
"Cucu?" gumam Indah menatap sekilas pria di sampingnya yang berstatus suami. 'Apa iya, hukuman yang diberikan pria ini bersangkut pautkan dengan cucu? Kalau iya, apa aku sanggup melayaninya? Aku kan masih kecil! Tidak ada pengalaman juga! Dan aku pastikan, dia sudah mempunyai pengalaman. Mana mungkin, pria sepertinya tidak mungkin berpacaran. Apalagi pacaran orang dewasa! Biasanya menyeramkan!' batin Indah.
Melihat ekspresi wajah dari wanita di sampingnya, tiba-tiba Angga mempunyai ide yang sangat bagus.
"Ke dua orang tua ku memang menginginkan banyak cucu!" jawab Angga menatap sekilas Indah dengan ekor matanya.
'Sudah aku tebak. Tapi apa malam ini dan-- tidak mau! Aku belum siap! Aku kan mau kuliah. Aku tidak mau kuliah sambil membawa anak.' batin Indah yang tanpa sadar menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa geleng-geleng kepala, Ndah? Apa kepalamu sakit?" tanya Iis.
"Aku tidak apa-apa, Bu! Sepertinya, aku tidak napsu makan. Aku mau ke kamar aja!" titah Indah.
'Berhasil! Akhirnya, wanita itu ketakutan. Aku bisa jadikan ini mainanku!' batin Angga menyantap makanannya lagi.
Melihat kepergian putrinya, Iis tersenyum. "Nak Angga!" panggil Iis membuat Angga menatap ibu mertuanya.
"Ada apa, Bu?" tanya Angga memastikan.
"Kalau kamu mau melakukannya, ibu persilahkan. Besok indah sudah lulus. Tapi usahakan jangan sampai hamil, ya! Indah mempunyai cita-cita kuliah di universitas yang cukup terkenal menggunakan program beasiswa!" ujar Iis.
'Beasiswa? Apa aku tidak salah dengar? Beasiswa dari mana? Kerjaannya saja membolos dan nilai raportnya selalu di bawah rata-rata. Aku heran, kenapa ibu ini gampang sekali di kelabui oleh anaknya sendiri. Dan Indah! Apa dia tidak pernah melihat wajah ibunya yang menaruh harapan banyak padanya!' batin Angga. "Ibu tenang saja! Aku bukan pria yang suka memaksa. Walaupun itu hakku, tapi jika salah satu dari kita belum siap, aku tidak akan melakukannya! Karena, aku tidak mau melihat wanita itu menangis di bawah kendaliku!" jawab Angga membuat Iis tersenyum tipis.
'Nak Angga. Maafkan ibu, ya! Pernikahan ini terjadi karena ulah ke dua orang tua mu dan ibu! Tapi, sekarang ibu melihat sisi lain darimu. Ternyata, kamu orang yang sangat baik. Ibu bisa percayakan indah sepenuhnya padamu!' batin Iis. "Ya, sudah. Tapi jika indah terus melawan, kamu bisa bilang ... kalau semua itu adalah hak mu!"
"Aku mengerti, Bu!" jawab Angga kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Ibu ikutlah denganku. Kita pindah ke rumahku. Dan masalah rumah ini, ibu tenang saja! Aku sudah menyiapkan asisten rumah tangga yang setiap hari membersihkan rumah ibu!" titah Angga berjalan menuju wastafel dan mencuci tangannya.
__ADS_1
"Tapi, nak Angga! Ibu merasa--"
"Tolong jangan tolak tawaranku, Bu! Ikuti semua perintahku saja! Dan masalah universitas, aku akan carikan universitas yang terbaik untuk Indah dengan catatan, ibu rahasiakan semua ini dari Indah! Aku tidak mau, Indah menolak bantuanku!" potong Angga.
"Nak Angga serius?" tanya Iis.
"Aku serius! Sekarang, ibu tidak perlu khawatir memikirkan universitas untuk Indah. Semua biaya, biar aku yang menanggungnya!"
"Tapi, nak Angga--"
"Mulai malam kemarin, kalian sudah menjadi tanggung jawabku!" jawab Angga, "Aku mau ke kamar dulu! Ibu bisa lanjutkan makan siangnya. Setelah itu, aku harus pergi menemui beberapa klien!"
"Terimakasih, nak Angga. Ibu akan beberes sesuai perintah nak Angga!" ujar Iis sambil memperlihatkan senyum manisnya.
Angga mengangguk. Dia berjalan menuju kamarnya.
Pintu kamar terbuka, dan angga dapat melihat sosok istrinya yang tengah berdiri sambil menatap pepohonan dari balik kaca jendela kamarnya.
Mendengar derap kaki, Indah semakin mengeratkan tubuhnya ke dinding kaca jendela.
"Kemasi barang-barangmu. Setelah ini, akan ada sekertarisku yang datang untuk membantu kalian!" titah Angga menjatuhkan pantatnya di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Hem! Ibu ikut, kan?" tanya Indah lirih.
"Ada apa denganmu? Kenapa ekspresi wajahmu terlihat masam, ha!"
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa." jawab Indah sambil menatap pepohonan. 'Kira-kira hukuman yang dia berikan, hukuman apa, ya? Jika menyangkut pautkan dengan cucu, apa aku bisa?' batin Indah.
"Daripada melamun tidak jelas. Lebih baik, kemarilah!" titah Angga sambil meluruskan kakinya.
"Mau ngapain?" tanya Indah memastikan. "Jangan berbuat aneh-aneh! Ini masih siang!" ketusnya lagi.
"Aneh-aneh? Oh, aku tahu ini, kau pasti sedang memikirkan ucapan ibumu yang tentang cucu, kan? Aku tidak menyangka, jika istriku ini ternyata diam-diam tertarik dengan kata cucu." kekeh Angga, "Tapi tenang saja! Apa yang dikatakan olehmu benar, ini masih siang dan kamar ini bukan kamar kedap suara. Aku tidak mau, jika aku melakukannya di sini denganmu, ibu akan mendengar suara teriakan maut dan kita akan di goda mati-matian oleh ibumu. Kita lakukan nanti, setelah kita sampai di rumahku! Dan kau tenang saja, rumahku sangat luas juga kedap suara! Kita bisa melakukannya berulang kali!" ujar Angga lagi sambil terkikik di dalam hati saat melihat ekspresi wajah istrinya yang berubah pucat.
"A-aku belum siap!" jawab Indah singkat. "Ja-jangan lakukan itu dulu! A-aku mau kuliah! A-aku tidak mau membawa anak saat kuliah. Dan kau tahu sendirikan ... kalau pernikahan kita itu sirih. Belum Sah di mata hukum!"
"Kata siapa? Sekertarisku sudah mengurusnya. Jadi, kau tidak perlu khawatir! Sekarang, kemarilah! Sebagai istri yang baik, tolong pijat kakiku. Karena sebentar lagi, aku harus pergi meeting!" titah Angga.
'Pijat! Malas sekali aku pijat kakinya. Tapi tunggu dulu, kalau aku tidak turuti kemauannya, bisa-bisa dia marah dan memaksaku untuk melayaninya. Oh tidak! Jangan sampai dia marah. Aku harus berpura-pura baik padanya. Tidak lucu, kalau dia melakukannya dengan paksa dan kasar. Besok pagi, aku harus ke sekolah! Tidak mungkin, aku bolos!' batin Indah berjalan dan menjatuhkan pantatnya di samping suaminya.
Tangannya perlahan memegang kaki suaminya. 'Indah, sabar dulu. Jangan melawan, ini demi masa depanmu. Siapa tahu, kalau kamu patuh, dia akan kasihan padamu!' batin Indah sambil memijat kaki suaminya.
Angga tersenyum tipis, dia menyenderkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Tangannya dengan lincah mengetik sesuatu ke sekertarisnya.
'Urus pernikahanku dengan istriku agar Sah di mata hukum dan agama. Berkas-berkasnya ada di laci mejaku!' kirim Nana.
"Pijat yang benar! Jangan membuatku kecewa!" titah Angga.
"Aku juga capek! Aku baru saja pulang sekolah. Tanganku capek mengendarai motor!" kesal Indah.
"Besok, kau boleh naik angkutan umum agar tanganmu tidak capek dan mengeluh di depanku!" titah Angga menghentikan pergerakan tangan istrinya.
__ADS_1
"Aku tidak mau!" tolak Indah, "Aku mau pakai motor! Pak Angga aja yang pakai angkutan umum!"