
Raisa merasa lega. Malam ini Rangga menginap di rumah sakit untuk menjaga Daffa. Kebetulan ada Varrel. Mereka berdua jadi ada teman ngobrol. Setelah melihat kondisi kakak iparnya, Raisa pulang. Wulan dan 2 anaknya juga ikut pulang ke rumah Nyonya Cindy. Raisa akan menghabiskan waktu bersama mertua, adik ipar dan 2 keponakannya, agar lebih dekat dan lebih mengenal sebagai anggota keluarga baru keluarga Arya Dinata.
Raisa merasa beruntung bisa mengenal bahkan menjadi bagian dari keluarga itu. Raisa tahu, mereka orang-orang kalangan atas. Tapi sikap mereka sangat baik dan ramah. Tidak suka membedakan orang dari kalangan tertentu. Sikap mereka pada para ART pun baik. Tak heran kalau para ART di rumah mereka mengabdi di rumah itu bertahun-tahun.
Setelah makan malam, Raisa, mertua, adik ipar dan dua keponakannya bercengkrama di ruang tengah sambil menonton acara televisi. Tak lupa camilan dan minuman ringan yang tadi siang Raisa beli di suguhkan untuk menemani kebersamaan mereka.
"Bagaimana sikap Rangga padamu? Mama terus terang kaget, tiba-tiba saja Adam memberitahu Rangga akan menikah. Padahal pada waktu Mama ke sana Rangga enggak bilang mau menikah," Nyonya Cindy ingin tahu.
"Mmm .... sikap Mas Rangga baik, Mah. Saya awalnya bekerja di rumah itu. Saya lari dari rumah karena akan dinikahkan oleh ibu tiri saya pada seorang kakek tua yang beristri banyak dan sudah punya anak dan cucu. Setelah saya bekerja beberapa minggu, saya ditangkap keluarga ibu tiri saya lagi. Saya dipaksa untuk menikah sebagai penebus hutang ibu tiri saya. Untung Mas Rangga menolong saya membayarkan hutang pada Pak Beni itu," jelas Raisa. Raisa hanya menceritakan sebagian dari kejadian sebenarnya. Karena tidak mungkin dirinya membuka semua tentang pernikahan itu, yaitu tentang kesepakatan yang dibicarakan Om Adam dan Rangga.
"Kak Rangga itu tipe orang yang sulit jatuh cinta. Kalau dia sudah jatuh cinta, maka dia akan begitu mencintai orang yang dicintainya itu. Aku sih berharap semoga Kak Rangga benar-benar jatuh cinta pada Kak Raisa. Mungkin karena kemiripan Kak Raisa dengan Kak Rena, makanya Kak Rangga membuka hati lagi," kata Wulan, adik Rangga.
"Ya Mama berharap Rangga menerimamu apa adanya. Bukan karena terobsesi pada Rena. Raisa juga harus menerima Rangga apa adanya, ya nak! Kalau kalian belum saling jatuh cinta, mau membuka diri untuk pasangan adalah awal yang bagus untuk sebuah hubungan. Nanti kalian akan saling membutuhkan dan merasa nyaman bila bersama," Nyonya Cindy mengusap punggung Raisa dengan sayang.
"Saya akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Mas Rangga, Ma," ucap Raisa. Awalnya Raisa yang merasa terpaksa menikah dengan Rangga, menjadi luluh dengan kebaikan dan ketulusan keluarga itu.
"Aamiin ..., Mama doakan semoga langgeng, jadi keluarga yang Samawa," tutur Nyonya Cindy.
"Ma! Mama! Kapan Alisa ke villa Oma yang di Bogor lagi? Udah lama Alisa enggak ke sana!" Alisa, anak Wulan menghampiri Mamanya.
"Iya, Ma! Robi kan mau lihat kebun teh, lihat sawah, kebun, sungai, pokoknya pemandangan alam di sana lagi!" Robi, Kakak Alisa ikut menimpali.
"Iya, nanti kalau kalian libur semester ya!" jawab Wulan.
"Horeee!" Robi dan Alisa berseru kegirangan.
"Robi dan Alisa kelas berapa sekolahnya?" Raisa ingin tahu tentang keponakannya yang imut-imut dan lucu itu.
"Robi kelas tiga!"
"Alisa kelas satu!"
"Oh Alisa sudah kelas satu? Uwa kira masih TK!" kata Raisa.
"Uwa itu apa?" Alisa yang belum pernah mendengar kata itu sebelumnya mengernyit tak mengerti.
"Ha ha ha! Uwa itu sama saja dengan Bude. Alisa keturunan Jawa nih, maklum," ungkap Wulan.
Mereka mengobrol hingga anak-anak yang mengantuk, tidur lebih dulu. Sedangkan orang-orang dewasa itu mengobrol hingga menjelang tengah malam.
Raisa tidur dengan nyenyak tanpa ada drama. Tentu saja karena Rangga menginap di rumah sakit. Jadi Raisa merasa tenang.
Paginya, Raisa bangun pagi-pagi untuk mandi, dilanjut menunaikan ibadah shalat shubuh. Kesibukan para ART di rumah itu sudah dimulai. Rumah Nyonya Cindy yang lebih besar dari villa yang di Bogor, membuat rumah itu mempekerjakan beberapa ART.
Raisa yang merasa bosan berdiam diri, memilih untuk membantu di dapur. Walau sudah dilarang oleh ART yang bagian di dapur, tapi Raisa tetap memaksa. Raisa dengan senang hati membantu ART itu memasak.
Wulan dan kedua anaknya sudah pulang setelah shalat shubuh karena anak-anaknya harus sekolah.
Rangga yang baru datang sekitar jam 06.00 langsung menuju meja makan. Aroma nasi goreng seafood menggugah seleranya.
"Eit, mandi dulu Rangga! Kamu sama Mama ke perusahaan hari ini. Banyak yang harus kita bereskan!" kata Nyonya Cindy.
"Ck. Nanti saja lah Ma ke perusahaannya. Baru juga sehari di sini," ucap Rangga tampak enggan.
"Oke, besok ya!" kata Nyonya Cindy sambil menyeruput teh.
"Ini Mas, barangkali mau minum kopi dulu," Raisa menyuguhkan secangkir kopi pada Rangga.
Rangga menatap Raisa. Kemudian Rangga bersiap meminum kopi buatan istrinya.
__ADS_1
"Istrimu yang masak nasi goreng seafood lho!" perkataan Mamanya membuat Rangga menggantungkan cangkir yang akan menempel di bibirnya.
"Oh ya?" Rangga lalu menyeruput kopi hitamnya.
"Bukan aku masak sendiri kok. Cuma ngebantuin Bi Surti," Raisa merendah.
"Boleh dong di makan sekarang?" tanyanya kemudian.
"Iya, Mas," Raisa kemudian mengisi piring dengan nasi goreng secukupnya. Lalu diberikannya pada suaminya.
Rangga menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya.
"Enak!" puji Rangga. Pipi Raisa tampak merona mendapat pujian dari suaminya.
"Memang enak! Ini Mama mau nambah. Sekali-kali biarkan Raisa memasak, Rangga! Supaya dia enggak bosan," kata Nyonya Cindy sambil menikmati nasi goreng. Raisapun ikut menyantap nasi goreng buatannya yang bahan-bahannya telah disiapkan oleh Bi Surti.
"Raisa nanti akan kuliah di sini, Ma!" ucap Rangga yang membuat Raisa terkejut.
"Mas? Mas belum bilang sebelumnya," protes Raisa.
"Makanya aku bilang sekarang. Kita kan akan pindah ke sini., karena aku harus membantu perusahaan lagi. Tapi kita nanti akan tinggal di apartemenku," kata Rangga lagi. Raisa semakin terkejut.
"Rangga, bicarakan berdua secara pelan-pelan dulu. Raisa masih butuh penyesuaian," saran Mamanya bijak.
"Raisa harus bisa menyesuaikan. Dia masih muda. Dia harus menempuh pendidikan yang tinggi. Dia pasti bisa. Itu untuk kebaikannya," perkataan Rangga seperti sebuah keputusan yang harus dilaksanakan.
Melihat kebingungan Raisa dan keegoisan Rangga. Nyonya Cindy memberi saran lagi pada Rangga.
"Kalian bicarakanlah nanti di kamar. Mama minta kamu jangan memaksakan kehendak, Rangga. Tanya lah Raisa. Apa keinginannya," Nyonya Cindy menatap Raisa dengan prihatin.
"Mama mau ke kamar. Mama mau bersiap ke perusahaan," Nyonya Cindy berdiri dari kursi makannya. Kemudian melangkah meninggalkan Rangga dan Raisa. Ia ingin memberi waktu pada Rangga untuk berbicara dengan Raisa.
"Nanti aku menyusul," ucap Rangga. Raisa mengangguk.
Raisa sedang menonton televisi ketika Rangga masuk ke kamar. Tanpa berkata apa-apa, Rangga langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Raisa pun malas untuk sekedar basa-basi.
Terdengar gemericik air shower dari kamar mandi. setelah sepuluh menit kemudian, Rangga keluar dari kamar mandi. Aroma sabun dan shampo menyeruak ke seluruh penjuru kamar.
Raisa yang semula duduk di ranjang sambil menonton televisi, langsung berubah posisi menjadi berbaring miring menghadap dinding. Rangga yang melirik dari sudut matanya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Raisa. Ia tahu, gadis itu masih malu melihat suaminya berpakaian. Rangga memakai T-shirt dan celana jeans.
"Raisa ....," panggilan Rangga terpotong ketika Mamanya memanggil dari luar kamar.
"Rangga! Rangga!"
"Ya Ma?!" Rangga menoleh ke arah pintu kamar.
"Kamu harus ikut ke perusahaan sekarang! Ada yang berniat menghancurkan perusahaan!" teriak Mamanya.
"Ada pengkhianat orang dalam, Rangga!"
Ceklek!
Rangga yang membuka pintu kamar langsung melihat wajah panik Mamanya di depan pintu.
"Mama dapat kabar dari mana?" tanya Rangga.
"Ada. Dari orang kepercayaan Mama," jawab Mamanya.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang. Aku pakai pakaian begini saja,"
__ADS_1
"Iya, gak apa-apa. Ayo!" ajak Mamanya.
"Raisa! Aku pergi dulu sama Mama!" pamit Rangga sambil menoleh pada Raisa
"Ya!" jawab Raisa.
💮💮💮💮💮💮
Sepertinya masalah di perusahaan cukup pelik. Hingga pukul 8 malam, Rangga dan Nyonya Cindy belum juga pulang. Raisa menikmati makan malamnya sendirian.
Setelah makan malam, Raisa menonton televisi sambil berbaring di kasur. Sendirian memang tidak enak. Ia jadi seperti menunggu kedatangan Rangga. Tak terasa Raisa terlelap dengan televisi masih menyala.
Entah jam berapa, Raisa terbangun ketika merasa ada pergerakan di ranjangnya. Rupanya Rangga sudah pulang. Rangga sudah berbaring di sebelahnya dengan sudah memakai piyama tidurnya. Apalagi dengan tangan melingkar di perut Raisa. Raisa langsung duduk.
"Mas! Sudah pulang?" tanya Raisa.
Tangan Rangga yang melingkar di perut Raisapun terlepas. Ranggapun membuka mata.
"Iya. Tidur lagi aja," jawab Rangga.
"Iya, mau tidur lagi. Tapi itu tangan Mas mengganggu," sungut Raisa.
"Cuma peluk aja. Pelit amat,"
"Aku gak mau ya kalau nanti Mas Rangga macam-macam padaku," Raisa merasa kesal.
"Enggak akan macam-macam. Tenang saja," jawab Rangga santai
"Pokoknya aku gak mau dimodusin. Nih, bantal guling ini batas wilayah tidur. Sebelah sini wilayahku, sebelah sana wilayah Mas Rangga. Badan, tangan atau kaki enggak boleh nyebrang-nyebrang!"
"Apaan sih, batas wilayah. Ada-ada aja," cibir Rangga.
"Biarin! Buat keamanan diri. Buat berjaga-jaga, takut ada kucing garong yang ngelonong," sahut Raisa. Hal itu membuat Rangga menahan tawa.
"Kamu itu. Malam-malam bikin lelucon! Sudah ayo cepat tidur! Aku udah ngantuk!" Rangga mengambil bantal guling lalu dipeluknya sambil membelakangi Raisa.
"Eh ... malah diambil! Sini bantal gulingnya!" Raisa berusaha merebut bantal guling yang dipeluk Rangga. Rangga semakin mengeratkan pelukannya pada bantal guling yang cuma satu itu.
Tarik menarikpun terjadi. Seperti anak kecil yang berebut mainan, mereka menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan bantal guling itu. Raisa menggelitik perut Rangga. Rangga semakin mengunci bantal guling itu dengan kaki dan tangannya. Hingga ....
Bruuuk!
"Aw!" pekik Raisa.
Bantal guling itu terlepas dari Rangga, dan jatuh menggelinding ke lantai. Sedangkan tubuh Raisa terjatuh di atas tubuh Rangga. Badan mereka menempel. Bibir mereka hampir bertemu. Mata keduanya saling menatap kaget. Dan tak disadari, bibir Rangga menyambar bibir Raisa. Dilumatnya bibir Raisa yang ranum.
Dengan terkejut, Raisa mendorong dada Rangga dan menjauhkan diri dari bibir Rangga. Rangga yang tak siap, membuat tubuhnya terjatuh ke bawah. Untung ia menimpa banyak guling, sehingga ia tidak begitu sakit terjatuh ke bawah.
Dengan perasaan yang bercampur aduk tidak karuan, Raisa langsung memposisikan diri berbaring miring dengan memunggungi Rangga. Tubuhnya hampir menempel pada dinding. Ia sangat tidak menyangka mendapat ciuman pertamanya dari kejadian yang tidak terduga. Jantungnya berdetak sangat cepat. Nafasnya juga tidak beraturan. Pipinya merona merasakan sensasi yang baru dirasakannya.
"Aduh! Kamu itu jadi cewek bar-bar banget sih! Untung di bawah ada bantal guling. Kalau enggak, bisa patah tulangku," kata Rangga sambil bangun dan bersiap membaringkan diri lagi di ranjang.
Raisa tidak menyahut. Dirinya terlalu malu untuk bersuara dengan kejadian yang barusan. Melihat Raisa diam saja, membuat Rangga menyunggingkan senyum. Dirinya sangat suka melihat Raisa sedang malu begitu. Timbul keinginan Rangga yang akan melakukan keisengan-keisengannya pada Raisa di lain waktu. Hatinya merasa terhibur oleh tingkah Raisa yang menggemaskan.
Jarak usia 20 tahun membuat Rangga serasa muda lagi. Bahkan Raisa lebih muda dari Wulan. Rangga jadi merasa timbul jiwa kekanak- kanakannya seperti seorang kakak yang melakukan keisengan-keisengan pada adiknya dulu. Tapi berhubung matanya sudah mengantuk, Rangga memilih untuk memejamkan mata dan menyimpan keisengan-keisengannya nanti, lain waktu.
Nah lho, mulai ya! Bakalan Iseng-iseng berhadiah nih Mas Rangga!
Jangan lupa selalu berikan vote, like, komen dan ulasannmu ya Readers, biar Othornya semangat nulis. Tunggu bab selanjutnya! Semoga tetap lancar puasanya bagi yang menjalankannya!
__ADS_1