TAKDIR CINTA RANGGA

TAKDIR CINTA RANGGA
BAB 22. PAMERAN LUKISAN


__ADS_3

Rangga tak henti-hentinya mengulas senyum sumringah. Impiannya mengadakan pameran lukisan hasil karyanya terwujud.


Permasalahan dengan Om Adam sudah selesaikan. Ia yakin, Om Adam tidak akan berulah lagi. Apalagi dengan menempatkan beberapa orang suruhannya untuk mengawasi tindak tanduk Om Adam. Om Adam tidak akan leluasa bergerak macam-macam.


Apalagi Daffa, kakaknya sudah sembuh dan sudah beraktifitas di perusahan. Rangga jadi sedikit leluasa untuk menyempatkan mengadakan pameran. Apalagi mendapat sokongan dana dari Mamanya. Rangga merasa optimis pamerannya akan sukses. Pameran lukisan itu dipamerkan di sebuah gedung.


Para pengunjung pameran mulai berdatangan. Mereka melihat-lihat lukisan Rangga. Rangga berencana menjual seluruh lukisan hasil karyanya, kecuali lukisan bergambar Rena. Karena lukisan itu disita Mamanya. Sampai saat ini Rangga belum mengetahui dimana Mamanya menyembunyikan lukisan itu.


Rangga sangat senang, ketika ada beberapa lukisannya yang berhasil dijual dengan penawaran yang pantas. Rencananya uang hasil penjualan lukisan itu akan digunakan untuk memperbesar perusahaan miliknya yang saat ini dikelola oleh Varrel dan Wulan.


Ketika Rangga sedang berbincang-bincang dengan seorang calon pembeli lukisan yang selanjutnya, tampak serombongan orang masuk dengan membuat kehebohan. Mereka berpakaian rapi, tapi tampang mereka sangar-sangar.


Mereka menerobos masuk tanpa menghiraukan panggilan Satpam yang menjaga di pintu depan. Dua orang Satpam yang berjaga di dekat pintu masuk, tak bisa berbuat apa-apa ketika rombongan memaksa masuk karena jumlah mereka lumayan banyak dan menahan tangan Satpam itu yang akan menghadang ketua rombongan itu.


Kedua Satpam itu mengejar rombongan itu ketika langkah orang yang berjalan paling depan yang sepertinya ketua rombongan itu menghampiri Rangga.


Rangga terkesiap melihat kedatangan orang itu yang semakin dekat menghampirinya.


"Hallo, mantan adik ipar! Lama tidak bertemu. Tampaknya kamu sudah sehat ya," sapa laki-laki itu yang tak lain adalah David, kakaknya Rena.


"Mau apa Kakak ke sini?!" Rangga bertanya dengan lantang.


David terkekeh mendengar pertanyaan Rangga.


"Mau melihat lukisanmu ketika kamu gila. Ha ha ha...! Ternyata lumayan juga!"


Netra David melihat ke sekeliling dinding yang terpampang lukisan hasil karya Rangga. David kemudian semakin mendekat pada Rangga. Rangga mundur beberapa langkah. Orang-orang yang berada di sana hanya melihat dan menunggu apa yang akan dilakukan laki-laki yang tampak seperti ketua genk mafia karena diantar anak buahnya yang banyak.


"Aku kesini untuk memperingatkanmu, supaya kamu berhati-hati. Aku akan menghancurkan kamu dan keluargamu!" ucap David sambil menatap tajam pada Rangga.


"Itu tidak akan terjadi! Karena aku akan melindunginya!" Daffa yang baru masuk langsung bergabung ke ruangan itu.


"Ha ha ha ....! Keluarga pengkhianat saling bahu membahu melawanku?! Coba saja kalau bisa!" David meninggalkan ruangan pameran itu diikuti semua anak buahnya.


"Bahkan kau merasa ketakutan hingga kedatanganmu dengan membawa seluruh anak buahmu!" teriak Daffa.


David menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badan untuk membalas ucapan Daffa.


"Aku hanya ingin menunjukkan pada kalian! Kalian itu tidak mungkin bisa menyaingi Bisnisku! Selera salah seorang anggota keluarga kalian saja selera rendahan. Ia memilih menyelingkuhi adikku dengan mantan pel*cur. Kemudian sekarang ia memilih menikah dengan salah seorang ARTnya! Ck ck ck .... luar biasa!" ucap David pedas.


"Bangsat! Kubunuh kau!" Daffa tak dapat menahan amarahnya. Ia akan menyerang David. Tapi buru-buru dicegah oleh Rangga.


"Sudahlah Kak! Jangan hiraukan ucapan Kak David!" kata Rangga.


"Kau masih saja memanggilnya Kak pada B*jing*n itu?! Dimana harga dirimu yang sudah dihinanya?!" Daffa marah pada Rangga.


"Ha ha ha ....! Jangan marahi adikmu! Dia masih merasa bersalah pada adikku sampai dia masuk neraka sekalipun!" David menyeringai.


"Aku bersumpah! Tidak akan berhenti mengganggu kalian, sampai kalian hancur! Sehancur-hancurnya! Terutama Kau, b*jing*n Rangga!"teriak David sambil menunjuk Rangga. Matanya berkilat-kilat penuh dendam. Kemudian David segera pergi dengan langkah panjang-panjang untuk meredam emosinya yang sudah hampir meledak.


Rasanya ia sudah sangat ingin menghajar lagi wajah Rangga. Melihat wajah Rangga, ingatannya kembali ke masa lalu ketika Rena meninggal di rumah sakit sedangkan Rangga sedang bersama mantan pel*cur yang ia bilang tadi.


Daffa segera menoleh pada Rangga dengan pandangan marah. Kata-kata dari David ada yang baru diketahuinya.


"Jadi Resty itu mantan pel*cur, Rangga?! Otakmu benar-benar kamu taruh di dengkul!"


"Kak! Itu fitnah! Resty tidak seperti itu!" bantah Rangga.


"Bahkan kamu masih membela pelakor itu, anak sialan! Aku menyesal punya adik b*jing*n seperti kamu!" Daffa memukul Rangga hingga Rangga jatuh terjungkal.

__ADS_1


Orang-orang kaget melihat keributan kakak beradik itu setelah sepeninggal laki-laki yang bertingkah seperti gankster itu.


Daffa meninggalkan tempat itu dengan emosi yang menguasainya. Dirinya benar-benar malu akan tingkah laku Rangga di masa lalu.


Rangga dibantu berdiri oleh salah seorang yang akan membeli lukisannya. Sudut bibir Rangga berdarah.


"Anda harus diobati, Pak! Sudut bibir anda berdarah," kata orang itu.


Raisa yang berada di ruangan itu secara diam-diam, terpaku melihat keributan itu. Rangga terkejut melihat Raisa ternyata ada di sana. Ia tak tahu Raisa sejak kapan datang ke ruang pameran itu.


Orang-orang banyak yang berbisik-bisik membicarakan kejadian tadi dikaitkan dengan peristiwa silam yang mereka ketahui dari pemberitaan. Karena keluarga Arya Dinata cukup dikenal sebagai salah satu pebisnis yang sukses. Sehingga apapun yang menyangkut keluarganya akan jadi berita dan buah bibir masyarakat.


"Aku pergi dulu mau beli obat ke apotek! Kamu tunggulah!" ucap Raisa sedikit ketus.


Rangga yang akan mengucapkan sesuatu akhirnya memilih membiarkan Raisa keluar ruangan. Rangga menghela nafas. Untung saja tidak ada wartawan. Sehingga ia berdo'a semoga saja kejadian tadi tidak menyebar kemana-mana. Beruntung pula, pameran lukisannya menggunakan aturan supaya tidak diperbolehkan membawa ponsel ataupun kamera tanpa seijin penyelenggara pameran. Para pengunjung pameran disediakan tempat penitipan khusus untuk menyimpan ponsel, kamera, dan sejenisnya. Sehingga tidak ada yang merekam kejadian itu.


🌺🌺🌺🌺🌺


Raisa yang baru saja membayar obat luka dan kapas yang baru dibelinya, ketika berbalik badan dibuat terkejut dengan kehadiran Om Adam di apotek itu.


Om Adam membuka maskernya kemudian tersenyum menyeringai pada Raisa.


"Om Adam ....," Raisa tertegun.


"Duduklah!" Om Adam mengajak Raisa duduk di sebuah bangku panjang yang ada di apotek itu. Pengunjung apotek tidak begitu ramai. Tapi orang-orang disana sibuk dengan urusannya sendiri.


"Kamu masih ingat kan tentang perjanjian kita dulu, sewaktu kamu akan menikah dengan Rangga?" tanya Om Adam pelan. Ia bicara pada Raisa tapi matanya melihat ke arah lain.


"Per-jan-jian apa yang Om maksud?" Raisa dibuat was-was.


"Coba kamu ingat-ingat! Aku merekomendasikan kamu pada Rangga, agar melunasi hutang ibu tirimu dan juga untuk menikahimu, tentunya dengan tanpa cuma-cuma. Ada kesepakatan yang telah kita buat!" kata Om Adam lagi.


"Aku tidak minta Om ataupun Mas Rangga untuk membayarkan hutangku! Om yang datang menawarkan sendiri supaya aku mau menerima pertolongan Om dan Mas Rangga!" Raisa merasa marah karena tiba-tiba Om Adam menagih janjinya yang dikiranya tidak serius itu.


"Tidak mau! Mas Rangga sudah bangkit dari keterpurukan! Aku tidak ingin Mas Rangga down lagi! Kenapa Om tega sama keponakan sendiri? Bukannya selama ini Om Adam selalu mengurus Mas Rangga?"


"Kamu pikir aku peduli? Aku hanya peduli uang! Aku cuma pura-pura baik. Aku hanya ingin supaya seluruh aset Kakakku berpindah tangan padaku! Aku yang lebih pantas meneruskan bisnis Kakakku!"


"Ck, Om tidak tahu malu! Bisnis Papanya Mas Rangga sudah di bangun ketika mulai berumah tangga. Bukan warisan dari keluarga Om! Anak-anak Papa Arya yang lebih berhak," Raisa semakin berani.


"Sudah! Jangan banyak cingcong! Kamu harus secepatnya pergi dari hidup Rangga. Atau kamu mau viral?!"


"Viral apa?! Om jangan macam-macam!"


"Kamu pikir Om tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan pada Rangga? Kamu diam-diam membubuhkan obat terlarang pada makanan Rangga supaya Rangga berhalusinasi dan hilang kesadaran, sehingga kamu mudah untuk menguasai hartanya," kata Om Adam tersenyum sinis.


"Itu fitnah! Bukannya Om yang berbuat itu? Kenapa jadi memutarbalikkan fakta?! Om yang berambisi menguasai harta keluarga Mas Rangga!"


"Kamu ...," belum sempat Om Adam meneruskan kata-katanya, tiga orang pria berbadan tinggi besar meringkus Om Adam.


"Hei apa-apaan kalian!" Om Adam berteriak sehingga menimbulkan kegaduhan di apotek. Tiga Orang pria itu langsung membawa Om Adam keluar.


"Kamu berani ya menentang perintah Tuan Daffa dan Tuan Rangga?! Kamu sudah bosan hidup?!" kata salah seorang dari mereka.


"Raisa! Awas kamu!" teriak Om Adam. Mereka memelintir tangan Om Adam ke belakang dan menggiringnya ke jalan, menghampiri sebuah mobil yang berhenti dipinggir jalan.


Orang-orang yang berada di dekat apotek dan di jalan melihat kegaduhan itu. Tapi hanya melihat saja. Tidak mau ikut campur dan tidak berani mendekat.


Raisa merasa heran, mengapa Om Adam mengira ia yang telah mengirim tiga orang itu untuk meringkus Om Adam. Padahal tahu pun tidak.

__ADS_1


Dari dalam apotek, Raisa kemudian melihat, kaca jendela mobil yang diturunkan. Tiga orang itu tampak berbicara dengan orang yang berada dalam mobil. Ketika Raisa melihat dengan lebih seksama, ternyata Daffa, Kakak Rangga.


Daffa kelihatan berbicara pada tiga orang itu dan pada Om Adam. Kemudian Tiga orang itu membawa Om Adam ke ke mobil lain dan membawanya pergi setelah mobil yang ditumpangi Daffa meninggalkan tempat itu.


Raisa yang baru teringat ia sudah pergi terlalu lama, segera beranjak menuju ke gedung tempat pameran lukisan Rangga. Ketika ia tiba di sana, pengunjung sudah sepi. Beberapa orang sedang bersih-bersih dan membereskan tempat itu. Rangga juga tampak sedang berbicara dengan seseorang. Tampaknya pameran ditutup hari itu, dan akan dilanjutkan besok pagi.


Melihat kedatangan Raisa, orang yang berbicara dengan Rangga pergi. Rangga menatap tajam pada Raisa yang menghampirinya.


"Kenapa kamu lama sekali ke apoteknya?!"


"Maaf. Tadi ada sedikit masalah," jawab Raisa.


"Sini, kuobati lukamu," Raisa sudah membuka tutup obat luka dan meneteskannya di kapas. Ketika ia akan menempelkannya pada sudut bibir Rangga, Rangga menghempaskan tangan Raisa.


"Katakan! Kesepakatan apa yang sudah kamu buat dengan Om Adam?!" ucap Rangga tajam.


Raisa terhenyak mendapat perlakuan kasar Rangga. Rangga kelihatan marah sekali.


"Mas Rangga jangan salah paham! Tidak ada kesepakatan apa-apa antara aku dan Om Adam!" jawab Raisa.


"Kamu punya janji apa pada Om Adam sebelum kita menikah?!" Rangga tak memperdulikan ucapan Raisa.


"Sumpah demi Allah, aku tidak berjanji apa-apa pada Om Adam. Om Adam memang dulu menyuruhku untuk meninggalkan Mas Rangga setelah kita saling jatuh cinta. Tapi aku tidak mengatakan apa-apa. Tidak berkata ya atau tidak waktu itu. Tapi sekarang, aku sudah tegas mengatakan pada Om Adam bahwa aku tidak akan meninggalkan Mas Rangga,"


"Aku tidak percaya! Kamu memang sudah ada niat jelek kan padaku?!" Rangga tersenyum sinis


"Percayalah padaku, Mas! Aku tidak punya niat jahat pada Mas Rangga!"


"Batu kali tetaplah batu kali! Walau sudah di gosok sampai mengkilappun tetap menampakkan baru kali! Tidak ada yang bisa menggantikan Rena, berlianku!"


"Mas, cukup!" Raisa sangat tersinggung mendengar Rangga menghinanya.


"Mas! Tadi dihadapan Kakaknya Renapun Mas tidak membelaku. Mas sekarang malah ikut menghinaku!" Raisa mengusap air matanya yang sudah menetes di pipi.


"Mas juga membela mantan pacar Mas! Tapi padaku tidak! Apa sebegitu berharganya mantan pacar Mas?! Pada Mbak Rena apalagi! Cukup Mas! Aku tidak mau lagi jadi pelampiasan cinta sesaatmu! Karena yang kamu cintai hanya mantan pacar Mas dan Rena saja!" Raisa segera beranjak meninggalkan Rangga.


"Raisa! Mau kemana kamu?!" panggil Rangga.


Raisa tidak menghiraukan panggilan dari Rangga. Ia terus melangkah menyusuri jalanan di sekitar gedung itu. Ketika sebuah taksi melintas, Raisa segera memberhentikannya. Ia masuk kedalam taksi, menyuruh supir taksi supaya membawanya ke alamat yang disebutkannya.


Raisa pulang ke apartemen. Tapi bukan untuk tinggal di sana lagi. Ia berkemas-kemas untuk meninggalkan apartemen itu. Tekadnya sudah bulat untuk pergi meninggalkan apartemen itu dan menghilang dari hidup Rangga.


Tadinya ia akan bertahan untuk terus hidup bersama Rangga walau Om Adam telah menuduhnya yang tidak-tidak. Tapi mendengar penghinaan dan ketidakpercayaan Rangga padanya, Raisa merasa tidak ada yang perlu dipertahankan.


Dengan berurai air mata, Raisa terus memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Raisa hanya membawa pakaian yang dirasa perlu saja. Tidak semua pakaian ataupun barang miliknya dibawa. Ia tidak ingin dianggap sebagai wanita matre. Ia membawa pakaian miliknya dulu sebelum Raisa menikah dengan Rangga. Pakaian, barang-barang, aksesoris ataupun perhiasan dari Rangga ditinggalkannya. Tak dibawanya sedikitpun.


Raisa segera keluar dari apartemen sambil menarik kopernya. Dibenaknya hanyalah ingin segera pergi dari dari kehidupan Rangga. Entah kemana ia akan pergi, ia tak tahu.


Belum juga berjalan jauh dari apartemennya, sebuah mobil Jeep berhenti tepat disampingnya yang sedang berjalan menyusuri jalan raya.


Dua orang laki-laki keluar dari mobil dan secepat kilat membekapnya dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius. Dua orang laki-laki itu langsung menggotong Raisa untuk dimasukkan ke dalam mobil mereka. Raisa tak sadarkan diri. Kejadiannya begitu cepat. Ia terkejut dan tak sempat berteriak ataupun menghindar.


Setelah memasukkan Raisa kedalam mobil, mobilpun melaju meninggalkan jalanan itu sebelum ada orang-orang yang melihat aksi mereka.


Siapa mereka?


Apa yang akan mereka lakukan pada Raisa?


Bagaimana reaksi Rangga nanti?

__ADS_1


TO BE CONTINUED


Tetap tinggalkan jejakmu ya Readers!


__ADS_2