
Daffa, kakak Rangga yang kini berusia 42 tahun, menjadi sosok terdepan mengelola bisnis Papanya, sejak Papanya meninggal. Sebagai anak tertua dari keluarga Arya Diningrat, ia mempunyai tugas berat. Selain meneruskan bisnis keluarga, ia juga harus menghadapi berbagai usaha dari lawan-lawan bisnisnya untuk menjatuhkan bisnis maupun nama baik keluarga Arya Diningrat. Terutama David, orang yang membenci keluarga besar Rangga. Itu semua karena ulah Rangga, yang telah melukai hati keluarga Rena.
David masih menyimpan dendam pada keluarga Rangga karena kematian Rena. David bersumpah tidak akan berhenti membalas dendam sampai keluarga Arya Diningrat hancur. Ia akan membuat keluarga itu tersiksa, kesulitan bahkan bangkrut atau yang semacamnyalah. Kematian terlalu enak untuk mereka menurut David. Ia ingin melihat keluarga itu hidup tapi kehidupan mereka hancur.
David, walau usianya sama dengan Daffa, tapi kepiawaiannya dalam berbisnis tidak dapat dianggap enteng. Menjadi anak yatim pada waktu masih kuliah, membuat ia menjadi kepala keluarga yang harus mengatur otak agar ia dapat terus kuliah dan membiayai keluarganya, yaitu Mamanya dan Rena.
Hidupnya yang keras telah menempanya menjadi seorang pebisnis hebat. Bersama Mamanya ia membangun bisnis restoran dan telah punya cabang di mana-mana.
Satu-satunya alasan ia gencar melebarkan sayap bisnisnya di mana-mana, karena ia ingin menyaingi bisnis keluarga Arya Diningrat yang telah lebih dulu eksis di dunia bisnis.
Bisnis David harus sebesar bisnis keluarga Arya Diningrat. Ia bahkan kerap menggunakan cara-cara licik untuk menjegal bisnis Daffa.
Ketika dulu David mendengar Rangga masuk Rumah Sakit Jiwa, cukup membuatnya terhibur sedikit. Ia agak mengendurkan usahanya untuk merecoki bisnis Daffa. Tapi setelah mendengar Rangga sembuh, David merasa tak senang. Ia menyuruh anak buahnya untuk memantau aktivitas Rangga dari jauh. Tapi setelah bertahun-tahun David melihat pergerakan Rangga yang hanya diam di tempat, mengasingkan diri dari dunia luar. David membiarkannya.
.
David merasa cukup puas melihat Rangga mengasingkan diri dari dunia luar. Bahkan bisnis Rangga yang sedang maju pesat, ditinggalkan Rangga. Bisnis itu akhirnya dikelola oleh adik ipar Rangga.
Lagipula kehadiran anak-anak dalam hidup David telah mengalihkan dunia David dari seorang yang dingin dan temperamental menjadi seorang ayah yang penuh kasih. Sejenak ia tak fokus untuk balas dendam.
Akan tetapi mendengar Rangga menikah lagi untuk membuka lembaran hidup baru, David kembali meradang. Ia tak rela melihat Rangga hidup bahagia. Laporan dari anak buahnya telah membangunkan kembali singa yang tertidur. Amarahnya bangkit kembali teringat peristiwa sepuluh tahun silam.
"Rangga .... kali ini tak akan kubiarkan kamu hidup bahagia bersama keluarga barumu! Tunggu kehancuranmu!" gumam David dengan tangan terkepal.
Sementara itu Daffa yang telah melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, telah tiba di bandara. Ia telah dijemput oleh supir pribadinya.
Dengan wajah lelah Daffa menelpon istrinya, Vania, mengabarkan kedatangannya. Sedang asyik Daffa menelpon, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul mobil truk yang melaju kencang. Supir Daffa kaget dan banting stir ke bahu jalan. Akibatnya mobil yang Daffa tumpangi menabrak apa saja yang ada di bahu jalan. Mobil pun jungkir balik. Beruntung, banyak orang yang menolong dua orang didalam mobil itu. Sedangkan truk itu sudah melaju kencang tak perduli kecelakaan itu.
Orang-orang mengeluarkan supir dan Daffa yang tak sadarkan diri. Tak lama kemudian mobil itu meledak. Mobil itu terbakar. Api dan asap hitam membumbung tinggi.
Di rumah Daffa tampak riuh dan panik. Setelah mendengar ledakan dan pembicaraan Vania dan Daffa terputus, sekitar setengah jam kemudian ada telepon ke rumah Daffa. Ternyata dari kepolisian.
"Selamat siang! Kami dari kepolisian. Apa benar ini keluarga Pak Daffa?"
"Be-benar, Pak!"
"Pak Daffa dan satu orang lagi dalam mobil itu kecelakaan di jalan XYZ. Mereka luka parah dan patah tulang. Saat ini sedang ditangani di UGD Rumah sakit H,"
"Terimakasih Pak Polisi informasinya. Kami akan segera ke sana," Vania sudah hampir jatuh karena lemas mendengar berita buruk itu. Untung badannya ditopang oleh Mbok Iyem, salah seorang ART nya.
Mbok Iyem memapah majikannya hingga duduk di sofa. Kemudian menyuruh Sri, ART lain untuk mengambil minum untuk majikannya.
Setelah Vania meminum air bening yang diberikan ARTnya hingga habis setengah gelas, dengan suara terbata-bata menahan tangis, menyuruh Sri untuk menelepon kedua orangtua Vania, dan mertuanya.
Kemudian Vania yang masih lemas diantar Mbok Iyem ke kamarnya untuk bersiap-siap ke rumah sakit.
*******
Berita Daffa kecelakaanpun sudah di dengar Rangga. Mamanya menyuruh Rangga dan Raisa berangkat ke Jakarta untuk memberi support pada Daffa dan keluarga kecilnya.
Sudah 1 bulan pernikahan Rangga dan Raisa. Nyonya Cindy merasa ini momen yang tepat untuk Rangga mengenalkan Raisa pada seluruh anggota keluarga Arya Diningrat. Maka dari itu Nyonya Cindy mewanti-wanti agar Rangga segera ke Jakarta sambil mengajak istrinya.
Kesempatan Itu digunakan Rangga untuk menghubungi seorang kenalannya dulu yang bekerja di laboratorium farmasi di Jakarta. Untung Rangga dulu rajin menyalin nomor-nomor kontak orang-orang tertentu dan beberapa temannya di buku Agendanya. Sebelum ke Jakarta, Rangga menelepon temannya itu untuk janji bertemu pada hari dan jam yang telah ditentukan. Setelah sepakat untuk bertemu, Ranggapun bersiap-siap berangkat ke Jakarta.
Di sebuah toilet SPBU di wilayah Jakarta mereka janjian untuk bertemu. Supir dan Raisa menunggu di mobil.
"Bro, aku minta bantuanmu. Ini penting banget buatku!" kata Rangga setelah mereka berjabat tangan dan berpelukan karena sekian lama tak berjumpa.
"Oke. Apa yang bisa kubantu?"
Rangga mengeluarkan beberapa pil dan kapsul yang terbungkus plastik dari dalam saku celana panjangnya.
__ADS_1
"Ini, aku minta kamu bawa obat ini ke lab. Aku ingin tahu obat apa ini? Apa kandungan obat ini, dan juga efek yang ditimbulkannya bila mengkonsumsi obat ini," bisik Rangga sambil memasukkan bungkusan kecil itu pada saku baju temannya. Rangga pikir, mereka sudah seperti sedang transaksi narkoba saja. Tapi memang ia tidak ingin orang lain tahu tentang hal ini. Karena kalau sampai bocor, rencananya bisa gagal.
"Berapa lama aku bisa mengetahui hasilnya?" tanya Rangga.
"Sekitar tiga hari," jawab temannya.
"Oke. Kalau sudah keluar hasil lab nya, aku segera mentransfer untuk hasil jerih payah kamu. Kirimkan ya nomor rekeningmu," kata Rangga.
"Oke, aku kirim," temannya sedang menekan-nekan tombol hpnya. Tak lama nomor rekening temannya muncul di hp Rangga.
"Terimakasih ya atas bantuanmu!" Rangga memeluk temannya sebelum berpisah.
"Jangan sungkan! Telpon atau chat aku kalau butuh bantuanku lagi," ujar temannya sambil berjabat tangan.
Merekapun keluar sendiri-sendiri. Seperti tidak saling kenal. Rangga segera masuk ke mobilnya.
"Sudah Tuan?" tanya supirnya.
"Sudah. Berangkat Pak," titah Rangga.
Pak Wira mengangguk, kemudian mobil pun melaju melanjutkan perjalanan yang tinggal setengah jam lagi sampai ke rumah.
*******
Wulan dan Varrel sedang berada di kantor polisi untuk mengetahui perkembangan tentang kejadian kecelakaan yang menimpa Daffa. Sebagai keluarga Daffa, mereka ingin agar supir truk yang sengaja akan menabrak mobil Daffa agar diusut oleh polisi. Karena supir truk itu lari begitu saja ketika mobil Daffa menabrak bahu jalan.
Mereka curiga ada pihak-pihak tertentu yang sengaja mencelakai Daffa. Tapi entah siapa dan motifnya apa. Mereka ingin agar polisi mengusut secepatnya kasus itu dan meringkus pelaku serta dalang dibalik terjadinya kecelakaan itu.
Di tempat lain, di di ruang ICU sebuah rumah sakit di Jakarta, Nyonya Cindy memandang Daffa yang keadaannya sangat memprihatinkan. Leher, kaki dan tangannya di gif. Luka di beberapa bagian tubuhnya juga terlihat memerah. Nyonya Cindy mengusap air matanya yang sudah menetes membasahi pipinya. Melihat keadaan anaknya seperti itu, sebagai seorang ibu rasanya tidak tega. Kalau bisa, biar dirinya saja yang mengalami luka-luka seperti itu.
"Mah," ada sebuah tangan yang menyentuh bahunya. Nyonya Cindy agak terkejut dan menoleh.
Melihat seraut wajah yang dikenalnya, sudut bibir Nyonya Cindy melengkung. Tapi sejenak kemudian Nyonya Cindy terisak menahan tangis.
"Mama senang kamu datang. Mana istrimu?" Nyonya Cindy melihat ke arah pintu ruang ICU.
*Ada di luar. Nanti bergantian sama Rangga masuk ke sininya," jawab Rangga.
"Kamu berangkat dari sana jam berapa?"
"Pagi-pagi, Ma. Sekitar jam 7. Tapi kami ke rumah Mama dulu, cuma menyimpan koper dan oleh-oleh, terus ke sini,"
Nyonya Cindy manggut-manggut.
"Rangga. Daffa tidak tahu kapan sembuhnya dengan melihat kondisinya yang seperti ini. Mama harap, kamu segera menggantikan Daffa untuk mengelola bisnis keluarga," ucap Nyonya Cindy sendu.
"Tenanglah, Ma. Kak Daffa akan cepat sembuh! Kak Daffa akan cepat pulih!" hibur Rangga.
"Tapi Rangga, selama Daffa proses penyembuhan, Mama minta, kamu yang mengambil alih. Sementara saja. Setelah itu, terserah kamu. Mau lanjut di perusahaan, syukur. Tidak pun tidak apa-apa. Mau kan Rangga?" tanya Mamanya penuh harap.
"Nanti Rangga pikirkan Ma! Sekarang Mama fokus pada kesembuhan Kak Daffa saja. Biar nanti Rangga dan Wulan cari solusinya yang terbaik," jawab Rangga sambil mengelus bahu Mamanya.
Kemudian hening. Nyonya Cindy dan Rangga menatap Daffa yang masih terbaring belum sadarkan diri. Netra Rangga memanas, sedikit lagi pertahanannya jebol. Rangga teringat masa-masa kecil dirinya dengan Daffa. Usianya hanya terpaut tiga tahun. Jadi mereka seperti dua orang sahabat yang selalu bersama kemanapun pergi. Mereka hanya terpisah sejenak di sekolah karena berbeda kelas. Setelah pulang sekolah, mereka kerap bermain bersama baik di rumah atau di lingkungan sekitar rumah.
Beruntung kedua orangtuanya bukan orang-orang yang tinggi hati dengan melarang mereka bergaul dengan penduduk sekitar rumah mereka. Kedua orangtua mereka orang yang ramah kepada siapa saja.
"Sebaiknya Mama keluar saja menemui menantu Mama. Supaya kita bisa mengobrol bersama di luar," ucapan Nyonya Cindy membuyarkan lamunan Rangga.
"Baik, Ma. Ayo," Rangga merangkul Mamanya. Mereka berjalan beriringan keluar dari ruang ICU.
Di luar tampak Raisa sedang duduk termenung. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
__ADS_1
"Raisa ....," panggil Nyonya Cindy.
Raisa mendongkak. Ia melihat mertuanya dan Rangga sedang berjalan ke arahnya. Raisa langsung berdiri dan menghampiri mertuanya.
Diciumnya punggung tangan mertuanya. Kemudian Raisa terlihat canggung ketika Nyonya Cindy memeluknya sambil cium pipi kanan-kiri.
"Kamu cantik sekali! Tak salah Rangga memilihmu!" puji Nyonya Cindy.
Raisa hanya tersenyum malu-malu mendapat pujian dari mertuanya. Mertuanya terlihat wanita berkelas, tapi pribadinya terlihat ramah dan humble.
"Kalian sudah makan belum?" tanya Nyonya Cindy.
Rangga dan Raisa menggeleng.
"Kami belum sempat makan," jawab Rangga.
"Ck ..., gimana sih kamu Rangga. Kasihan istrimu. Pa Wira mana? Ayo sekalian saja kita makan," kata Nyonya Cindy.
"Maaa .....! Rangga!" seorang wanita memanggil mereka sambil berjalan menghampiri mereka.
"Vania! Untung dia datang! Itu istrinya Daffa. Kakak ipar Rangga," kata Nyonya Cindy pada Raisa.
Vania mencium pipi kanan-kiri Nyonya Cindy. Kemudian berjabat tangan pada Rangga.
"Ini pasti pengantin baru ya, istrinya Rangga," kata Vania sambil mengajak cipika-cipiki pada Raisa. Raisa hanya tersenyum membalas ucapan kakak iparnya.
"Vania, ini mereka baru datang. Belum sempat makan katanya. Kebetulan kamu datang, kami pulang dulu ya. Besok pagi Mama ke sini gantiin jaga Daffa," kata Nyonya Cindy
"Besok Rangga nginap di sini deh Kak, biar Kak Vania bisa di rumah aja jagain anak-anak," kata Rangga.
"Oke. Ayo sana pulang! Kasihan belum makan," kata Vania.
"Kami pergi dulu, Kak," kata Raisa dan Rangga hampir berbarengan.
"Mama pulang dulu ya Vania,"
"Ya, Mama, adik-adikku!" jawab Vania.
******
"Mas, kenapa Mas gak pindah kamar aja sih?" kata Raisa ketika masuk ke kamar di rumah Nyonya Cindy setelah mereka makan di restoran.
"Kamu mau ketahuan Mamaku, kalau kita selalu pisah kamar?" ucap Rangga ketus.
"Ya sudah! Asal jangan macam-macam!" ucap Raisa.
"Eh, Mas mau apa?!" Raisa panik ketika Rangga membuka bajunya.
"Ya mau mandilah. Badanku rasanya gerah banget! Kalau mandi kayaknya segar!" jawab Rangga.
Ranggapun langsung masuk ke kamar mandi. Terdengar bunyi aktivitas mandi yang dilakukan Rangga.
Sepuluh menit kemudian ia keluar dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya. Dengan cuek, ia akan membuka handuknya ketika akan memakai c*lana d*lam.
"Tunggu, Mas! Aku mau masuk ke kamar mandi! Jangan buka-bukaan dulu!" teriak Raisa menghentikan Rangga.
Rangga berdecih. Ia menunggu Raisa mengambil handuk. Setelah Raisa masuk ke kamar mandi, Rangga segera memakai c*lana d*lamnya yang tadi sempat tertunda akibat teriakan Raisa. Juga memakai pakaian rumah. Setelah selesai berpakaian, Rangga duduk di ranjang. Ia memainkan hpnya untuk mengisi waktu.
"Waduh, aku lupa! Kenapa tadi tidak sekalian bawa pakaian ke kamar mandi sih? Gimana ini?! Mana aku hanya pakai handuk! Gak bawa jubah mandi," Raisa panik di kamar mandi setelah selesai mandi.
"Mas! Mas....! Bisa minta tolong sebentar?" Raisa membuka pintu kamar mandi sedikit. Kepalanya saja yang terlihat muncul.
__ADS_1
Raisa mau apa ya? Mau nyuruh Rangga? Rangga bakalan mau gaknya disuruh Raisa? Tunggu bab selanjutnya! Jangan lupa berikan ulasan, like, vote, dan komentar ya. Biar Othor semangat. Eh, sebentar lagi Ramadhan! Selamat menjalankan ibadah puasa ya bagi yang umat Muslim.