Takdir Cinta Mr. Arrogant

Takdir Cinta Mr. Arrogant
Bab 9


__ADS_3

"Si-siapa yang bolos, Pak? Kita cuma mau--" ucapan Indah terhenti, dia menatap beberapa temannya.


"Em ... kita mau masuk ke kelas, Pak!" jawab Davit sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kelas?" gumam pak kepala sekolah. "Memangnya kelas kalian berada di parkiran sekolah! Cepat masuk, jangan sampai pemilik saham terbesar di sini, tahu akan kelakuan buruk kalian yang suka bolos! Sudah mau lulus, tapi tetap suka bolos!" ujarnya lagi.


"A-aku mau ambil sesuatu di motor, Pak. Kebetulan aku--" ucapan Indah terhenti saat Ria menarik tangannya.


"Sebaiknya, kita kembali ke kantin. Tunggu kepala sekolah itu pergi. Setelah itu, baru kita bolos!" bisik Ria.


"Baik, Pak! Kita kembali ke kelas! Untuk acara gladi bersih di tiadakan, Pak! Karena guru yang membimbing sedang sibuk dengan acara penyambutan orang penting di sekolah" titah Robi kemudian memutar tubuhnya bersama lainnya.


Di satu sisi, Angga berjalan menuju ruangan kepala sekolah. Belum sempat Angga sampai di ruangan yang dituju. Tiba-tiba Nana menghentikan langkahnya.


"Selamat siang Bapak Hendrik!" ujar Nana.


"Selamat siang, Bu Nana dan Pak Angga. Kami senang, akhirnya Bapak Angga mau datang ke sekolah kami." titah Pak Hendrik yang menjabat sebagai kepala sekolah.


Indah yang mendengar nama 'Angga' pun menghentikan langkahnya.


'Kenapa nama itu seperti nama pria tua itu, ya? Itu tidak mungkin! Indah, ingat! Di dunia ini, banyak sekali orang yang mempunyai nama sepertinya. Kamu tidak perlu khawatir!' batin Indah.


"Hei Indah. Ayo jalan! Kenapa berhenti!" ujar Davit sambil merangkul pundak Indah.


"Tidak apa-apa. Ayo!" ajak Indah.


Angga tersenyum. Ekor matanya tak sengaja menatap beberapa siswa yang berjalan memunggunginya.


"Apa, jam istirahat sudah tiba? Kenapa ada siswa yang berkeliaran?" tanya Angga.


"Maaf atas ketidaknyamanan Pak Angga di sekolah ini. Tapi, mereka salah satu siswa paling nakal di sekolah ini. Dan mereka hampir saja bolos!"


"Oh, panggil mereka. Saya ingin melihat wajah siswa tersebut!" titah Angga.


"Sebaiknya, kita ke ruangan saya saja. Dan urusan siswa, biar semua itu menjadi tugas saya dan guru-guru di sini!" titah Pak Hendrik.


"Pecat atau panggil mereka!" ancam Angga membuat pria paruh baya yang menjabat sebagai kepala sekolah tersenyum kecut.


"Lili, Davit dan kalian semua!" teriak Pak Hendrik membuat indah dan beberapa temannya menghentikan langkahnya.


"Aduh, kayaknya kita bakal di hukum, deh!" lirih Ria.


"Kalau kita di hukum, kira-kira hukuman apa yang pak Hendrik berikan? Kalau lari 50 putaran, aku tidak mau!" timpal Lili.


"Sudahlah, ada aku dan Robi yang akan menjaga kalian semua. Kita sahabat!" titah Davit. "Iya, kan, Indah sayang! Kita sahabat!"

__ADS_1


"Hem," jawab Indah memutar tubuhnya. "Jangan rangkul aku terus, Dav. Bisa-bisa kita di kira pacaran sama Pak Hendrik!" ujarnya lagi.


"Ria! Jalan lah! Aku dan Indah berada di belakang kalian!" titah Davit membuat Ria dan lainnya berjalan mendahuluinya.


Angga menatap satu persatu siswa yang diketahui, siswa paling nakal di sekolahnya.


Matanya membulat sempurna saat melihat siswi yang sedang di rangkul oleh siswa lainnya.


"Pak, hehehe!" ujar Robi.


"Ada apa, Pak? Katanya kita suruh masuk kelas!" jawab Ria dengan senyum kecutnya.


Indah menundukan wajahnya, dia memainkan ponsel milik Davit, "Aku mau makanan ini, Dav! Setelah pulang nanti, kita beli, yuk! Ajak yang lainnya juga!" ujar Indah saat melihat macam-macam kuliner makanan di ponsel Davit.


"Okeh! Kita beli ini!" jawab Davit.


"Ekhem!" deheman Angga membuat Indah menghentikan jemari tangannya.


"Kenapa, Ndah?" tanya Davit membuat Indah menggelengkan kepalanya lirih.


"Ekhem!"


"Pak Angga kenapa?" tanya Hendrik yang lagi dan lagi membuat Indah terdiam.


Mendengar kata sayang. Angga menunjuk ke arah Indah.


"Pak Hendrik, mereka berpacaran?" tanya Angga memastikan.


"Davit, Indah. Apa kalian berpacaran!" tanya Hendrik.


"Em--"


"Tatap wajah saya!" ujar Hendrik lagi, membuat mau tak mau, indah menatap wajah kepala sekolah.


Ekor matanya melihat sosok pria yang semalam telah mengubah hidupnya.


'Pria itu! Apa ucapan pria itu akan terjadi? Dia akan menutup sekolah ini! Dan kenapa bisa pria itu ada di sini? Bukankah, dia kehilangan jejakku!' batin Indah.


"Kalian berpacaran?" tanya Hendrik sekali lagi.


"Biasa Pak, anak muda!" jawab Davit santai.


"Jangan dengarkan kata Davit, Pak! Kita sahabat, iya, kan, Indah sayang!" timpal Robi menggenggam tangan Indah.


"Lepas! Kalian bisa tidak, jangan bersikap aneh-aneh di depan kepala sekolah kita!" lirih Indah.

__ADS_1


"Kenapa Ndah? Biasanya juga kamu cuek!" bisik Davit di telinga Indah.


Sekali lagi, Indah menatap wajah Angga yang terlihat mengerikan. Bersusah payah dia menelan saliva nya.


"Robi! Jangan jadi api! Kasihan Indah!" pekik Ria.


"Kamu juga Davit! Kalau mau pacaran, jangan di sini. Di rumahmu aja! Nanti malam indah kan menginap tuh di rumahku, kamu bisa bawa indah ke rumahmu!" ketus Lili.


"Sudah, tapi dia tidak mau! Dia tidak enak dengan orang tuaku." jawab Davit ringan.


"Jadi benar, kalian pacaran?" tanya Pak Hendrik.


"Bukankah pacaran itu hal wajar, Pak? Anak kecil aja udah banyak yang pacaran. Iya, kan, sayang!" ucap Davit semakin mengeratkan rangkulannya membuat Indah yang mendengarnya tersenyum kecut.


"Maafkan kelakuan mereka. Sedari dulu, mereka selalu membuat onar di sekolah. Bahkan mereka pernah saya skorsing, tapi hukuman itu tidak membuat mereka jera!" ujar Hendrik pada Angga dan Nana.


'Skorsing?" gumam Angga, "Termasuk dia?" tunjuk Angga ke arah Indah.


"Itu namanya Indah, Pak Angga. "Iya, mereka satu tim pembuat onar.


"Pak Hendrik! Kita masuk ke kelas dulu. Kita bisa kena marah Bu Dea!" timpal Indah melingkarkan tangannya ke pinggang Davit. "Ayo, Dav! Jangan sampai Bu Dea marah!" ujarnya lagi.


"Ayo sayang!" jawab Davit, "Ria kemarilah!" titah Davit membuat Ria memutar tubuhnya dan berjalan selangkah menuju Davit.


Dengan tangan lainnya yang kosong, Davit merangkul mesra pundak Ria, "Let's go baby!" titah Davit kemudian berjalan menuju kantin.


Robi dan Lili mengangguk malu ke kepala sekolah, lalu berjalan menyusul teman-temannya.


"Kita ke kantin kan?" bisik Lili merangkul mesra lengan Robi.


"Kita ikuti saja mereka!" jawab Robi tak kalah berbisik.


"Okeh sayang, hahaha!" kekeh Lili.


Pak Hendrik tersenyum kecut saat melihat kelakuan muridnya yang tidak sopan.


"Mari kita bahas masalah perkembangan sekolah ini di ruangan saya!" titah Pak Hendrik pada Angga dan sekertarisnya.


"Sebelum kita membahas masalah di sekolah ini. Aku mau, kau ... memanggil anak-anak itu ke ruanganmu!" ketus Angga.


"Tapi, Pak! Maaf mungkin kelakuan--"


"Turuti dan jangan bantah perintahku!"


"Baik, Pak Angga!" jawab Hendrik pasrah.

__ADS_1


__ADS_2