Takdir Cinta Mr. Arrogant

Takdir Cinta Mr. Arrogant
Bab 21


__ADS_3

"Kalau aku tahu, aku tidak mungkin bertanya, Mas!" kesal Indah membuat Angga menghembuskan napasnya kasar.


"Rupanya kegiatanmu yang suka membolos, membuat otakmu itu tidak berfungsi dengan baik! Sekarang, kau lihat dari kaca mobil! Lihat pakaianmu! Pantas saja, teman-teman priamu menempel terus. Kau sama sekali tidak pandai dalam memilih pakaian!" ujar Angga membuat Indah membuka kaca mobil dan melihat pakaiannya di dari cermin kaca tersebut.


'Apanya yang aneh? Dan kenapa dia bilang, kalau teman-teman pria ku selalu menempel padaku? Aku tahu, aku tidak pandai dalam memilih pakaian. Tapi, tidak perlu di hina seperti ini! Hatiku terasa sakit!' batin Indah, "Turunkan saja aku! Aku tidak mau ikut denganmu!" ketus Indah.


Mendengar nada ketus dari istrinya, Angga menggelengkan kepalanya lirih. "Apa kau belum bisa mengartikan semua ucapanku, ha?"


"Cukup tahu saja! Aku memang bukan wanita yang pandai berpenampilan. Tidak seperti wanita dewasa di luar sana! Aku ini masih kecil! Teman-temanku saja, tidak mempermasalahkan pakaianku. Bahkan, teman-temanku banyak yang berpakaian seperti ini!" jawab Indah menyilangkan ke dua tangannya di daada.


"Lalu, kau bangga berpakaian seperti ini?" tanya Angga lagi.


"Aku bangga!" jawab Indah tegas.


Angga tersenyum tipis saat mendengar jawaban mantap dari istrinya. Dia melirik sekilas lalu menunjuk perut istrinya yang sedikit terbuka. "Kau bangga memperlihatkan perutmu di depan mata pria hidung belang?" sindir Angga membuat Indah mengerti arti ucapan dari suaminya.


"Bu-bukan seperti itu! A-aku sudah menyiapkan jaket! Jadi, aku bisa menutupi perutku dengan jaket ini!" jawab Indah.


"Lain kali, aku tidak suka melihatmu berpakaian seperti itu!"


"Kenapa? Banyak wanita dewasa yang berpakaian lebih parah dari ini? Dan mereka biasa-biasa aja! Malah terlihat lebih percaya diri!" tanya Indah.


"Itu mereka! Dan aku, tidak suka melihatmu berpakaian seperti itu. Sudah pernah aku katakan padamu, aku tidak suka sesuatu yang sudah menjadi milikku di lihat atau di sentuh pria lain!" ketus Angga melihat jam di pergelangan tangannya.


"Aku bukan milikmu. Kita hanya sepasang suami istri di atas kertas. Bahkan, kita tidak pernah melakukan hubungan dewasa. Jadi, jangan pernah menyimpulkan kalau aku milikmu. Memang, aku milikmu, tapi di atas kertas, Mas!" kesal Indah.


Mendengar ucapan yang keluar dari mulut istrinya. Entah mengapa, Angga merasa tertantang. Dia menghentikan mobilnya tepat di pinggir jalan.


"Ucapkan sekali lagi!" titah Angga menatap lurus ke depan.


"Aku bukan milikmu. Aku hanya milikmu di atas kertas, kita tidak pernah melakukan hubungan dewasa atau apalah itu! Jadi, jangan beranggapan, kalau aku ini milikmu!" ketus Indah mengulang ucapannya, tadi.

__ADS_1


Angga menganggukkan kepalanya. Perlahan ekor matanya menatap wanita yang sudah berstatus sebagai istri.


"Kau mau melihat kemarahanku! Aku bicara baik-baik dan kau ... malah menantangku! Memangnya, aku tidak bisa melakukan hubungan yang kau maksud! Aku bahkan bisa melakukannya di sini. Sedari semalam. Aku menghargaimu! Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, kalau aku tidak akan menyentuhmu sedikit pun! Tapi, rupanya kau malah menantangku. Okeh, aku akan melakukan semua itu! Semua yang baru saja keluar dari mulutmu di mobil ini!" ucap Angga dengan senyum iblisnya membuat Indah yang mendengarnya ketakutan.


"Ja-jangan gila! Aku tidak mau melakukan itu! Aku masih kecil!" pekik Indah.


"Kau milikku. Dan kau sudah menantangku. Jadi, rasakan ini!" ujar Angga mengendurkan dasi yang melilit di lehernya.


"Okeh, okeh! Aku minta maaf! Tapi jangan lakukan ini! Aku tidak mau, sungguh! Aku belum siap! Apalagi di dalam mobil! Aku takut ada yang melihat!" jawab Indah ketakutan.


"Oh, jadi kau mau di mana? Di hotel! Okeh, kita ke hotel sekarang juga! Kebetulan di dekat sini ada hotel!" jawab Angga menjalankan mesin mobilnya lagi.


'Aduh, bagaimana ini? Aku belum siap! Kata teman-temanku rasanya sakit! Aku harus kabur! Tapi bagaimana caraku kabur?' batin Indah.


"Ja-jangan lakukan ini. Aku cuma bercanda!" gumam Indah lirih.


Karena terlalu emosi. Angga terus menancapkan gas mobilnya ke hotel terdekat tanpa menghubungi sekertarisnya terlebih dahulu.


Setelah beberapa menit mobilnya membelah jalanan. Kini mobil yang di tumpangi Indah telah sampai di depan lobby hotel.


"Turun!" titah Angga melepas sabuk pengamannya.


'Aku tidak mau turun. Aku mau di mobil aja!' batin Indah.


"Turun, atau perlu aku gendong! Agar semua orang tahu, kalau--"


"A-aku turun!" jawab indah terbata. Dengan tangan gemetar, indah membuka sabuk pengaman dan pintu mobilnya.


Tiba-tiba pikirannya mendadak kosong saat melihat satpam hotel yang tengah tersenyum manis padanya.


"Ikut aku! Aku akan buktikan ucapanku!" ketus Angga menarik tangan istrinya masuk ke dalam hotel.

__ADS_1


"Lepasin aku, Mas! Aku tidak mau! Aku belum siap! Aku hanya bercanda. Lain kali, aku akan jaga mulutku! Aku janji, Mas! Katamu, kita sudah telat, kan! Jadi, kita tidak perlu ke hotel ini!" bisik Indah lirih.


Angga memesan kamar dengan salah satu tangannya terus menggenggam tangan Indah.


Setelah memesan kamar, Angga menarik paksa indah masuk ke dalam lift.


"Mas, aku minta maaf, ya! Tapi aku--"


"Diam! Atau perlu aku lakukan di sini, hah!" potong Angga membuat Indah bungkam seketika.


Ting ...


Pintu lift terbuka. 'Aduh, pria ini sangat serius dengan ucapannya. Aku harus bagaimana ini?' batin Indah menyeimbangkan langkah kaki dari suaminya.


Angga membuka pintu kamar hotel dan menarik Indah masuk ke dalamnya.


"Kau selalu merendahkan dan meremehkanku. Sekarang, akan ku buktikan semuanya di sini!" ketus Angga melempar tubuh Indah ke atas ranjang.


Perlahan Angga melepas dasi dan jas yang melekat di tubuhnya.


Indah merangkak sambil menggelengkan kepalanya. "Jangan, Mas! Jangan!" gumam Indah memohon. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik, tanpa melakukan ini, kan? Aku belum siap!" sambungnya lagi yang di abaikan oleh suaminya.


Setelah melepas jas dan dasi. Kini Angga mulai melepaskan sabuk yang melilit pinggangnya.


Sejujurnya, Angga juga tidak tahu, kenapa rasa itu datang. Apalagi saat melihat tubuh istrinya yang sangat sempurna.


"Mau kemana, ha! Nikmati saja tugasmu sebagai seorang istri!" ucap Angga dengan senyum iblisnya.


"Ja-jangan! Aku minta maaf! A-aku salah!" mohon Indah sambil melempar bantal saat melihat suaminya berjalan menujunya.


"Ini yang kau inginkan, bukan?" tanya Angga menarik tangan istrinya agar terjatuh ke atas ranjang.

__ADS_1


"Please! Ja-jangan! A-aku tahu, kamu orang baik!" rayu Indah setelah berada di bawah kendali suaminya.


"Aku bukan orang baik. Dan sekarang, aku minta hak ku! Aku tidak mau berpuasa lebih lama lagi!"


__ADS_2