TAKDIR CINTA RANGGA

TAKDIR CINTA RANGGA
BAB 15. RAHASIA OM ADAM (Part 2)


__ADS_3

Lanjutan Titin POV


Semakin aku sering berh*bungan dengan Om Adam, aku semakin tahu kebiasaan-kebiasaannya, kesukaannya, tahu orang-orang yang sering berinteraksi dengannya, dan satu lagi, tahu satu rahasianya.


Waktu itu Om Adam sedang mabuk sewaktu menungguku di kamar hotel. Rupanya setelah menjamu koleganya, mereka minum-minum. Koleganya sudah dibookingkan wanita p*nggilan. Sedangkan Om Adam sendiri hanya mau denganku. Rupanya servis dariku membuatnya tidak mau wanita lain lagi. Aku berharap suatu saat nanti Om Adam mau menikahiku. Aku sudah terlanjur nyaman dengannya. Cinta? Entahlah. Ini cinta atau bukan. Yang jelas, selain dengan Om Adam, aku tidak menjalin hubungan dengan laki-laki manapun. Aku trauma dibohongi laki-laki. Kalau dengan Om Adam, aku tahu sekarang dia tak berhubungan dengan wanita manapun selain aku.


Selagi aku menserv*s ularnya yang b*sar dan p*nj*ng, Om Adam meracau sambil meng*rang. Mulutku sampai penuh dan pegal.


"Titin sayang, sebentar lagi aku akan jadi pemilik perusahaan. Kalau Rangga sudah tumbang, David sudah KO, si Wulan sama suaminya dibuat kacau, aku tinggal menikahi Cindy. Kalau dia gak mau, diapun akan mengalami nasib yang sama, disingkirkan! Ha ha ha .... bagaimana, Tin? Hebat kan rencanaku? Kamu tenang saja, nanti kamu akan aku beri bagian deh," begitu racaunya.


Aku menghentikan aktivitasku. Aku kesal mendengar ocehannya. Padahal aku dari awal melayaninya, aku ingin dinikahi. Bukan hanya di beri sesuatu saja.


"Saya maunya dinikahi, Om! Capek sembunyi-sembunyi terus!" ucapku ..


"Ha ha ha ....! Iya, iya sayang! Kamu nanti akan kunikahi setelah aku jadi pemilik seluruh aset PT. SEJAHTERA!" Om Adam masih tertawa.


Om Adam duduk lalu menyuruhku duduk di pangkuannya.


"Ayo sini sayang! Jangan merajuk! Tenang saja! Aku akan menikahiku! Hanya kamu yang bisa bikin aku p*as!"


Setelah berkata demikian, Om Adam menc*mbuku kemudian dengan beringas melampiaskan h*sratnya. Walau bau alkohol menyengat, aku harus tetap melayaninya. Membuatnya tergila-gila padaku dengan segala serv*sku.


Setelah hari itu, kulihat dia sering teleponan dengan seseorang. Bahkan janjian bertemu. Pernah suatu waktu ketika kami sedang berada di hotel, Om Adam mendapat telepon dari seseorang. Om Adampun langsung pamit padaku untuk keluar menemui seseorang.


Aku yang penasaran, mengikutinya. Aku mengintipnya dari jauh. Ternyata Om Adam bertemu dengan seorang laki-laki yang lebih muda darinya. Laki-laki itu perlente. Memakai jas kantoran. Kalau dilihat dari penampilannya, sepertinya orang itu memliki profesi yang hampir sama dengan Om Adam. Seperti pemimpin suatu perusahaan. Dilihat dari auranya yang dingin dan angkuh.


Mereka terlibat obrolan yang serius. Sayangnya aku tidak bisa mendengarnya karena jaraknya cukup jauh. Aku hanya bisa melihat, mereka berjabat tangan dengan senyuman lebar ketika mereka seperti menyepakati sesuatu.


Apakah itu ada kaitannya dengan rencana Om Adam? Tampaknya Om Adam tidak mengingat racauanya ketika dia mabuk. Dia tidak pernah membahasnya lagi denganku. Semoga saja dia lupa atau tidak menyadarinya. Aku juga pura-pura tidak tahu dan menyimpannya saja sendiri.


Titin POV off


"Itulah Nyonya Raisa. Saya harap Tuan Rangga dan Nyonya Raisa harus berhati-hati mulai sekarang. Saya tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian," kata Titin.


"Tiiiin ...., Titiiliiin .....!" terdengar teriakan Om Adam.


"Tuh, bayi gede Ceu Titin udah bangun. Nyonya lebih baik diam di sini. Nanti Ceu Titin yang bawain makanan ke sini. Lebih baik menampakkan diri besok pagi saja," kata Titin.


Raisa terpaksa harus menuruti saran Titin. Demi kebaikannya. Cerita dari Titin membuatnya harus waspada pada Om Adam. Raisa ingin segera memberitahukan Rangga.


Setelah Titin turun untuk menemui Om Adam lagi, Raisa mengirim chat pada Rangga.


Sementara itu di kamar bawah, Om Adam yang rupanya baru selesai mandi, mencari keberadaan Titin.


"Darimana saja kamu?" tanyanya.


"Habis ke pantry. Lapar. Belum makan dari sore," jawab Titin sambil cengengesan.


"Oh, ya udah, sana makan dulu,"


"Boleh Om?"


"Ya boleh! Kamu kan harus ada energi. Kita lanjut lagi nanti ronde ke dua dan seterusnya.!"


Mata Titin membulat mendengar kata-kata Om Adam.


"Om?"


"Ya! Kita akan melakukannya sampai pagi!" kata Om Adam tersenyum mesum.


"Ish! Om Adam berpakaian sana! Saya mau makan dulu ya Om? Om tidak makan?"


"Sudah, tadi sore. Sudah kenyang. Hanya saja 'memakanmu' yang belum kenyang!" jawab Om Adam.


Titin cuma cemberut manja mendengar jawaban dari Om Adam. Om Adam senyam senyum melihat Titin keluar kamar untuk makan. Padahal Titin menyiapkan makan malam untuk Raisa juga.


Setelah Raisa makan malam di kamar, Raisa gelisah karena chat nya belum juga dibalas oleh Rangga. Raisa juga merasa heran, karena Pak Wira belum juga datang. Apakah ada kesulitan memasang ban cadangan atau apa, Raisa heran.

__ADS_1


Lama-lama matanya terasa berat, dan akhirnya ia tertidur. Tengah malam, Raisa dikejutkan oleh suara-suara aneh dilantai bawah.


Dengan perlahan, Raisa ingin tahu suara-suara apa itu. Tapi alangkah terkejutnya ia ketika ia baru saja melihat dari atas tangga, ternyata Om Adam sedang mengg*njot Titin di tangga.


Om Adam dan Titin tidak berpakaian sehelai benangpun. Raisa sempat melihat sekilas, Titin yang duduk men*ngging dan Om Adam yang sedang mengg*mpur dari belakang.


"Be*ngsek! Mereka tidak tahu tempat! Ceu Titin lagi, mau saja 'b*gituan' di tangga. Kan dia tahu ada aku. Dasar orang gak pada Waras!" umpat Raisa dalam hati.


"Huh! Mata sucikuku ternoda melihat 'b*gituan'. Sebaiknya aku cepat-cepat tidur. Besok pagi-pagi aku harus bangun, biar Om Adam malu setelah tahu aku sudah pulang sejak petang," gumam Raisa sambil berjalan ke kamarnya.


"Uh Om, istirahat dulu ya Om," pinta Titin.


"Tanggung, Tin! Sebentar lagi nyampe!" sahut Om Adam.


Terdengar suara plok, plok, plok yang cukup mengganggu pendengaran Raisa. Suara d*sahan dan er*ngan juga semakin jelas terdengar. Raisa menggerutu tidak bisa tidur.


"Lebih cepat lagi, Om! Aku mau keluar!"


"Bersama, sayang ....,"


"Ahhhh .....," pekik Titin.


"Hmmm ....," Om Adam menggeram.


"Sial*n! Berisik sekali mereka! Jadi enggak bisa tidur lagi!" gerutu Raisa membalik badan berganti posisi tidur. Suara dari tangga sangat mengganggunya.


Raisapun menutup telinganya dengan bantal. Alhasil tidak terdengar suara-suara itu lagi. Atau memang kebetulan Om Adam dan Titin telah selesai dan pergi dari sana.


Raisapun terlelap tidur kembali. Ketika terdengar suara burung-burung berkicau didahan pohon dekat jendela kamarnya, Raisapun terbangun.


"Hah, sudah lagi! Aku belum shalat shubuh. Hampir saja kesiangan!" Raisa segera berlari ke kamar mandi untuk berwudhu.


Pagi yang cerah. Suara ayam jantan berkokok menambah semaraknya pagi. Raisa yang sudah mandi dan sudah rapi, turun ke lantai bawah. Ia ingin menyiram bunga untuk menghilangkan kejenuhannya. Sudah terbiasa bangun pagi dan mengerjakan pekerjaan rumah, menyebabkan dirinya cepat merasa jenuh bila tidak melakukan kegiatan apapun. Telepon ataupun balasan chat dari Rangga belum juga ada di ponsel Raisa. Hal itu cukup membuat Raisa kesal.


Raisapun menyiram bunga dengan menggunakan selang yang terhubung pada kran.


"Mang Udin! Bikin aku kaget aja!" gerutu Raisa.


"Ha ha ha ...., maaf Nyonya! Nyonya sudah datang sejak kapan?" tanya Mang Udin lagi.


"Dari semalam, Mang," jawab Raisa.


"Wah ..., saya sudah pulang kayaknya," kata Mang Udin.


"Iya, sepertinya. Habisnya sepi. Gerbang juga enggak di gembok," ucap Raisa.


"Hah?" Mang Udin terkejut. Lalu menghampiri Raisa.


"Waktu saya pulang, gerabang sudah di gembok kok oleh si Titin. Tapi yang punya mobil ini belum datang sih. Mungkin dia datang setelah saya pulang," kata Mang Udin sambil menunjuk mobil Om Adam.


"Om Adam sering menginap ya di sini selama Mas Rangga dan saya pergi?" tanya Raisa.


"Iya, sering," jawab Mang Udin. Ketika Mang Udin akan berkata lagi, Om Adam keluar dari dalam rumah. Mang Udin memilih pergi, mencari alasan untuk menghindar dari Om Adam.


"Raisa! Kamu kok pagi-pagi udah ada di sini? Kapan datang?" tanya Om Adam. Rambutnya basah dan terlihat segar. Ya iyalah, duda itu semalaman sudah mendapatkan vitamin dari Titin.


"Iya, Om. Dari semalam.," jawab Raisa sambil terus menyiram tanaman.


"Oh ...., kok enggak kedengaran ya mobil Pak Wira datang?"


"Ban mobilnya bocor, jadi Pak Wira saya tinggal di jalan. Saya jalan kaki ke sini. Dekat sih di ujung jalan sana,"


"Oh ....," Om Adam hanya berkomentar demikian.


Tak lama, Pak Wira datang mengendarai mobil, akan masuk ke halaman. Mang Udin berlari membukakan pintu gerbang. Mobil pun masuk halaman dan menuju garasi. Mang Udin membukakan garasi.


Kemudian Pak Wira menghampiri Raisa.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya. Semalam saya langsung pulang," kata Pak Wira. Ujung matanya melirik Om Adam.


"Oh, pantesan. Pak Wira gak datang-datang," Raisa menyudahi menyiram tanaman.


"Permisi, Nyonya. Mari Tuan Adam," Pak Wira menganggukkan kepalanya. Ia berlalu menuju ke belakang, berniat ke dapur.


"Om, saya mau sarapan dulu. Om sudah sarapan belum?" tanya Raisa.


"Nanti saja. Om nanti sarapan di jalan," jawab Om Adam. Ia masuk ke mobilnya. Kemudian setelah memanaskan mobilnya sebentar, mobil pun meninggalkan halaman villa.


Ketika Raisa akan masuk ke rumah, Titin muncul menghampirinya.


"Nyonya, saya mau membersihkan kamar tamu. Oh iya, kata Pak Dani, makanan sebentar lagi diantarkan ke meja makan," kata Titin.


"Yang bersih ya bebersihnya. Spreynya diganti," sindir Raisa. Titin hanya tersenyum cengengesan.


"Nyonya, maaf. Boleh tanya enggak?" Titin berjalan di belakang Raisa yang masuk rumah.


"Tanya apa?" Raisa malah balik bertanya.


"Mmm .... Nyonya sudah buka segel belum?"


"Buka segel? Segel apa?" Raisa tak mengerti.


"Anu ...., saya kok curiga ya, kalau Tuan Rangga belum menyentuh Nyonya," kata Titin dengan kurang ajarnya. Kedekatannya dengan Raisa membuatnya berani berkata demikian.


"Sok tahu," jawab Raisa mencoba bersikap biasa saja. Padahal hatinya terkejut.


"Ha ha ha ....! Bercanda, Nyonya!" kata Titin kemudian.


Ia kemudian masuk ke kamar tamu untuk mengganti sprey dan membersihkan kamar itu.


Kartika Raisa masuk ruang makan, Pak Dani datang sambil membawa troli. Raisa duduk di kursi. Pak Dani memindahkan makanan dari troli ke meja makan.


"Silahkan sarapan, Nyonya. Maaf, semalam saya tidak tahu kalau Nyonya sudah pulang," kata Pak Dani.


"Gak apa-apa, Pak Dani. Makan malam kok. silakan Ceu Titin," jawab Raisa. Pak Dani mengangguk.


"Saya permisi dulu Nyonya," Pak Dani pamit untuk kembali ke paviliun belakang.


Raisapun meninjau sarapannya. Menunya nasi goreng ayam suwir. Raisa segera menyelesaikan sarapannya. Ia ingin segera memeriksa ponselnya.


Benar saja! Ketika Raisa baru saja memegang ponselnya, ada panggilan masuk. Rupanya Rangga melakukan panggilan beberapa kali. Tapi Raisa tidak mendengarnya karena sedang di lantai bawah tadi


📲 "Hallo, Raisa. Maaf, semalam aku meeting sampai malam. Baru lihat chat darimu. Ada apa?" tanya Rangga.


📲 "Mas, Om Adam punya rencana jelek pada keluarga Mas," kata Raisa.


📲 "Kamu jangan bicara sembarangan. Kamu dengar dari mana?"


📲 "Pokoknya ada. Dari seseorang. Enggak ada salahnya kan Mas Rangga harus waspada?"


📲 "Oke. Nanti Mas akan selidiki,"


📲 "Mas, cepatlah datang. Aku takut!"


📲 "Mas akan ke sana sehari lagi. Banyak urusan di perusahaan yang harus dibereskan. Sabar ya? Tetap tenang. Nanti Mas akan suruh seseorang untuk mengawasi," kata Rangga berusaha menenangkan Raisa.


📲 "Iya Mas," jawab Raisa, "Mas, aku kangen," kata Raisa tiba-tiba.


📲 "Ha ha ha ....! Iya. Sudah ya. Nanti aku juga datang kok," ujar Rangga.


Pembicaraan pun selesai. Panggilan diakhiri. Raisa termenung. Entah mengapa jauh dari Rangga baru semalam saja rasanya rindu. Tapi Raisa kecewa dengan reaksi Rangga. Rangga tak membalas kata-kata rindunya. Padahal ia ingin Ranggapun membalas kata-kata rindunya. Cewek perlu juga kan digombalin sedikit, biar hatinya senang.


Apa Rangga memang belum move on dari Rena? Apa Rangga belum ada sedikitpun 'rasa' pada Raisa? Raisa hanya bisa menghela nafasnya. Mau dibawa kemana kalau rumahtangganya bila tetap begini. Raisa harus melakukan sesuatu. Bayangan Titin dan Om Adam yang sedang berc*nta membuatnya kepikiran. Si*l! Raisa jadi ingin merasakannya dengan Rangga, suaminya.


Waduh, waduh ...., Raisa jadi terinspirasi, wk wk wk wk

__ADS_1


TO BE CONTINUED


__ADS_2