Takdir Cinta Mr. Arrogant

Takdir Cinta Mr. Arrogant
Bab 22


__ADS_3

"Kamu orang baik. Orang yang sangat baik. Aku mohon ... kali ini, ampuni aku! Aku rela mendapatkan hukuman apapun. Asalkan jangan melakukan ini. Aku belum siap! Mas Angga kan sudah dewasa, dan aku masih kecil. Apa sebaiknya, kita tunda dulu sampai aku dewasa, bagaimana? Aku janji, aku akan mematuhi semua ucapan dan perintahmu! Aku janji itu! Tapi, jangan lakukan ini, ya! Aku juga tidak akan bolos sekolah lagi dan aku menerima hukuman yang mas Angga berikan. Aku janji! Please!" pinta Indah memohon.


Angga tersenyum sinis. Dia semakin mendekat wajahnya ke wajah istrinya yang sedang ketakutan. "Memangnya, aku perduli dengan ucapanmu! Mau kau anak kecil atau dewasa. Intinya, kau sama saja! Kau istriku dan sampai kapan pun, status itu tidak akan berubah sebelum aku puas bermain denganmu. Aku tahu, selama semalam ini, kau menganggapku sebagai pria boddoh yang mudah sekali kau bohongi. Jadi, untuk membalas semua perbuatanmu semalam dan membuktikan semua ucapanmu. Aku akan tetap melakukan ini! Aku tidak butuh izin darimu! Kau mengerti!" ketus Angga menghimpit kaki Indah yang tengah memberontak.


Indah berusaha memberontak. Dia menendang kaki suaminya yang sedang menghimpit kakinya.


"A-aku mohon! Besok aku ada wisuda. Aku tidak mungkin tidak hadir." mohon Indah.


"Kau akan hadir. Dan aku sendiri yang akan mengantarmu ke sekolah. Sekarang, kau cukup diam dan merasakan permainanku! Aku akan bermain dengan kasar sampai kau tahu caranya menghargai seorang suami!" ketus Angga yang mendapat gelengan kecil dari istrinya.


Indah berusaha menepis kasar kaki suaminya yang menghimpit kakinya. "Kamu mau apa dariku selain melakukan hal gila ini? Kamu mau aku menuruti semua perintah dan permintaanmu, kan? Aku akan turuti, tapi jangan seperti ini!"


"Diam! Aku tidak butuh apapun darimu!" ketus Angga mencengkram dagu istrinya.


Perlahan tapi pasti, Angga melum mat bibir mungil yang berwarna merah jambu milik istrinya.


Indah yang kehabisan akal pun pasrah. Kakinya yang terus memberontak perlahan menjadi diam. 'Kenapa? Kenapa harus sekarang! Aku menginginkan hal ini dengan pria yang aku cintai bukan dengannya? Pria tidak tahu diri!' batin Indah.


Tak merasakan kaki istrinya yang memberontak. Tangan Angga mulai berkeliaran menyentuh setiap lekuk tubuh istrinya.


"Jangan!" cegah Indah saat bibirnya itu terlepas dari serangan suaminya. "Mau apa kamu, Mas! Jangan lakukan ini! Aku mengakui kesalahanku. Seharusnya, kamu memberikan kesempatan ke dua untukku. Beri aku waktu untuk mempersiapkan diri. Aku masih kecil. Setidaknya, tunggu acara besok selesai. Dan bukankah kamu mau membawaku pergi?" cegah Indah sambil menggelengkan kepalanya.


Angga yang mendengar kata 'Pergi' dari istrinya pun langsung berdiri. Dia mengambil ponselnya yang berada di saku celana kain yang di pakainya.


Melihat suaminya yang pergi dari atas tubuhnya. Perasaan Indah seketika menjadi lega.

__ADS_1


"Akhirnya, aku bisa lepas dari serangan pria itu!" gumam Indah lirih. Di ambilnya selimut untuk menutupi tubuhnya.


Angga menatap sekilas wanita yang tengah berada di atas ranjang sambil menunggu panggilannya terhubung.


"Hallo, Nana. Kau urus semua meeting penting. Aku tidak bisa datang! Aku sedang bermain gila dengan istriku!" ucap Angga yang dapat di dengar oleh Indah.


'Apa pria itu tidak mempunyai urat malu? Sampai-sampai hal seperti ini, dia beritahukan pada wanita yang bernama Nana! Benar-benar keterlaluan!' batin Indah.


Setelah panggilannya berakhir. Angga meletakkan ponselnya di atas meja dekat dengan ranjang.


"Semuanya sudah beres. Sekarang, kita lanjutkan permainan yang sempat tertunda!" titah Angga membuat Indah menggelengkan kepalanya lagi.


"Jangan gila, Mas! Kamu ini mau pergi! Dan aku dengar, kamu ada meeting penting, kan? Sebaiknya, kamu pergi saja! Jangan membuang-buang kesempatan emas."


"Jangan, Mas! Kita tunda! Aku berjanji, jika kamu mau menundanya, aku akan menyerahkan semuanya padamu secara baik-baik!" tawar Indah dengan senyum manisnya. 'Semoga saja, dia mau menuruti semua tawaranku!' batin Indah.


"Tunda?" gumam Angga.


"Iya, kita tunda. Tunggu beberapa hari atau beberapa bulan lagi. Aku harus menyiapkan diriku dulu! Dan biarkan aku fokus mencari universitas untuk kuliahku nanti!" pinta Indah sambil memperlihatkan senyum manisnya.


"Siapa yang mengizinkanmu kuliah?" tanya Angga menatap lekat wajah istrinya dari dekat. 'Semakin cantik jika wajahnya ketakutan seperti ini!' batin Angga.


"Aku. Aku berhak menentukan masa depanku sendiri. Aku berhak mau kuliah atau tidak! Itu urusanku dengan ibu!" jawab Indah ringan.


"Aku sudah bilang ke ibumu. Setelah kamu lulus sekolah besok, kamu tidak di perbolehkan kuliah. Ke dua orang tuaku sangat menginginkan cucu. Dan aku mau ... kau di rumah mengurus semua keperluan selayaknya istri melayani suaminya!" ketus Angga yang mendapat tolakan secara mentah-mentah dari istrinya.

__ADS_1


"Kamu gila ya, Mas! Aku mau kuliah! Teman-temanku saja semuanya kuliah, masa aku berdiam diri mengurus kamu! Dan aku belum siap mempunyai anak, Mas! Melahirkan itu sakit! Bagaimana, kalau aku tidak bisa mengeluarkan anakku, nanti! Aku takut, Mas! Memangnya perut sekecil ini bisa menampung anak?"


"Aku tidak perduli!" jawab Angga mencengkram dagu istrinya lagi.


"Tu-tunggu dulu, Mas!" Jangan asal main dulu! Aku belum selesai bicara. Aku mau bernegosiasi denganmu!" kesal Indah menepis tangan suaminya dari dagunya.


"Aku tidak butuh negosiasi darimu!" ketus Angga.


"Mas, coba bayangkan. Kamu ini mempunyai perusahaan. Apa kamu mau, istrimu hanya tamatan sekolah biasa saja? Di mana-mana, suami harusnya mendukung niat baik istrinya. Aku mau kuliah, Mas! Aku masih takut hamil!"


"Diam! Jika kau banyak bicara. Aku pastikan, besok kau tidak bisa hadir ke acara paling penting bagimu!" ancam Angga membuat Indah terdiam seketika.


Melihat istrinya diam, Angga kembali menampilkan senyum sinisnya.


"Jangan sentuh aku, Mas!" ujar Indah saat melihat tangan suaminya yang nakal.


"Ingat tugas seorang istri!" titah Angga.


'Aku ingat tugas seorang istri. Tapi kita belum saling kenal! Tidak mungkin ... aku mau di sentuh oleh pria sepertimu. Cukup bibiirku saja yang ternoda.' batin Indah. "A-aku tahu, tapi aku malu!" jawab indah bohong.


Tak ingin mendengar ucapan atau ocehan dari istrinya. Angga mencoba menciuum bibiir istrinya lagi.


Indah seakan pasrah. Dia berusaha menerima perlakuan pria yang berstatus sebagai suaminya.


'Sudahlah. Tenagaku habis berdebat dengannya. Aku memang harus menerima takdirku ini! Takdir yang akan merubah kehidupanku di hari yang akan datang nanti!' batin Indah saat merasakan tangan besar suaminya masuk ke dalam pakaiannya.

__ADS_1


__ADS_2