak tanya ponselku!"


"Sudah berulang kali, jangan panggil aku dengan sebutan itu! Aku suami kamu, Ndah! Bukan orang tuamu!" ketus Angga mulai emosi.


"Okeh, okeh! Aku tahu, Bapak sedang emosi. Tapi panggilan apa yang kira-kira cocok untuk Bapak? Kita bicara serius! Aku sedang minta pendapat dari Bapak!" jawab indah. 'Sabarkan hatimu dulu, Ndah! Ingat, kamu sedang berdua dengan pria yang bisa saja melakukan hal apapun padamu!' batin Indah.


"Panggil aku ... Em ... aku mau berpikir dulu!" jawab Angga membuat Indah menggeram kesal.


"Mas, boleh berpikir dulu! Katamu, aku tidak boleh memanggil dengan sebutan 'Bapak' kan? Jadi, aku memanggil 'Mas' dulu sampai Mas mendapatkan panggilan yang cocok!" jawab Indah sambil memaksakan senyum palsunya.


"Sepertinya, panggilan 'Mas' juga bagus. Kau boleh memanggilku dengan sebutan 'Mas'. Okeh, aku setuju dengan panggilan itu. Mulai sekarang, kau bisa memanggilku dengan sebutan 'Mas'!" jawab Angga.


'Ish, dasar pria aneh. Tapi tak apalah, toh dia belum terlalu tua. Dia masih sangat muda kalau menggunakan pakaian santai. Wajahnya saja yang terlalu serius. Jadi, banyak orang yang takut!' batin Indah.


"Bukankah, kau bilang sendiri, kalau kau tak napsu makan?" ujar Angga yang mendapat gelengan kecil dari istrinya.


"Itu tadi, tapi sekarang ... perutku lapar! Aku membutuhkan asupan yang bergizi. Karena, mulai semalam, hidupku sudah berubah. Sangat berubah!" jawab Indah.


"Setelah kau makan, ikutlah denganku!" titah Angga.


"Kemana? Jangan bilang, bapak-eh, maksudku Mas mau culik aku?" tebak Indah tak percaya.


"Jangan asal bicara! Ikut saja denganku! Biarkan Nana datang mengambil semua pakaian ibu dan kau!"


"Ibu ikut kita juga?" tanya Indah memastikan.

__ADS_1


"Ibu ikut dengan Nana. Kau ikut denganku!" ketus Angga.


'Kira-kira dia mau bawa aku kemana? Tapi tidak ada salahnya aku menolak. Siapa tahu, dia mau bawa aku ke Mall atau wahana permainan gitu? Tapi tunggu dulu, kalau benar ... dia membawaku ke Mall, mungkin aku tidak akan keberatan, tapi kalau ke hotel? Ish, kenapa pikiranku selalu tertuju pada tempat menakutkan itu, sih!' batin Indah bergidik ngeri.


"Cepat makan! Aku tunggu di kamar!" titah Angga saat melihat istrinya melamun.


"Sepertinya, aku mau ikut dengan ibu saja! Mas bisa berangkat lebih dulu!" tolak Indah secara halus.


"Kau, kau bisa patuh, tidak! Ikuti semua perintahku!" pekik Angga membuat Indah sedikit ketakutan.


'Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah menjadi kasar? Aku jadi takut sendiri!' batin Indah, "Iy-iya, aku mau makan dulu!" titah Indah berlari keluar kamar.


Setelah berada di luar kamar, Indah menghampiri ibunya yang tengah mencuci piring kotor.


"Bu, makananku mana?" tanya Indah saat tak melihat piring makanannya.


"Kamu lapar, Ndah? Katamu, kamu sedang tidak napsu makan! Ya, sudah. Makananmu sudah ibu berikan ke kucing di luar!" jawab Iis sambil menampilkan senyum terpaksanya.


"Ja-jadi, makananku sudah di makan kucing, Bu? Lalu, ada makanan lain tidak? Aku lapar, Bu!" tanya Indah yang mendapat gelengan kecil dari ibunya.


"Tidak ada, tapi ibu punya mie instan. Ibu pikir, kamu tidak akan makan. Kan, kita harus berkemas!"


"Tapi, tidak seperti ini juga, Bu! Aku lapar!" kesal Indah, "Ya, Sudah. Aku mau bikin mie instan aja! Dari pada aku mati kelaparan dan tidak ada tenaga untuk melawannya!" gumam Indah lirih.


"Mie instan nya ada di laci bagian atas. Kamu tinggal pilih, mau goreng atau rebus! Kalau gitu, ibu mau mengemasi barang-barang ibu dulu, ya!"


"Hem," jawab indah kesal. Dia mencari keberadaan mie instan nya.

__ADS_1


__ADS_2