
"Pak! Kenapa diam saja! Mau aku tusuk mata Bapak!" kesal Indah.
"Jaga ucapanmu! Memangnya, aku harus apa? Membantumu? Malas sekali, aku membantumu!" ketus Angga.
"Siapa yang suruh bantu aku, Pak! Aku minta, Bapak keluar dari kamarku! Belum ada sehari di sini, ada Bapak, hidupku sudah hancur! Keluar! Cepat keluar!" teriak Indah yang di abaikan Angga.
Merasa ucapannya di abaikan, Indah semakin kesal. Dia meremas jemarinya erat, "Kalau tidak keluar, aku teriak!" ancam Indah lagi.
"Silahkan. Aku tidak akan keluar. Aku mau mandi, dan jangan ganggu aku! Keluarlah!" titah Angga.
"Tidak bisa! Bapak keluar dulu!" ketus Indah.
"Minggir. Aku mau lewat, atau kau ingin mandi bersama denganku, ha? Maka dari itu, sedari tadi ... kau membantah terus!" tuduh Angga berjalan masuk menuju kama mandi.
Indah memicingkan matanya tak suka, "Siapa juga yang mau mandi dengan Bapak! Aku masih normal, dan tipe ku bukan seperti Bapak!" kesal Indah yang mau tak mau berjalan keluar kamar dengan keadaan poloos. 'Siaaal! Nasibku kenapa menjadi seperti ini. Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus pergi ke tempat Ria atau Lili. Bila perlu, aku bawa semua pakaianku. Tapi bagaimana dengan ibu? Kasihan ibu di sini. Kalau aku ajak ibu, sama saja aku membuat masalah baru. Dan pasti ibu tidak akan setuju dengan saranku. Ya, sudahlah. Kali ini, aku akan menginap semalam saja. Hitung-hitung refreshing mata!' batin Indah berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian sekolahnya. Setelah selesai memakai seragam sekolahnya, Indah mengambil pakaian santainya yang akan di gunakan untuk menginap di rumah temannya.
Krek!
Pintu kamar mandi terbuka, membuat Indah memasukkan bajunya dengan cepat ke dalam tas.
"Bersiap-siaplah!" titah Angga yang diabaikan Indah.
"Hei, telingamu rusak atau bagaimana, ha!" ketus Angga lagi saat tak mendengar jawaban dari istrinya.
Indah menghembuskan napasnya kasar. Dia berjalan beberapa langkah menuju suaminya. "Coba Bapak lihat! Lihat penampilanku! Menurut Bapak aku sedang apa? Aku sudah bersiap-siap tanpa di minta! Bukan telingaku yang rusak, tapi mata Bapak yang perlu di periksakan! Jelas-jelas Bapak lihat aku yang sudah rapi, kenapa--"
"Bersiap-siaplah. Kemasi semua barangmu dan ikut aku!" potong Angga membuat Indah menatapnya terkejut.
__ADS_1
"Apa! Pak, maaf ya! Maaf sekali! Ini kan pernikahan terpaksa. Jadi, kita tidak perlu pergi atau pun ... ya ... bermesraan dan lain-lain. Aku tidak ada waktu. Kalau Bapak mau tinggal di rumahku, ya, silahkan. Kalau Bapak mau pergi, juga aku sangat bersyukur. Tapi jangan bawa aku pergi. Kasihan ibuku sendirian di rumah. Bapak aja yang pergi ya! Bila perlu, jangan pernah menampakkan wajah Bapak di hadapan kita lagi. Santai, aku merahasiakan pernikahan ini . Dan kapan kita bercerai? Aku sudah tidak sabar menunggu moment-moment itu. Tapi, menurutku, ya, Pak! Lebih baik, sekarang saja kita bercerai. Karena setelah acara kelulusan nanti. Aku dan teman-temanku akan berlibur di kota orang! Okeh, pak! Sekarang aja, ya, kita bercerai!" rayu Indah mengatupkan ke dua tangannya di dada sambil menaik turunkan alisnya. "Cepat, pak!" titahnya lagi.
Angga menggelengkan kepalanya lirih, dia tidak habis pikir dengan pola pikir wanita di hadapannya.
"Menurutmu cerai itu mudah?" tanya Angga yang mendapat anggukan kecil dari Indah.
"Aku coba browsing, dan ternyata sangat mudah. Kita hanya nikah siri, Pak! Bapak tinggal mengucapkan kata cerai, dan semuanya beres!" jawab Indah dengan senyum manisnya.
"Bagaimana dengan statusmu yang janda di usia muda?"
"Ish, itu mudah, Pak! Kan tidak ada yang tahu tentang pernikahan kita. Apalagi kita belum melakukan hal yang di luar batas. Kita sama-sama di untungkan. Aku tahu, Bapak sudah punya kekasih kan? Atau jangan-jangan bapak ini sudah memiliki istri yang di sembunyikan?" tanya Indah.
"Kau pintar sekali gadis kecil! Aku memang mempunyai istri yang aku sembunyikan!" ucap Angga berjalan selangkah lebih dekat dengan istrinya. Di belainya pipi mulus dan putih itu. "Dan kau mau tahu, siapa istri yang telah aku sembunyikan seumur hidupku?" ujarnya lagi.
Indah menelan saliva nya susah saat tubuhnya berdekatan tanpa jarak dengan pria yang telah menjadi suaminya.
Mendengar jawaban dari Indah, Angga terkekeh. Dia mencodongkan wajahnya agar semakin dekat dengan istrinya.
Sekali lagi, Indah terpaku. Tubuhnya bergetar saat merasakan deru napas pria di hadapannya. "Ja-jangan mendekat!" ketus Indah segera memundurkan langkahnya.
Belum sempat Indah memundurkan langkahnya, tangan Angga sudah menekan dan mengeratkan tubuh indah agar tidak berjarak. "Biar aku bisikan, gadis kecil. Jika aku mempunyai istri yang selamanya terus aku rahasiakan, dan wanita yang aku maksud adalah kau!" bisik Angga tepat di telinga Indah.
Mata indah membulat sempurna. Seketika tubuhnya mundur beberapa langkah menjauhi suaminya. "Bapak gila! Aku minta cerai bukan di rahasiakan!" ketus Indah.
"Hahaha ... aku tidak akan menceraikanmu. Bila perlu, aku akan urus pernikahan kita agar Sah di mata agama dan negara!"
"Pak, sebenarnya apa yang Bapak banggakan dari aku! Aku ini masih kecil, ceraikan aku saja, ya!" rayu Indah.
__ADS_1
Angga menyadari bahwa dirinya masih mengenakan handuk yang di lilit di pinggangnya.
"Siapkan aku baju! Aku sudah telat!" titah Angga pada Indah.
"Siapkan baju?" gumam Indah.
"Cepatlah!" titah Angga.
"Hei, pak! Sebenarnya di sini yang pintar itu siapa? Aku atau Bapak! Di sini, tepatnya di lemari pakaianku, semuanya hanya ada baju perempuan. Bapak mau, pakai bajuku? Kalau mau, biar aku carikan dulu!" titah Indah membuat Angga kembali berpikir sejenak.
'Oh, iya. Aku lupa, kalau aku menginap di rumah bocah ini. Ah, Siaal! Aku harus pakai pakaian apa!' batin Angga menatap punggung istrinya.
Indah mencari pakaian dress nya. "Ini mau, Pak!" tanya Indah dengan senyum yang di tahan. "Kalau mau, dengan senang hati ... aku akan berikan untuk Bapak. Tapi, Bapak janji, Bapak harus memakai ini sampai kantor. Bukankah, tadi Bapak bilang ... kalau Bapak sudah telat ke kantor?" ucap Indah lagi.
Angga berjalan dan meminta istrinya untuk pergi dari hadapannya. Dia mencari pakaian istrinya yang kira-kira pantas di pakainya.
'Aku yakin, pasti ada pakaian untukku di sini.' batin Angga.
"Pak, mau cari apa? Aku sudah telat ke sekolah. Bapak--"
"Diamlah. Aku sedang cari pakaian!"
"Tapi--" ucapan Indah terhenti saat melihat suaminya mengeluarkan hoodie hitam baru nya. "Pak, Bapak mau apakan pakaianku! Kembalikan pakaianku. Itu, pakaian baruku. Aku sengaja membelinya untuk acara besok!" pekik Indah berusaha mengambil hoodie miliknya.
"Aku pinjam." titah Angga memakai Hoodie milik istrinya.
"Tidak boleh, Pak!"
__ADS_1
"Diamlah! Ingat, kita suami istri. Dan jangan membantah suamimu ini!" ketus Angga.