Takdir Cinta Mr. Arrogant

Takdir Cinta Mr. Arrogant
Bab 14


__ADS_3

'Atas perintah Pak Angga? Berarti, perintah suamiku sendiri dong?' batin Indah.


"Tapi, Pak--"


"Tidak ada tapi-tapian! Bapak tidak suka di bantah. Sekarang, kalian bisa pergi! Dan jangan lupa. Berikan yang terbaik. Bapak tidak mau, kalian mengecewakan Pak Angga dengan penampilan kalian yang buruk!" ujar Pak Hendrik mempersilahkan murid-muridnya keluar ruangan.


"Ayo, Ndah!" titah Davit.


"Hem!" jawab Indah lalu berjalan keluar ruangan di ikuti beberapa teman lainnya.


Setelah sampai di luar ruangan. Indah menendang tempat sampah yang berada tak jauh darinya.


"Ini gila, sih!" pekik Indah frustrasi.


"Iya, ini gila! Kenapa kita harus tampil! Padahal, kemarin aku di suruh mengisi acara saja, aku tolak karena malas!" keluh Ria.


"Iya, padahal cuma mengisi acara sebentar, sewaktu pengisi acara itu nge dance, tapi tetap saja tidak mau dan memilih kabur!" sindir Indah.


"Lalu bagaimana ini? Kita harus tampil apa? Sedangkan, kita tidak ada bakat untuk tampil!" keluh Lili.


"Sepertinya, aku harus pulang!" ujar Indah kemudian berjalan menuju parkiran sekolah.


"Tapi Ndah. Jam pelajaran belum selesai!" titah Robi.


"Aku mau menyiapkan buat besok!" ketus Indah sambil menggelung lengan seragamnya. 'Itu suami memang perlu bogemman keras dariku! Apa dia tidak berpikir, kalau semua ini sangat menyulitkan bagi teman-temanku!' batin Indah emosi.


"Indah!" teriak Davit.


"Jangan, bro! Biarkan saja Indah pergi! Kita tidak boleh menghalanginya! Sepertinya, dia sedang ada masalah! Kelihatan, sedari tadi wajahnya masam!" cegah Robi.


"Iya, lebih baik kita masuk ke dalam kelas dan pikirkan ... besok kita tampil menggunakan pakaian apa dan alat apa!" lirih Lili.


"Ke kantin aja!" timpal Ria, "Kalau di kelas, ketahuan Bu Dea. Kita bisa kena masalah baru! Apalagi Indah pulang lebih awal!" sambungnya lagi.


"Apa yang dikatakan Ria benar. Kita ke kantin aja! Demi kebaikan kita semua!" ucap Robi.


Sedangkan di satu sisi. Indah memakai helm nya. Dia menyalakan dan menarik gas motornya keluar sekolahan.

__ADS_1


'Aku harus bicarakan semua ini ke pria tua itu! Memangnya, aku tidak bisa marah! Dia benar-benar keterlaluan! Apa dia tidak tahu, aku dan teman-teman mempunyai misi tersendiri. Kalau pun, guru yang mengajar kita baik dan ramah, kita semua tidak mungkin bolos! Seharusnya, dia berpikir sedalam itu! Jangan asal memberi hukuman lalu menutup sekolahan ini! Memangnya, siapa dia! Aku tidak takut dengan pria modelan sepertinya. Sama-sama makan nasi!' umpat Indah dalam hati.


Setelah menempuh perjalanan dengan cara menyalip kendaraan beroda empat. Kini Indah telah sampai di kediaman rumahnya.


"Ibu!" pekik Indah melepaskan helm nya dan berjalan masuk ke dalam rumah. "Ibu!" pekiknya lagi.


"Indah! Jangan teriak-teriak, telinga ibu masih normal!" ujar Iis sambil menutup ke dua telinganya.


"Di mana pria tua itu, Bu!" tanya Indah dengan napas memburu. "Di mana, Bu!" ujarnya lagi.


"Pria tua siapa, Ndah?"


"Siapa lagi, kalau bukan orang yang tega menikahiku, Bu! Hari ini hidupku sangat kacau!" ketus Indah.


"Oh, suamimu. Dia sedang di kantornya. Memangnya kenapa? Jangan bilang, kamu kangen, ya?" goda Iis dengan senyum jahilnya.


"Siapa yang kangen, Bu! Aku ingin marah padanya!" kesal Indah.


"Memangnya, apa yang dia lakukan padamu, sampai-sampai kamu kesal padanya, Ndah?" tanya Iis lalu menuntun putrinya untuk duduk di sofa. "Duduklah!" titahnya lagi.


"Iya, Bu. Otakku memang harus di dinginkan!" jawab Indah melepas tas gendongnya. "Aku bisa stres, kalau punya suami semacamnya! Ya, Tuhan! Pokoknya, aku mau cerai! Aku tidak mau mempunyai suami semacamnya!" kesal Indah menghentakkan ke dua kakinya secara bergantian.


Melihat putrinya kesal, Iis menyodorkan segelas air dingin yang baru di ambilnya, "Ini, minum dulu. Lalu, ceritakan apa yang membuatmu kesal sampai marah-marah seperti ini!" titah Iis.


Indah menerima segelas air dingin dan meneguknya. "Bu, aku benar-benar marah! Dia menyebalkan, Bu! Dia menghukum aku dan teman-temanku, hanya karena aku membolos jam--" ucapan Indah terhenti saat melihat ekspresi wajah ibunya yang berubah.


"Kamu bilang apa, Ndah?" tanya Iis.


"A-aku bilang apa, ya, Bu?" Aku lupa, hehe!" jawab Indah beranjak berdiri.


"Mau kemana? Duduk!" titah Iis.


"Ibu, apa ibu tidak capek? Lebih baik, ibu istirahat di kamar! Lihatlah kantong mata ibu!"


"Duduk, Ndah!" pekik Iis membuat mau tak mau Indah duduk ke tempat semula. "Kamu bolos sekolah?" tanya Iis lagi.


"Ibu tidak perlu marah-marah, aku tidak bolos. Maksudku begini, aku--"

__ADS_1


"Jangan banyak berbohong! Hidungmu bisa panjang! Katakan sejujurnya! Kamu bolos!" titah Iis.


"Iy-iya, Bu. Tapi baru kali ini, aku bolos, Bu! Dan itu pun tidak jadi karena ketahuan Pak Hendrik! Menyebalkan bukan!"


"Tidak jadi? Lalu, kenapa kamu bisa di hukum? Jangan berbohong! Ibu tidak suka punya anak suka bohong!" ketus Iis.


"A-aku --"


"Tunggu dulu, ini masih jam sekolah! Kenapa kamu pulang! Berarti, kamu kabur, Ndah?" tanya Iis.


"Iya, Bu! Maafkan aku! Aku memang bolos! Tapi aku bolos karena kesal dengan pria itu!"


"Dia suamimu, Ndah! Kamu tidak boleh menyebutnya sebagai pria tua atau lainnya! Hargai dia!" ketus Iis.


"Aku tidak mau mengakui dia sebagai suamiku! Aku menikah dengannya karena terpaksa! Ibu tahu, arti terpaksa, kan? Siapa juga yang mau menikah dengan pria arrogant dan jahat, Bu! Intinya, aku tidak akan menganggapnya sebagai suamiku!" kesal Indah berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Indah! Ibu belum selesai bicara! Duduklah!" teriak Iis.


"Aku tidak mau bicara dengan ibu! Sekarang, ibu lebih membela pria itu dari pada aku yang berstatus anak kandung ibu!" pekik Indah menutup dan mengunci rapat pintu kamarnya.


"Indah! Ibu tidak membela siapapun. Ibu hanya ingin, kamu menghormati suamimu! Surgamu bukan lagi di ibu, tapi di suamimu!"


"Aku tidak perduli! Dia bukan suamiku!" ketus Indah.


Iis menghembuskan napasnya kasar, dia memijat pelipisnya pelan. 'Ya Tuhan, aku memang salah. Tapi, aku juga terpaksa menikahkan mereka!' batin Iis lalu melihat menantunya masuk ke dalam rumah.


"Apa dia sudah pulang?" tanya Angga yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Nak Angga! Cepat sekali nak Angga pulang kantor." jawab Iis.


"Kebetulan, semua meeting aku cancel! Dan apa dia sudah pulang? Aku mendapat laporan ... kalau dia tidak ada di kelas!" ujar Angga.


"Iya. Indah sudah pulang, baru saja dia masuk ke kamar. Nak Angga mau ibu buatkan kopi atau teh?" tawar Iis.


"Biarkan aku memerintahkan Indah saja. Ibu bukan istriku atau pembantuku! Sebaiknya, ibu istirahat!" titah Angga berjalan beberapa langkah.


"Nak Angga," bisik Iis menyodorkan kunci cadangan kamar putrinya, membuat Angga tersenyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2