TAKDIR CINTA RANGGA

TAKDIR CINTA RANGGA
BAB 19. BERLANJUT DI APARTEMEN


__ADS_3

Warning : Bacanya malam aja ya


Setelah menyimpan mobilnya di basemen parkir apartemen, Rangga dan Raisa masuk ke lift. Rangga tak melepaskan genggaman tangannya pada Raisa. Setelah keluar dari pintu lift, Rangga dengan tiba-tiba membopong tubuh Raisa ala bridal style.


Raisa yang memekik kaget langsung mengalungkan tangannya pada leher Rangga karena takut jatuh.


"Mas ...., malu. Turunkan aku!" ucap Raisa pelan.


"Kenapa harus malu? Kita ini suami istri kok," jawab Rangga enteng sambil terus melangkah. Tak dipedulikannya beberapa orang yang berpapasan dengannya di lorong apartemen menatapnya dengan heran.


"Permisi ...., saya sedang memanjakan istri saya. Maaf ya," kata Rangga ketika ada dua orang yang menatapnya sambil berbisik-bisik. Kedua orang itu segera mempercepat langkahnya karena sudah berpikiran macam-macam.


Karena Rangga menggendong Raisa, Raisapun membantu Rangga menekan pin pintu apartemennya. Setelah pintu terbuka, mereka masuk dan menutup pintu kembali. Rangga langsung membawa Raisa ke kamar Rangga.


Rangga membaringkan Raisa ke ranjang. Ketika wajah Rangga menunduk akan menc*um Raisa, Raisa menahan bibir Rangga.


"Mas ...., mandilah dulu. Supaya segar," kata Raisa.


Rangga terdiam sejenak. Tapi seulas senyum tersungging di bibirnya. Dengan tanpa disangka-sangka, Rangga mengangkat Raisa kembali, membawa Raisa ke kamar mandi.


"Mas ...," Raisa protes. Tapi tak digubris Rangga.


Didudukkannya Riasa di closet duduk. Lalu Rangga membukakan pakaian Raisa. Raisa terus saja protes, tapi tangan Rangga tidak berhenti membukakan pakaian Raisa. Hingga yang tersisa tinggal kain s*gitiga dan penutup g*nung k*mbar Raisa.


Ranggapun membuka pakaian yang tersisa pada tubuhnya yaitu kain s*gitiganya. Ranggapun mengajak Raisa berdiri dan mendekat di bawah shower.


Shower pun dinyalakan. Air memancar dari shower itu. Rangga menekan punggung Raisa hingga menempel ke tembok. Dengan menggebu, Rangga menc*mb*i Raisa. Disingkirkannya kain yang tersisa itu dari tubuh Raisa, hingga tubuh Raisa benar-benar p*los.


Merekapun melakukan aktivitas panas sebagai suami istri itu di kamar mandi, dibawah guyuran shower. Ketika melihat Raisa yang mulai kedinginan, Ranggapun mempercepat tempo s*d*kannya. mengakhiri s*rangannya dengan l*ng*han tertahan yang diikuti Raisa.


Tubuh mereka bergetar hebat. Merasakan sensasi n*km*t yang baru dirasakan mereka kembali setelah sekian lama hubungan mereka baru membaik.


Dengan cepat, merekapun membersihkan diri, kemudian keluar dari kamar mandi dengan Raisa menggunakan bathrobe dan Rangga hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Raisa duduk di ranjang. Rambutnya yang basah dikeringkan menggunakan handuk dengan bantuan Rangga.


"Kamu kedinginan. Sebentar, aku buatkan coklat panas dulu biar kamu merasa hangat," kata Rangga. Ranggapun beranjak dapur untuk membuatkan minuman coklat panas.


Raisa tak bisa menolak. Iapun melanjutkan mengeringkan rambutnya dengan menggesek-gesekkan handuk di kepalanya.


Minumanpun datang. Rangga memberikan satu cangkir pada Raisa. Satu cangkir lagi untuk dirinya. Satu jam di kamar mandi, cukup membuat mereka kedinginan.


Mereka menyesap coklat hangat dengan perlahan. Mereka meminumnya sedikit demi sedikit, hingga habis. Dan ketika Rais baru saja meletakkan cangkir kosong di nakas, Rangga sudah memeluknya lagi dari belakang.


"Kita lanjutkan lagi sayang,"


"Apa?!" Raisapun akhirnya pasrah menuruti kemauan suaminya.


Melihat Rangga yang menggebu, Raisapun berinisiatif melakukan sesuatu. Didorongnya tubuh p*l*s Rangga hingga terlentang.


Diraihnya ujung p*dang p*njang Rangga berada digenggamannya. Dengan tanpa disangka-sangka, Raisa memasukkan p*dang p*njang itu pada mulutnya. Dijilat dan k*l*mnya seperti menikmati permen lollipop.


"Raisa ..., kamu ngapain? Tahu darimana kamu?!" tanya Rangga sambil meng*rang. Rangga terkejut melihat Raisa bisa seperti itu.


Di dalam benak Raisa, Raisa teringat percakapannya dengan Titin waktu di villa dulu.


Flashback


"Nyonya tahu kenapa Om Adam tidak bisa berpaling dariku?" tanya Titin. Raisa menggeleng.


"Itu karena servisku memuaskannya!" kata Titin bangga.


"Ceu Titin belum menikah tapi kayak yang berpengalaman banget!" gerutu Raisa. Titin tertawa mendengarnya.


"Nih ya saya kasih tahu. Laki-laki itu, paling suka di ...," Titin membisikkan sesuatu di telinga Raisa.

__ADS_1


"Apa?! Serius?!" pekik Raisa kaget mendengar bisikan dari Titin.


"Iya! Percaya deh Nyonya sama saya! Bakal klepek-klepek tuh Tuan Rangga kecanduan sama Nyonya!"


"Caranya begini, bla bla bla," Titin pun membocorkan rahasianya yang selama ini dilakukannya pada Om Adam dengan berbisik lagi pada Raisa.


Raisa tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya.


"Enggak! Enggak! Ceu Titin parah! Ngajarin gak benar ah!"


"Ih, Nyonya harus dengarkan apa kata saya! Supaya suami Nyonya enggak tergiur sama pelakor-pelakor diluaran sana! Nakal dikit gak apa-apa sama suami sendiri," kata Titin cemberut melihat reaksi Raisa.


"Itu yang Om Adam bilang s*pong, s*pong itu ya?" Raisa menebak.


"Jadi? Nyonya nguping?" wajah Titin merona karena ternyata Raisa mendengarnya.


Flashback Off


"Raisa ...," panggilan dari Rangga membuyarkan pikirannya.


"Enak, sayang! Kamu tahu dari mana?" sekali lagi Rangga bertanya karena penasaran.


"Ada deh. Dari seorang teman," jawab Raisa di sela-sela aktivitasnya.


"Jangan bilang dari Titin! Dia itu nakal! Tapi dia itu ART yang loyal padaku. Gak suka macam-macam padaku. Dia juga sangat hormat padaku," kata Rangga. Rangga sampai m*r*m m*lek menahan rasa g*li-g*li n*kmat akan aksi Raisa yang masih bersemangat di bawah sana.


Sebelum sesuatu tumpah, Rangga mengganti posisi mereka. Kini Raisa yang berbaring dan Rangga yang di bawah sana.


Raisa sampai m*m*kik dan mend*sah-d*sah karena perlakuan Rangga. Raisa seperti berada di awang-awang yang tinggi dan berada di kisaran yang akan membawanya pada titik tertinggi di langit.


Dan benar saja! Ada yang tumpah dari tubuhnya! Dengan bergetar, Raisa terdiam dan menikmati sensasi yang baru saja dialaminya.


Tapi tak berapa lama, Rangga telah mengh*jamnya kembali dengan p*dang p*njangnya yang kuat dan kokoh. Mereka bermandikan peluh. Padahal mereka baru saja mandi. Tapi aktivitas panas mereka cukup menguras energi.


"Oh, Mas ...," Raisa tak mampu berkata-kata lagi.


"Ini pesanan makanan atas nama Pak Rangga," kata orang yang mengirim makanan itu. Rupanya Rangga telah memesan makanan via Gr*b.


"Oh iya, betul. Itu saya. Sebentar," Ranggapun ke dalam untuk mengambil uang. Setelah membayar pesanannya dan orang itu pergi, Rangga masuk ke kamar.


"Kamu mandilah dulu. Nanti gantian. Setelah shalat maghrib kita makan," kata Rangga.


Raisa membungkus tubuhnya dengan selimut menuju ke kamar mandi. Badannya serasa remuk mengimbangi permainan Rangga di ranjang. Entah mengapa suaminya itu tenaganya kuat sekali. Ia tak terlihat kelelahan, malah yang ada ia terlihat segar.


Ketika Raisa keluar dari kamar mandi, Rangga segera masuk ke kamar mandi. Setelah keduanya menunaikan shalat maghrib, barulah mereka beranjak ke meja makan.


Makanan itu yang sudah ditata oleh Rangga. Raisa hanya tinggal memakannya. Minuman pun sudah tersaji di meja makan itu.


Mereka menikmati makan malam dengan hening. Hanya suara dentingan sendok dan piring yang terdengar.


Setelah selesai makan, Raisa berniat ke kamarnya. Tapi tangan kokoh Rangga menyentuh bahunya


"Mulai malam ini, tidurlah di kamar utama bersamaku. Itu kamar kita. Kamu boleh merubah dekorasinya nanti kalau merasa tak suka," kata Rangga.


"Baiklah. Tak masalah dengan dekorasinya. Yang penting orang di dalamnya yang sudah move on," jawab Raisa. Rangga mencubit pipi Raisa dengan gemas.


"Sudah berani ya kamu!" mereka berdua tersenyum.


Rangga menggenggam tangan Raisa memasuki kamar mereka. Rangga menyalakan televisi. Raisapun duduk di ranjang sambil melihat televisi.


"Kamu bisa beristirahat sambil menonton televisi," ucap Rangga, "Aku mau mengecek email dan menyelesaikan pekerjaan kantor. Kalau kau mengantuk, tidur duluan saja,"


Raisa mengangguk. Ranggapun pergi ke meja kerjanya yang berada diruang tamu. Tak terasa, Raisa yang tadinya menonton acara televisi, tertidur.


Rangga yang menyelesaikan pekerjaannya hingga tengah malam, meregangkan tubuhnya. Kemudian beranjak ke ranjang untuk tidur di samping Raisa. Melihat televisi masih menyala, Rangga segera mematikan powernya.

__ADS_1


Rangga memeluk tubuh Raisa yang tidur miring. Aroma wangi tubuh Raisa membuat jiwa kelaki-lakian Rangga bangkit. Apalagi rok tidur yang dipakai Raisa menyingkap, menampilkan pemandangan indah yang membuat Rangga menelan salivanya.


Raisa terbangun merasa ada yang sedang menyusuri lehernya. Menimbulkan sensasi geli.


"Mas ...," Raisa bergerak menjauhkan kepalanya.


"Diamlah, sayang. Kita bikin junior lagi yuuk," bisik Rangga.


Raisa membulatkan netranya. Pikirnya, kenapa laki-laki tak ada lelahnya kalau urusan ranjang.


Tanpa permisi lagi, tangan Rangga sudah bergerilya kemana-mana. Bahkan rok yang dipakai Raisa sudah dilepaskannya ke atas. Rangga mengungkung tubuh Raisa hingga Raisa tidak dapat bergerak.


Dengan sekali hentak, br* yang dipakai Raisapun tersingkap ke atas. Rangga langsung mendaratkan bibirnya pada benda bulatan kecil pada benda kenyal favoritnya.


"Owh! Shhh ...," Raisa meringis ketika Rangga melahap g*n*ng kembarnya dengan rakus. Semua yang ada pada tubuh Raisa sudah menjadi candu bagi Rangga.


"Pelan, sayang," lirih Raisa.


Rangga tak menggubris perkataan Raisa. G*ir*hnya sudah diubun-ubun dan ingin dituntaskan. Akhirnya Raisa hanya bisa mengikuti keinginan Rangga. Raisa sebisa mungkin mengimbangi Rangga. Supaya suaminya merasa puas. Begitu pesan Titin, sahabatnya. Si*l*n! Bahkan Titin sendiripun belum bersuami dan hanya jadi pemuas n*fsu Om Adam!


Rangga tidak melewatkan satu inchipun tubuh Raisa. Semakin larut, semakin terhanyut. Laki-laki berusia matang itu sungguh sangat beruntung mendapatkan Raisa yang masih muda dan fresh. Rangga baru menyadarinya sekarang. Setelah ada lelaki lain yang mengejar Raisa.


Raisa sungguh sangat berharga. Menerimanya apa adanya. Tetap mau bersamanya walau sudah tahu Rangga pernah depresi akibat masa lalunya.


"Ah, ah ..., oh ...," Raisa tak sadar mengeluarkan suara *rotis yang membuat Rangga semakin bersemangat.


"Tahan sebentar ya sayang," bisik Rangga.


Rangga semakin mempercepat g*nj*tannya. Tubuh Raisa tergunc*ng-gunc*ng hebat. Raisa mengeratkan cemgkaramannya pada lengan Rangga yang bertumpu pada kasur. Hingga ...


"Aaargh ...!" Rangga berteriak merasakan kl*maksnya.


"Mas ..., ah!" Raisapun merasakan getaran hebat p*ncak Ken*kma*tannya.


Mereka berdiam sejenak untuk menormalkan deru nafas mereka. Setelah itu Rangga berguling dari atas tubuh Raisa ke samping.


Keduanya menetralkan suasana perg*mul*n panas yang baru saja terjadi. Rangga kemudian mengusap perut Rais sambil berbisik lirih di telinga Raisa.


"Usiaku tak muda lagi. Aku harap di sini akan segera hadir junior yang akan mengisi hari-hari kita," kata Rangga, "Kamu mau kan kalau kita segera punya anak?"


Raisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Iapun memiringkan badannya menghadap Rangga.


"Aku ingin anak kita tampan seperti Mas," kata Raisa.


"Atau cantik seperti kamu," ucap Rangga.


"Terimakasih, sudah mau menjadi bagian dari hidupku. I love you," Rangga meng*cup bibir Raisa.


"I love you too," jawab Raisa.


Bibir merekapun berp*gut*n untuk menyalurkan rasa cinta mereka. Setelah nafas mereka tersengal, barulah mereka melepaskan pert*ut*n bibir mereka.


"Tidurlah. Besok kamu ada kuliah pagi kan?" Rangga mengusap bibir Raisa.


"Iya, Mas," jawab Raisa.


Merekapun memejamkan mata sambil berpelukan. Dalam hati, keduanya merasa bahagia. Raisa dan Rangga telah saling jatuh cinta walau diawal pernikahan mengalami ketidaknyamanan.


Akankah mereka mulus menjalani pernikahan mereka? Apakah mereka mampu menghadapi ujian-ujian yang akan menghadang?


TO BE CONTINUED


Selalu tinggalkan jejak ya Readers!


Eh, sebentar lagi lebaran,

__ADS_1


"SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI YA! MOHON MAAF LAHIR BATHIN!


__ADS_2