TAKDIR CINTA RANGGA

TAKDIR CINTA RANGGA
BAB 13. KULIAH DAN KURSUS


__ADS_3

Seperti yang telah dikatakan oleh Rangga, Rangga mendaftarkan Raisa kuliah di Universitas terdekat dengan tempat tinggal mereka secara on line.


Tanpa bisa dibantah, Rangga mendaftarkan Raisa ke Fakultas Ekonomi. Hal ini menimbulkan perdebatan karena Rangga tidak menanyakan dulu minat Raisa. Padahal Raisa ingin sekali masuk ke Fakultas Seni ataupun kuliah Akademi jurusan Tata Boga.


"Aku mau kuliah Mas. Tapi bukan ke Ekonomi. Maunya ke Seni atau ke jurusan yang ada Tata Boga nya gitu," keluh Raisa.


"Kamu itu suatu saat bisa membantuku di perusahaan, Raisa. Rena bahkan menjadi analis keuangan. Dia dulu walau bekerja di tempat lain, bisa membantu perusahaanku," kata Rangga.


"Rena lagi! Rena lagi! Jadi aku harus masuk Ekonomi karena Rena juga lulusan Ekonomi?!"


"Ya .... bukan gitu sih. Aku mau kamu mengerti dunia bisnis supaya kamu bisa menjadi pebisnis juga. Jarang-jarang kan ada suami yang mendukung istri supaya bisa berkarier?" jawab Rangga ngeles. Padahal memang itu yang diinginkannya. Ia ingin Raisa seperti Rena.


Raisa menggelengkan kepalanya. Kemudian menghela nafas panjang. Mau bagaimana lagi. Ia hanya menjalani saja. Sedangkan yang membiayai adalah Rangga. Terlalu tidak tahu diri kalau Raisa bersikeras dengan keinginannya sendiri. Apalagi ancaman Rangga yang akan mengembalikan Raisa pada keluarga ibu tirinya jika tidak jadi istri penurut.


"Oke. Aku nurut apa kata suamiku," ucap Raisa lesu.


Melihat Raisa yang tidak bersemangat, Rangga menawarkan satu hal lagi pada Raisa.


"Kamu bisa kok ikut kursus memasak kalau kamu mau masuk jurusan Ekonomi. Nanti aku daftarkan,"


Mata Raisa langsung berbinar. Senyumnya mengembang. Secara spontan, ia memeluk Rangga dengan erat.


"Terimakasih, terimakasih suamiku,"


Rangga merasa kaget. Ia tak menyangka Raisa akan bertindak spontan. Matanya membelalak. Dengan ragu, tangannya memeluk bahu Raisa.


Raisa yang baru menyadarinya, langsung melepaskan pelukannya. Ia menjadi sangat malu karena seperti bertingkah agresif untuk memeluk Rangga.


"Ma-maaf! Gak sengaja," kata Raisa kikuk.


"Enggak apa-apa. Itulah gunanya suami. Untuk dipeluk kan? Bukan hanya bantal guling," sindir Rangga.


Raisa memukul manja pada Rangga. Pipinya merona saking malunya. Raisa berniat pergi dari hadapan Rangga.


"Eit, mau kemana? Temani aku di sini!" goda Rangga.


"Mau ke kamar! Mau beresin kamar!" jawab Raisa. Ia segera berlari naik tangga ke lantai dua.


Rangga tersenyum melihat tingkah Raisa.


🌼🌼🌼🌼🌼


"Bagaimana hasilnya Dit?" tanya Rangga pada lelaki dihadapannya. Ya, lelaki itu Adit, teman Rangga yang telah berjanji akan memberitahu hasil uji labnya pada obat yang diserahkan Rangga waktu itu. Mereka bertemu di sebuah restoran pada waktu jam istirahat kantor.


"Fix! Pil dan kapsul yang kau bawa waktu itu adalah Narkoba jenis PCC (Paracetamol, Caffeine, Carisoprodol) adalah obat penahan sakit dan sakit jantung sebenarnya. Kapsul itu juga sebenarnya isinya pil yang dihaluskan. Pil itu harus digunakan berdasarkan resep dari dokter, tetapi sering disalahgunakan. Mengonsumsi PCC dapat menyebabkan ketergantungan. Jika digunakan akan merusak saraf otak, peminumnya bisa mengalami halusinasi, sehingga pelaku akan mencelakakan dirinya sendiri," jelas Adit panjang lebar sambil menyerahkan selembar kertas hasil uji lab. Rangga menerimanya.


"Huh ... pantas saja! Aku merasa bingung dengan diriku sendiri. Istriku juga bingung dengan perilakuku. Mama juga merasa curiga. Makanya aku disuruh berhenti minum obat itu. Tapi ternyata, pelayanku memberiku obat itu lagi secara diam-diam. Untung aku belum lama dibohongi. Jadi gak kecanduan. Mungkin karena ia tahu aku tidak meminumnya lagi sejak kedatangan Mama," ungkap Rangga.


"Tapi kenapa pelayanmu memberi obat itu? Dari siapa dan untuk apa?" Adit ingin tahu.


"Sepertinya pelayanku dibohongi oleh salah seorang keluargaku. Kamu tidak perlu tahu siapa. Tapi aku yakin, dia punya maksud jelek padaku dan keluargaku yang lain," kata Rangga.


"Hati-hatilah bro! Siapapun dia, dia memakai cara-cara licik untuk melemahkan kamu. Bukan tidak mungkin, dia akan menyerang anggota keluargamu yang lain dengan cara yang lebih halus lagi," ucap Adit khawatir.


"Ya, aku akan berhati-hati untuk segera bertindak," kata Rangga, "Oh iya. Bagaimana kabar keluargamu? Ibu sama Bapak kamu sehat?"


Mereka selanjutnya terlibat obrolan lain. Hingga tak terasa jam istirahat telah habis. Adit harus kembali ke tempat kerjanya dan Rangga harus kembali ke kantor.


Sepulang dari kantor, Rangga menyempatkan diri mendatangi sebuah tempat kursus memasak atau kelas memasak di sebuah tempat yang cukup ramai. Tempat kursus itu berada di lokasi yang strategis sehingga banyak dikunjungi oleh orang-orang yang akan belajar memasak ataupun yang mengantar mereka yang akan mengambil kelas memasak.


Rangga menghubungi bagian TU tempat kursus itu. Ia meminta brosur agar nanti Raisa dapat membacanya dan mempertimbangkannya. Karena Rangga telah memberi alternatif dua tempat kursus yang ditawarkannya.

__ADS_1


Ketika sudah tiba di rumah, Rangga langsung menuju kamarnya di lantai dua. Ketika Rangga masuk kamar, Raisa tampak sedang menonton televisi. Seketika Rangga merasa iba, Raisa belum mempunyai ponsel. Raisa akan banyak beraktivitas dengan dunia luar nanti. Istrinya itu harus diberi ponsel agar dapat berkomunikasi dan memantau aktivitasnya.


"Sudah pulang Mas? Mau minum dulu atau mau mandi dulu?" Raisa bangkit menyambut suaminya.


"Mau mandi dulu aja. Badanku rasanya lengket," jawab Rangga.


Diciumnya punggung tangan Rangga. Kemudian mengambil alih tas kerja Rangga. Disimpannya tas kerja itu di meja yang ada di kamar. Rangga duduk dan berniat membuka sepatu. Tapi Raisa buru-buru mengambil alih melepaskan sepatu dan kaos kaki.


Rangga sempat tertegun mendapat pelayanan manis dari sang istri. Jujur Rangga dalam hati mengakui, Rena dulu belum pernah melakukan hal sedetail itu karena sama-sama sibuk bekerja.


Setelah sepatu dan kaos kaki disimpan pada rak sepatu, Raisa menghampiri suaminya lagi. Dilonggarkannya dasi suaminya. Kemudian dilepasnya dasi itu.


"Besok kamu ikut melihat tempat kursus memasak, sekalian beli ponsel. Kamu perlu punya ponsel untuk kita berkomunikasi.," kata Rangga berdiri sambil melepas kemeja kerjanya.


"Enggak daftar online saja? Daftar kuliah kemarin on line," sahut Raisa


"Enggak. Supaya aku dapat ngecek kondisi sesungguhnya tempat kursus. Karena banyak tempat kursus yang abal-abal, tidak sesuai dengan iklannya. Jadi harus dipastikan tempat kursus itu bagus dan berkualitas, fasilitas memasaknya lengkap dan canggih, serta pengajarnya chef yang berkompeten," kata Rangga. Lepaslah kemeja kerjanya, dan Rangga meletakkannya di ranjang. Kemudian Rangga bersiap melepaskan celana panjangnya.


"Stop! Sebentar! Mas tadi habis dari tempat kursus itu?"


"Ya. Kamu bisa lihat brosurnya ada di tas kerjaku. Dua tempat kursus yang aku kunjungi bagus. Nanti terserah padamu pilih yang mana,"


'Andai memilih kuliah pun seperti itu. Di beri alternatif universitas mana dan jurusan apa,' gumam Raisa dalam hati.


"Oke. Nanti aku lihat brosurnya. Sekarang, Mas Rangga ke kamar mandi saja. Jangan di sini buka celana panjangnya," kata Raisa.


"Memangnya kenapa?"


"Ya ...., jangan di sini aja," jawab Raisa malu.


Rangga tersenyum simpul. Ia paham. Tanpa berkata lagi, Rangga masuk ke kamar mandi setelah mengambil handuk di walk in closet.


Raisa meraih kemeja Rangga yang tergeletak di ranjang. Di gantungankannya di kapstok. Lalu Raisa turun ke lantai bawah untuk membuatkan minum untuk Rangga.


"Mama dengar kamu sudah daftar kuliah?" tanya Nyonya Cindy.


"Iya, Ma," jawab Raisa.


"Kuliah dimana?"


"Di Universitas B. Fakultas Ekonomi. Jurusan Akuntansi," jawab Raisa lengkap. Nyonya Cindy mengernyit.


"Itu benar-benar pilihanmu?" Nyonya Cindy ingin tahu.


"Sebenarnya .....," Raisa menggantungkan kalimatnya.


"Sudah Mama duga! Pasti Rangga yang memaksa kamu ngambil kuliah di jurusan itu. Sudah! Nanti Mama bicarakan ini sama Rangga," ucap Nyonya Cindy.


"Jangan, Ma! Tidak usah! Raisa senang kok masuk jurusan itu. Raisa semula hanya bingung mau masuk jurusan apa. Terus Mas Rangga yang ngarahin ke jurusan itu. Ya udah, Raisa setuju. Mas Rangga juga mau masukin Raisa kursus masak," Raisa sedikit berbohong pada mertuanya supaya tidak timbul perdebatan antara mertua dan suaminya.


"Kursus masak?"


"Iya, Ma. Raisa mau ambil kelas memasak. Raisa mau ikut cooking and baking class,"


"Oh ya? Memangnya ada rencana apa kamu ikut kursus itu, Raisa? Apa kamu ingin buka usaha toko kue?" tebak mertuanya.


"Ya, semacam itulah, Ma! Makanya Raisa juga perlu belajar Akuntansi juga. Raisa dengar, perusahaan keluarga Mama yang di Bogor berkecimpung juga si bidang perkuean. Kue-kue kering dengan cita rasa green tea?"


"Iya, benar! Kalau kamu belajar tentang perkuean, semoga ke depannya akan banyak inovasi-inovasi untuk pabrik kue Mama ya!"


"Iya, Ma. Oh ya Ma, Raisa ke atas dulu. Mas Rangga mungkin sudah mandinya. Raisa mau mengantarkan minum untuk Mas Rangga,"

__ADS_1


"Oke," jawab Nyonya Cindy.


🌺🌺🌺🌺🌺


Siang hari, Rangga pulang lebih awal dari perusahaan, karena hari ini Rangga akan mengantar Raisa mendaftar kursus memasak. Sengaja mendaftar langsung supaya Raisa bisa melihat keadaan dan situasi tempat kursus yang telah dipilih Raisa setelah melihat brosur yang dibawa Rangga.


Ranggapun menjemput Raisa dengan mengendarai sendiri kendaraan roda empatnya. Aktivitasnya yang berbalik seratus delapan puluh derajat dari aktivitasnya sewaktu di Bogor, membuat Rangga tidak terlihat seperti orang yang baru keluar dari pengasingan.


Siapapun tidak akan menyangka, kalau Rangga telah mengasingkan diri selama delapan tahun. Dan kini, Rangga cepat menyesuaikan diri lagi setelah vakum dalam urusan perusahaan dan bisnis.


Tampilannyapun terlihat lebih rapi dan perlente. Raisa sempat mencuri-curi pandang dengan penampilan Rangga yang sekarang. Hatinya jadi berdebar-debar berjalan dengan pria tampan yang telah menjadi suaminya itu.


Raisa sempat khawatir ia tidak layak jalan bareng Rangga di tempat umum. Tadi sewaktu di rumah, sudah lebih dari satu jam ia mematut diri depan cermin, sambil menunggu Rangga datang menjemput. Setelah dirasa cukup cantik penampilannya, Raisapun keluar dari kamarnya. Rangga yang menunggunya di ruang tengah, terkesima melihat Raisa yang tampil cantik dan anggun seperti anak kuliahan. Tidak terlihat lagi gadis kampung yang tomboy.


Raisa dan Rangga diajak melihat-lihat tempat kursus itu ketika mereka mengutarakan ingin melihat-lihat dulu sebelum mendaftar.


Tempat kursus yang Raisa pilih berada di sebuah gedung perkantoran kawasan elit. Bisa ditebak biaya kursusnya pasti mahal. Tapi itu tidak jadi masalah bagi Rangga. Yang terpenting, Raisa senang dan tidak menolak kuliah di jurusan Akuntansi.


Peralatan untuk praktek memasak di sana lumayan canggih. Yang ikut kursus pun dari berbagai usia dan kalangan. Rangga dan Raisa melihat ke ruangan-ruangan kelas memasak dipandu oleh seorang karyawan di sana.


Mulai minggu depan, Raisa bisa mulai ikut kelas memasak untuk pemula. Raisa ikut program yang 3 bulan dengan 20 kali pertemuan.


Setelah mendaftar dan membayar biaya kursus, Rangga mengajak Raisa ke apartemen Rangga yang dulu. Apartemen tempat tinggal Rangga sewaktu bersama Rena dulu. Apartemen itu sempat disewakan pada teman Mamanya Rangga selama berapa tahun karena Rangga tinggal di Bogor.


Dan setelah habis masa sewanya, Nyonya Cindy tidak memperpanjang sewa apartemen Rangga itu. Seminggu dua kali, ada seseorang yang dipekerjakan Nyonya Cindy untuk membersihkan apartemen itu. Jadi, walau tidak dihuni cukup lama, apartemen itu tetap bersih dan rapi.


Raisa melihat-lihat ruangan di apartemen itu dengan takjub. Selama ini ia hanya bisa melihat apartemen di film drama Korea saja.


Apartemen Rangga mempunyai dua kamar tidur, satu ruang tamu dan dapur pantry yang cukup apik. Itu bagian yang sangat Raisa suka. Raisa hanya tinggal menambah kitchen set dan peralatan pendukung lainnya saja untuknya memasak nanti.


"Kamu suka?" tanya Rangga.


"Suka," jawab Raisa.


Rangga tersenyum. Kemudian Rangga membiarkan Raisa yang masih melihat-lihat dapur. Rangga masuk ke kamar tidur utama. Tempat dimana ia dan Rena menghabiskan malam-malamnya sebagai suami istri.


Ada perasaan nyeri mengingat kembali masa-masa indahnya bersama Rena dulu. Tapi Rangga akan selalu mengingatnya. Karena hal itu yang membuatnya bisa bertahan. Supaya ia tidak merasa terlalu kehilangan. Apalagi dengan kehadiran Raisa yang mirip dengan Rena. Ia merasa Rena masih ada.


"Mas sedang apa?" Raisa masuk ke kamar dimana Rangga berada.


"Enggak. Hanya sedang memikirkan untuk menata ulang kamar ini supaya seperti dulu lagi. Penyewa apartemen ini telah merubah dekorasi kamar ini," kata Rangga.


"Ini akan jadi kamar kita," kata Rangga lagi.


"Kamar kita?" Raisa terkesiap mendengarnya


"Ya! Memangnya kamu akan tidur di kamar tamu? Ya disinilah kamar kita berdua,"


"Ta-tapi Mas ...,"


"Rena juga dulu tidur di sini," kata Rangga keceplosan.


"Apaaa?! Jadi apartemen ini tempat tinggal kalian berdua dulu?!" Raisa mengerti sekarang. Rupanya Rangga ingin mengenang masa lalu makanya ingin mendekor kamar tidur itu seperti dulu.


"Be-begini maksudku. A-aku suka dekorasi kamar tidur yang dulu. Jadi aku ingin dekorasi itu lagi," Rangga tergagap dan sedikit kikuk.


"Jawab pertanyaanku, Mas! Jadi ini apartemen Mas dan Kak Rena dulu?" Raisa menatap tajam.


Dengan perasaan menyesal karena keceplosan, Ranggapun menjawab, "Iya, Raisa,"


Raisa mendengus kesal. Ia kira apartemen itu milik Rangga sewaktu masih bujangan dulu sebagai investasi. Ternyata apartemen itu tempat tinggal rumah tangga Rangga yang dahulu sewaktu dengan Rena.

__ADS_1


Wah runyam deh urusannya kalau begini. Apa Raisa masih mau tinggal di sana nanti? Dan bagaimana tindakan Rangga selanjutnya setelah ia tahu obat yang selalu diberikan Pak Dani atas perintah Om Adam dulu?


Ikuti terus ceritaku ya! Jangan lupa tinggalkan jejak! Semoga Para Readers bermurah hati memberi ulasan, vote, like dan komentar. LOVE YOU ALL!


__ADS_2