
"Aku bukan milikmu! Dan aku tidak sudii ikut denganmu!" ketus Indah membuka pintu kamar mandi.
Di saat Indah membuka pintu kamar mandi. Matanya kembali membulat sempurna saat melihat sahabatnya yang bernama Ria tak jauh darinya. Seketika, dia langsung menutup pintu kamar mandi tersebut.
Angga tersenyum sinis saat melihat wajah istrinya yang pucat.
"Aku tidak butuh bantahan. Pulang sekolah, ikutlah denganku!" titah Angga berjalan beberapa langkah menuju istrinya.
"Bapak mau kemana, Hem? Bapak tunggu di sini!" cegah Indah.
"Aku tidak ada waktu berduaan lebih lama lagi di sini!" ketus Angga.
"Ets! Bapak! Nurut dikit bisa, kan! Jangan keluar dulu!" geram Indah mencengkram lengan Angga.
"Rupanya kau merindukanku, Nona!"
"Siapa yang merindukanmu! Asal bapak tahu, di luar ada temanku. Tidak mungkin, Bapak tiba-tiba keluar dan setelah itu aku keluar. Kita bisa mati kutu, Pak! Tunggu sampai temanku keluar!" titah Indah.
Angga menatap jam di pergelangan tangannya. Dia menggelengkan kepalanya. "Maaf istriku. Tapi, aku tidak bisa terlalu lama di sini. Aku harus bekerja!" jawab Angga menepis tangan Indah.
"Stop! Jangan sebut aku dengan sebutan yang memalukan itu! Aku tidak suka!" geram Indah.
"Lalu apa? Kau ingin di sebut apa olehku? Selain istri?" kekeh Angga.
"Berisik! Aku bukan istrimu. Kita akan cerai nanti!" kesal Indah.
"Terserah, itu bukan urusanku. Sekarang, aku harus keluar!" titah Angga.
"Tunggu! Biar aku keluar dulu. Setelah aku keluar, dan mengelabui temanku. Bapak bisa keluar. Ingat jangan keluar sama-sama. Aku tidak mau ketahuan seisi sekolah. Jika aku satu kamar mandi dengan pria seperti bapak. Bisa heboh satu sekolah!" ucap Indah membuka perlahan pintu kamar mandi.
__ADS_1
Setelah pintu kamar mandi sedikit terbuka, Indah mengintip. Dia melihat temannya, Ria sedang berdiri tak jauh dari kamar mandi.
"Bapak tunggu di sini, jangan keluar! Biar aku yang keluar. Kalau di luar sudah aman. Aku akan beri kode, semisal--" ucapan Indah terhenti. Dia berpikir sejenak. "Em ... enaknya apa, ya, Pak! Kalau aku bersiuul. Apa siul ku bisa terdengar sampai telinga Bapak? Tapi kalau aku teriak, sama saja aku mencari mati? Ria pasti tahu!" gumam Indah.
Angga yang melihat gadis kecil di hadapannya bergumam sendiri tak jelas pun menghembuskan napasnya kasar. "Sudahlah. Jangan banyak mikir. Aku harus pergi! Kita sambung lagi di rumah!" titah Angga, yang mendapat gelengan dari indah.
"Jangan Pak! Di luar ada temanku! Tidak mungkin, kita berdua keluar dari kamar mandi yang sama. Ingat, ini sekolah! Reputasi Bapak bisa hancur, loh! Bapak mau, di tuduh melakukan peleccehan terhadap salah satu siswa di sekolah ini?"
"Kau bukan siswa," ketus Angga.
"Ish!" geram Indah menghentakkan ke dua kakinya secara bergantian. "Aku capek ngomong sama bapak! Aku sedang serius, Pak! Aku tidak mau, satu sekolahan tahu, kalau aku sudah menikah. Aku masih punya cita-cita. Aku mau kuliah, dan aku mau hidup bebas. Tolong mengerti aku, Pak!" rengek Indah.
"Itu urusanmu, bukan urusanku! Sekarang, aku mau keluar!" titah Angga.
"Bapak keluar dari kamar mandi ini, aku akan pergi dan tak kembali. Mau, ibuku sakit saat kehilangan aku?" ancam Indah yang tak masuk akal.
"Kamu!" geram Indah. "Kamu mendoakan ibuku maati!"
"Aku mendoakan ibumu maati? Kapan? Aku tidak pernah bicara seperti itu. Kau saja yang beranggapan atau berekspektasi terlalu tinggi!" ejek Angga.
"Ish! Aku capek, Pak! Okeh, kalau Bapak mau keluar sama-sama. Aku akan turuti, tapi kunci mulut bapak! Jangan ucapkan sepatah kata apapun tentang percakapan kita. Dan satu hal lagi, jangan panggil aku dengan sebutan istri. Karena aku bukan istri Bapak!" kesal Indah membuka pintu kamar mandi lebar-lebar membuat Rian yang sedari tadi menunggunya tercengang.
Indah berjalan menuju temannya, Ria. "Ayo, Ri!" titah Indah menarik paksa tangan Ria.
"Indah, mataku tidak salah lihat. Aku baru saja melihatmu satu kamar mandi dengan Om-om yang kita temui tadi bersama kepala sekolah." gumam Ria.
"Kamu bisa diam sebentar. Biar aku jelaskan kesalahpahaman ini!" titah Indah lalu menatap angga yang tengah berjalan menuju arahnya.
Di saat tubuh mereka saling bertemu. Angga menampilkan senyum manisnya pada Indah. "Terimakasih atas permainamu." ujar Angga yang dapat di dengar oleh Ria.
__ADS_1
Ria menelan saliva nya susah, lalu tatapannya menatap temannya. "Indah, jangan bilang kamu habis jual diiri pada Om-om itu?" tebak Ria yang mendapat cubitan keras dari Indah.
"Ria! Kamu apa-apaan! Siapa yang habis jual diiri, sih?" kesal Indah.
"Lalu, ucapan dari Om-om itu?" tanya Ria polos. "Tapi tidak apa-apa. Lagi pula, dia tampan. Bagaimana rasanya? Nikmat atau enak atau-- Aw!" pekik Ria saat kakinya di injak oleh temannya.
"Rasanya enak, kan?" tanya Indah semakin menekan tekanannya.
"Sakit, Indah! Kamu injak kakiku!" kesal Ria.
"Biarin! Memangnya enak! Siapa suruh kamu berpikiran seperti itu! Memangnya, aku wanita muraahan yang berani bermain gila di kamar mandi sekolah? Aku juga masih waras!" kesal Indah kemudian berjalan meninggalkan temannya sendiri.
Melihat Indah pergi, Ria seketika mengejarnya. "Ndah, tunggu! Lalu kalian melakukan apa di dalam kamar mandi?" tanya Ria setelah mensejajarkan langkahnya.
"Dia salah masuk. Dan tentu saja aku reflek! Tidak mungkin, aku dan dia satu kamar mandi, kan!" jawab Indah.
"Salah masuk tapi kenapa ucapannya tadi, seperti mengandung arti, atau jangan-jangan ... dia sudah melakukan hal buruk padamu. Atau, dia melihat sebagian tubuhmu itu?" ujar Ria membuat Indah melotot matanya tak suka.
"Jangan asal bicara kamu, Ri! Dan kecilkan suaramu. Bisa heboh satu sekolah! Tidak mungkin dia melihat tubuhku. Aku saja belum melepas rok atau--"
"Lalu, ucapannya tadi?" tanya Ria penasaran.
"Ya, ucapan setelah aku memberitahukan kalau dia salah masuk kamar mandi, dan aku tidak berteriak seperti wanita pada umumnya. Kan biasa tuh ... banyak wanita yang terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang masuk bersamanya. Dan pasti jadi heboh, kan?" jawab indah masuk akal.
"Benar juga yang dikatakan kamu, Ndah. Tapi kalian tidak saling bertukar nomer ponsel, kan?" tanya Ria lagi.
"Memangnya kenapa?"
"Ya, sayang aja, Ndah. Walaupun om-om tadi sudah dewasa tapi parasnya sangat tampan. Kira-kira sudah punya istri belum, ya? Kalau belum ... aku mau dong, jadi istrinya!" ujar Ria membuat Indah menghentikan langkahnya.
__ADS_1