
"Aku tidak menganggap bapak suamiku! Kita orang asing. Dan kembalikan Hoodie ku ke tempat semula! Itu pakaian baru, ku, Pak! Aku beli dengan cara menabung beberapa bulan!" kesal Indah.
Angga menatap dirinya di pantulan cermin. Lalu berjalan keluar kamar menggunakan pakaian Indah.
Melihat suaminya pergi, Indah segera mengejarnya.
"Pak!" teriak Indah membuat Iis yang sedang menyiapkan makanannya terkejut.
"Pak, kembalikan punyaku!" geram Indah.
Angga berjalan menuju ibu mertuanya. "Nak Angga, kenapa Indah berteriak-teriak?" tanya Iis yang mendapat kedikan bahu dari menantunya.
"Tanyakan saja! Oh, iya. Kemungkinan besar, hari ini ... aku akan pergi dari rumah ini!"
"Pergi? Membawa Indah?" tanya Iis menyajikan sarapan paginya di meja makan. "Kit sarapan pagi, dulu, yuk!" titah Iis lagi.
"Ibu!" teriak Indah yang baru saja keluar dari kamarnya. Dengan langkah tegap dan lebarnya, Indah berjalan menuju ibu dan suaminya.
"Ada apa, sayang? Kecilkan nada suaramu. Tetangga bisa sakit telinga, jika mendengar suaramu yang nyaring itu!" titah Iis.
Indah menggerutu kesal. Dia menatap wajah suaminya yang tanpa dosa. "Apa ibu tahu, aku sudah bersusah payah mengumpulkan uang untuk beli Hoodie itu, tapi malah di ambil dia! Bagaimana, ini, Bu! Padahal, setelah kelulusan, aku dan teman-temanku akan berlibur di kota orang. Aku tidak mau, tampil malu!" kesal Indah sambil menghentakkan ke dua kakinya secara bergantian.
"Indah! Ibu tahu, kamu akan berlibur. Tapi, sekarang ... posisi mu sudah berubah. Apa suamimu tahu, kalau kamu akan berlibur, hem?" tanya Iis.
"Untuk apa dia tahu, Bu! Dan sekarang, dia sudah tahu. Ibu tolong bujuk dia, suruh lepas pakaianku." kesal Indah.
Angga menatap wajah ibu mertuanya. "Aku tidak bisa melepas pakaian dia yang melekat di tubuhku. Dan menurutku juga, ini pakaian yang paling layak. Karena, aku tidak mungkin bertelanjjang dada pergi ke kantor!" jawab Angga.
"Alasan, Bu! Dia itu pura-pura kaya! Kalau dia beneran kaya, dia pasti meminta anak buahnya mengirimkan pakaian. Tapi sekarang, dia tidak melakukan itu, kan? Bukankah orang kaya akan memiliki anak buah yang banyak, Bu?" sindir Indah.
__ADS_1
"Aku harus berangkat sekarang. Dan aku tidak ada waktu untuk meladeni semua ucapan anak ibu! Ibu ingat-ingat ucapanku yang tadi. Ibu dan Indah beberes. Kita akan pergi dari rumah ini. Aku sudah menyiapkan rumah yang lebih layak dan besar dari rumah ini!" titah Angga beranjak berdiri.
"Tapi nak Angga. Rumah ini kenang-kenangan dari Ayah Indah. Jadi, ibu tidak bisa meninggalkan rumah ini. Sebaiknya, kamu dan Indah saja yang pergi!" titah Iis membuat Indah menautkan ke dua alisnya tak percaya.
"Apa! Ibu memintaku, untuk tinggal berdua dengan pria ini? Aku tidak mau, Bu! Bagaimana, kalau dia melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Apalagi, kita belum saling kenal. Aku mau di sini, bersama ibu! Kalau pria ini mau pergi, silahkan pergi! Tapi jangan bawa aku!" tolak Indah.
"Baiklah. Sekarang, sekolahmu di mana?" tanya Angga membuat Indah kembali tak mengerti.
"Kenapa bawa-bawa sekolah juga! Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Indah penasaran.
"Beritahu aku! Aku akan menutup sekolah itu, sekarang juga! Jika kau tidak mau ikut bersamaku!" ancam Angga.
"Aku tidak takut! Dan silahkan kalau berani menutup sekolahku! Kau tidak mempunyai kekuasaan di sekolah ku! Jangan harap, aku percaya dengan setiap ucapanmu!" ketus Indah menyalami ibunya dan pergi.
"Indah, mau kemana, Hem? Kamu belum sarapan pagi, sayang! Ingat, penyakit asam lambungmu!" teriak Iis yang di abaikan putrinya.
Tak melihat putrinya kembali, Iis seketika menatap wajah menantunya. "Apa benar, nak Angga mau menutup sekolah yang--"
Melihat menantunya pergi, Iis panik. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi besan nya.
"Hallo, Bu Rina!" ucap Iis setelah panggilannya tersambung oleh besan nya.
"Iya, jeng Iis ya? Ada apa, jeng?" tanya Rina dari sebrang sana.
"Ibu ada waktu untuk bicara berdua dengan saya?" tanya Iis lagi.
"Maaf, jeng! Kami sedang perjalanan menuju luar negeri. Memangnya, ada hal apa? Apa ini menyangkut anak-anak kita?" tanya Rina.
"Iya betul, Bu. Sepertinya, Indah dan Angga tidak ada kecocokan. Apa kita salah menjodohkan mereka lewat tragedi itu?"
__ADS_1
"Tidak salah. Sifatnya yang bertolak belakang, akan membuat suasana keluarganya menjadi berwarna. Ingat, jeng. Indah sudah menjadi milik kita sedari kecil. Dan kita sudah sepakat menjodohkan mereka. Aku sengaja meminta mereka menikah cepat dengan insiden itu, karena aku tidak mau Indah jatuh cinta dengan teman sekolahnya!" titah Rina.
"Saya mengerti. Tapi, nak Angga akan menutup sekolah Indah. Jika Indah tidak mau ikut dengannya."
"Menutup sekolah? Asal jeng Iis tahu. Angga memang terkesan dingin, tapi ucapannya tidak main-main. Dia memperlihatkan kemarahannya dengan cara menghancurkan semua orang yang menentangnya! Bukan dengan cara memukul dan lain-lainnya!" ujar Rina membuat Iis ketakutan.
"Berarti, saya harus menuruti semua permintaan nak Angga?"
"Jika jeng Iis mau hidup tenang. Ikuti saja yang di minta Angga. Dia melakukan hal seperti itu, pasti ada alasannya. Dia tipe orang yang berpikir dulu sebelum bertindak!"
"Baiklah. Terimakasih, atas saran Bu Rina. Semoga perjalanan Bu Rina menyenangkan. Tapi sampai kapan kita pura-pura tidak mengenal?"
"Sampai Indah dan Angga saling jatuh cinta! Ya, sudah. Aku hampir sampai di bandara!" ujar Rina kemudian mengakhiri panggilannya.
Setelah panggilannya berakhir. Iis menghembuskan napas kasar. Dia menjatuhkan pantatnya di kursi meja makan.
"Aku mempertaruhkan masa depan putri kita demi kamu, Mas! Tapi kamu malah pergi secepat itu." lirih Iis menghapus air matanya yang mulai menetes.
Di dalam perjalanan. Indah mengendarai motor maticnya dengan kencang. Ekor matanya selalu menatap spion kaca motornya.
"Syukurlah, pria itu sudah pergi. Aku takut, pria itu mengikutiku!" lirih Indah sambil bersenandung Ria.
Di dalam mobil. Angga mengendarai mobilnya dengan santai sambil menelfon sekertaris pribadinya.
"Nana, siapkan pakaian kerjaku yang aku simpan di ruanganku. Bawa ke parkiran. Sebentar lagi, aku akan sampai!" titah Angga membuat Nana wanita cantik itu menganggukkan kepalanya lirih.
"Baik, Pak! Apa ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Nana.
"Banyak. Malam tadi, aku baru saja mendapatkan masalah. Dan kau harus urus masalahku. Setelah sampai di kantor. Aku akan memberitahukan tugasmu!" titah Angga kemudian mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
"Anak itu mulai bermain-main denganku. Dengan sedikit gertakan, aku yakin ... anak itu akan takut, dan patuh padaku. Aku menginginkan pernikahan sekali dalam seumur hidup dan aku akan mengesahkan semuanya, walaupun aku tidak menyukainya!" gumam Angga lirih.