
'Tapi, aku tidak menyangka, jika Angga melakukan penganiayaan terhadap Indah. Sepertinya, aku harus bicarakan semua ini ke Angga. Mau bagaimana pun, Indah masih kecil. Dan dia tidak seharusnya mendapatkan perlakuan buruk dari suaminya.' batin Iis.
"Nah, sekarang ... ibu melamun, kan!" kesal Indah.
"Siapa yang melamun. Ibu hanya shok! Ibu tidak percaya, kalau sikap suamimu sekejam ini!" jawab Iis.
"Ya, ibu tidak tahu karakter seseorang! Maka dari itu, aku minta ibu, bicara dari hati ke hati ... ibu minta ke dia, suruh ceraikan aku, Bu! Aku tidak mau mempunyai suami yang kejam! Baru nikah sehari aja, tangannya sudah berani melayang! Bagaimana, kalau sudah satu tahun? Mungkin, ibu tidak bisa melihat senyumku lagi." gerutu Indah.
"Okeh. Ibu akan bicarakan ini ke suamimu. Sekarang, kamu tenangkan dirimu dulu, ya! Kamu masuk ke kamar dan pakai pakaianmu. Ini masih siang, Ndah! Jangan menggoda atau memancing kucing liar! Katamu, kamu takut, kan?" goda Iis mengalihkan pembicaraan.
"Ish! Siapa juga yang mau menggoda kucing sepertinya, Bu! Dan tunggu dulu ... bukannya sewaktu aku masuk ke kamar ... aku langsung kunci kamarku, tapi kenapa ... sewaktu aku keluar dari kamar mandi, tiba-tiba aku melihat pria itu sedang tiduran di ranjang ku, Bu! Em ... pasti ibu, yang memberikan kunci cadangan kamarku ke pria itu, kan?" tebak Indah.
"Dia punya nama, Ndah! Kamu haru hormati dia juga! Bagaimana, dia tidak kesal padamu. Pantas, dia marah dan hampir saja melakukan hal buruk padamu. Kamu saja tidak bisa menyaring ucapanmu! Hargai dia, sayang! Panggil dia dengan sebutan 'Mas atau Sayang atau suamiku'. Mungkin panggilan itu akan membuat suamimu menjadi sedikit di hargai!" ujar Iis.
"Tidak mau, Bu! Aku panggil dia, Om saja! Kebetulan Ria juga panggil dia Om! Aku malu, kalau panggil 'Mas'. Nanti di kira orang yang lewat, dia Kakakku!" ketus Indah.
"Jangan Om, sayang! Berarti secara tidak langsung kamu memperkenalkan suamimu sebagai Om-om muda yang sukses memiliki banyak perusahaan!" jawab Iis membuat Indah menautkan kedua alisnya, bingung.
"Tunggu, Bu! Aku tidak salah dengar? Kelihatannya, ibu sudah kenal jauh dengan Pri-- Om Angga?" jawab Indah terkekeh saat melihat tatapan tajam dari ibunya.
"Nah, panggil dia nama! Tapi bukan nama aja, bumbui dengan kata-kata yang--"
"Ibu, jangan mengalihkan pembicaraan. Aku tahu, ibu menyembunyikan sesuatu yang menyangkut om Angga, kan?" tanya Indah lagi.
"Tidak ada, Indah sayang! Mana mungkin ... ibu menyembunyikan informasi dari suamimu itu. Ibu ingin yang terbaik untukmu. Dan kita sudah mengubah takdir kita!" jawab Iis membuat Indah yang kebingungan semakin bingung.
Sedangkan di satu sisi. Setelah Angga membuka pintu kamarnya. Dirinya di kejutkan dengan pemandangan yang tak bisa di artikan.
'Aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu! Ibuku terlalu sibuk bekerja!' batin Angga menutup pintu kamarnya kembali.
__ADS_1
Belum sempat pintu kamar tertutup sempurna. Iis telah memanggilnya terlebih dahulu.
"Nak Angga! Kita duduk sama-sama, yuk!" titah Iis.
"Ibu, jangan bersikap lembut padanya. Aku tahu, dia tidak mungkin mau duduk bersama kita. Level dan kelasnya tinggi!"
"Hust! Kamu tidak boleh seperti itu, sayang! Sebaiknya, kamu pakai pakaianmu dulu. Kita makan siang sama-sama, ya!" titah Iis.
"Aku tidak mau makan kalau ada dia di sini, Bu!" ucap Indah berjalan menuju kamarnya.
Melihat istrinya masuk ke dalam kamar, Angga berjalan menuju meja makan.
"Aku tidak bermaksud bersikap kasar padanya!" jawab Angga.
"Ibu tahu, nak Angga. Tapi, lain kali ... jangan ulangi kesalahan ini lagi, ya! Ibu tahu, Indah salah ... tapi Indah juga masih kecil. Dia perlu bimbingan dari kita. Ibu percaya, kalau kamu orang baik!" jawab Iis tersenyum.
"Ibu sempat kecewa, tapi saat ibu mendengar ucapan Indah. Ibu jadi tahu, kalau semua pertengkaran kalian, itu bukan sepenuhnya kesalahan nak Angga. Tapi ini kesalahan Indah juga. Sebaiknya, nak Angga makan. Kebetulan ibu sudah masak ayam goreng sama sambal terasi. Ada lalapan timun juga! Biar ibu ambilkan nasi nya, ya!" titah Iis mengambil piring serta nasi untuk menantunya.
Angga terpaku dengan sikap ibu mertuanya. 'Ibu mertuaku memang baik. Aku tidak menyangka, akan di pertemukan sosok wanita yang penyayang sepertinya. Walaupun, aku harus menikahi putrinya yang membuatku pusing tujuh keliling.' batin Angga.
"Nak Angga mau sayur kangkung juga?" tanya Iis membuyarkan lamunan Angga.
"Iya, Bu! Ambilkan saja, aku akan memakan semua masakan ibu!" jawab Angga.
"Kita makan pakai tangan, ya! Nak Angga pernah kan? Makan pakai tangan?" tanya Iis meletakkan piring yang sudah terisi penuh makanan.
"Pernah, Bu! Tanganku jadi kotor! Memangnya, tidak boleh makan pakai sendok? Bukankah lebih higenis?" tanya Angga.
"Higenis, tapi ayam punyamu aku pastikan akan jatuh ke lantai! Lagian, ada-ada aja, makan ayam pakai sendok! Sekalian pakai sumpit!" ketus Indah yang baru saja keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Indah, kamu jangan bersikap arrogant ke suamimu. Seharusnya, kamu layani suamimu ini. Siapkan makan siangnya! Jangan mengejeknya!" ujar Iis.
"Aku menyiapkan makan siang untuknya? Dia punya tangan, Bu! Apa gunanya tangan kalau semuanya harus di siapkan olehku?" jawab Indah menjatuhkan pantatnya di samping suaminya.
"Diamlah! Apa hobimu selama ini berbicara yang tidak jelas?" ketus Angga menyendokkan makan siangnya.
"Pakai tangan, bukan sendok! Cuci tanganmu dulu! Makan pakai tangan itu enak!" titah Indah menarik tangan suaminya, "Kita cuci tangan sama-sama!"
"Aku bisa cuci tangan sendiri," ketus Angga.
"Cepat! Aku lagi baik hati!"
"Tapi aku tidak perlu mendapatkan perlakuan lembut darimu!" ketus Angga.
"Ibu! Aku sudah berbaik hati menawarkan diri menemani dia cuci tangan, tapi dia menolak. Ini bukan salahku! Aku sudah menjalankan tugasku sebagai istri!" ketus Indah.
"Kalian ini memang aneh. Sudahlah, biarkan saja suamimu mau makan pakai apa! Kita tidak bisa memaksanya, Ndah! Mungkin, suamimu lebih nyaman menggunakan sendok?" ujar Iis.
"Tidak boleh, Bu! Dia harus makan pakai tangan biar sama kayak aku!" jawab Indah, "Cepat!"
"Nak Angga turuti saja kemauan Indah, ya!" titah Iis.
"Hem!" jawab Angga beranjak berdiri. Dia berjalan menuju wastafel di dapur di ikuti oleh Indah di belakangnya.
"Pak, aku sudah berbakti ke Bapak! Sekarang, giliran Bapak yang berbakti padaku!" ucap Indah membuat Angga menautkan kedua alisnya.
"Berbakti?"
"Iya, aku sudah berbakti. Sekarang, giliran Bapak yang berbakti padaku! Aku mau, Bapak cabut hukumanku!" jawab Indah sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1