
"Kau tahu kalau hamparan kebun teh ini milik keluargaku?" ucap Rangga. Nadanya terkesan memberitahu saja. Tanpa ada kesombongan.
"Seluas ini? Sejauh mata memandang?" tanya Raisa takjub.
"Ya! Dan Om Adam yang mengelola pabrik teh dan turunannya," jawab Rangga.
"Pabrik teh dan turunannya?" Raisa tak mengerti.
Rangga menghela nafas. Ia lupa. Ia bukan sedang berbicara dengan Rena yang cerdas dan berpendidikan tinggi. Ia sedang berbicara dengan Raisa. Wanita desa yang masih berusia 20 tahun dan belum berpengalaman apa-apa.
"Maksudnya, segala produk olahan teh. Mulai dari minuman, baik berbentuk serbuk maupun minuman ringan botol kemasan, sampai kue kering yang mengandung teh hijau," jelas Rangga. Raisa hanya mengangguk-angguk.
Setelah cukup puas menikmati pemandangan hamparan kebun teh, mereka segera beranjak pergi ke tujuan utama mereka, yaitu kebun sayuran organik.
Disana Raisa membantu Rangga memindahkan bibit persemaian yang sudah tumbuh agak tinggi ke polibag. Ada tanaman bayam, sawi, kangkung, dan sayuran lainnya.
Setelah beristirahat sejenak, Rangga mengajak Raisa untuk pulang. Karena hari itu jam 10 mereka akan berbelanja ke Supermarket.
Ketika tiba di rumah, mereka merasa perlu menyegarkan tubuh mereka yang terasa lengket oleh keringat dengan mandi lagi di kamar mandi yang berada di kamar masing-masing.
Setelah siap, mereka pun ke garasi. Disana sudah ada Pak Wira, supir Rangga yang sedang memanaskan mobil. Ketika Rangga menghampiri mobilnya. Pak Wira segera membukakan pintu mobil di belakang Supir. Pak Wira juga membukakan pintu mobil untuk Raisa. Pak Wira mengangguk sopan.
Selama dalam perjalanan tidak ada pembicaraan diantara mereka. Rangga tampak asyik memandang pemandangan di luar. Riasapun yang melihat Rangga memandang keluar jendela, ikut memandang pemandangan diluar jendela yang berada di dekatnya.
"Kita mau ke Supermarket mana Tuan, Supermarket A atau B?" tanya Pak Wira
"Supermarket B saja. Dengar-dengar di sana lebih lengkap," jawab Rangga.
"Baik, Tuan,"
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, mobil pun sampai di halaman parkir Supermarket B. Pak Wira segera membukakan pintu untuk Rangga dan Raisa.
Raisa mengira Rangga akan menggandeng tangannya. Ternyata Rangga berjalan duluan. Akhirnya Raisa mengikutinya di belakang.
"Ingat! Kamu jangan norak ya! Jangan bikin malu saya," kata Rangga.
Raisa hanya mengangguk walau di dalam hatinya merasa dongkol. Karena Rangga bersikap dingin lagi.
Ketika memasuki supermarket itu banyak para wanita memandang ke arah Rangga. Mereka berbisik-bisik sambil cekikikan. Raisa jadi merasa minder. Mungkinkah mereka membicarakan dirinya? Ataukah sedang mengagumi Rangga?
Ketika memasuki sebuah toko pakaian, Rangga dengan cekatan memilih-milih pakaian wanita. Raisa juga melihat-lihat pakaian wanita yang ada di toko itu. Tapi begitu melihat harganya, matanya terbelalak. Ia merasa harga-harga di toko itu terlalu mahal.
"Pakaian ini sepertinya cocok untukmu!" kata Rangga sambil menyodorkan pakaian yang masih berada dalam hanger.
"Ini terlalu mahal, Mas!" kata Raisa ketika melihat harganya.
"Tidak mahal! Ini menurutku cukup murah. Rena bahkan selalu membeli pakaian ke butik yang harganya jutaan. Ini tidak seberapa," ucap Rangga.
Raisa akhirnya hanya bisa menuruti keinginan Rangga. Rangga membelikannya 10 potong pakaian. Semuanya Rangga yang memilih. Raisa tidak diberi kesempatan untuk memilih ataupun diminta pendapatnya. Raisa mau tak mau harus suka pakaian yang telah dipilih Rangga.
Pun ketika mereka memasuki toko tas dan sepatu. Rangga hanya menyuruh mencoba sepatu saja tanpa meminta pendapat Raisa apakah menyukainya atau tidak.
"Mas, saya tidak suka sepatu high heels. Saya suka sepatu yang tanpa heels," kata Raisa.
"Kau harus mencobanya. Rena sangat menyukai sepatu dan selop high heels. Jadi terlihat seksi. Saya suka," kontan saja ucapan Rangga membuat Raisa kesal.
'Rena lagi! Rena lagi! Semua ini kan buatku! Bukan buat Rena! Seleraku berbeda dengan Rena!' sungut Raisa dalam hati.
Raisa mengambil sebuah sepatu kets dan sendal tanpa heels. Ini baru seleranya! Casual. Sangat nyaman dipakai berbagai suasana.
Ketika berada di kasir, Rangga menatap sepatu dan sandal yang di pegang Raisa.
"Aku mau ini untuk sehari-hari. Masa iya untuk jalan-jalan ke kebun aku pakai high heels. Bisa-bisa kakiku amblas ke tanah," seloroh Raisa.
Si mbak Kasir tampak menahan tawa mendengar lelucon Raisa. Rangga menoleh dan menatap tajam pada Kasir itu. Sehingga Mbak Kasir langsung diam dan berusaha untuk tidak tertawa, karena merasa tidak enak mendapat tatapan tidak bersahabat dari Rangga.
Rangga,.Rangga ......, sepertinya Rangga lupa Kalau istrinya yang sekarang tinggal di daerah perkebunan teh. Sedangkan ia dulu dan Rena tinggal di kota.Tentu saja Rena tak pernah ke kebun. Rena bekerja di kantor ternama di bagian divisi keuangan. Sedangkan Raisa, mana pernah ia bepergian. Dulu waktu tinggal dengan ibu tirinya, ia sama sekali tidak pernah kemanapun selain mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus kebun.
Setelah membayar belanjaannya, Rangga menarik tangan Raisa untuk pergi dari sana. Langkahnya panjang-panjang, sehingga membuat Raisa terseok-seok mengikuti jalannya Rangga.
"Mas! Mas! Lepas!" Raisa menghempaskan pegangan tangan Rangga ketika sudah berada di halaman parkir.
"Aku ini manusia! Bukan barang yang dibawa seenaknya!" kata Raisa marah.
"Kamu sudah membuat malu aku! Kamu suka sekali membantah!" ucap Rangga.
__ADS_1
"Bukan bermaksud membantah ya! Mas tidak meminta pendapatku. Aku suka atau tidak. Lagipula aku tidak kemana-mana. Setiap hari aku kalau tidak ke kebun ya di rumah. Aku bukan pekerja kantoran!"
"Tapi aku suka melihatnya bila kamu memakainya. Pakai ya. Setidaknya hanya untuk dilihat olehku di rumah," kata Rangga dengan suara pelan seperti memohon.
'Dia kambuh gak sih gilanya? Aneh-aneh saja permintaannya!' kata Raisa dalam hati.
"Katanya kita berteman. Tapi kenapa memaksakan kehendak?" Raisa menatap Rangga dengan berani.
Rangga seperti tertegun. Tiba-tiba Ia memegang kepalanya seperti menahan sakit.
"Tuan, Tuan kenapa?" Pak Wira menghampiri Rangga. Paper bag ditangan Rangga langsung diambil alih Pak Wira.
"Bawa aku ke mobil Pak," Rangga kemudian dipapah oleh Pak Wira untuk masuk ke mobil. Raisa mengikutinya dengan heran.
Setelah dibantu duduk, Rangga tampak terlihat letih. Wajah Rangga tampak pucat. Ia terlihat meringis kesakitan. Kepalanya disandarkan ke sandaran jok mobil. Matanya terpejam.
"Mas sakit?" tanya Raisa.
"Sttt ...., diamlah! Aku mau istirahat!" kata Rangga dengan mata terpejam.
Akhirnya Raisa tidak berani lagi bertanya. Mobil pun segera meninggalkan halaman parkir. Sepanjang perjalanan hening kembali. Rangga seperti tertidur. Terdengar dengkuran halus. Raisa hanya menoleh, kemudian melihat pemandangan lagi diluar jendela.
*******
Rangga masih tertidur ketika Pak Nanang, nama guru privat seni kriya datang. Ya hari itu jadwal Rangga untuk belajar seni kriya. Pak Nanang terpaksa menunggu Rangga bangun, karena tiada ada yang berani membangunkan Rangga.
Untuk menghilangkan kejenuhan menunggu, Raisa mengajak Pak Nanang berbincang-bincang. Tak lupa secangkir teh hangat dan dua toples camilan disuguhkan pada Pak Nanang sebagai teman mengobrol.
"Oh jadi ini istrinya Pak Rangga? Saya kayak pernah lihat di mana ya?" kata laki-laki tua itu. Hampir seluruh rambutnya berwarna putih. Kumis dan jambangnyapun berwarna putih.
"Bapak memang sering lihat saya, Pak. Saya kan awalnya kerja di sini, sebagai ART," kata Raisa.
"Oh iya, iya. Saya baru ingat. Maklum sudah tua," Pak Nanang manggut-manggut.
Merekapun berbincang cukup lama. Karena Rangga tak juga bangun setelah Pak Dani dan Raisa mengetuk-ngetuk pintu kamar Rangga, akhirnya Pak Nanang pamit pulang. Ia berjanji lusa akan datang lagi.
Menjelang Maghrib, Rangga baru bangun dari tidurnya. Dengan perasaan kesal ia marah-marah pada Raisa dan Pak Dani karena tak membangunkannya. Ia jadi melewatkan les privat seni kriyanya. Padahal Rangga ingin sekali secepatnya bisa membuat kriya keramik agar bisa sekalian dipamerkan dengan lukisannya.
"Aku sama Pak Dani udah berusaha bangunin Mas. Tapi kan pintunya dikunci dari dalam. Kami cuma bisa ketuk-ketuk pintu," Raisa mencoba menjelaskan.
"Ya sudah. Aku mau mandi dulu. Nanti setelah itu kita makan malam. Aku suka kamu pakai dress itu," ucapnya tanpa berkedip melihat Raisa.
Raisa merasa jengah ditatap begitu. Ia buru-buru pergi ke kamarnya untuk shalat Maghrib. Ia akan shalat sendiri saja. Ia takut melihat tatapan mata Rangga yang lain.
Setelah shalat, kemudian makan malam. Sepanjang makan malam berlangsung, Rangga selalu mencuri-curi pandang pada Raisa.
"Raisa. Setelah ini kamu ke kamarku ya. Aku tunggu," Rangga beranjak dari ruang makan.
"Waduh mau apa ya aku disuruh kamarnya," gumam Raisa cemas.
Raisa sudah berada di depan pintu kamar Rangga. Dengan ragu-ragu, Raisa mengetuk pintu kamar Rangga.
Cekleeek!
Pintu pun di buka dari dalam. Rangga tersenyum.
"Masuk," ajaknya.
Raisa perlahan masuk ke kamar Rangga. Ketika Rangga menutup pintu kamar kembali dan menguncinya, Raisa balik badan.
"Ke-kenapa pintunya dikunci?" tanya Raisa terbata dan terlihat cemas. Jantungnya berdetak cepat.
"Aku ingin tidak ada orang lain yang mengganggu," Rangga menghampiri Raisa dan merengkuh kedua bahu Raisa hingga badan mereka menempel. Bahkan wajah mereka sangat dekat. Raisa menunduk untuk menutupi rasa gugupnya.
"Sudah lama sekali ...., aku merindukanmu .....," lirih Rangga secara tiba-tiba akan menyambar bibir Raisa yang ranum.
Tentu saja Raisa kelabakan. Dengan pikiran yang kalut, Raisa mendorong tubuh Rangga.
"Kau menolakku?! Aku suamimu!" kata Rangga marah.
"Ma-maaf! Aku belum siap!" lirih Raisa.
"Kau milikku! Aku berhak atasmu!" dengan ganas Rangga menerkam Raisa. Rangga berusaha mencium Raisa. Raisa memberontak dan berusaha melepaskan diri.
Apalah daya, tenaga Rangga lebih besar dari tenaga Raisa. Raisa tidak berdaya ketika bibir Rangga ******* bibir Raisa. Raisa berteriak-teriak sambil berusaha memukul dada Rangga. Rangga menciumnya dengan brutal.
__ADS_1
Dan ketika Raisa hampir kehilangan oksigen, Rangga dengan kasar melepaskan Raisa.
"Apa yang kau lakukan?! Kau menciumku?! Dimana harga dirimu!" teriak Rangga.
Raisa terkejut. Nafasnya masih terengah-engah. Tapi perkataan Rangga membuatnya bingung.
"Kau yang menciumku! Bukan aku!" balas Raisa.
"Aku pikir kita berteman! Ternyata kau licik! Kau wanita penggoda! Kau bukan Rena! Kau berpura-pura menjadi Rena!"
Apa? Aku wanita penggoda?! Aku bukan Rena? Raisa benar-benar bingung. Bagaimana bisa, Rangga yang telah memaksa mencium, menuduh Raisa wanita penggoda! Juga menuduh Raisa berpura-pura menjadi Rena? Rangga memutarbalikkan fakta. Benar-benar diluar nalar!
Raisa menduga, Rangga bukan hanya masih belum sembuh, tapi mungkin saja Rangga berkepribadian ganda! Sikapnya berubah-ubah. Dan itu membingungkan Raisa.
"Mas yang menyuruhku ke kamar ini! Mas yang berusaha memaksa menciumku! Tapi Mas menuduhku wanita penggoda. Mas masih waras?!"
"Apa kau bilang?!"
"Apa Mas benar-benar sudah sembuh?!"
Plak!
Rangga menampar pipi Raisa. Raisa memekik kesakitan.
Rangga terkesiap. Ia mundur sambil melihat kedua telapak tangannya.
"Apa yang telah kulakukan?!" katanya panik.
Raisa menangis sambil memegang pipinya. Rangga terlihat bersalah.
"Ma-af!!" ucap Rangga sendu.
Raisa segera berlari keluar kamar dan langsung masuk ke kamarnya. Segera dikuncinya pintu kamarnya.
"Raisa! Maafkan aku!"
Rangga mengetuk-ngetuk pintu kamar Raisa. Keributan itu rupanya terdengar oleh Pak Dani. Pak Dani naik ke lantai dua. Ia segera menghampiri Rangga.
"Ada apa Tuan?"
Rangga menoleh. Rangga segera mengajak Pak Dani. Menjauh dari kamar Raisa. Mereka turun ke lantai satu. Rangga menatap Pak Dani tajam.
"Katakan padaku? Apa yang telah kau berikan pada makananku atau minumanku?!"
Pak Dani terkesiap mendengar pertanyaan itu.
"Siapa yang telah menyuruhmu?!" Rangga bertanya lagi dengan nada tinggi.
"Itu hanya obat, Tuan! Itu dari dokter. Supaya Tuan tidak kambuh lagi," jawab Pak Dani menunduk.
"Apa?! Aku sudah sembuh! Kau juga tahu itu kan Pak Dani?!"
"Kemarin-kemarin, kau memintaku untuk minum obat! Kamu tahu, Mamaku saja sampai curiga, sejak aku minum obat yang harus selalu kuminum itu, aku sering mimpi buruk. Jadi aku tidak mau meminumnya lagi," Rangga terpaksa membocorkan rahasianya bersama Mamanya.
"Ya, Tuan. Saya tahu, makanya Tuan Adam menyuruhku membubuhkan obat berupa serbuk pada makanan Tuan," kata Pak Dani jujur.
"Oh jadi dia ya yang menyuruhmu? Memangnya Pak Dani bekerja untuk siapa? Keluarga Mamaku atau Om Adam?!"
"Tentu saja untuk keluarga Bu Cindy, Tuan,"
"Nah! Jadi mengapa kamu menuruti perintah Om Adam?" Rangga maju lebih dekat lagi pada Pak Dani.
"Ingat! Kalau sampai Pak Dani berkhianat, Pak Dani akan tahu akibatnya!" ucap Rangga mengintimidasi.
"Ba-baik, Tuan! Saya janji tidak akan berkhianat pada Tuan dan Mama Tuan," Pak Dani ketakutan.
"Bagus! Sekarang kembalilah ke paviliun!"
Pak Dani mengangguk patuh. Kemudian ia segera meninggalkan Rangga sendiri di lantai satu.
"Hmm...., aku harus melakukan sesuatu," gumam Rangga.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Apa ya yang Rangga rencanakan? Tinggalkan jejakmu ya Readersku!
__ADS_1